
Tapi mas Satria memborong semua pakaian dalam rak itu, kemungkinan itu seharga seratus juta lebih.
Tidak lupa juga membelikan pakaian untuk Adam, dan juga untuk mas Satria sendiri.
"Bisa ngak Sarah membelikan pakaian untuk mpok Surti, mbak Tami, pak Imran dan juga pak Muklis."
"Kenapa? dan tahu ukuran pakaian mereka?"
"karena mereka semua orangnya baik, kurang lebih tahu lah mas."
Mas Satria mengganguk dan aku langsung memilih pakaian untuk mereka yang aku sayangi.
Teringat kalau pak Imran memiliki seorang putri yang seusia Adam, karena itu yang selalu diceritakan oleh pak Imran.
Akhirnya selesai juga belanja dan pegawai toko bersedia membawa belanjaan kami ke mobil, dan kami langsung pulang.
Sesampainya di rumah, dan langsung memanggil semua yang aku belikan pakaian.
"pak Imran, ini untuk bapak dan putri bapak, yang sering bapak ceritakan ke Sarah, diterima ya pak."
Pak Imran sangat berterimakasih, demikian juga dengan mpok Surti, mbak Tami, dan pak Muklis.
Lalu mereka bertiga menangis, tapi kenapa menangis? apakah salah aku membelikan mereka pakaian?
"kenapa menangis? pakainya nggak pas ya?"
"non......"
Mpok Surti memelukku dan juga mbak Tika, bingung dengan apa yang terjadi, apakah tangisan bahagia atau karena apa ya?
Aku melepaskan pelukan mpok Surti dan mbak Tika, agar mereka bisa cerita tentang alasannya menangis.
"Sikap non persis seperti nyonya, pakaian ini sangat untuk mpok dan warna nya adalah favorit mpok.
Biasanya hanya nyonya yang mengerti selera pakaian kami bertiga dan hanya nyonya yang selalu membawa oleh-oleh untuk kami bertiga."
"benar kata mpok Surti, masakan non juga tidak kalah enaknya dengan masakannya nyonya.
Mbak kirain nyonya tadi yang memberikan pakaian ini.
Tapi ya non, kerinduan mbak terhadap almarhumah nyonya langsung terpuaskan dengan masakan non dan saat ini juga."
Hanya tersenyum menanggapi penjelasan mpok Surti dan juga mbak Tami, bingung mau ngomong apa lagi.**
Setelah membersihkan diri masing-masing dan kini berduaan bersama mas Satria di ranjang yang besar ini.
"bagaimana hasil laboratorium nya mas? kapan kita ke klinik itu lagi?"
"belum di kabari sama dokternya."
"kok lama ya, atau ganti klinik aja?"
"ngak perlu, kita tunggu aja."
Ya......
__ADS_1
seperti biasa, jawaban dari mas Satria itu ala kadarnya dan tanpa basa-basi, itulah mas Satria yang aku kenal saat ini.
"mas sudah pernah ketemu dengan si Ferdinand itu?"
"mas capek, besok aja kita bahas ya."
Ujar mas Satria, sepertinya mas Satria tidak ingin menjawab nya. sebenarnya masih banyak yang ingin aku pertanyakan kepadanya, tapi.....
Mas Satria sudah menarik cover bed dan mematikan lampu disebelahnya, itu artinya tidak boleh bertanya atau bicara kepada nya.*
Seperti biasa tiap paginya, setelah selesai baru membangunkan mas Satria. sementara Adam sudah bisa mempersiapkan dirinya sendiri.
"mas sudah mau berangkat? itu koper untuk apa mas?"
"mau keluar negeri, tadi Findon asisten pribadi mas nelpon, ada keperluan mendadak di cabang Thailand."
"ngak sempat sarapan mas?"
Mas Satria hanya menggelengkan kepalanya, dan langsung pergi begitu saja.
Mengantarkan mas Satria sampai ke depan pintu, dan seperti biasa mas Satria tidak menyukai kalau tangannya aku salim.
Kini giliran Adam yang harus pergi ke sekolah, dan aku sendirian.
Kembali ke kamar untuk sekedar beres-beres, ketika beres-beres kamar dan tidak sengaja menyenggol tas yang dulu aku pakai waktu kuliah.
Buku tulisan dimana sampulnya tertulis, jurusan desain produk. gambar-gambar ku yang masih tersusun rapi.
