
Deva dan ibu tiri suamiku adu mata, saling melotot dan sepertinya mereka berdua sudah lama bermusuhan.
"tolong dong jangan berantam disini, kami semua yang disini bergantung dengan salon kecantikan ini dan dari sinilah kami bisa menghidupi keluarga kami."
Ujar perempuan yang berpakaian berbeda dari pegawai lainnya.
"siapa yang mengizinkan pelakor ini masuk ke kemari? "
"dia sendiri kak Deva, namanya juga pelanggan. kami tidak memilih-milih siapa pelanggan kami selama dia mampu membayarnya."
"oke Sinta, saya dan mbak Sarah membutuhkan ruangan privat itu. saya tidak mau satu ruangan dengan pelakor ini."
"eh banci, jaga mulut busuk itu. apa karena kamu dekat dengan perempuan mandul ini?"
Kesabaran Ku sudah habis dan aku mendekati si mulut pedas ini.
"ibu masih sempat pergi ke salon di kala putri mu belum sadarkan diri karena aborsi dan rahimnya diangkat yang disebabkan virus jahanam."
"makin lantang kamu ya Sarah, kurang ajar kamu, dasar perempuan mandul."
"sudah dong bu, jika ibu masih membuat keributan disini, saya meminta pak satpam untuk mengusir ibu dari sini.
Sedari tadi kami disini baik-baik saja ya, setelah ibu datang semua nya kacau."
"maaf Sinta, ibu datang ini untuk paket lengkap, dan seperti biasa ya. nanti limpahkan saja ke tagihan mas Diman."
"maaf ibu, tagihan ibu sudah membengkak. karena bapak sudah punya saldo di rekening itu.
Rencananya kami mengirimkan tagihan bulan sebelumnya yang totalnya lima puluh enam juta rupiah.
Mohon dilunasi ya bu, dana itu kami butuhkan untuk belanja di salon ini serta gaji para karyawan."
"jangan ngaco deh, mana mungkin habis. mas Diman selalu mengisi voucher itu."
"mau gimana lagi bu, memang sudah habis. kemarin Lyra beserta teman-temannya yang berjumlah lima orang datang kemari dan memilih paket lengkap.
Bukan hanya sekali bu, tapi sering ditambah lagi teman-teman perempuan mas Rizal, ya otomatis habis.
ibu juga bisa bayar dengan cara lain, kartu kredit, debit atau card platinum seperti punya kak Deva.
Tolong dibayar ya bu, nanti pertangungjawaban saya gimana?"
"ngak mungkin habis itu kartu, karena suamiku selalu mengisinya? atau kamu sengaja menghabiskan nya?"
"kok ibu ngomong nya seperti itu? untuk apa? toh juga Sinta dan seluruh pegawai disini tidak bisa memakainya.
Berhubung ibu disini, dan Sinta tidak perlu repot-repot mengirimkan tagihan ini ke rumah, sekarang tolong ibu bayar tagihan ini."
Sinta memberikan tagihan salon kepadanya, dan seketika itu juga pegawai yang hendak melayaniku langsung merangkul tanganku dan mengajak Ku ke ruangan yang berbeda.
Deva mengikuti kami sambil ngedumel, sepertinya pertikaian mereka berdua cukup intens.
Aku dan Deva sudah duduk di kursi dan peralatan sudah disiapkan.
"mbak Sarah dan kak Deva, tenang ya. rileks....
biarkan kami bekerja untuk membuat mbak Sarah dan kak Deva rileks.
Saatnya memanjakan diri, kita mulai dari rambut ya..."
__ADS_1
Deva berhenti ngomel dan mengikuti arahan pegawai itu, begitu kepalaku tersiram air dan rasanya adem banget.
Prak..... brak.....
"Sarah....."
Sangat terkejut karena pintu masuk itu dibanting dan suara ibu mertua yang sangat kuat dan melengking memanggilku.
"panggil Sinta sekarang, panggil.........."
Deva berteriak ke salah satu pegawai yang menanganinya dan dia langsung berlari keluar dari ruangan ini.
