PEJUANG GARIS DUA

PEJUANG GARIS DUA
Bertemu Mantan Pacar Satria.


__ADS_3

POV Friska.*


Menempuh perjalanan selama dua puluh menit akhirnya mereka tiba di kediaman rumah mewah milik Dona.


"Cintaku.....


akhirnya kamu datang juga ke pelukanku, mari masuk."


Sambutan Dona kepada Rizal, akan tetapi mamanya malah fokus kepada seorang wanita yang kebetulan lewat.


"ayo masuk ma..."


"Mama ada urusan, kamu bawa aja dulu koper ini, nanti mama nyusul."


Ucap mamanya kepada Rizal, dan langsung berjalan cepat untuk menemui perempuan yang baru saja lewat. sementara Rizal sudah dibawa Dona masuk ke dalam rumah Nya.


"tunggu....."


Perempuan itu berhenti setelah di panggil oleh di hentikan oleh Friska.


"kamu Neni kan? perut mu kok buncit?"


"iya ibu, saya Neni. mantan pacar anak ibu yang bernama mas Satria.


Ini rumah Neni, mari masuk bu. kita ngobrol aja di dalam yuk."


'uhm.... ini kesempatan baik.'


Gumam Friska dalam hati dan langsung masuk bersama Neni ke dalam rumahnya.


"kita duduk di bar dapur aja, biar gampang untuk makan dan minum."


Friska hanya mengganguk setuju dan mengikuti langkah Neni.


"Neni hamil atau gimana ini?"


'haaaaaaaaa......'


Neni menghela napasnya seraya menuangkan sirup ke teko yang sudah berisi air dingin dari kulkasnya.


Kemudian menuangkan minuman itu ke gelas Friska lalu duduk disampingnya.


"terakhir kami bertemu dengan mas Satria sekitar sepuluh bulan yang lalu, waktu itu mas Satria berkata akan menikah dengan gadis lain pilihan mama nya.


Saat itu juga terakhir kami memadu kasih untuk perpisahan.


Neni sangat mencintai mas Satria demikian juga dengan sebaliknya, tapi mama nya tidak merestui hubungan kami.


Karena Neni bukan anak orang kaya serta anak yatim-piatu, bukan dari kalangan orang-orang terhormat.


Mungkin calon istri yang dipilih mama nya berasal dari keluarga konglomerat yang serupa dengan mas Satria dan keluarganya."


"konglomerat dari Hongkong, istri Satria yang di pilih mama nya itu adalah perempuan kampung yang lihai menjebak dan bersandiwara.

__ADS_1


Perempuan mandul itu mampu mengikat hati Lila, sehingga perempuan mandul bisa menikah dengan Satria.


Perempuan yang licik dan tidak berguna, karena kelicikannya sehingga perempuan itu belum bisa memberikan keturunan untuk Satria.


Perempuan mandul itu malah menuduh Satria yang mandul.


Apakah kamu hamil atau gimana sih? kok perut mu buncit?"


Perempuan yang bernama Neni itu tersenyum, lalu meneguk minumannya.


"Neni hamil bu, dan ini anaknya mas Satria. sengaja Neni tidak memberitahu kalau Neni mengandung anaknya."


Friska langsung tersenyum menanggapi ucapan Neni.


Dari sorot matanya terlihat dia ingin merencanakan sesuatu yang bisa menguntungkan nya.


"ngak bisa gitu Neni, biar bagaimanapun itu anak Satria, cucuku.


Kamu ngak bisa menyembunyikan ini terlalu dalam, untuk apa Satria mempertahankan perempuan mandul itu, yang jelas-jelas tidak bisa memberikan keturunan untuk Satria.


Satria harus memiliki keturunan, untuk meneruskan tahta kekayaannya."


"Neni harus gimana ibu?"


"kamu tenang aja, yang penting nurut sama ibu, anak ini harus mendapatkan status dari ayahnya.


Mari kita singkirkan perempuan mandul itu dan saatnya mengakhiri kesombongan perempuan mandul itu.


Tapi kita harus menyusun rencana yang matang dan harus punya planning yang lain.


Asal kamu ketahui Neni, ibu dan suami. di usir dari rumah, karena perempuan mandul itu mengadu yang nggak-nggak kepada Satria.


