
Melihat Lyra yang belum siuman, beberapa selang medis berada di tubuhnya dan juga saluran oksigen yang menjadi penopangnya.
Sungguh kasihan tapi ketika dia bangun nantinya, mulutnya akan pedas sepertinya mama Nya.
"ngapain kamu disini perempuan mandul?"
Gila benar, baru datang sudah mengatai ku sebagai perempuan mandul. ibu mertuaku ini sadar bahwa putrinya yang terbaring di ranjang ini sudah tidak punya rahim.
"maaf saya batal mencabut laporan itu, biarkan saja."
Langsung pergi dari ruang rawat itu dengan emosiku yang terkontrol, takut nya mulut perempuan pedas itu tercakar olehku.
Ini rumah sakit dan tidak mungkin aku membuat keributan disini.
"Sarah .....
tunggu nak.....
tunggu Sarah....."
Ayah mertua yang mengejar ku langsung dihalangi oleh dua security yang berjaga-jaga di depan pintu.
"kita ke klinik aja ya pak"
"baik non."
Langsung menuju ke klinik, tempat dimana kami akan melakukan proses bayi tabung.
Menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit lebih, akhirnya sampai juga di klinik.
"ibu Sarah kan? apa yang bisa kami bantu bu?"
"begini mbak, saya dan suami ke sini sekitar lima hari yang lalu, dan kami menunggu laporan hasil laboratorium akan penelitian kadar hormon suami saya.
tapi sampai sekarang belum juga dikabari, apa memang lama proses nya mbak?"
"tunggu sebentar ya bu, oh iya ibu bawa kartu pendaftaran nya."
"ngak, tapi itu sudah saya photo."
Kartu pendaftarannya sempat aku photo dan langsung ku tunjukkan kepada perawat yang bertugas.
"maaf ibu, disini hasil laboratorium itu sudah keluar dan sudah diberitahu kepada bapak Satria Adiwijaya.
File nya sudah dikirimkan juga ke email pak Satria.
Menurut data kami, bahwa suami ibu pak Satria menolak melakukan proses selanjutnya dan telah membatalkan pendaftarannya.
Alasannya adalah bahwa pak Satria tidak menerima hasil uji laboratorium terhadap air mani bapak yang dinyatakan azoospermia."
"terimakasih mbak, apakah saya masih bisa bertemu dengan dokter Supriadi?"
__ADS_1
"mohon tunggu sebentar ya ibu."
Perawat itu melakukan panggilan melalui telpon yang dihadapannya, lalu panggilan itu berakhir.
"silahkan ibu, sudah di tunggu dokter Supriadi."
Dengan langkah yang ragu dan terus melangkah ke arah ruang praktek dokter Supriadi.
Dokter itu tersenyum setelah melihat kedatangan Ku dan dengan ramahnya beliau mempersilahkan aku untuk duduk.
"kenapa suami ku begitu yakin kalau hasil uji laboratorium itu tidak akurat dok?"
"setiap pribadi berhak untuk percaya atau tidaknya terhadap suatu hasil ibu, dan jika yang bersangkutan menggugat hasil uji laboratorium tersebut dan kami siap untuk mempertanggung jawabkan nya.
Sudah dua kali uji laboratorium, dengan hasil yang sama, ahli laboratorium kami diseleksi secara ketat berdasarkan kemampuannya."
"apakah suamiku mengajukan hasil laboratorium dari klinik lain dok?"
Terlihat sang dokter menghela napasnya dan kemudian menatapku dengan ragu.
"saya istinya dok, dan saya akan menjaga rahasia apapun itu."
"bukan itu maksud saya ibu, nama klinik adalah permata klinik.
Menurut keterangan dari pak Satria, bahwa permata klinik juga melakukan tes yang sama terhadap pak Satria.
Hasilnya adalah bahwa tes laboratorium dari klinik ini dinyatakan oleh pak Satria tidak valid.
Kami tidak bisa memaksa pasien kami ibu, lebih baik ibu bicara baik-baik dengan suami ibu ya."
Pantas saja mas Satria enggan untuk membahasnya kemarin itu.
