PEJUANG GARIS DUA

PEJUANG GARIS DUA
Senyuman Mas Satri.


__ADS_3

Mas Satria tersenyum ketika aku selesai merapikan kerah bajunya serta dasinya yang mirip.


"kenapa mas?"


"uhmmm....


ngak ada, cuman teringat aja ke mama. dulu seperti ini. bawel banget dan nyuruh ini dan nyuruh itu.


Kadang kesal dan kadang buat tawa, tapi kebanyakan rasa kesalnya sih."


"maaf ya mas kalau Sarah cerewet, udah kebiasaan soalnya.


Kondisi keluarga di rumah membuat Sarah wajib jerawat."


Tiba-tiba saja mas Satria memelukku dengan erat, dan sangat hangat, entah kenapa tangan ini sangat liar sehingga memegang anu nya mas Satria.


"sabar dong."


Ujar mas Satria lalu melepaskan pelukannya, dan aku hanya bisa pasrah lalu mencium bibir mas Satria.


"sudah siap? yuk berangkat ke kantor."


Ucap mas Satria dan menggandeng tanganKu, lalu kami melangkah keluar kamar dan sesampainya di ruang tamu.


Pak Imran, mpok Surti dan mbak Tika tersenyum melihat kami yang bergandengan tangan.


"gitu dong baru putri bapak, harus mesra sama suami.


Non lihat sendiri kan, bapak dan ibu mu selalu mesra walaupun sudah tua.


Mohon di tiru ya, pertengkaran dan persoalan rumah tangga itu adalah bunga-bunga kehidupan.


Tapi tetaplah bermesraan walaupun badai menerjang."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Gelak tawa dari kami yang memenuhi ruangan ini.


"yuk berangkat ke kantor?"


"ihhhhh.....


pak Imran percaya diri sekali mau kami ajak ke kantor!"


"maaf ya nak Satria, bapak sudah menjadi asisten istrimu, jadi bapak akan selalu ikut kemanapun istrimu pergi."


Lagi-lagi kami tertawa lagi, karena ucapan dari pak Imran yang menanggapi ucapan mas Satria.


Suasana yang bahagia dan kami akhirnya berangkat ke kantor yang disetir oleh pak Imran.


Mobil kami parkir khusus, persis di depan kantor, dimana slot nya ada dua.


"pak Imran, ini kan slot untuk parkir mamak Ku, kenapa parkir disini?"


"nak Satria lupa ya, atau sengaja dilupakan. kan non Sarah sudah menempati ruangan mbak Lila.


gimana sih?"


Mas Satria terlihat kesal, akan tetapi tidak ditanggapi oleh pak Imran.


Pak Imran kemudian turun dari mobil, lalu membuka pintu mobil untuk ku.


Lalu pak Imran mengikuti kami dari belakang, ketika mas Satria melihat ke arah belakang dan pak Imran pura-pura cuek.

__ADS_1


"bapak ngapain ngikutin kami?"


"bapakkan asisten non Sarah."


Mas Satria hanya terdiam akan ucapan dari pak Imran, dan terus mengikuti kami.


"nak Sarah...


Untung kamu sudah datang."


"heeee......


ngapain pegang-pegang tangan putriku, bukan muhrimnya tau ....."


Pak Imran langsung menepis tangan kak Deva yang tiba-tiba memegang tanganKu, terlihat mas Satria mengangkat kedua jempol nya ke pak Imran.


"ihhhhh......


ini pak tua heboh banget deh, kami sejenis tau....."


"sejenis dari Hongkong, tuh lihat ada dua telor mu menggantung, kamu bisa sepuasnya memegang tangan perempuan lain, asal jangan tangan putriku."


"ihhhhh......"


Kak Deva yang kemayu terlihat sangat kesal akan tingkahnya pak Imran.


"apaan sih....


pagi-pagi sudah bising aja, yuk masuk. banyak pekerjaan yang menunggu kita di dalam."


"apalagi ini perempuan gilingan cabe."


Ujar kak Deva kepada Nia, kepala marketing produk Insani, dan kak Deva melakukannya dengan begitu anggunnya, seolah-olah dia mengibaskan rambut gaib nya dengan tangan kanannya yang lentik.


