
Hening sesaat dan kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing, lalu fokus kepada mas Satria dengan segala rahasia Nya.
"kenapa Findon tiba-tiba memanggil mas Satria dengan panggilan mas?"
"Findon adalah sepupu ku, mama kami kakak beradik dan hubungan keluarga ini tidak boleh diketahui oleh ayah dan keluarganya."
"Bagiamana dengan kak Deva, mbak Nia, dan pak Imran?"
"Deva adalah keponakan Mama, mbak Nia adalah sepupu Deva.
Pak Imran adalah sepupu mama dari garis ibu, dimana mama dan pak Imran memiliki kakek nenek yang sama."
Mungkin cukup pertanyaan hari ini, karena semua jawaban dari mas Satria sangatlah singkat tanpa penjabaran.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"terus mempelajari isi flashdisk itu, jika menemukan sesuatu yang penting dan simpulkan, nantinya kita akan diskusikan bersama."
"baik mas, tapi ada tiga permintaan Sarah. pertama mas Satria harus melanjutkan program bayi tabung bersama Sarah ya.
kedua, mas harus menepati janji mas kalau Sarah bisa bekerja seperti yang telah disepakati.
Ketiga, jika Sarah ada masalah dengan ibu tiri mas, jangan hanya mendengarkan pengaduan satu pihak aja."
"mas setuju, kamu juga berhak atas saham mama dan bisa bertindak sesuai kamu inginkan.
Mas berharap jangan pernah memberikan saham kepada keluarga ayah tanpa persetujuan dari Ku, apalagi gratis."
"baik mas."
Terlihat mereka tersenyum dan aku tidak mengerti arti senyuman itu.
"mbak cantik, kak Deva disini sebagai pimpinan. emang saham kamu lebih banyak, tapi bukan berarti kamu berkuasa."
"tenang aja kak, Sarah hanya ingin menyalurkan hobi sekaligus biar ada aktivitas, Sarah juga harus belajar banyak dari kak Deva dan juga mbak Nia.
oh iya mas, pak Imran bisa kan tetap menjadi asisten Sarah?"
"bisa sayang."
Lagi-lagi mereka tersenyum karena mas Satria memanggilku sayang.
"terimakasih ya mas, berarti pak Imran bisa dong mendapatkan bonus dari Sarah, karena sudah resmi menjadi asisten Sarah?"
"kok cuman bonus non Sarah? gaji bapak ngak nambah?"
"mau sih gitu pak, tapi Sarah harus meminta persetujuan suami pak."
Mas Satria mengganguk dan kemudian tersenyum.
__ADS_1
Entah apa yang merasuki diri ini, aku langsung bangkit dari kursi dan kemudian berjalan ke arah mas Satria.
muach.....
Pipi kanan mas Satria aku cium, dan akhirnya mereka yang lain tertawa lepas karena wajahnya mas Satria terlihat merah karena menahan rasa malu.
Mungkin karena malu, lalu mas Satria pergi dari ruangan ini yang di ikuti oleh Findon.
"jadwal sudah di periksa oleh Sarah, sekarang sesuaikan jadwal nya dengan tim kita ya.
pak Imran, tolong jaga putri bapak ini ya."
"siapppp......"
Jawaban pak Imran yang ala-ala tentara membuat kami tertawa.**
Mobil yang disetir oleh pak Imran melaju dengan kecepatan sedang, sementara aku sibuk membaca spesifikasi produk kecantikan Insani.
"kita pulang aja ya non, karena non Sarah harus istirahat, lagipula Adam juga butuh waktu lebih dari non Sarah."
"iya pak, terimakasih ya pak sudah di ingatkan."
"sama-sama non."
Mobil terus melaju dan akhirnya kami tiba di rumah, Adam yang sedang bermain di taman langsung menyambut kedatangan ku.
Kemudian kami masuk ke dalam rumah, dan harus berpapasan dengan ibu tiri suamiku ini.
"mau kemana? duduk dulu, ibu mau bicara."
