
Aku sudah menyerah terhadap mas Satria, tidak ada yang bisa diharapkan darinya, yang lebih memilih perempuan itu daripada aku.
Bahkan sidang putusan perceraian kami, mas Satria masih tetap pada pendirian dan itu artinya mas Satria tidak mengakui anak yang ku kandung ini.
Awalnya agak sulit untuk mengajukan permohonan gugatan cerai, karena saat aku sedang hamil dengan bantuan medis alias proses bayi tabung.
Tapi mas Satria tidak mengakui anak yang aku kandung ini, dengan alasan bahwa Indah klinik menukar sel spe*ma nya dengan punya pria lain.
Mulai dari awal sampai embrio di tempatkan di rahimku ini, kami berdua melihatnya dan bahkan pihak Indah klinik memperlihatkan keseluruhan sisi tv kepada mas Satria.
Akan tetapi semua itu tidak diterima oleh mas Satria, dan pada akhirnya Indah klinik menggugat mas Satria dengan tuduhan pencemaran nama baik.
Saat ini aku sudah menjadi janda, dan berada di fasilitas Rumah sakit Lila untuk menunggu kelahiran.
Tentunya dokter Supriadi sebagai dokter penanggung jawabnya, dokter dari Indah klinik.**
Tidak henti-hentinya aku mengucapkan syukur, telah lahir dua anak laki-laki bagiku dan terlahir secara sesar.
Zahran dan Zayyan adalah nama anakku, yang artinya adalah keindahan setelah semua drama kehidupan yang pahit yang telah aku lalui.
Begitu indah dan menyenangkan serta kebahagiaan saat ini.
Dokter berkata kalau bayi sehat dan tanpa kekurangan apapun, jadi hanya butuh tujuh hari dalam inkubator itu.
Tujuh hari berlalu dan aku sudah bisa memberinya ASI (air susu ibu), rasanya bahagia sekali.
Tuduhan wanita mandul itu terpatahkan setelah berhasil melahirkan dua anak laki-laki yang tampan dan sehat.
"selamat pagi mbak Sarah, selamat ya sudah r resmi menjadi ibu. semoga mbak Sarah menjadi lebih bahagia."
"terimakasih ya Findon, itu apa yang kamu pegang?"
"hasil tes DNA terhadap si kembar dari empat laboratorium rumah swasta dan dua laboratorium rumah sakit milik pemerintah.
Hasilnya sama saja mbak, ayah kandung si kembar adalah mas Satria.
Findon tidak sedikit pun meragukannya, tapi hanya sekedar pembuktian aja mbak.
Terakhir dari laboratorium rumah sakit Lila dan hasil sama juga."
"terimakasih ya Findon, tapi kenapa begitu banyak hasil tes DNA ini? emangnya ngak capek?"
"jelas capek, tapi puas rasanya. argumen dari perempuan-perempuan liar terpatahkan keseluruhan dan juga keraguan mas Satria.
Oh iya mbak Sarah, ayahnya Satria akan menghadapi hukuman mati.
__ADS_1
Jadi permintaan terakhirnya adalah ingin melihat secara langsung dan menggendong cucu-cucunya.
Pak dhe sudah Findon baru tau kalau mbak sudah melahirkan dua anak kembar laki-laki yang sehat dan tampan.
Permintaan terakhirnya adalah ingin melihat cucu-cucunya secara langsung, baik anak mbak Sarah dan juga anaknya Desi."
"kalau mbak bersedia memenuhinya, tapi kalau Desi, ngak bisa mbak janjinya ya."
"tolong mbak telepon ya, karena Desi hanya mau bicara dengan mbak Sarah aja."
Segera aku meraih handphone Ku dan hendak menelpon Desi, akan tetapi orangnya sudah berada di ruangan ini dengan membawa anaknya.
"mbak Sarah......"
Ujar Desi yang datang bersama mamanya, dan kebahagiaan itu terpancar dari senyuman yang khas.
Setelah berbincang-bincang cukup lama dan terlihat Findon memberikan diri untuk mendekati Desi.
"boleh saya bicara?"
