
Masih bingung dengan maksud perkataannya barusan, tapi kak Deva sudah berdiri seraya tersenyum.
"dasar perempuan rakus.....
tapi ide mu luar biasa, karena ide mu ini. eke kasih voucher belanja untuk kalian bertiga.
Voucher belanja sembako di supermarket Lila , yang merupakan anak usaha dari Lila group.
Setelah memberikan voucher itu, ketiga perempuan cantik itu langsung menggandeng tanganku ke arah bilik dalam ruangan ini.
Bilik yang sangat indah, dan ketiga perempuan cantik itu langsung mengeluarkan tiga dress yang sangat cantik.
"warna pink aja dulu ya, karena jauh lebih menyatu dengan warna kulit ibu Sarah."
Mereka bertiga kompak menggelengkan kepalanya, lalu memintaku untuk membuka pakaian Ku, kemudian membantuku memakai dress pink yang cantik itu.
"waouuuuu.....
sudah kuduga, pas banget....
bu Sarah persis seperti princess yang ada dalam buku dongeng itu."
Ujar perempuan cantik yang mengenakan kemeja warna merah marun.
Lalu salah satu diantara mereka merapikan rambut, yang satu nya merapikan makeup dan sisa nya merapikan dress-nya.
"tara......"
Perempuan cantik membuka gorden penutup bilik, dan mereka yang menunggu di sofa terlihat kagum melihat penampilan baru ku.
"waouuuuu....
pantas aja Satria semakin dekat kepadamu setelah menyadari kecantikan mu ya."
"benar itu nak Deva, putri bapak luar biasa cantiknya."
Sahut pak Imran akan ucapan kak Deva, lalu kami keluar dari ruangan ini, dan menuju lift.
Tombol angka sepuluh di tekan, dan lift khusus itu mengangkat kami ke lantai sepuluh.
Ternyata lantai itu adalah khusus studio, mulai perekam suara, gambar dan juga photo studio.
Lalu berjalan ke arah photo studio, dan semua perlengkapan studio nya sudah sangat lengkap dan canggih.
"waouuuuu.....
kecantikan kakak sangat paripurna, sudah hamil apa belum?"
Pertanyaan dari seorang pria yang persis seperti pertanyaan para wanita dari keluarga mas Satria.
Memang pria yang bertanya ini tidak lain dari keluarga mas Satria, lebih tepatnya adik tirinya yang bernama Ferdinand.
Gayanya yang nyeleneh sambil memegang kamera digital itu, dan tersenyum sinis ke arahku.
Ferdinand yang over PD (percaya diri) mendatangiku seraya tersenyum yang membuatku semakin jijik melihatnya.
"Ferdinand bersedia kok, bersedia tidur dengan wanita cantik seperti kakak, dengan garansi.
__ADS_1
Jika belum hamil, kita ulang sampai hamil. privasi aman dan dijamin sukses."
plak....plak.....
Semua mata tertuju kepada Ku, karena aku menampar kedua pipi Ferdinand dengan sekuat tenaga Ku.
"kak Deva, mbak Nia......
Sarah ngak sudah pemotretan jika pria jahanam ini, berada di studio ini."
Plak..... Bram.... plak.....crekkkkk......
Kami sangat kaget, karena pak Imran yang tiba-tiba menghajar Ferdinand hingga tersungkur dan terlempar ke arah meja, dimana ada tiga set komputer.
Meja itu berantakan dan komputer nya terbanting ke segala arah.
"kurang ajar kau ya, berani-beraninya kau melecehkan putriku."
tlak.....plak....bam......
Pak Imran masih terus menerus menghajar Ferdinand, hingga terlihat babak belur.
Pada akhirnya di lerai oleh security dan beberapa karyawan lainnya.
"siapa yang merekrut pria tidak berakhlak ini? siapaaaaaaa?"
kak Deva berteriak dan seketika kejantanan nya keluar, lalu datang seorang pria paru baya yang menghadap kak Deva dengan tertunduk.
"HRD yang memasukkan Ferdinand sebagai photographer disini?"
"bapak diam aja? studio ini masih wewenang Insani dan bapak sebagai penanggung jawab disini.
