
POV Friska.*
Menantunya itu hanya bengong dan menghentikan aktivitasnya untuk mengobati kaki ibu mertuanya.
"ibu ngak perlu di obati, ibu hanya perlu istrihat aja, mana kamar ibu?"
"mari ikut Desi bu."
Desi menuntun ibu mertua nya untuk membawanya ke kamar tamu, masih terlihat jelas kekecewaan dari Desi terhadap ibu mertua nya dan itu terpancar dari sorot matanya.
"kamu menyuruh ibu untuk istirahat di kamar kecil ini?"
"kenapa emangnya bu? tinggal turunkan kasusnya, pasang sprei dan hidupkan AC.
Kamar ini setiap hari Desi bersihkan ibu, hanya kamar yang tersisa di rumah ini."
"Rizal...... Rizal......"
Bukannya menanggapi ucapan Desi, ibu mertua nya malah berteriak memanggil anaknya.
"kenapa ma?"
"Mama ngak mau kamar ini, terlalu kecil dan pengap."
"kamar ini cukup untuk mama, biar Rizal rapikan dulu ya."
Rizal menurunkan kasur nya kemudian Desi membentangkan sprei dan merapikan ranjangnya.
"tinggal nyalakan AC nya aja, sejuk kan ma."
"Mama ngak sudi di kamar ini."
"terus mama mau tidur dimana?"
"kamar kalian aja, dan kalian disini. ingat ya Rizal, mama sudah banyak berkorban untuk kamu, jangan jadi anak durhaka."
Seketika kebingungan melanda Rizal dan kemudian menatap istrinya lalu meraih tangan istrinya.
Istrinya yang hamil besar kelihatan susah berjalan dan dipaksa oleh Rizal untuk bicara di suatu tempat.
Akhirnya mereka berdua menuju kamar pribadinya, kamar mereka berdua.
"kita tukaran aja ya dek, biar mama tidur disini dan kita tidur di ruang tamu."
"ngak mau mas, jika mama dan papa menginap disini, mereka tidur di kamar tamu kok dan ngak komplain.
Terserah mama mu ya mas, pokoknya Desi sudah membiarkan mama mu itu untuk tidur di kamar tamu, jika tidak mau. ya silahkan pergi ke hotel."
"jangan egois gitu Desi, mama tidak pernah tidur di kamar sempit seperti itu."
"mas kira kedua orang tua ku gimana? saat mama dan papa disini dan kamar tamu itu tempatnya istirahat.
Maaf ya mas, Desi tidak mau. karena kamar ini adalah privasi kita.
Desi mau istrihat, mas urus aja sendiri ya."
"Rizal..... Rizal....."
__ADS_1
Teriakan itu terdengar lagi, dan Rizal langsung menghampiri mama nya yang berteriak.
"sudah tengah malam ini ma, ngapain sih teriak-teriak? malu sama tetangga."
"jadi Rizal lebih memperdulikan tetangga dari mama?"
"bukan seperti itu ma, tapi tenang ya jangan teriak, daerah komplek kecil.
Mama maunya apa?"
"mana istrimu? Mama nggak tidur disini, kalau ngak pesan aja kamar hotel untuk mama."
"kamar hotel? Rizal memang sudah kerja di kantor papa nya Desi, tapi Rizal hanya sebagai tenaga administrasi arsip.
Gaji Rizal ngak seberapa ma, bagiamana bisa memesan kamar hotel? lagian ini sudah tengah malam.
Jika mau cek in di hotel, pasti akan lebih mahal, jika mau di hotel biasa atau penginapan."
"Rizal kok bego amat sih, mintak dong uang sama istri mu. percuma istri mu kaya raya, masa kamu mau disetir oleh istri?
Mama tidak mau tahu ya Rizal, sekarang juga booking kamar hotel.
Desi...... Desi......"
Friska kembali berteriak memanggil menantunya dan kemudian berjalan ke kamar anak dan menantunya yang disusul oleh Rizal.
brak....bram....
'suara pintu dibanting karena dipaksa di buka'
Desi berusaha bangkit ketika melihat ibu mertuanya yang memaksa masuk kedalam kamarnya.
