
Kemudian aku mengambil pencuci wajah produk Insani dan kemudian toner pembersih dan juga kapas.
"sekarang lihat mbak ya."
Lalu memintak mpok Surti untuk duduk menghadap ke arahku.
"alangkah lebih baik mencuci wajah terlebih dahulu, tentunya dengan produk Insani, karena produk ini bisa mengangkat debu dan kotoran lainnya dari wajah kita.
Mengangkat sel-sel kulit mati, dan juga sekaligus menjadi kulit cerah secara bertahap.
Akan tetapi jika berada di situasi tertentu yang tidak memungkinkan untuk membersihkan wajah karena ketersediaan air kurang memadai.
Kita bersihkan wajah dengan toner Insani, berbahan dasar alami dengan vitamin yang menjaga kelembaban kulit dan tentunya membersihkan sisa makeup, kotoran, debu dan mengangkat sel kulit mati."
Sinta hanya saat aku menjelaskan produk Insani tersebut, yang aku aplikasikan kepada mpok Surti.
"kok mpok Surti yang jadi model nya mbak? Sinta dong."
"ihhhhh....
non Sinta iri ya?"
"diam lah mpok..."
Sinta membentak mpok Surti dan ini sudah keterlaluan.
"Sinta.....
dengarkan mbak ya, kita yang ada disini sama-sama perempuan. harus lah saling menghargai.
Seorang model bukan hanya sekedar cantik, yang utama adalah sikap yang baik.
Produk Insani di ciptakan untuk menghargai perempuan dan menjadikan perempuan menjadi cantik dan lebih percaya diri.
Perbaiki sikapmu dengan lebih baik, dan jalan kebaikan serta rejeki akan selalu menjadi milik mu."
"maafkan Sinta ya mpok, maaf ya mpok."
Sinta langsung meminta maaf kepada mpok, inilah yang disebut keajaiban.
Didepan mama nya, Sinta mengakui kesalahannya dan ini adalah suatu pencapaian yang luar biasa.
Mamanya terlihat syok melihat Sinta yang meminta maaf kepada mpok Surti, yang notabene seorang asisten rumah tangga yang selalu mereka rendahkan.
Bukan hanya itu, Sinta memegang tangan mpok Surti seraya minta maaf.
"gitu dong, belajar tidak harus di bangku sekolah. tapi juga dari orang-orang terdekat kita dan dimulai dari diri kita sendiri."
"karena sikap inilah makanya kak Deva menolak Sinta."
"jangan sedih Sinta, kamu masih muda, cantik, proporsi tubuh yang ideal.
Masih bisa belajar dan memperbaiki diri.
Gini aja, mbak akan mengaplikasikan kepada mpok Surti, lalu Sinta melakukannya sendiri. mbak pantau kok.
Inilah pelajaran pertama kita hari ini, bisa kita mulai?"
Sinta terlihat semangat, ibu mertua dan mama nya Sinta terlihat kaget melihat perubahan Sinta yang signifikan.
Sinta dan mpok Surti sudah terlihat cantik dengan produk Insani, lalu datanglah pak Imran yang kagum melihat Sinta duduk bersama ku dengan keadaan damai dan juga melihat mpok Surti yang wajah nya glowing.
__ADS_1
"luar biasa, neng Sinta ya?"
"iya pak.....
Sinta belajar mekeup dari mbak Sarah."
Mama nya semakin takjub melihat perubahan sikap Sinta yang lembut saat menjawab pak Imran.
"gini dong neng Sinta, kecantikan dan kelembutan hati yang selaras. cantik dari dalam dan cantik dari luar.
Itulah yang disebut kecantikan yang sempurna."
"kalau mpok cantik ngak?"
"sudah mpok, silahkan cari duda lagi."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Kami tertawa lepas, kecuali ibu mertua dan juga mama nya Sinta yang masih belum yakin akan perubahan putrinya.
"pak Imran belum pulang?"
"bentar lagi non, karena bentar lagi bapak menjemput nak Satria. karena Findon ada kegiatan lain.
bapak ngopi dulu ya non."
Pak Imran sudah berlalu ke dapur dan kami melanjutkan makeup kami.
