PEJUANG GARIS DUA

PEJUANG GARIS DUA
Menikahi Neni.


__ADS_3

POV Satria.*


Setelah ayahnya pergi dan Satria pun kembali ke kamarnya, lalu memperhatikan sekelilingnya.


"sepi juga tanpa Sarah, tapi perempuan egois itu harus diberi pelajaran."


Ucapannya lalu merebahkan tubuhnya di ranjang yang empuk itu, dibalik bantal ada kertas yang ditemukannya dan jelas itu adalah catatan Sarah.


jangan lupa minum vitamin yang ada di laci dalam plastik warna putih.


'Vitamin itu harus mas minum sebelum tidur, dan jangan lupa oleskan krim ke anu nya mas ya.


besok paginya bersihkan menggunakan alkohol, begitu seterusnya sampai vitamin itu habis.'


Begitulah isi surat itu, dan kemudian Satria membuka laci itu dan benar saja ada pil dalam plastik berwarna putih atau lebih tepatnya bening.


Lalu Satria meminumnya dan mengoleskan krim ke anu nya, lalu merebahkan kembali tubuh lelahnya itu.**


Kring.....kring..... kring.....


Suara jam alarm membangunkan tidur nya Satria dan segera Ia meraihnya untuk di non aktifkan, dan lagi-lagi Satria menemukan surat dibawah jam baker itu.


'*bersihkan anu nya mas, pake alkohol yang dibasahi ke kain kasa.


biarkan kering terlebih dahulu baru di bilas menggunakan air mengalir, jangan terlalu kuat di gosok nanti lecet.


Sebelum sarapan, terlebih dahulu minum vitamin itu ya, seduh dengan seperempat air panas lalu tambahkan air minum biasa.


pakaian mas untuk ke kantor di lemari yang warna coklat, dasi ada di laci nomor dua dan juga aksesoris.


Jangan lupa sarapan sebelum ke kantor, di sudut kanan keluar dari komplek ada penjual nasi lemak dan lontong.


Makanan nya enak dan higenis, ntar singgah disana aja atau telpon dan langsung diantar ke rumah.


Handuk bersih ada di lemari kamar mandi, jangan lupa tutup setelah mengambilnya*."


Setelah membaca surat tersebut, Satria menghela napas panjang. seketika itu juga dia teringat dengan almarhumah mama nya yang super cerewet.


Satria melakukan nya, pertama-tama Ia membersihkan anu nya dengan kain kasa yang sudah dibasahi dengan alkohol.


Baru dua kali di lap nya dan.....


pras.....prak....kress......


Kain kasa dan alkohol dalam botol itu di campakkan hingga berantakan di lantai, botol itu pecah sementara kain kasa nya bertaburan.


"harusnya kau melakukan ini Sarah, tapi kau meninggalkan suami ini. apa yang kau lakukan Sarah?"


Jelas tidak ada yang menjawab pertanyaan itu, karena hanya dia seorang yang ada di dalam rumah saat ini.


Dua asisten rumah tangga nya yaitu mpok Surti dan mbak Tika, lalu tukang kebun yang bernama pak Muklis telah pergi dari rumah.


Mereka pergi karena takut terkena virus berbahaya yang sedang di derita oleh Lyra, dan kemungkinan juga si Neni.

__ADS_1


Satria masih duduk di ranjangnya lalu perlahan bangkit dan mengarah ke kamar mandi.


Tidak berselang lama, Satria keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk di pinggangnya.


Membuka lemari dan mengambil pakaiannya, setelah dikenakan olehnya lalu dia bersiap-siap untuk kerja.


Kali ini Satria tidak memenuhi nasihat Sarah dalam surat tersebut, dan langsung pergi mengendarai mobilnya seorang diri.


Bukan nya ke kantor, Satria malah sebuah komplek perumahan dan ternyata dirinya menuju sebuah rumah.


"Neni....."


Ternyata dia ke rumah Neni, dan dirinya langsung disambut oleh Neni dan juga ibu tirinya.


"kamu disini juga zal?"