Ibu hanya mengajaknya makan malam, tapi perempuan mandul itu menyiram air ke ibu dan mendorong ku hingga terkilir.


Lihat lah bekas luka ini, perempuan mandul itu padaku nya.


Rumah ibu bersama suami sedang tahap renovasi, kami tidak tahu harus tinggal dimana untuk sementara.


Kalau suami ibu masih bisa di rumah sakit sembari menjaga putri kami yang sedang sakit."


"ibu tinggal disini aja dulu, sampai rumah ibu selesai di renovasi.


Neni sangat berterimakasih kepada ibu, karena bersedia membantu Neni untuk memperjuangkan hak anak yang aku kandung ini, Neni berharap anak ini memiliki seorang ayah."


"baiklah Neni, ibu akan membantumu demi hak cucuku."


"terimakasih ibu, tapi bagaimana dengan mama kandungnya mas Satria?"


"sudah mati dia, dan kamu tenang aja. ada ibu yang akan mendukung mu.


Tapi ibu mau tanya, apakah kamu yakin kalau anak yang kamu kandung anak Satria?"


Neni meneteskan air matanya, merasa sedih karena anak yang di kandungnya dipertanyakan statusnya.

__ADS_1


"Neni berani bersumpah demi apapun, Neni sangat-sangat yakin kalau mas Satria adalah ayah dari anak yang Neni kandung.


Memang Neni bersalah, berhubungan suami-istri dengan mas Satria tanpa ada ikatan yang pasti.


Tapi yang jelas dan Neni yakin, kalau anak yang aku kandung ini adalah anak mas Satria.


Hanya mas Satria yang menggauli Neni bu, itu karena cintaku kepada mas Satria.


Tapi ada dayaku, cintaku bertepuk sebelah tangan karena statusku yang berbeda jauh dari mas Satria."


"ibu minta maaf karena telah menyinggung mu, ibu ingin memastikannya. jujur ibu katakan kalau ibu mengetahui hubungan asmara kalian berdua.


tapi ibu janji untuk memperjuangkan hak cucuku ini dan juga hak mu Neni."


"terimakasih atas pengertian dan dukungan ibu, kalau Neni boleh tahu. bagiamana caranya agar kita bisa menuntut hak anak yang aku kandung ini?


Neni hanya ingin kepastian untuk anak yang aku kandung ini, serta biaya pendidikan nantinya dan juga jaminan hidupnya.


Neni ingin yang terbaik untuk bayi ku ini, Neni tidak ingin anak ini sengsara."


"kamu benar, cucuku yang kamu kandung berhak atas harta kekayaan ayahnya, terserah bagaimana pun status pernikahan kalian nantinya."


Ujar Friska dan kemudian dia terdiam, seolah-olah berpikir keras.


Beberapa saat kemudian, Friska menatap Neni, lalu tersenyum seperti sudah mendapatkan ide yang brilian.


"perempuan mandul itu sudah menguasai seluruh saham si Lila, jadi.....


Pertama sekali kita harus memberikan kejutan kepada Sarah, perempuan mandul itu.


Ibu ingin membuktikan kalau Satria ngak mandul, karena mampu membuat mu hamil.


Jika Satria mengelak kita menggunakan media, dan disini kamu harus benar-benar berjuang.


Apakah Neni punya photo atau kenangan bersama Satria?"


"bukan hanya photo kebersamaan bu, tapi juga video dimana kami melakukan hubungan suami-istri yang sengaja aku rekam."


"bagus Neni, jika kita mendapat halangan di kala Satria tidak mengakui anak ini, lalu kita mainkan senjata terakhir itu."


Sanggahan dari Friska membuat Neni tersenyum licik, demikian juga dengan Friska.


Dari ekspresi keduanya, sepertinya mereka memiliki keinginan dan niat yang berbeda.


Tapi masing-masing masih tetap menyimpan rahasia mereka masing-masing untuk dirinya sendiri.


"Neni....


ibu bisa istrihat sebentar? dari semalam ibu ngak bisa tidur."


Neni mengantarkan Friska ke kamar tamu, dan memintanya untuk beristirahat.


"Perempuan ular seperti kamu Neni, layak untuk diperdaya."

__ADS_1


Friska berkata sendiri setelah Neni keluar dari kamar itu.


__ADS_2