
POV Satria.*
Di rumah nya dan duduk meja makan yang besar itu, terlihat seperti orang kebingungan dan juga kesepian.
Ning....... nong...... ning....... nong......
Suar bel berbunyi dan perlahan-lahan Satria bangkit dari kursi itu.
Dua orang tamu seperti sepasang suami-istri, sudah berdiri di depan pagar rumah dan terus menerus menekan bel tersebut.
Satria langsung membuka pintu pagar besi tersebut, dan kedua tamu itu langsung masuk menuju teras rumah.
Ketika berhadapan dengan Satria, raut wajah kedua tamu itu terlihat sangat marah dan emosional.
"kamu Satria ya?"
"iya, silahkan duduk bapak-ibu."
Akhirnya mereka berdua duduk di kursi yang tersedia di teras rumah tersebut.
"bapak ibu siapa ya?"
"kami adalah orang tua dari pria yang viral belakangan ini, pria yang berkata telah menyetubuhi si Neni, perempuan jal*ng itu.
Hancur sudah keluarga ku, karena anak itu berhubung dengan perempuan jal*ng itu, benar-benar hancur semuanya.
Hasil tes DNA itu menyatakan bahwa benar anak yang dilahirkan perempuan adalah cucu kami.
Tapi apa kami harus mengambil anak yang sudah terinfeksi virus HIV AIDS itu?
sulit untuk mengakui dan mengambilnya sebagai cucu kami."
"Neni bukan perempuan jal*ng, dan anak yang lahir adalah anak kandung ku.
Neni adalah istiku dan anak itu adalah anak kandung ku, saya akan merawatnya sampai bebas dari virus itu."
Perempuan itu yang bicara sedari tadi hanya menolah suaminya, sepertinya pasangan suami-istri itu kaget mendengar pengakuan dari Satria.
"syukurlah kalau ada orang bodoh seperti kau, silahkan ambil anak sumber penyakit itu dan terimakasih sudah mengakuinya sebagai anak.
kalau begitu kami pamit pulang, karena sudah ada orang bodoh seperti kau yang siap menampung anak pembawa sial itu."
Ujar sang suami dan langsung pergi meninggalkan Satria dalam keadaan menahan emosi nya.
Kemudian Satria masuk ke dalam rumah, lalu berjalan ke arah kamar dan meriah tas kecil serta kunci mobil.
Ternyata tujuannya adalah fasilitas rumah Lila, dimana Neni dan anaknya dirawat.
Melalui telpon interlokal, Satria dan Neni bicara.
"mas apa kabar? kapan Neni keluar dari sini mas?"
"sehat, kamu yang sabar, mas akan berusaha mengeluarkan mu dan juga anak kita dari fasilitas ini.
Anak kita dimana?"
__ADS_1
"ada diruang sebelah khusus anak, pokoknya mas harus mengeluarkan Neni dan bayi kita dari sini ya mas."
"iya, ini mas mau ngomong dulu dengan petinggi rumah sakit ini."
"kenapa mas ngak bisa bertindak sekarang? aku bosan disini mas."
"sabar.....
mas belum bertemu dengan Sarah, karena Sarah lah pemegang saham mayoritas nya."
tut....tut... tut......
Telpon terputus dan seorang petugas menghampiri Satria.
"maaf pak, waktunya sudah habis."
"cepat banget, bisa saya bertemu dengan anakku?"
"anak?....
Petugas itu terlihat kebingungan ketika Satria berkata ingin bertemu anaknya dan petugas lainnya langsung menghampirinya.
"anak bapak ada disebelah ruangan ini, mari ikut saya."
Ujar petugas yang baru datang itu, dan menuntun Satria untuk menuju ke ruangan sebelah yang di ikuti oleh petugas yang sebelumnya.
'terus laki-laki yang kemarin malam itu siapa? kenapa dia mengaku sebagai ayah kandung dari bayi itu?'
'kamu diam aja, kamu ngak mengerti jalan pikiran dari para orang-orang bodoh.'
