PEJUANG GARIS DUA

PEJUANG GARIS DUA
Ada yang Aneh.


__ADS_3

Adam yang duduk di kursi belajarnya dan memasang handset di telinga, ketika aku cek ternyata handset itu terdengar apapun.


"maafkan kakak karena harus menempatkan Adam ditempat seperti ini."


Adam langsung memelukku, headset yang di telinga itu berguna untuk menutupi telinga nya agar tidak mendengarkan suara adu malut dari ruang tamu.


Takutnya akan membuat kepribadian yang berbeda nantinya untuk Adam, takut akan menggangu mental nya.


"Adam yang mintak maaf kak, gara-gara Adam sakit dan akhirnya kita harus berada di rumah ini.


maafkan Adam kak...."


"Hei.... hei........


apapun akan lakukan untuk mu, itu karena kakak sangat menyayangi mu.


Adam adalah penyemangat kakak, jika kamu loyo seperti ini, lalu bagiamana dengan kakak?


Mama kan sudah berpesan pada Adam, kalau kamu harus menjaga kakak, karena kamu adalah anak laki-lakinya mama yang kuat dan hebat."


Lagi-lagi Adam memelukku dan terlihat jelas dari raut wajahnya terpancar keceriaan lagi.


"Adam akan belajar giat kak, agar bisa mencari uang nantinya.


Lalu kita pergi dari rumah ini, walaupun besar dan mewah, tapi tidak nyaman untuk ditinggali.


Rumah kita jauh lebih baik, sederhana tapi damai kan kak."


Setelah Adam tenang dan kemudian memintaku untuk kembali ke kamar, karena kata Adam, bahwa saya itu sudah punya suami.**


Mandi dan kemudian berpakaian lalu memoleskan sedikit pelembab wajah, dan terdengar suara kaki melangkah yang mengarah ke kamar ini.


Mas Satria pulang dan seperti biasa yang selalu menolak salim dariku.


"mas mau makan atau mau ngeteh atau kopi?"


"ngak, mas mau mandi aja."


Jawab mas Satria dengan begitu dinginnya, kaku dan sangat singkat.


Lalu ke kamar mandi setelah meraih handuk yang sudah aku siapkan.


Tidak berapa lama kemudian mas Satria sudah keluar dari kamar mandi dan tatapan yang terlihat lelah dan langsung memakai pakaiannya.


"mas...."


"besok aja kita bicara ya, mas capek."


Ucapnya lalu beranjak ke ranjang nya, terlihat mas Satria langsung terlelap, sementara aku masih duduk di kursi rias ini dengan sejuta pertanyaan yang membingungkan.


Tidak mungkin memaksa mas Satria untuk menjelaskan semua hal yang telah terjadi, karena tubuh yang lelah jika dipaksakan akan membuat kegaduhan, emosi yang berujung petaka.***


Jam lima subuh aku sudah bangun, lalu masak. kemudian mempersiapkan segala kebutuhan Adam ke sekolah dan kemudian membangunkan Nya.


Adam sudah bisa mandiri dan bisa mempersiapkan dirinya sendiri ke sekolah.

__ADS_1


"bangun mas, massss......"


Mas Satria akhirnya bangun juga dan langsung ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi dan aku membantunya untuk merapikan pakaiannya.


"mas sarapan di samping, tolong bawa makanan dan juga kopi ya."


Setelah tersenyum menanggapi permintaan nya dan langsung ke dapur untuk membawa makanan dan minuman.


Dengan dibantu mpok Surti untuk menyajikan makanan dimana, di taman dekat kamar pribadi ini, lalu kami berdua makan bersama.


"bisa kita bicara mas?"


Pinta ku kepada mas Satria setelah selesai makan dan ketika mas Satria selesai menyeruput kopi Nya.


Mas Satria mengganguk lalu meletakkan cangkir kopi itu.


