PEJUANG GARIS DUA

PEJUANG GARIS DUA
Produk Insani.


__ADS_3

Puas bercengkrama dengan Sira dan kedua orangtuanya, kemudian kami bertiga kembali ke kantor mas Satria.


Kantor mas Satria membuatku tidak berhenti berdecak kagum, besar, luas dan mewah.


Lalu kami naik lift khusus, yang mengarah ke lantai sembilan. terlihat dari tombol angka itu, gedung ini sampai lima belas lantai.


Kantor pusat untuk Lila group, yang menaungi banyak anak usaha.


Begitu tiba di ruangan mas Satria, dan lagi-lagi membuatku berdecak kagum karena begitu mewah.


Sofa yang mewah dan langsung aku duduk, begitu empuk dan menyenangkan.


"maaf ibu, saya mau tanya. ibu kenapa bisa ikutan lomba desain kemasan produk Insani?"


"ngak usah panggil ibu, panggil aja Sarah."


"mbak ajalah ya, biar lebih akrab."


"itupun jadilah.....


sebenarnya itu dulu tugas kuliah yang belum sempat dikumpulkan, dan tergiur dengan hadiahnya serta berkesempatan mendapatkan produk lengkap kecantikan dari Insani untuk di jual serta di pakai.


Lihat dong paket kecantikan ini, lengkap dan sangat aku butuhkan.


Jadi rencana produk ini akan aku buat untuk the day of life with Insani produk kecantikan, dan kemudian upload ke media sosial.


Jika mendapatkan respon yang baik, maka akan kembali jualan produk Insani.


Oh iya mas, Sarah sudah melakukan the day of life gitu.


Lihat nih pengikut media sosial Sarah, genap sudah satu juta orang.


mas.... mas......


banyak yang meminta permintaan, gimana ini mas?"


Mas Satria langsung memanggil Findon, dengan melambaikan tangannya, lalu Findon datang dan duduk disampingnya mas Satria.


"lihat ni orderannya, meledak. cepat panggil Nia dan tim Nya, dan suruh masuk ke ruang rapat."


"siap pak."


Findon langsung meraih handphonenya dan terlihat sibuk menelpon, selesai menelpon dan langsung menatap mas Satria.


"sebentar lagi Nia dan tim Nya akan ruang rapat."


"ya sudah, kita siap-siap aja."


Aku benar-benar bingung tentang apa yang mereka bicarakan, kenapa bisa heboh seperti ini?


"mas....


ada apa dengan Nia dan tim Nya itu? apa hubungannya dengan dengan produk Insani?"


Lalu mas Satria menoleh Findon dan asistennya itu langsung berdiri dan menatapku.


"Insani itu adalah anak perusahaan group Lila mbak, perusahaan yang pertama kali di dirikan oleh almarhumah ibu Lila.

__ADS_1


Kantor marketing dari produk Insani berada di gedung ini, dilantai delapan mbak."


"oh begitu, jadi Sarah bisa menang lomba desain kemasan itu karena mas ya?"


"jelas ngak loh mbak, itu pure panitia marketing dan juga manajemen Insani, tidak ada hubungannya dengan pak Satria.


Itu merupakan program produk Insani untuk menyaring ide dan inspirasi dari masyarakat.


Karena memang desain kemasan mbak luar biasa, jadinya pemenang."


Jelas Findon dan mas Satria kemudian berdiri dan menarik tangan Ku.


"kamu tanggungjawab ya, karena kamu yang memulainya."


Mas Satria membawaku keluar dari ruangan, yang di ikuti oleh Findon.


Naik lift turun kebawah dan kemudian masuk ke suatu ruangan yang mewah, disana sudah berkumpul sekitar lima belas orang dan mereka berdiri ketika kami tiba di ruangan.


"Mbak Sarah kan? akun yang bernama Sarah17?"


"iya mbak..."


"kenalin saya Nia, kepala bagian marketing Insani group, dan ini Deva asisten Nia yang rempong, yang selalu menyapa mbak di media sosial."