Setelah pamit ke dokter Supriadi, dan langsung menuju klinik permata untuk meminta penjelasan dari klinik itu.
Jaraknya tidak terlalu jauh dari klinik tadi, dan klinik itu tidak sebanding dengan klinik Indah. klinik yang direkomendasikan oleh dokter spesialis kandungan waktu itu.
"selamat siang ibu, silahkan duduk ibu."
Sapa dari perawat yang menyambut kedatangan Ku.
"maaf mbak, saya bertemu dengan dokter Surah."
"maaf ada keperluan apa? atau apakah ibu sudah ada janji dengan beliau?"
Langsung aku berikan hasil laboratorium terhadap tes air mani mas Satria yang dikeluarkan oleh laboratorium klinik ini.
Seketika perawat itu langsung menelpon seseorang dan tidak berapa lama panggilan itu berakhir.
"baik ibu, mari saya antar ke ruangan dokter Surah."
Akhirnya perawat itu membawa Ku untuk bertemu dengan dokter Surah di ruangannya, seorang dokter perempuan yang sepertinya seumuran dengan ibu tirinya mas Satria.
__ADS_1
"silahkan duduk ibu."
Ujarnya dengan ramah, dan terlihat mencoba untuk tenang.
"saya Sarah, istri dari Satria Adiwijaya. saya ingin mendengarkan penjelasan dari dokter tentang hasil laboratorium ini.
Hasil laboratorium tentang air mani suamiku, tolong dokter jelaskan."
"baik ibu, berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pak Satria tidak mengalami azoospermia, seperti yang dijelaskan di hasil laboratorium klinik itu.
Tidak ada masalah dengan suami ibu, sekiranya ibu yang perlu di tes."
"dokter yakin? bagaimana kalau saya melaporkan hasil tes ini ke polisi dengan tuduhan pemberian diagnosa yang salah.
Apa pihak klinik ini bisa bertanggung jawab akan hal itu?"
Baru saja di pancing sedikit, dan sudah terlihat panik.
"dokter sudah jelas paham akan konsekuensinya, diantara bisa saja semua dokter yang di klinik dicabut izin nya begitu juga dengan klinik ini.
Saya hanya ingin penjelasan yang sebenarnya dan resmi dari klinik ini."
"memang begitulah hasil laboratorium nya ibu, lalu kami harus berbuat apa?"
"terimakasih dokter, sampai ketemu nanti setelah saya melaporkan hasil laboratorium ini, kalau begitu saya mohon pamit ya dok."
Tidak ada gunanya berdebat, lebih baik menempuh jalan yang lain yaitu jalur hukum.
Penjelasan dokter Supriadi dari klinik Indah lebih valid, karena ciri-ciri yang seorang laki-laki yang mengalami azoospermia itu mengarah ke mas Satria.
Saya istri mas Satria yang sudah berulangkali melakukan hubungan suami-istri, dan saya mengetahui jelas performa mas Satria di ranjang.
"bu.... tunggu bu...."
Dokter Surah memanggilku dengan nada suara yang gemetar, dan kemudian memintaku untuk kembali duduk di hadapannya.
"cukup ya bu, saya mintak maaf. tolong jangan bawa kasus ini ke jalur hukum.
Disini banyak tenaga medis, dan non medis yang menggantung nasibnya.
Klinik sudah terkenal akan keberhasilannya, saya tidak ingin menodai kepercayaan pasien kami."
Ucap dokter Surah, lalu menunjukkan layar monitor akan tampilan sisi tv.
"apa ibu mengenal perempuan ini?"
"iya, perempuan itu adalah ibu tiri suamiku. lalu apa kaitannya dengan hasil laboratorium itu dok?"
Dokter Surah menghela napas panjang dan kemudian memperbaiki arah monitor itu ke sisinya.
"gedung klinik adalah sewa kepada Lila group, jadi ibu Friska meminta saya untuk memalsukan hasil uji laboratorium itu.
__ADS_1
Agar biaya sewa Klinik bisa berkurang, karena ibu Friska memiliki saham mayoritas di Lila group."
Aku hanya bisa tersenyum menanggapi penjelasan dari dokter Surah, dan raut wajahnya yang kebingungan mengarah kepada Ku.