Ada juga flashdisk tempat menyimpan hasil desain beberapa produk, sementara laptop nya sudah terjual untuk memenuhi kebutuhan.
Daripada di rumah aja, lebih baik ke toko elektronik. untuk membeli laptop, untuk sekedar menyalurkan hobi menggambar.
Baru keluar dari kamar sudah disambut pertanyaan dari sang mertua, tatapannya yang penuh kebencian diarahkan kepadaKu.
"mau keluar sebentar, bagaimana keadaan Lyra?"
"ngak usah sok peduli, kamu puas kan melihat Lyra menderita? dasar perempuan mandul."
Hadehhh.....
"kalau begitu saya pamit ya bu."
Buru-buru melangkah untuk meninggal sang ibu mertua pemilik mulut yang pedas, dan sesampai di depan rumah. pak Imran sudah tersenyum seraya membuka pintu mobil.
"mau kemana kita bu?"
"ngak usah panggil ibu pak, panggil aja Sarah."
"agak janggal, bapak panggil non aja ya. seperti panggilan mpok Surti."
"itu lebih baik pak, bapak tahu ngak toko elektronik yang menjual laptop?"
"tahu non, sekarang kita jalan ya non."
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, dan sepertinya handphone ku bergetar.
__ADS_1
Buru-buru meriahnya, siapa tahu mas Satria atau dari sekolah nya Adam. nyatanya nomor baru yang menghubungi.
'halo, dengan siapa ini?'
'ini ayah Sarah, bisa datang ke rumah sakit?'
'iya, sekarang Sarah akan ke rumah sakit ya.'
'ayah tunggu ya nak.'
Panggilan telepon berakhir, tapi dari mana ayah mertua mendapatkan nomor handphon Ku?
Mungkin dari mpok Surti kali ya..
"kita ke rumah sakit Lila dulu ya pak, setelah itu kita toko elektronik."
"baik non."
Mobil berputar arah ke rumah sakit, berhubung jalanan sudah lenggang dan kami tiba di rumah sakit lebih cepat.
Sesampainya di rumah sakit dan langsung menuju lantai VIP, ternyata Sarah sudah dipindahkan ke ruangan lain.
"Lyra sudah dipindahkan ke ruang non VIP, yuk ikut ayah."
Ayah mertua menemui di lantai VIP, dan kami turun ke lantai dasar.
Pak Imran dan dua security rumah sakit Lila selalu mengikuti ku, rupanya ayah mertua membawa Ku ke ruang rawat inap.
Dimana ada empat pasien lainnya, sementara pak Imran dan security tadi menunggu di luar ruang rawat ini.
"bagiamana keadaan Lyra pak?"
"beginilah nak, tapi operasi pengangkatan janin dan rahim nya berhasil.
Sekarang tinggal menunggu Lyra melewati masa kritisnya, dan setelah sadar nantinya, maka akan dimulai kemoterapi jika memungkinkan.
Lyra tidak akan bisa melahirkan lagi, karena rahimnya sudah diangkat."
"sabar...."
Seketika ayah mertua terdiam, dan aku masih bingung apa tujuan mertuaku ini memanggil ku kesini.
"nak Sarah, tujuan ayah memanggil mu kesini, untuk memohon agar nak Sarah mencabut laporan itu di kantor polisi.
Kasihan Lyra, sudah jatuh dan tertimpa tangga pula. tadi ibu mertua mu sudah ayah minta untuk menemui mu untuk meminta maaf.
Tapi ayah ngak yakin kepadanya, oleh karena itu ayah meminta mu datang kemari."
"saya bersedia tapi dengan satu syarat, ayah dan ibu harus membuat pernyataan dan perjanjian di kantor polisi sebagai jaminan, kalau Lyra tidak akan mengulanginya lagi.
Sarah merasa tidak punya kesalahan terhadap Lyra, tapi kenapa Lyra hendak membunuh adikku.
Tapi sebelum itu, Sarah harus bicara dulu dengan mas Satria.
ayah tahu kan mas Satria itu seperti apa orangnya?"
__ADS_1
Mertua mengganguk dan segera aku raih handphone, lalu mengirimkan pesan kepada mas Satria.
Tapi pesan itu masih centeng satu, mungkin saja mas Satria masih di dalam pesawat.