Lalu kami bersalaman, pria yang Deva itu langsung memperhatikan ku mulai dari kaki sampai kepala Ku.


"waouuuuu......


Kecantikan yang sempurna, pantasan produk Insani laku keras di media sosial itu.


Pantas di mbak Nia mengatakannya rempong, baru ketemu aja sudah marah-marah, tapi lucu.


"eh kambing presto, Napa loh marah-marah sama bini gue, ngak sopan kamu iya."


Hanya Findon yang menahan tawa, sementara yang lainnya kaget akan pengakuan dari mas Satria. tapi Deva yang dikatain mas Satria kambing presto tidak memperdulikan omelan dariNya dan malah fokus melihat Ku.


"iya ampuiinnn.....


Jadi si cantik ini yang almarhumah maksud, dan kini baru nongol di hadapan eke....


mbak cantik.....


tolong usir laki mbak itu, bising kyak kenalpot racing."


"mau dipecat?"


"eke takut....


emangnya bisa memecat gue?"


Jawaban Deva yang anti mainstream membuat semuanya menahan tawa, sepertinya dia tidak gentar dengan ancaman mas Satria dan malah balik menantangnya.


"sudah dong, kita disini mau kerja bukan adu mulut.


Pak Satria, ada apa ini pak? kenapa mengumpulkan kami secara tiba-tiba seperti ini?"


"ini perempuan bego nya ngak habis-habis ya, mbak cantik adalah titisan ibu."

__ADS_1


"titisan, eh rempong. loh kirain nyai Roro kidul?


ngak yang jelas dong."


"begini ya Nia, mbak cantik yang bernama Sarah ini adalah influencer yang akan mengangkat penjualan produk Insani.


Lihatin look nya dong, dapat banget. selain influencer kita dapat model.


Buy one get one, mbak Sarah sudah aktif lagi di media sosial dan pesanan itu kembali bangkit.


Sekarang loh urus deh kesepakatan dengan mbak cantik ini, perempuan yang dipilih oleh almarhumah."


"maksudnya apa Deva?"


"kontrak Nia, kontrak. jangan biarkan kesempatan ini hilang.


mau gaji mu di potong?"


"kok nyuruh-nyuruh gini, loh asisten gue, seharusnya Lo itu yang mengurusi kontrak."


"eh perempuan bacot, gue yang mengangkat loh jadi bos.


sadar diri dong, sudah buruan kerja, ngak usah pake komplain."


"iya rempong."


Benar-benar membingungkan, yang atasan siapa dan yang di suruh siapa.


Perdebatan antara Deva dan Nia membuat kami menahan tawa, dan tidak satupun yang berani tertawa lepas.


"mbak Sarah, kami ingin mengontrak mbak. tapi sebagai apa ya?"


"dasar rempong, biar eke aja ngomong."


Ujar Deva yang terlihat kesal terhadap Nia, dan langsung Deva yang mengambil posisinya.


"begini mbak cantik, eke memang sudah tahu kalau saham almarhumah ibu Lila jatuh ke tangan istri pak Satria.


tapi saya tidak kenal siapa itu Sarah, karena suami mu itu tidak mengundang kami saat pernikahan kalian.


Dulu almarhumah pernah berpesan akan pengganti Nya yang lebih berkompeten untuk mengurus penjualan produk Insani.


Eke sudah melihat akun media sosial mbak, dan itu bisa membangkitkan kembali kejayaan Insani.


Bergabung dengan kami, sebagaimana almarhumah mengelolanya.


Almarhumah ibu Lila tidak pernah salah memilih orang, instingnya sangat tajam.


Lihat saja, mbak sangat berbakat. baru saja aktif di media sosial dan pesanan Insani langsung membludak.


Mbak sebaiknya bertanya kepada suami, tentang bagaimana Insani membayar mbak.


Eke tidak bisa memutuskan sepihak, karena mbak adalah pemilik saham mayoritas di Insani sekaligus talent.


Pak Satria, saran dan kritik di buka. speakup please."


Sebenarnya masih bingung dengan semua ini, belum paham semuanya akan penjelasan dari Deva.

__ADS_1


__ADS_2