"itu anak bapak, dan waktu nya hanya dua puluh menit untuk melihatnya.
Tolong jangan disentuh, karena akan ribet dan menambahkan pekerjaan untuk mengurus orang-orang yang sumber penyakit mematikan."
Ujar petugas itu, petugas yang meminta rekannya untuk diam.
Ucapannya seperti membuat Satria tersinggung tapi karena melihat bayi mungil itu, akhirnya Satria hanya tersenyum dan kedua petugas meninggal Satria.
"mas Satria....
Mas melihat anak haram ini ya? anak yang malang dan menderita seumur hidupnya karena ulah dari mama nya."
"jaga mulutmu Findon, bayi ini anakku dan darah daging ku."
"hadehhh......
mandul aja belagu, percuma tuh mbak Sarah menahan segala jenis rasa sakit hanya untuk mendapatkan anak."
"keterlaluan kau ya Findon, saya ngak mandul. buktinya ini anak kandung Ku."
"coba mas perhatikan bayi malang itu, mata, hidung dan juga wajahnya, sangat mirip dengan pria yang di video itu."
Ujar Findon seraya menunjukkan foto di handphonenya, foto pria yang viral karena mengaku sebagai teman dugem dari Neni, alias teman ranjangnya.
Tapi sepertinya Satria mengacuhkan hal tersebut, kemudian menatap tajam ke arah Findon.
__ADS_1
"mau ngapain? dan kenapa mengetahui kalau saya ada disini?"
"hadehhh.....
radar pencarian yang menemukan mu mas, karena saya butuh mas Satria untuk bertemu dengan pengacara Indah klinik."
"buat apa aku menemui mereka?"
"mas Satria lupa, kalau Indah klinik menggugat mas Satria, atau sengaja di lupakan?"
"terserah kau ngomong apa, terus mereka mau apa?"
"mas Satria....
Findon masih mengganggap mas Satria sebagai sepupuku yang hebat dan luar biasa.
Aku sudah membujuk pihak Indah klinik untuk berdamai mas.
Hanya satu solusi yang mereka tawarkan, yaitu mas Satria harus melakukan konferensi pers, lalu mintak maaf atas tuduhan itu. "
"menurut mu saya harus mengakui kalau anak yang di kandung oleh Sarah adalah anak kandung Ku?
jangan mimpi kau Findon, aku tau kalau kau itu adalah suruhan dari Sarah."
"kenapa sih mas, goblok mu itu ngak hilang-hilang dan kenapa mas Satria masih berpikir kalau bayi malang ini adalah anak kandung mu?
agar merasa hebat? atau untuk membuktikan kalau mas Satria bukan pria mandul?
Sadar Satria, rudal mu itu mudah loyo dan kamu itu mandul.
Persis seperti ayah mu dan juga om kau si Farhat yang sudah mati terbakar."
"mati terbakar? maksud apa?"
"ya sudah, kita duduk dulu. capek berdiri kyak gini."
Ucap Findon yang mengajak Satria untuk duduk, karena sedari tadi mereka ngobrol dengan berdiri.
Di sudut ruangan terdapat meja dan dua kursi, akhirnya mereka berdua langsung duduk disana.
Terlihat petugas fasilitas itu menghampiri Findon dan menyerahkan dokumen.
"ini mas Findon, hasil sama aja. sudah tiga laboratorium rumah sakit ternama dan satu rumah sakit tipe A milik pemerintah dan hasilnya tetap sama."
"okey....
terimakasih ya."
Lalu petugas itu pergi meninggalkan Findon dan Satria.
Kemudian Findon membuka map dokumen dan terdapat empat surat yang dikeluarkan oleh rumah sakit, lalu membuka surat itu masing-masing.
Dengan hati-hati dan teliti Findon membacanya lalu memberikan tanda di beberapa surat-surat tersebut.
Setelah beberapa saat, lalu Findon menyerahkan dokumen itu kepada Satria akan tetapi Satria menolaknya.
__ADS_1
Terlihat Findon sedikit emosi karena Satria menolak untuk membaca dokumen tersebut.