PEJUANG GARIS DUA

PEJUANG GARIS DUA
Masih Bingung.


__ADS_3

POV Satria.*


Berusaha tenang dan kuat, itulah yang dilakukan oleh Satria.


'mas....mas Satria.....'


'iya Neni, bagaimana keadaan mu sekarang?'


'saat ini masih baik-baik aja mas, dan telah dilakukan pengambilan sampel darah lagi dan mengecek kandungan Neni.


Bayi baik-baik aja dan normal, untuk makanan dan minuman, Neni ngak kekurangan mas.


kalau mas gimana kabarnya?'


'baik kok, cuman mas ngak bisa menghubungi Deva atau Findon.'


'kalau Sarah gimana mas? Neni yakin ini semua perbuatan Sarah.


Neni yakin Sarah tidak terima pernikahan kita dan juga tidak bisa menerima kenyataan kalau anak yang Neni kandung ini adalah anak kandungnya mas.'


'sudah mas coba hubungi, tapi malah tersambung ke operator.


Saya mau nanya, apa benar kamu berhubungan badan dengan pria yang di foto itu?'


'itu ngak benar mas, mereka telah memfitnah Neni mas, dan aku yakin Sarah lah pelaku semua ini.'


'ini mas selidiki dulu, mas hanya ingin mengetahui keadaan mu dan juga bayi kita.'


Satria langsung memutuskan sambungan telepon tersebut dan baru saja selesai menelpon dan kemudian telepon itu berdering lagi.


'ini ayah mu Satria, kamu apa kabarnya?'


'gawat ayah, dimana ayah sekarang berada?'


'dipenjara Satria, ayah hanya memintak tolong kepada Sarah untuk menanyakan kabar mu. tapi kabar kekecewaan yang Sarah bagikan untuk ayah.


Apa sih yang kami inginkan dari perempuan jal*ng itu?


kamu itu benar-benar bodoh ya, bisa-bisanya seseorang berpendidikan tinggi dan lulusan terbaik dari luar negeri tapi di tipu perempuan jal*ng seperti itu.


Kalau papa wajar di tipu dua perempuan jal*ng karena memang ayah tidak berpendidikan dan bodoh.


Satria sudah miskin kan? kau rasakan lah itu. emas di buang dan sampah di tampung, dasar bodoh.'


'mereka semua yang kurang ajar, berani-beraninya memfitnah Neni istriku.'


'eh bego.......


isi otak mu apa sih? sudahlah.....


capek ayah ngomong sama kau.'


Lagi-lagi telepon itu terputus secara sepihak dan Satria terdiam di samping telepon tersebut.


Entah berapa Satria bengong dan datang petugas sebanyak sepuluh orang yang berpakaian alat pelindung diri yang lengkap.

__ADS_1


"kami akan mengambil sampel darah dan juga sampel air liur bapak, mohon kerjasamanya ya pak.


Semakin cepat maka semakin cepat pula bapak keluar dari fasilitas ini."


Satria tidak melawan dan petugas itu melaksanakan tugasnya.


"apakah saya begitu najisnya bagi kalian? sehingga kalian harus berpakaian seperti itu?"


"maaf pak Satria, inilah SOP profesi yang harus kami taati di kala bertugas di ruang fasilitas ini.


Bapak sudah menikah dengan perempuan yang terindikasi mengidap virus HIV AIDS dan tidak yang menjamin nya.


Memang bapak tidak terindikasi saat pemeriksaan di awal, tapi sekali lagi kami katakan bahwa tidak ada kepastian akan virus mematikan itu.


Ini semua demi kebaikan kita bersama, dan nantinya akan menjawab pertanyaan publik mengenai keadaan bapak yang telah menikahi perempuan terindikasi mengidap HIV AIDS."


Jelas petugas itu, dan Satria bertanya karena mulutnya terbuka lebar untuk mengambil sampel air liur nya.


Selesai mengambil sampel air liur dan kemudian Satria menoleh petugas yang manjadi lawan bicaranya itu.


"bagaimana keadaan Sarah?"


"Menurut informasi dari pak Deva, kalau ibu Sarah dan kandungannya baik-baik aja.


