
Mas Satria berdiri lalu menarik tangan Ku agar lebih dekat kepadanya dan sorot matanya yang tajam mengarah ke Deva.
Sepertinya ada dendam yang tersirat diantara mereka berdua.
"terimakasih semuanya telah hadir disini, inilah istriku namanya Sarah Paraswati.
Wanita yang dipilih mama untukku, wanita yang cantik dan berbakat.
Saya menginginkan Sarah bergabung dengan Insani, seperti almarhumah mama Ku dan sistem nya sama seperti mama.
Tapi saya meminta kalau Sarah Istriku tidak harus ke kantor, cukup dari rumah dan jika memang sudah sangat perlu ke kantor maka akan ke kantor.
Sarah juga istriku dan saya membutuhkan waktunya lebih banyak."
"egois...."
Kami semua terdiam saat mendengarkan sanggahan dari Deva di sela-sela ucapan dari mas Satria.
"eh kambing congek yang baru keluar dari presto, cukup ya perhatian mama ku berlebih untuk mu, jangan lagi ambil perhatian lebih dari istriku.
Ku congkel nanti biji mata mu itu, dasar perebut perhatian."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Akhirnya kami tertawa lepas, karena sedari tadi kami menahan nya.
"jangan lah gitu Satria, seminggu minimal tiga kali ke kantor ya, karena kami juga butuh progres yang masif."
"nanti saya bicarakan berdua dengan Istriku."
Jawab mas Satria dengan tegas kepada Deva, dan sepertinya hanya Deva yang berani menyanggah omongan mas Satria.
"atau begini, jika nantinya ada hal yang urgen. tim kami bisa datang ke rumah ya."
"silahkan dan itu jauh lebih bagus."
"tapi....
Eke dengar dari bisikan nyamuk dan cicak, ibu tiri mu si mulut pedas itu serumah dengan kalian ya?
malas deh kalau begitu, takutnya nanti mulutnya yang pedas itu ku cakar dengan kuku maut ku ini, masuk penjara dong."
"ngak apa-apa kalau di cakar, saya berada dibelakang kalian, paham."
"baiklah kalau begitu, terimakasih atas dukungannya.
Mbak Sarah cantik, bisa kami mengambil alih media sosial mbak itu?
biar kami yang mengelola semuanya, dan tetap namanya tidak akan kami ubah.
Tapi tim kami yang mengontrol apa saja yang harus di posting."
"dibayarkan?"
__ADS_1
"iya iyalah mbak cantik, mana ada yang gratis."
"berapa harganya?"
"i...i....i.....
mbak cantik ini bisa stand up komedi juga ya, beda sama laki nya, dingin seperti kutub utara."
Tatapan mata Satria yang tajam nan kesal tertuju kepada Deva, tapi pria itu terlihat santai menghadapi tatapan tajam itu.
"Findon...."
Mas Satria memanggil Findon dan asistennya itu langsung berdiri.
"seperti kata pak Satria, bahwa mbak Sarah disamakan seperti almarhumah ibu Lila.
itu artinya semua pendapatan dari Insani akan menjadi milik mbak Sarah, dan itu berbeda dengan sebagai talent atau endorse.
Misalkan jika mbak Sarah sebagai model Insani, maka akan ada anggaran untuk itu, demikian juga dengan akun media sosial mbak Sarah."
"istilah anak zaman sekarang disebut tripel kill, selain dari hak almarhumah ibu. mbak juga akan mendapatkan anggaran model, dan juga fee dari penjualan media sosial.
Ditambah lagi akun media sosial mbak cantik yang akan dipergunakan oleh Insani, itu akan menambah pundi-pundi keuangan mbak sendiri.
Mbak cantik sudah paham?"
"sudah pak Deva, dan itu artinya aku bisa membeli waktu suamiku ini."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
"heran iya, dulu emaknya yang ingin membeli waktu Satria, sekarang bini nya yang mau beli.
dasar pria penghuni kutub utara...."
