PEJUANG GARIS DUA

PEJUANG GARIS DUA
Sikap yang Berbeda.


__ADS_3

Emosi yang meluap-luap dan tidak terkontrol, dan tamparan itu melayang lagi dan akhirnya ditenangkan oleh pak Imran.


"istighfar pak...."


Pak Imran menahan ayah mertua dari belakang tubuhnya, agar tidak melayangkan tamparannya lagi.


"Lyra harus segera di operasi, dan istriku yang berguna ini yang meminta untuk mendapatkan tandatangan Sarah.


tanpa tandatangan Sarah, dokter tidak akan mengoperasi Lyra tanpa jaminan lain."


"sudahlah....


semuanya sudah terjadi, saya akan memberikan jaminannya, sejumlah sepertiga biayanya, dan sisanya ayah cicil dengan cara potong fee dari saham ayah.


Gimana setuju ngak?"


"mas Satria, jika fee ayah di potong lagi, lalu biaya kehidupan ayah gimana?


maaf mas, Sarah bisa membantu? karena uang belanja bulanan dalam rekening Sarah belum pernah Sarah belanjakan.


Lyra adik mas juga, dan tidak seorangpun yang menginginkan penyakit dan musibah mas."


"anggap saja sumbangan dari mu, berikan aja dua puluh juta."


"ngak terlalu sedikit itu mas?"


"ngak usah bantah suami, itu pemberian mama ku kepadamu. untuk kamu gunakan secara pribadi."


Aku hanya bisa diam dengan ucapan mas Satria, dan tentunya ucapannya tidak bisa dibantah lagi.


Mas Satria langsung menelpon pihak rumah sakit, dan terdengar kalau mas Satria sebagai penjamin operasi Lyra dan mengeluarkan Lyra dari ruangan VIP.


"sudah beres ya, makanya lain kali jangan gegabah.


akibatnya fatal, lihat sendiri akibat dari tindakan mu ini.


Lyra selamanya tidak bisa mendapatkan diskon biaya rumah sakit, karena dokumen itu satu untuk setiap orang yang terpilih.


Orang yang terpilih tidak bisa meminta dua kali dokumen, itu sudah menjadi keputusan pemilik saham."


"apa tidak ada jalan yang lain?"


Lirikan tajam dari mas Satria mengarah ke ayahnya, karena pernyataan yang terduga tersebut.


"ada, jika ayah membeli saham rumah sakit yang melebihi saham pemilik mayoritas."


"lalu bagaimana dengan saham ayah? apakah itu tidak berguna?"


"tidak berguna? jadi uang yang selama ini ayah pakai itu uang dari mana?


Sewa apartemen, biaya kehidupan untuk dua istri mu, dan tiga anak-anak mu yang lain.


uang mu habis karena harus membayar biaya hura-hura Rizal dan juga biaya pendidikan Ferdinand.

__ADS_1


jangan bilang tidak berguna, ayah tidak harus kerja tapi sudah mendapatkan uang, atau apakah ayah mau menjual saham itu?"


Ayah mertua langsung menggelengkan kepalanya, pertanda beliau tidak mau menjual saham miliknya.


"jika biaya rumah sakitnya seratus lima puluh juta, sepertiga dari itu adalah lima puluh juta, dan Sarah sudah menyumbang sebesar dua puluh juta.


Sisanya sekitar delapan puluh juta, maka itu akan ayah bayar dengan skema fee atau pembagian hasil saham langsung dipotong pihak rumah sakit."


"Satria, Sarah. terimakasih."


Mas Satria hanya mengganguk setelah ayahnya mengucapkan terima kasih dan kemudian menarik tangan Ku dan berjalan ke arah kamar.


"mas sudah makan siang?"


"belum."


"kita makan di luar yuk."


"ya udah, ajak sekalian Adam ya, kasihan dia sendirian di rumah ini."


Hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan mas Satria dan kami berjalan keluar kamar untuk menuju kamar Adam.


"Adam.....


makan siang diluar yuk, sekalian jalan-jalan."


"Adam banyak PR mas, lagi pula Adam sudah makan siang sama mpok, tadi banyak kegiatan di sekolah, habis mengerjakan PR, Adam mau istrihat aja mas, maaf Adam ngak bisa ikut. mas sama kakak aja ya.


Masa mau jalan-jalan berduaan harus ajak adek?