Pemeriksaan tahap pertama akan sampel darah dan juga air liur bu Sarah dinyatakan bersih dari virus HIV AIDS dan akan dilakukan pengujian ke-dua.


Mungkin hasil pengujian itu besok keluar dan akan segera diumumkan ke publik, terlepas apapun itu hasilnya.


Berdasarkan pengujian dua kali sampel darah dan satu kali pengujian sampel air liur, dan dinyatakan bersih.


Peralatan dan teknologi laboratorium milik rumah sakit Lila, sudah terbarukan dan bertatap internasional.


Hanya rumah sakit Lila yang lengkap, bahkan se-Asia tenggara sekalipun.


Fasilitas pemerintah sudah mengeluarkan hasil dari pengujian sampel darah dan juga pengujian sampel air liur ibu Sarah dan dinyatakan bersih dari virus itu.


Fasilitas rumah sakit Lila, hanya memastikan paska pengambilan sampel pengujian secara berkala."


"syukurlah."


Hanya itu di ucapkan oleh Satria dan kemudian menoleh petugas itu setelah sampel darahnya selesai di ambil.


"jika tertular virus itu, apa yang akan kalian lakukan? dan jika sebaliknya, apa yang akan kalian lakukan?"


"kalau mengenai saya tidak mengetahuinya pak, kami hanya bertugas di fasilitas ini. keputusan bukan yang menentukan."


Akhirnya para petugas itu keluar dari ruangan itu setelah menyiapkan makanan berupa buah-buahan yang siap makan dan diletakkan di dalam kulkas yang tertempel tersebut.


Kring..... kringg.... kringg......


Telepon itu berbunyi lagi, dan dengan sigap nya Satria langsung menjawabnya.


'Neni.....'


'mas benar-benar keterlaluan ya.'

__ADS_1


'Sarah..... Sarah....S....a....rahhhhhhhhh........'


Mungkin karena salah menyebut nama, sehingga Sarah langsung mengakhiri panggilan telepon tersebut.


"sarahhhhhhhhhhh......."


Satria berteriak memanggil nama Sarah lagi, hanya salah mengucap nama dan hilang sudah kesempatannya untuk mengetahui informasi yang sebenarnya.


Satria duduk lemas di lantai, dan merasa seperti orang yang tidak berguna.


Berada di ruangan ini, seperti berada di penjara.


Satria merasakan kesepian yang amat teramat, seperti berada di antara kesepian yang tiada berkesudahan.


"aku mencintaimu Sarah, dan mencintai Neni. apakah salah berbagi hati?


kenapa kamu egois Sarah."


Satria berkata kepada dirinya sendiri dan menanyakan perihal sifat Sarah yang dianggapnya egois.


"Kenapa kamu menjebak ku Sarah? apa karena kamu tidak menyukai Neni?


Aku sanggup mencintai kalian berdua, apa salahnya dua wanita yang kucintai hidup dalam satu atap dengan Ku?


kenapa kamu begitu egois Sarah?"


Lagi dan lagi Satria mengatakan Sarah pribadi yang egois yang tidak bisa memahami perasaan dan cintanya yang terbagi dua.


"Sarah.....


apa memang harta yang kamu incar dariku, sehingga kamu menyiksaku seperti ini?


Kenapa kamu begitu egois Sarah?


Rumah mas itu besar, dan tidak akan pergesekan antara kau dan Neni, mas mencintai kalian berdua dan menginginkan hidup serumah dengan kalian berdua.


Neni juga sedang mengandung anak kandung ku Sarah, dan kami juga mengandung anak kandung Ku."


Itulah yang di ucapkan oleh Satria dan kemudian dan kemudian melangkahkan ke arah ranjang.


Kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang itu.


tok..... tok......


Seperti ada yang mengetuk pintu dan lubang pada pintu yang hanya muat surat terbuka dan amplop berwarna coklat di masukkan.


Satria mengutip amplop itu dan kemudian membawa ke atas ranjang.


"ah....


gugatan cerai dari Sarah, apa sih yang di inginkan perempuan itu? benar-benar egois.


Anak belum lahir tapi sudah menggugat cerai, dasar istri yang egois."


Ucap Satria dan masih memegang surat gugatan cerai itu.

__ADS_1


__ADS_2