"ada, emangnya kenapa?"
Desi menjawabnya dengan santai, walaupun sebenarnya dia sudah dongkol yang terlihat dari sorot matanya.
"ibu ngak bisa tidur di kamar kecil itu, berikan aja kartu kredit dan uang nya, biar ibu sendiri pergi ke hotel."
"kenapa Desi harus memberikan itu? pantas aja kak Sarah mengusir ibu dari rumah, ternyata seperti ini kelakuan ibu."
"ngak usah ceramah Desi, kalau ngak mau ngasih, ibu tidur di kamar dan kalian berdua tidur di kamar yang kecil itu."
"lebih baik ibu pergi dari rumah ini, bisa-bisa saya melahirkan anak sebelum waktunya karena tingkah ibu seperti ini."
"Desi.....
kok kamu tega sih mengusir mama? apa yang ada dalam pikiran mu?"
Desi yang dibentak suaminya lalu bangkit dari ranjang itu, kemudian duduk di meja riasnya dan menatap mertua dan suaminya.
"terus mas maunya apa?"
"berikan aja kartu kredit dan uang sama ibu, biarkan ibu istrihat di hotel.
Kita harus berbakti kepada orang tua, jangan lah seperti itu Desi."
haaaaaaaa.......
__ADS_1
Terdengar suara napas dari Desi, dan kemudian meraih handphone nya yang terlihat menyala di atas meja riasnya.
"kartu kredit dan uang cash yang Desi miliki adalah milik ke-dua orang tua ku.
Daripada repot memikirkan kalian berdua, lebih baik Desi yang pergi dari rumah ini."
Desi berhenti bicara karena mendengar suara mesin mobil dan klakson dari depan rumah, seketika Desi langsung meraih koper yang berukuran sedang dan juga tas kecilnya.
"Desi..... Desi......"
Suara yang lembut dari seorang wanita yang memanggil nama Desi lalu di sahut olehnya.
"ayo kita pulang nak, tidak baik untuk kandungan dengan susana seperti ini."
Ujar seorang perempuan paru baya yang didampingi oleh dua orang laki-laki.
Rizal dan mama nya hanya terdiam dan tanpa berbuat apapun.
"mas urus aja dulu ibu ya, jika sudah selesai urusan ibu, nanti jemput Desi di rumah mama. itupun jika mas Rizal suami yang bertanggung jawab.
ayo ma...."
Tangan Desi langsung diraih oleh mamanya dan koper nya di ambil salah satu pria yang mendampingi mama nya.
"Desi..... Desi......
tunggu.......
Saya suami mu, tanpa seijin Ku, kamu ngak boleh main pergi begitu saja.
Kita hanya perlu mengalah untuk mama, dan bukan main pergi seperti ini."
"Desi akan tetap disini jika mama mu tidak menggangu kita.
Ingat ya mas, Desi tidak bermasalah jika harus tinggal bersama dengan mama mu, tapi bukan berarti mama mu berkuasa di rumah ini dan berbuat sesuka hatinya."
"kita bicarakan baik-baik ya."
"cukup Rizal, ibu sengaja membiarkan kalian berdua tinggal disini agar kalian bisa mandiri dan memulai dari awal.
Apa ibu pernah ikut campur pernikahan kalian? ngak kan?
Ibu kemari hanya kangen dengan putri ibu, sekaligus mencek keadaan kehamilan nya.
Kamu urus dulu mama mu dan nanti jemput istri mu dari rumah."
Setelah mengucap perkataan nya, lalu menarik tangan putrinya untuk putrinya untuk pergi dari rumah.
"tunggu....
setidaknya berikan ibu uang Desi, apa kamu ngak iba melihat ibu seperti ini?"
creeessss.......
Mamanya Desi melemparkan beberapa lembar uang seratus ribu tepat di wajahnya Friska.
"dasar perempuan tidak tahu malu."
__ADS_1
Ucapannya besannya itu tidak membuat Friska merasa malu dan malah mengutip uang yang berserakan itu.