PEJUANG GARIS DUA

PEJUANG GARIS DUA
Belajar Untuk Menerima Kenyataan.


__ADS_3

Kami berdua tertawa lagi dan lagi, sepertinya juga mbak Nia sedang ada masalah pribadinya sendiri.


"cowok itu brengsek ya, seenaknya aja dia mencampakkan diriku yang cantik nan lembut gini.


Cowok brengsek itu mencampakkan Nia, hanya karena menolaknya untuk membelah duren Ku."


"maksudnya gimana mbak Nia?"


"nama mantan ku Febrian, sudah setahun lebih kami menjalani hubungan.


Ketika aku menagih kapan untuk menikahi ku, tapi pria brengsek itu meminta untuk tidur dengan Ku.


Emangnya aku cewek apaan?


jika dia benar-benar mencintai Nia, tentunya dia akan mengajak ku menikah dan bukan mengajakku tidur barang.


Setelah pria brengsek itu memutuskan Nia, dan aku memergoki nya sedang indehoy di hotel bersama perempuan lainnya.


Dengan mantap nya, aku memutuskan pria brengsek itu saat itu juga.


Pria brengsek itu mencuri voucher hotel dari tas ku, voucher hotel yang akan aku bagikan untuk pemenang kuis yang di adakan Insani.


Hotel itu milik Lila group yang berada di naungan insani.


Gila memang itu cowok, dan benar-benar ngak modal.


lalu dengan entengnya dia datang lagi dan memohon untuk menjadi istrinya.


Anjiritt benar kan itu cowok...."


"bukannya mbak Nia, menginginkan pria itu untuk menikahi mbak?"


"benar dan itu dulu say...


Dulu sebelum aku mengetahui pria brengsek itu melakukan hubungan suami-istri dengan perempuan lainnya.


Laki-laki itu kalau sudah selingkuh, pastinya akan mengulangi lagi dan lagi.


hanya karena pria brengsek itu tidak mendapatkan apem perempuan itu, sehingga dia mau menikahi ku.


ngak bakalan, lebih baik menjomblo seumur hidup daripada menerima pria brengsek seperti dia."


"berarti samalah dengan Satria."


Seketika itu mbak Nia terdiam dan menatapku dengan tatapannya yang sayu.


"beda say....


Findon dan juga kak Deva mengetahui kejadian yang sebenarnya dan mereka berada dibelakang pak Satria.


Findon sebagai sutradara, pak Satria sebagai umpan dan pilihan sang ratu Lila group menjadi tombak Nya.


Sementara kak Deva bersama tim berada sebagai penguat dibelakang layar, yang melakukan segala upaya daya.

__ADS_1


Dalam kasus pak Satria dan Nia mengacungkan seluruh jempol ku untuk nya.


Pak Satria berpotensi kehilangan wanita yang dicintainya dan wanita itu adalah pilihan mama nya yang sangat dihormati dan merupakan sang pendiri Lila group yang berjaya.


Pak Satria berkorban untuk wanita yang dicintainya dan juga anak-anaknya dan itulah pria sejati yang sesungguhnya.


Jangan salah sangka dulu ya say.....


Disini mbak ngak bermaksud untuk membela pak Satria dan hanya mengatakan yang sebenarnya dan itu menurut ku pribadi berdasarkan pengamatan ku sendiri.


Jujur mbak tidak mengetahui apa yang sudah diperbuat oleh pak Satria terhadap kamu say....


Tapi pandangan ku berbeda terhadap pak Satria.


Mungkin Sarah tidak mengetahui betapa ganasnya keluarga dari pihak ayah pak Satria.


mereka akan menghabisi siapa saja yang menjadi penghalang rencana mereka.


Tidak perduli siapapun itu, termasuk almarhumah ibu Lila pendiri dari Lila group.


Berbagai macam cara akan mereka lakukan, dan semua cara menjijikkan dan mengancam nyawa.


Beberapa pegawai Lila group harus tewas karena mereka dan tanpa ampun mereka menghabisi siapapun.