Rizal hanya mengganguk dan bukan hanya adik tirinya disana, tapi ada juga Lyra.


"Neni.....


Orang suruhan mas sudah mempersiapkan pernikahan di KUA (kantor urusan agama), ayo kita sana."


"iya mas, lagipula Neni, ibu dan adek-adek sudah siap kok."


Tanpa mengulur waktu dan langsung tancap gas ke kantor KUA.


Di kantor KUA mereka hanya perlu menunggu sebentar dan acara ijab kabul terlaksana dengan sempurna.


Kemudian Satria membawa keluarga barunya ke rumah nya, dan terlihat Neni bersama ibu tirinya Satria sangatlah begitu bahagia.


Sepertinya mereka menang dan telah berhasil memperdaya Satria.


"kakak ipar kemana mas?"


Satria menolah Rizal yang bertanya, dan tatapannya yang tajam itu mengarah tepat sasaran.


"sudah pergi, karena Sarah tidak mau tinggal serumah dengan Neni, dan sesegera mungkin mas akan menceraikan Sarah."


Lagi-lagi Neni dan ibu tirinya Satria tersenyum puas, mereka berdua telah menang telak dan perkataan Neni terhadap Sarah yang akan mengusirnya dari rumah telah terwujud.


"kamar kita dimana mas?"


Satria kemudian menoleh ke Neni, lalu Satria menunjuk ke suatu kamar dan kamar itu adalah kamar yang dipakai oleh Adam adik dari Sarah.


"loh kok kamar itu, bukannya kamar mu di sebelah sana?"


"ibu ngak usah campur dan patuhi semua yang aku perintahkan.


Ibu tetap di kamar ibu semula, dan kamu Rizal dan Lyra untuk menempati kamar tamu."


Mereka sejenak terdiam, dan bingung akan maksud dari Satria.


"jadi kita ngak satu ranjang mas?"

__ADS_1


"ngak Neni, karena suntikan hormon dan minum jamu hasil racikan mpok Surti yang menyebabkan hasrat ku semakin tinggi.


Mas takut akan melukai bayi kita nantinya, kita akan satu kamar setelah bayi kita lahir dan kamu bisa melayani mas."


"baiklah mas, Neni paham kok."


"kalau begitu kamu istirahat ya, mas mau ke kantor."


"ikut dong mas...."


"Satria......."


Suara teriakan dari ibu tirinya Satria dan membuat Neni berhenti bicara dan mereka semuanya menuju arah ruang makan, karena suara itu berasal sana.


"kok berantakan gini? si mpok dan Tika kemana?


kenapa bisa begini? semuanya jorok?"


"sudah saya pecat, karena mereka tidak bisa menerima kalian tinggal di rumah ini.


ibu beresken aja, dan segera cari pembantu. jangan berkomentar dan segera bertindak."


drrrt..... drrrt...... drrrt.......


Tiba-tiba handphone Satria bergetar dan di layar handphone nama Deva yang menghubunginya.


'ke kantor sekarang, bangsat.....'


Kalimat itulah yang di ucapkan Deva, dan telepon langsung berakhir.


"tolong beresken rumah dan cari segera pembantu ya, mas mau ke kantor dulu."


"Neni ikut mas."


"bawa aja istri Satria, biar ibu yang membereskan semua ini, kasian juga kalau Neni terus menerus di rumah."


"Rizal juga ikut ya mas."


Rizal juga mintak ikut, dan terakhir Lyra juga mintak ikut.


Karena bujukan mereka bertiga, dan akhirnya Satria membawa mereka bertiga ke kantor.


Di dalam mobil Satria hanya terdiam dengan pikirannya yang kacau, karena seumur-umur Deva tidak pernah memaki dirinya.


Tapi di telpon tadi, Deva mengatai dengan kata bangsat dan itu untuk pertama kalinya.


"mas....


apakah Sarah masih memegang Insani?"


"mungkin, emangnya kenapa?"


Neni hanya tersenyum seraya menatap Satria, dan senyuman itu terlihat senyuman yang mengandung suatu arti.

__ADS_1


__ADS_2