Lalu duduk di sofa, pasti ujung-ujungnya akan membuat ku sakit hati.
"sebentar lagi Sinta akan kemari, mungkin kamu bisa membujuk si banci itu untuk menjadikan Sinta menjadi model di Insani.
Berguna dikit kau jadi menantu, Sinta itu adalah adik ipar mu."
"nanti saya omongin sama kak Deva."
Tatapan itu sangat tajam dan menyeramkan, tidak masalah selama dia tidak menyakitiku dan juga adikku Adam.
"Lyra sudah siuman, tapi butuh rehabilitasi karena kecanduan terhadap obat-obatan terlarang.
Butuh uang untuk rehabilitasi nya, kamu kan banyak ya, jadi berpartisipasi untuk adik ipar mu.
Asal kamu ketahui bahwa semua uangku sudah ludes untuk biaya rumah sakitnya dan juga mahar serta biaya pernikahan Rizal.
Jadi istri jangan terlalu nurut sama suami, ibu tahu kalau kamu menerima saham si Lila itu.
Bantu adik ipar mu, jangan egois dan pelit. nanti ibu akan menolong mu agar bisa cepat hamil."
__ADS_1
Ibu tiri suamiku berhenti bicara, karena istri Farhat om dari mas Satria sudah tiba di rumah yang datang bersama Sinta putri nya.
"mbak harus bisa membuat Sinta menjadi model di Insani."
Ucapannya yang minim tata krama, tapi mungkin ini adalah jalan untuk mengorek informasi yang menarik dari keluarga ini.
Handphone langsung aku raih dan kemudian membuka akun media sosial yang telah di miliki oleh insani dan memperlihatkan nya kepada Sinta.
Jangan terlalu lama, nanti Sinta berbuat aneh-aneh terhadap akun itu, lalu handphone aku simpan di tas.
"Sinta harus bahwa semua itu butuh proses, mbak bisa diterima di Insani karena memulainya dari awal.
Berhubung Sinta sudah ada masalah dengan kak Deva.
Mbak ada ide, bagaimana jika kita berdua membuat video yang mereview produk Insani, dimana Sinta adalah guest mbak.
Lalu Sinta akan mencoba produk nya, kemudian kita upload dan kita melihat respon pengguna media sosial nantinya.
mbak yakin jika video mendapatkan respon yang baik dari netizen atau warga net, kak Deva akan merubah pandangan nya terhadap Sinta.
ngak salah mencoba kan?"
"jika Sinta jadi bintang tamunya mbak Sarah, apa sudah dapat uang?"
"Sinta.....
kamu masih muda dan cantik, saatnya memulai meniti karir, ntar uang nya menyusul."
Sinta sepertinya bimbang dan dia melirik ke arah mama nya.
"kamu yakin dengan ide kamu itu?"
Mamanya sudah masuk dalam percakapan, tanpa menanggapi pertanyaan itu dan kemudian mintak mpok Surti mengambil rangkaian produk kecantikan dari Insani yang dibawa oleh pak Imran kemarin.
Tidak berapa lama, mpok Surti sudah tiba dihadapan kami dengan membawa bingkisan produk Insani.
Mpok Surti membantu untuk membuka produk kecantikan Insani dan memajang di meja dengan rapi.
Lalu mpok Surti mintak duduk disamping ku, yang nantinya akan aku rias menggunakan produk Insani.
"model harus mengetahui produk, dan inilah paket lengkap produk kecantikan Insani.
Silahkan Sinta lihat dan pelajari sebentar dengan hanya melihat produk nya."
Sinta langsung meraih serum dan hendak mencobanya.
"Sinta.....
kamu salah sayang, masa langsung pake serum? gimana sih?
__ADS_1
Mbak yang mantan penjual pulsa paham cara pemakaian serum."
Sinta terlihat kesal karena aku tegur, akan tetapi dia tidak langsung menanggapi ucapan ku dan berusaha untuk tenang.