Lagi-lagi kami tertawa karena ocehan dari Deva, memang masih bingung tentang apa yang terjadi antara mas Satria dan Deva.
Akhirnya rapat selesai dan mas Satria menarik tanganku lagi dan kami kembali ke ke ruangannya.
Baru saja duduk di sofa, Deva dan Nia sudah hadir di ruangan ini dengan membawa dokumen.
"mbak Sarah, ini adalah dokumen yang mbak harus pelajari tentang skema dari Insani.
Untuk jadwal yang sudah tersusun, nantinya mbak periksa dan kami berdua akan datang ke rumah mbak untuk mendiskusikan nya."
"iya mbak Nia, nanti saya pelajari. lalu bagaimana dengan dokumen ini, dokumen yang diberikan oleh pembawa acara saat pemberian penghargaan tadi pagi."
"mbak pelajari aja dulu, nanti kalau pertanyaan hubungan Nia atau Deva ya.
ini nomor kami berdua dan selamat belajar...."
"terimakasih...."
Hanya mbak Nia yang menjelaskan, akan tetapi pandangan mata mas Satria terlihat kesal kepada Deva.
__ADS_1
apa sih sebenarnya yang terjadi?
Nia dan Deva sudah kembali ke lantai delapan, dan tatapan mas Satria yang mengarah kepadaKu dan itu sulit untuk dimengerti.
"Sarah bosan mas, enaknya mau ngapain ya."
Seketika mas Satria meraih handphonenya dan terlihat mengetik sesuatu di handphonenya itu.
Tidak berapa lama kemudian, Deva sudah tiba di ruangan ini dengan senyuman nya yang sumiringah.
"mbak cantik, follow me. ini saatnya time buat perempuan cantik."
Deva menarik tangan Ku dan kami pun langsung keluar dari ruangan ini.
Naik lift dan menuju lantai dasar gedung ini, lalu naik mobil yang disetir oleh Deva.
"kita mau kemana pak?"
"jangan panggil bapak, panggil aja Deva. ngak banyak nanya, ngikut aja ya.
Deva ngak bakalan macam-macam kok, kita kan sejenis."
Agak garing candaannya tapi terserah Deva aja, dan ternyata Deva memperkirakan mobilnya di depan sebuah salon yang besar.
"disini perawatan nya lengkap, dan salon kecantikan ini adalah bagian dari Insani, yuk kita bermanja-manja ria."
Ucap Deva dan lagi-lagi menggandeng tanganku tanpa seijin Ku.
"haloo girls......"
"halo kak Deva....."
Para pegawai salon kecantikan ini, dengan seragam yang membuat mereka semakin cantik dan menjawab sapaan dari Deva.
"kenalkan ini mbak Sarah, istri pak Satria. tolong di layani dan berikan yang terbaik.
karena mbak Sarah nantinya akan mereview dan akan tayang di akun sosial resmi Insani.
Are you get girls?"
"yes sir......"
Jawab mereka kompak dan dua orang pegawai langsung menghampiriku dan menawarkan paket lengkap kecantikan.
Salah satu dari mereka langsung menarik kursi yang terlihat sangat nyaman itu, dengan tersenyum nan ramah.
Lalu mempersilahkan aku duduk, tapi tiba-tiba saja mata ini tertuju pada sosok yang tidak ingin aku lihat.
Ibu tirinya mas Satria, dan si mulut pedas langsung menghampiriku dengan raut wajahnya yang membuat kesal.
"eh banci, ngapain loh bawa perempuan mandul ini kemari?"
Sang ibu mertua bertanya kepada Deva, dengan pertanyaan yang sangat menyakitkan.
__ADS_1
"seharusnya gue yang nanya ke Lo, punya duit ngak datang kemari? mau minta gratis ya? atas dasar apa Lo mintak gratis?"
Bertanya yang bertubi-tubi dari Deva, seketika membuat ibu mertua itu terlihat kesal.