
POV Satria.*
Satria bengong dan tidak percaya akan perlakuan petugas itu terhadapnya, dan menghentikan langkahnya karena dipanggil oleh Satria.
"eh manusia sinting, saya berjalan ke parkiran dan mengambil mobil ku ini."
Tapi petugas itu tidak menanggapi perkataan Satria, dan berjalan setengah berlari dari lokasi tersebut.
drrrt.... drrrt..... drrrt.....
Handphone milik Satia berdering, dan Ia langsung meraih handphonenya.
'*kenapa Findon?'
'mas Satria benar-benar gila ya, hanya karena perempuan ****** itu, dan mas Satria melepaskan fasilitas rumah sakit Lila.
Findon benar-benar bingung dan tidak habis pikir akan tingkah mu mas.
Terserah mas Satria aja, dan jangan pernah menemui Findon lagi.'
'apa maksudmu Findon?'
'nanya lagi, mas sudah menandatangani perjanjian dan pernyataan kalau mas Satria dan perempuan ****** itu serta bayi nya untuk menolak fasilitas dari rumah sakit Lila.
Mas Satria tidak akan pernah dilayani oleh rumah sakit Lila, di seluruh cabang nya maupun di rumah sakit utama serta klinik.
benar-benar bego nan idiot, ya sudah nikmatilah semua kebodohan mu.'
'kamu gila ya, sejak kapan saya menolak nya?'
'sadar mas Satria, mas sendiri yang menandatanganinya di ruangan dokter Sutris dan sekarang semuanya sudah berakhir*.'
tut....tut....tut.....
Telepon berakhir dan Satria bengong dan heran akan semua kejadian yang menimpa dirinya saat ini.
Belum terjawab semua kebingungan yang menimpa nya, kini sudah empat polisi di hadapannya.
"pak Satria, kami akan membawa anda ke kantor polisi, karena sudah tiga mangkir dari panggilan kami.
Berdasarkan KUHP Pasal 224 ayat (1), mangkir dari panggilan kepolisian adalah tindak pidana.
Kami telah mengirimkan surat resmi kepada anda, dan tetap mangkir. oleh karena itu kami harus menjemput paksa saudara Satria.
Ayo ikut kami, jika melawan kami akan bertindak berdasarkan ketentuan."
"tapi apa salahku?"
"nanti di jelaskan di kantor, dan saudara berhak di dampingi oleh penasihat hukum."
Polisi itu langsung membawa paksa Satria kedalam mobil polisi serta membawa mobil milik Satria.
Terlihat Neni yang kebingungan melihat semua kejadian ini.
Syok yang tergambarkan dari tatapannya matanya itu, tapi Neni tidak berbuat apapun dan hanya merelakan polisi membawa suami pergi.**
Sesampainya di kantor polisi dan Satria, langsung dibawa ke ruang interogasi dan sudah berhadapan dengan dua orang petugas di hadapannya.
__ADS_1
"kenapa saya tiba-tiba dibawa kemari?"
"karena anda mangkir dari panggilan kami dan sudah tiga kali, dengan terpaksa kami menjemput paksa saudara."
"mangkir? saya tidak pernah menerima surat apapun? apa salah saya?"
"mungkin saja surat nya ada di kotak surat rumah saudara, dan anda berada disini karena telah mencemarkan nama baik Indah klinik."
"memang betul kok Indah klinik menukar sel ****** saya dengan sel ****** orang lain dan tidak profesional dalam hal bekerja."
"baik kalau begitu, silahkan gugat kembali dengan bukti-bukti yang valid.
Kami akan memberikan pengacara secara gratis untuk saudara..."
"pengacara gratis? bapak kira saya ngak sanggup membayar pengacara?"
"bagus kalau begitu, jadinya tidak membebani negara nantinya."
Ucap petugas itu, lalu memanggil bawahannya dan memerintah untuk membawa handphone milik Satria.
"sekarang hubungi pengacara saudara, untuk melakukan sanggahan atau pembelaan ataupun itu gugatan balik.
Kami tunggu selama tiga puluh menit, dan kalau lewat dari waktu yang ditentukan, maka anda akan masuk ke dalam sel."