Disini mbak tidak berniat mempengaruhi mu agar kembali menjadi istri pak Satria.


Tapi inilah pengalaman ku selama bekerja di Insani dan atas naungan Lila group.


Intinya adalah bahwa pak Satria berbeda dengan pria brengsek yang aku kenal itu."


"aku masih bingung mbak."


"wajar itu, karena semua drama yang amat dramatis dan menegangkan telah Sarah lalui.


Mungkin juga aku kebingungan dan dilema jika berada di posisi mu say...


Pelan-pelan aja berpikir nya, jangan buru-buru mengambil kesimpulan.


Pertimbangan semua hal dan berpikir jernih, dan ingat masa lalu dan juga pikirkan masa depan.


Pelan dan pelan, jangan terburu-buru karena semua butuh proses yang membutuhkan waktu untuk berpikir."


"terimakasih ya mbak atas sarannya."


"jangan hanya berterima kasih aja, nih dokumen tolong di cek dan kalau cocok di tandatangani.


kalau ngak cocok segera tolak dan berikan lagi sama mbak ya.


mbak lapar dan haus, pamit dulu ya say....."


Berhubung sudah saatnya makan siang dan lebih baik aku menemui anak-anak Ku.


Sesampainya di lantai dasar dan langsung menuju ruang khusus bermain anak.

__ADS_1


Satria begitu asyik dan bahagia saat bermain dengan anak-anaknya sementara kedua kakak asuhnya tidak ada.


"kemana kakaknya anak-anak?"


"eh kamu.....


Lagi makan siang, oh iya sepertinya anak-anak haus deh."


"iya tau...."


Pertama menyusui si sulung sementara adiknya di jaga oleh ayahnya dan terakhir adalah adiknya.


Setelah anak-anak selesai menyusui dan kemudian aku memompa ASI untuk bekal mereka nanti di rumah.


"kenapa melihat Ku seperti itu?"


Satria memperhatikan saat memompa ASI dan tatapan itu sangat sayu.


"ngak terbayangkan aja, betapa repot dirimu mengurus anak-anak dan juga Lila group.


Kamu memang ibu yang hebat dan luar biasa, terimakasih ya atas semua perhatian Mu kepada anak-anak."


"pulang aja deh, lagi ngak mood ngobrol."


"tunggu datang ya kakak asuhnya, aku akan diam sampai kakak asuh anak-anak tiba disini."


Aku tidak sanggup untuk mengusir ayah anak-anak karena biar bagaimanapun, Satria berhak atas anak-anak karena dirinya lah ayah kandung anak-anak.


Setelah kedua kakak asuh anak-anak tiba disini dan Satria langsung pamit pergi dan meninggalkan kami disini.


Satria terlihat tidak terawat, kurus dan sedikit kumal, mungkin karena dirinya baru keluar dari lapas.


Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan terhadapnya, tapi hati ini masih menolak atau enggan untuk melihatnya.


Terlalu sakit akan perbuatannya selama ini, dan menurut ku kalau Satria salah mengambil langkah.


Kenapa tidak dibicarakan kepadaku akan rencananya itu?


Apakah diriku ini tidak dianggap oleh Satria selama ini?


Kenapa semua harus bersifat rahasia, lalu apakah Satria akan terus menerus menyimpan rahasia?


Tunggu menenangkan diri terlebih dahulu, karena hati dan pikiran ini butuh waktu.


Aku putuskan untuk pulang setelah memberikan dokumen yang diserahkan oleh mbak Nia, karena ada yang perlu di revisi.


Pulang bersama anak-anak dan memang seperti ini setiap hari, sungguh aku mencemaskan keadaan anak-anak.


Jika setiap hari harus ke kantor dan menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih pulang pergi, takut nya anak-anak kelelahan dan juga masuk angin.


Tapi harus seperti ini, karena harus mengurus Lila group dan juga anak-anak Ku.


Apa boleh buat dan harus seperti ini dulu sebelum menemukan solusi yang tepat untuk ku, anak-anak dan Lila group.

__ADS_1


__ADS_2