"siapa yang larang, aneh-aneh aja ni mas Findon."
"begini.....
pak dhe, yaitu bapaknya Rizal dan mas Satria akan menghadapi hukuman mati..."
"iya....
kok tau?"
"Desi hanya menebak aja sih, tapi syukurlah kalau ayah mau bertemu dengan cucu-cucunya di akhir hidupnya.
Desi bersedia kok membawa cucunya ini bertemu dengan ayah, karena biar bagaimanapun anakku adalah cucunya.
kalau mbak Desi bagiamana?"
"bersedia kok, lagipula kedua anak mbak ini adalah cucunya ayah mertua juga.
Findon sudah melakukan tes DNA terhadap anak-anak mbak dan ayah kandungnya adalah Satria."
"Desi ngak bisa berkomentar, karena itu semua bersumber dari mama nya Rizal dan juga perempuan itu.
Tapi nanti kita sama kan mbak ke sana ?"
Tentunya kami akan pergi secara bersama-sama dan Findon menetapkan bahwa besok kami harus menemui kakek dari anak-anak kami.
__ADS_1
"sampai saat ini ya Desi, ngak habis pikir loh mbak. tentang kenapa mas Satria begitu meyakini perkataan ibu tirinya dan juga perempuan itu.
Okelah kalau Rizal bisa patuh pada ibu kandungnya, lalu mas Satria gimana?"
"mbak ngak tau Desi, ntar tanya aja sama Satria.
Mbak sudah muak membahasnya, capek batin."
"iya mbak, Desi mintak maaf ya mbak."
Desi memelukku dengan erat dan tanpa terasa air mata menetes lagi dan segera ku hapus.
Setelah Desi dan ibunya pulang, segera kami keluar dari rumah sakit ini dan rumah peninggalan kedua orang tua kami yang sudah di renovasi.*
Pagi hari sekitar jam sembilan, sudah terdengar suara klakson mobil dari depan rumah dan tentunya itu adalah Desi yang datang bersama kakak asuh anaknya.
"neng Sarah....
Mpok dan mbak Tika ikut ya, nanti si neng kelelahan."
Pinta mpok Surti yang sudah bersiap-siap ikut denganku ke rutan.
Mpok Surti dan mbak Tami ikut dan tentunya itu bagus, karena nanti ada yang menjaga anak-anak ku ini.
Semuanya sudah siap dan Findon sudah tiba di depan rumah dengan mobilnya yang besar, sehingga kami semua muat di dalamnya.
Satu jam lebih menempuh perjalanan dan akhirnya kami sampai juga di lapas, setelah mendapatkan izin dari petugas dan kami langsung ke suatu ruangan yang khusus.
Di ruangan ini kami berkumpul, tidak berapa lama kemudian, kakek dari anak-anak sudah tiba di ruangan ini dengan air matanya yang berderai di pipinya.
Pertama sekali memangku anak Desi, menciumnya berkali-kali dan akhirnya memangku dengan pelan-pelan zahran dan Zayyan.
Di cium dan dipeluknya, senyuman dan air matanya yang mengalir sehingga beliau tidak sanggup mengatakan sepatah kata pun dari mulutnya itu.
Saat memangku anaknya Desi, kemudian mintak di foto demikian juga saat memangku anak-anak ku.
"ayah sangat-sangat bersyukur dan berterima kepada kalian berdua, sehat-sehat kalian demikian juga dengan cucu-cucu Ku.
Ayah minta maaf karena merepotkan, tapi ayah sudah puas dan sangat-sangat ikhlas setelah melihat ketiga cucu-cucu yang sehat dan tampan.
Kalian berdua adalah ibu yang hebat dan luar biasa, terimakasih."
Kakek anak-anak kami keluar dari ruangan dengan senyumannya yang indah dan melambaikan tangannya ke arah kami.
Karena waktunya sudah habis dan kami pun pulang, setidaknya kami sudah memenuhi keinginan kakek anak-anak.
__ADS_1
Agar tidak ada penyesalan di kemudian hari, karena anak-anak kami adalah cucunya.