Ujar petugas itu dan meninggalkan Satria di ruang interogasi tersebut.
Sesegera mungkin Satria langsung menghubungi seseorang.
'*kenapa mas Satria? sudah bersenang-senang dengan perempuan ****** itu?'
'kenapa saya tiba-tiba di kantor polisi?'
sudah pikun ya mas? kan Indah klinik menggugat mu mas Satria.'
'saya akan menggugat kembali klinik itu, panggil pengacara kantor sekarang juga.'
'kambuh lagi nih mas Satria, ingat mas.... ingat, bahwa mas Satria tidak bisa memakai fasilitas pengacara dan fasilitas lainnya dari Lila group.
Pakai uang sendiri dong, mas Satria masih ada tabungan kan?'
'ada segera saya kirimkan ke rekening dan tolong pengacara yang top di kota ini, saya harus memberikan pelajaran kepada Indah klinik itu.'
'kirim aja dulu uang nya, ntar saya cariin pengacara yang akan membantumu*.'
tut....tut.... tut.....
Panggilan telepon terputus dan satu petugas menghampiri Satria.
"ada tamu yang ketemu."
Satria langsung dibawa keluar ruangan dan kemudian menuju ruangan yang lain dan betapa terkejutnya dirinya ketika melihat Neni sudah duduk di ruang tunggu itu.
"Neni di larang masuk ke rumah mas, karena rumah itu sudah milik Sarah.
Kami tinggal dimana mas Satria?"
"siapa yang melarang mu tinggal disana?"
__ADS_1
"katanya sih dari Lila group, karena Sarah melarang ku untuk tinggal disana."
"kurang ajar, tunggu sebentar."
Kemudian Satria meraih handphonenya dan menghubungi seseorang.
'*apa lagi mas Satria, saya lagi nyari pengacara untuk Mu?'
'kenapa Neni dilarang masuk ke rumah ku?'
'rumah mas Satria yang mana? sadar mas Satria, itu rumah sudah milik mbak Sarah.'
'kenapa kalian kejam sama Ku?'
'tinggalkan perempuan ****** itu dan juga bayi malang itu, dan mintak maaf ke Indah klinik dan lakukan konferensi pers.'
'tidak akan*.'
tut.... tut....tut....
Panggilan berakhir, dan Satria terlihat jengkel dan emosi karena Findon mengakhiri panggilan secara sepihak.
Lalu Satria mengecek saldo rekening nya melalui akses internet banking, dan kemudian Ia menggaruk-garuk kepalanya.
"kenapa mas?"
"Saldo rekening mas tinggal dua ratus juta rupiah lagi, mas membutuhkan pengacara.
Mas akan memberikan mu uang lima juta rupiah, untuk mencari tempat tinggal dan biaya hidup mu dan bayi kita."
"apa? cuman lima puluh juta? kenapa ngak semua aja?"
"mas membutuhkan nya untuk membayar pengacara, karena kantor tidak memberikan fasilitas lagi untuk Ku.
tolonglah pengertiannya Neni, aku mohon pengertian mu."
"iya sudah kirim aja."
Sesaat kemudian Satria memainkan handphone nya dan kemudian menunjukkan sesuatu di layar handphone tersebut.
"sudah ku kirim ya, dan tolong berhemat dulu sebelum semua masalah ini selesai."
Kemudian Neni merampas handphone milik Satria, karena melihat internet banking itu masih terbuka.
Lalu mengirimkan semua isi saldo rekening itu ke rekeningnya.
"iya iya....
mungkin rejeki ku hanya segini aja, walaupun cuman dua ratus juta, lumayanlah, dan percuma bergaul sama orang bodoh ini."
"maksud apa Neni?"
"ya jelas lah kau itu bego, kau kira bayi ini anak kandung mu? ngak bego.
Terserah mau aku apakan bayi ini, mungkin menjualnya ke pasar gelap untuk bahan penelitian.
karena percuma juga bayi ini hidup, karena sudah terinfeksi virus HIV AIDS."
__ADS_1
Ucap Neni dan merasa tidak bersalah, sementara Satria masih dalam kebingungan akan semua ucapan Neni terhadap nya.