"bayar tagihan ini cepat....
ini tagihan biaya perawatan kecantikan Lyra dan pacarnya Rizal, ngak banyak kok cuman enam puluh juta rupiah.
Cepat bayar....."
Tidak tahu harus berkata apa, perintah itu membuatku sangat kesal.
Apa salahnya bicara baik-baik?
Pakaian ku basah karena merembes dari rambut yang sudah sempat di pegang oleh pegawai.
Marah, kesal, dan nyesek di hati yang bercampur menjadi satu dan sulit untuk di ungkapkan.
Sinta dengan napas nya yang terengah-engah mendatangi kami dan langsung menghadap ke Deva yang terlihat sangat kesal dan marah.
"Sinta....
apa-apaan ini? kenapa ruang VIP ini bisa menjadi tidak nyaman?
ngak becus banget deh...."
"maaf kak, tadi kata ibu ini mau tarik tunai di ATM yang samping salon ini, dan Sinta ngak tahu kenapa malah kemari.
Maaf ya kak, mbak saya mintak maaf ya mbak.
Lili....
panggil pak satpam dan usir perempuan gila ini.
Cepat Lili...."
Sang ibu mertua mendekati Ku lalu melemparkan tagihan yang dimaksud nya untuk aku bayar.
"hei perempuan mandul, bayar cepat...."
plak.....
Tiba-tiba saja tangan kananku menamparnya, dan seketika tangan ini gemetar. karena ini pertama kalinya bagiKu kasar terhadap orang tua.
"kurang ajar kau ya, dasar perempuan mandul..."
plak.....
Tangan ini melayang lagi di pipinya, tamparan ke-dua dan tanganKu semakin gemetaran.
"apa salah ku kepadamu? kenapa kamu selalu menggangguku? apa salahnya ibu bicara baik-baik?"
__ADS_1
Entah kenapa air mata ini mengalir, padahal aku yang menamparnya tapi rasa sakit itu membekas di hati ini.
"cukup..... cukup.....
kamu ya, dari dulu sampai sekarang tidak ada berubahnya, dasar pelakor.
anakku yang berhutang tapi kau limpahkan sama orang lain, masih punya otak ngak?"
Ujar Deva dengan berteriak di wajahnya sang ibu mertua, tapi sepertinya dia hendak ingin melakukan perlawanan.
"saya tidak urusan dengan kau banci, urusan ku dengan perempuan mandul ini.
Kau itu hanya pengacau manusia haram, laki-laki ngak, perempuan pun ngak. dasar manusia jadi-jadian."
plak.....
Deva menamparnya dengan sekuat tenaganya dan hendak melakukan perlawanan.
"cukup bu, cukup....
ayo ikut, cepat......"
Akhirnya satpam membawanya secara paksa keluar dari ruangan ini.
Kami hanya terdiam setelah pengacau itu di bawa paksa oleh satpam.
Karena sudah merasa kesal, handuk yang masih menempel di pundak ku langsung ku buang.
"Sarah pulang ya kak."
"tunggu...."
Deva mengejar dari belakang dan kami kemudian naik mobilnya.
Selama di perjalanan kami hanya terdiam, bahkan sampai didepan rumah.
"terimakasih ya kak."
Setelah berterimakasih kepada Deva, dan aku langsung masuk ke dalam rumah.
Langkah berhenti di ruang tamu, karena sudah ada Farhat dan istrinya.
"kenapa pakaian mu basah?"
"terkena air bu, Sarah masuk dulu ya bu."
Istri Farhat memanggilku dan langkah kaki aku percepat serta pura-pura tidak mendengarnya.
Sesampainya di dalam kamar dan menguncinya dari dalam, lalu berjalan ke arah mandi.
Dibawah guyuran air shower, dan hati ini sangat sakit rasanya.
Merasa sudah sangat dingin dan aku keluar dari kamar yang hanya mengenakan kimono.
Lalu duduk di meja rias, tanpa aku sadari air mataku menetes di pipiku dan itu terasa hangat.
"kamu kenapa?"
Tangan dan suara dari mas Satria membuatku sadar dari lamunan, bahkan aku tidak menyadari kehadiran mas Satria di kamar ini.
__ADS_1