Kenapa pak?"
Suasana mencekam dan tidak ada yang bergerak satu orang pun, sementara pria paru baya itu tidak kunjung menjawab pertanyaan kak Deva.
"panggil HRD kemari, cepaaaaaaaattttttttt....."
Dua orang perempuan dari lantai ini langsung berlari keluar ruangan, dan suasana kembali mencekam, sementara Ferdinand sudah tergeletak lemas di lantai dengan kamera digital yang dipegangnya sudah hancur berantakan.
Hanya berselang beberapa menit, datang lah segerombolan orang dan dua orang perempuan yang seusia mama tirinya mas Satria, yang terlihat seperti pemimpin mereka.
"eh perempuan....
siapa nyuruh kau memasukkan pria berakhlak minus ini?"
"saya....
apa masalah nya? karena saya berwewenang merekrut karyawan berdasarkan kebutuhan perusahaan."
"kebutuhan perusahaan atau kebutuhan sendiri? berapa kau di sogok agar bisa memasukkan pria jahanam ini masuk ke studio ini?
Cepat panggil Satria, panggillllll........."
Mbak Nia seketika mengeluarkan handphone nya dan langsung menelpon seseorang, mungkin itu mas Satria atau Findon.
Ternyata Findon yang di hubunginya, terdengar ketika mbak Nia memerintahkan agar mas Satria segera naik lantai studio ini.
__ADS_1
"tuduhan mu tidak berdasar Deva, dari dulu kau selalu seperti ini."
"tutup mulutmu yang bau itu, serigala berbulu domba seperti kau tidak pantas untuk bersuara."
Perempuan itu terlihat sangat geram mendengar ucapan dari kak Deva.
"ada apa ini?"
Suara itu milik mas Satria, yang sudah hadir disini bersama Findon.
"kamu urus sendiri deh keluarga ayah mu ini, jika menyangkut keluarga ayah mu dan itu membuatku ingin muntah."
Jawab kak Deva kepada mas Satria, tentunya jawaban itu tidak bisa menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
Findon mendekati pak Imran yang masih dipegang oleh security dan di lepas atas perintah Findon.
"apa masalahnya pak?"
"laki-laki brengsek ini melecehkan putriku, tentunya Ku hajar."
Pak Imran yang masih ingin menghajar Ferdinand dan ditahan oleh Findon.
Lalu mas Satria mendekati perempuan yang adu mulut dengan kak Deva.
"Insani dan Lila group terpisah akan HRD nya, kenapa Bude memasukkan Ferdinand kemari? dan apa hak bude mencampuri urusan Insani?"
"mama nya Ferdinand memiliki saham di Lila group."
"sejak kapan? siapa yang jual saham itu ke perempuan itu? siapa?
Findon....
geledah ruang HRD, sekarang....."
Ujar mas Satria, lalu Findon meraih handphonenya dan melakukan panggilan telepon.
"Satria...
apa-apaan ini? kenapa HRD di geledah?"
"itu karena bude berkhianat, bude kira Satria ngak mengetahui tentang apa yang bude lakukan di belakang Satria?
Satria hanya menunggu momen yang tepat, dan inilah yang tepat."
"kamu salah paham Satria, istri mu ini yang berlebihan.
Ferdinand itu orang baik dan sopan...."
"cukup bude, istriku selalu profesional kalau bertindak, kalau bukan ponakan bude ini kurang ajar, istriku tidak mempersalahkannya.
Lagian ini bukan masalah istriku, tapi penghianatan bude terhadap Lila group.
dulu bude berjanji akan setia kepada Lila group, dan itu yang membuat mama memberikan saham secara cuma-cuma kepada bude.
Dengan adanya bukti aliran dana yang misterius, maka istriku sebagai waris dari mama dan atas persetujuan ku, bude saya pecat dan saham itu saya tarik."
Wanita yang dipanggil bude, oleh mas Satria terlihat panik dan meriah handphonenya.
__ADS_1
Wanita itu menelpon seseorang, sementara mas Satria menghampiriku dan juga menarik tangan pak Imran.