"untuk hari cukup ya, Sinta jam berapa bisa datang kemari?"
"lagi libur sekolah mbak, karena kakak kelas sedang ujian akhir.
"uhmmm.....
Mas Satria berangkat kerja jam delapan lewat gitu, besok datang jam sembilan aja ya.
kita mau buat video perdana kita, oh iya, apakah ada reaksi yang lain setelah memakai produk nya?"
Sinta dan mpok Surti mengatakan tidak ada efek lain, dan akhirnya pertemuan ini kami akhiri.
Mpok Surti kembali ke dapur, sementara aku menuju kamar Adam.**
Hari sudah petang dan mas Satria belum juga pulang, dan akhirnya mendapatkan kabar dari mas Satria kalau dirinya telat pulang karena ada beberapa dokumen yang harus di urus nya.
Setelah Adam tidur, lalu aku balik ke kamar. niatnya untuk mempelajari isi flashdisk peninggalan almarhumah ibu Lila.
dor.....dor.....dor......dor......
"Sarah...... Sarah..... Sarah......."
Pintu kamar seperti mau jebol ketika di ketuk oleh ibu mertua, dan suaranya yang manggil namaku begitu kuat.
Untungnya aku sudah mandi dan juga keramas, sehingga kepala ini sudah dingin.
"kenapa bu?"
Ketika melihat berdiri di depan pintu, tatapannya yang menyeramkan dan tertuju kepadaku.
"ngak jadi kamu transfer uang untuk ibu? pelit banget deh."
"maaf iya ibu, Sarah ngak ada kewajiban untuk mentransfer uang ke ibu. karena mas Satria juga tidak menyuruh nya."
__ADS_1
"suami lagi, suami lagi. dasar perempuan tidak berguna, dasar mandul."
Tabahkan hati dan berikan hamba ini kesabaran Tuhan.
"transfer sekarang perempuan mandul, sekarang......"
"diam....
dengar ya bu, saya.....
saya...... bukan anak mu, saya bukan suami mu, jadi saya tidak berkewajiban untuk mentransfer uang kepada ibu.
Tolong di jaga sopan santun nya, sopan santun selayaknya orang tua."
Setelah mengucapkan hal itu, dan langsung menutup pintu dengan sengaja membanting pintu itu.
"Sarah..... Sarah......
buka pintunya, transfer sekarang uangnya. jangan menghindar kau perempuan mandul."
Mencoba untuk sabar dan sabar, tapi ucapannya yang semakin menjadi-jadi membuat kesabaran ku semakin habis.
"keluar kau perempuan mandul....."
Ya Tuhanku....
Maafkan Tuhan jika akhirnya durhaka pada orang tua yang tidak tahu sopan santun itu.
Bergumam dalam hati dan kemudian melangkahkan ke kamar mandi, untung ada ember kecil dan menampung air.
Setelah penuh lalu berjalan ke arah pintu masuk, dan membuka pintu...
biur.......
Air dingin dari shower yang aku siramkan ke ibu mertua, membuat berhenti mengatai perempuan mandul.
"Sarah....... "
plak....brasss.....
Sang ibu mertua terpeleset dan akhirnya terbanting di lantai.
Dia hendak menampar Ku, karena ingin menamparku tapi terpleset dan akhirnya terbanting.
'aaaaaahhhhhhhhhhh............'
Teriakan nya memenuhi seisi rumah, mpok Surti dan mbak Tami langsung datang menghampiri kami.
Suara ibu mertua yang kuat membuat mereka berdua kemari.
Ibu mertua masih mengerang kesakitan, dia memegang pinggul nya, mungkin itu yang lebih sakit.
"ada apa lagi ini?"
Mas Satria yang baru datang bersama Findon, langsung bertanya kepada Ku karena melihat ibu tirinya terkapar di lantai.
Tapi aku tidak melihat pak Imran, karena tadi sore pak Imran berkata akan menjemput mas Satria di kantor.
"istrimu ini mau membunuh ibu."
Iblis betina ini berbohong lagi, dan mas Satria sepertinya terpengaruh dengan ucapannya serta aktingnya yang sempurna.
__ADS_1