Senyuman dari mas Satria membuatku semakin menyukai nya, senyuman itu begitu menyejukkan hati.


Akhirnya kami berdua jalan tanpa Adam, rasanya canggung karena ini pertama kalinya aku jalan-jalan berdua bersama mas Satria.


Mas Satria yang menyetir, dan kami menuju sebuah kafe yang unik.


"selamat siang kakak, ayo silahkan masuk."


Sambutan yang hangat dari pegawai kafe yang berpenampilan menarik.


"hari ini adalah ulang tahun kafe yang ke lima puluh tahun, dan setiap pasangan yang kompak dan mesra seperti kakak berdua.


Kami memberikan diskon spesial, ini menu nya, silahkan di lihat dulu. nanti saya kembali lagi ya kakak."


Lirikan pegawai laki-laki kafe itu, yang mengarah ke tangan kami berdua yang digenggam erat oleh mas Satria.


Mas Satria melepaskan genggaman tangannya, setelah menerima buku menunya.


Lalu mas Satria mengangkat tangannya, dan pegawai laki-laki tadi langsung melihatnya dan kemudian berjalan ke arah meja kami.


"sajikan menu kalian yang paling rekomendasi, dan harus ada nasi nya serta tambahan sayur hijau.


Minuman jus timun dan juga air mineral, jangan pake lama ya."

__ADS_1


"siap kak, mohon di tunggu ya kak."


Seperti ini rasanya pacaran, dilihatin terus sampai membuat ku grogi.


Tidak ada waktu pacaran bagiKu, karena sibuk membantu almarhumah mama jualan di kios pulsa di depan rumah.


Almarhum Papa yang meninggal dunia akibat kecelakaan kerja di pabrik farmasi, dan saat itu Adam masih di dalam kandungan.


Terpaksa almarhumah mama lah yang menjadi tulang punggung.


Asuransi kecelakaan almarhum Papa, dibuat untuk membangun rumah tempat tinggal kami dan juga modal berjualan sebagai penyambung hidup.


Sisanya di tabung untuk biaya kelahiran Adam, walaupun hanya berjualan pulsa dan itu bisa mencukupi kebutuhan kami sehari-hari.


Semenjak Papa meninggal, kesehatan mama semakin menurun. hingga akhirnya drop dan Adam harus segera di lahir, karena berbahaya untuk mama dan juga Adam saat itu.


Adam lahir prematur, kelahiran Adam menjadi kekuatan baru untuk mama.


Ketika Adam baru menginjak umur tiga tahun, leukimia menyerang nya.


Medis dan juga pengobatan alternatif sudah dilakukan, akan tetapi Adam tidak menunjukkan perubahan yang baik.


Sempat ada perubahan kesehatan yang baik dan Adam akhirnya sekolah.


Tapi leukemia itu kembali menyerang Adam, dan untuk biaya pengobatannya rumah kami ini harus digadaikan.


Kondisi kesehatan mama kembali drop, dan pada akhirnya mama menghembuskan nafas terakhirnya.


Alhasil aku berhenti kuliah, untuk menggantikan mama berjualan pulsa.


Disini mas Satria membuatku berbunga-bunga, pengunjung kafe yang rata-rata anak muda.


Kami berdua seperti anak muda yang sedang di mabuk asmara.


Makanan dan minuman sudah tersaji di depan kami, dan steak daging langsung di potong-potong oleh mas Satria lalu diberikannya kepadaku.


Inikah namanya romantis?


Saat mas Satria melahap makanannya dan pandangan itu mengarah kepadaKu.


So sweet lah.....


Seketika gelar perempuan mandul yang disematkan oleh ibu tirinya mas Satria hilang dari benakku.


Saat ini aku benar-benar dimabuk asmara.


"setelah ini kita ke toko pakaian ya, mas melihat pakaian mu itu-itu aja."


Aku hanya mengangguk setuju dan kami berdua lanjut makan kembali.


Selesai makan dan kami langsung keluar kafe dan menuju toko pakaian yang sangat besar.


Aku mencoba satu stell pakaian, dan itu sangat cocok dengan selera Ku dan pas di tubuh ini.

__ADS_1


Mas Satria yang melihat ku begitu kagum, dan aku lebih kagum sekaligus terkejut karena harga pakaian ini.


__ADS_2