"main tinggal aja, saya suaminya Sarah."


"ngak usah sewot ya, jalan aja sendiri. jangan manja."


Ucap kak Deva kepada mas Satria, yang kemudian mengikuti kami dengan wajahnya yang cemburut.


Lalu kami naik lift khusus eksekutif kantor, kak Deva menekan tombol angka delapan dan juga angka sembilan.


Kak Deva mengoceh dan mas Satria terlihat mengejeknya.


Lift berhenti dan mbak Nia menarik tanganku untuk keluar dari lift.


"ngapain ngikuti kami, ruangan mu ada di lantai sembilan."


Ucap Deva ke mas Satria, lalu meneken tombol penutup pintu lift.


"ini lagi pak tua, ngapain ngikuti kami?"


"idih.....


pura-pura ngak tahu, dah jalan aja terus. liat kebelakang mulu deh, ntar itu leher pegal karena lihat kebelakang."


Jawaban dari pak Imran tidak kalah nyinyir nya kepada kak Deva.


Mbak Nia yang tertawa lepas mendengar sahutan nya dan juga balasan akan ucapan tersebut.


Sesampainya di ruangan mewah ini, ruangan yang di wariskan oleh almarhumah ibu Lila, dan kami duduk di sofa.


"mbak Sarah....

__ADS_1


postingan mbak Sarah kemarin, lagi-lagi membuat tim produksi harus bekerja keras dan tim marketing produk yang kewalahan menghadapi orderan.


Kalau begini terus, bisa-bisa kita kaya mendadak lah."


"iya benar, istri bapak di rumah hanya jualan produk Insani aja.


Bahkan sudah punya gudang dan pegawai empat orang perempuan dan dua laki-laki."


"terus kenapa pak Imran tidak membantu istri aja jualan produk Insani?"


"ngak bisa nak Deva, karena itu usaha istri bapak.


Sementara bapak sendiri kan sudah jadi asisten pribadi nak Sarah."


"iya.... iya....."


Ujar kak Deva yang seolah-olah menyindir pak Imran.


"kenapa ibu bisa jadi jualan produk Insani pak? bagiamana dengan pekerjaannya?"


"itu loh non, kemarin itu kan non Sarah memberikan set produk Insani kepada ibu mu.


Lalu dipakai lah itu produk, mungkin karena wajah ibu mu semakin glowing. sehingga banyak teman-temannya menginginkan pruduk kecantikan itu.


Menurut ibu mu, itu adalah kesempatan emas. segera lah bapak hubungi mbak Nia, untuk memberikan stok kepada kami dengan cara cicil.


Sudah balik modal bahkan untung yang lumayan besar.


Adik mu ikut-ikutan juga, akhirnya mereka join. katanya ada taq taq kan gitu ke ke media sosial non Sarah.


Lalu membuat video seperti mbak Sarah lakukan, itu plagiat ngak sih non Sarah?"


"ngak kok, lagian si adek sudah ijin sama Sarah dan juga mbak Nia.


kami sudah koordinasi semuanya pak, jadi tenang aja.


pokoknya semua harus kecipratan rezeki dan kecantikan yang alami dari produk Insani."


"manis kali lah bibir itu Sarah."


Hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Kami tertawa karena sanggahan dari kak Deva, dan kami berhenti tertawa karena tiga perempuan cantik masuk ke ruangan ini dengan membawa pakaian dan juga perlengkapan makeup.


Sesuai dengan jadwal, bahwa sudah saatnya pemotretan sebagai model produk Insani.


"eh mbak-mbak....


Dandanannya jangan terlalu menor, karena model saya sudah cantik natural."


"siap kak Deva."


Jawab ketiga perempuan cantik itu dan terus bekerja.


"kak Deva.....


Saya rasa mbak Sarah ini cocok juga sebagai model busana kita.


Beli satu dapat dua, gimana kalau kita menggunakan produk pakaian kita.


kalau bisa sekaligus dengan tas, dan juga aksesoris nya."


Kak Deva langsung melirik salah dari perempuan cantik itu, yang memberikan saran.

__ADS_1


__ADS_2