"sebelumnya Sarah mintak maaf atas apa yang telah terjadi, dan tidak niat sedikitpun mencurigai mu mas.


hanya saja Sarah penasaran akan hasil uji laboratorium akan kadar hormon itu mas, tapi nyata diluar dugaan Sarah.


Sarah capek dan lama-kelamaan Sarah bisa jika didesak terus untuk punya anak.


Mas sudah melihat sendiri hasil uji laboratorium terhadap air mani itu dari klinik permata.


Hasilnya sama dengan hasil uji laboratorium klinik Indah.


Sarah mau nanya mas, menurut mas sendiri. apa arti ku ada disini?


Pertanyaan Ku dijawab dengan tatapan sinis dari mas Satria, lalu kopi yang ada dihadapannya kembali diseruput.


"iya udah kita lanjutkan ke klinik Indah lagi, mas sudah siap kok."


"baiklah kalau begitu, tapi Sarah menginginkan mas Satria untuk menelpon klinik Indah untuk membuat janjinya.


Sarah bukan nya ngak mau hamil mas, tapi....."


"iya bawel, ini biar mas hubungi sekarang juga."


Karena desakan dariKu, dan akhirnya mas Satria menghubungi dokter Supriadi.


Syukurlah kalau dokter Supriadi tidak sakit hati karena mas Satria pernah membatalkan janjinya kepada dokter Supriadi.


"sudah ya, besok kita klinik itu. lagi pula dokter Supriadi belum menutup permanen pendaftaran kita...."


Mas Satria berhenti bicara karena terdengar suara berisik dari arah tamu.


"ah.......


parasit itu lagi.....


Kamu mandi aja, biar mas yang menghadapi para parasit itu."


"iya mas."

__ADS_1


Mas Satria langsung beranjak, dan peralatan makan segera aku bereskan.


Lalu ke kamar mandi, tanpa mengantar peralatan makan bekas makan kami, itu sengaja kulakukan untuk menghindari tamu yang datang.


Jika mas Satria berkata parasit untuk tamu yang datang ke rumah ini, maka hanya ada dua kemungkinan, bertanya apakah aku sudah hamil atau meminta saham.


Selesai mandi lalu keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan kimono, dan suara tamu itu sudah tidak ada lagi, dan mas Satria sudah berada di kamar ini yang menyiapkan dokumen pekerjaan Nya.


"siapa tamu itu mas?"


"ngak penting, hanya sekumpulan parasit."


Jawab mas Satria tanpa menolehku, nada bicaranya yang terdengar kesal.


"kemarin itu ayah menceraikan ibu mas."


Mas Satria berbalik badan dan kemudian menolehku.


"haaaa......


Cerai gimana? tapi mereka berdua baru keluar dari kamarnya.


Mas memberi kesempatan kepada ayah untuk tinggal disini, tadi mereka berdua keluar dari kamar mereka."


"kok gitu ya mas? padahal jelas-jelas ayah menceraikan ibu.


Ibu Dewi, ibu Kensa, mpok Surti dan mbak Tami jadi saksi nya.


Karena kami berada di ruang tamu saat ayah menceraikan ibu mas."


"sudahlah, capek kita mikirin mereka."


Ujar mas Satria, kemudian membalikkan tubuhnya lagi untuk membereskan dokumen yang akan dibawanya.


"gimana jika klinik permata itu mempermasalahkan janji tertulis ibu, mengenai pengurangan sewa gedung itu mas?


Apakah ini akan bermasalah?


Karena di perjanjian tertulis, ada stempel bagian keuangan Lila group dan bermaterai mas."


"nanti biar bagian legal yang menangani nya."


"bukan hanya itu saja mas, kepemilikan laboratorium klinik permata itu terpisah dengan kepemilikan klinik permata.


Laboratorium itu bekerja sama dengan klinik permata, dan pemilik saham terbesar di laboratorium itu adalah Sari group.


Bagaimana bisa Sari group menyewa gedung milik Lila group.


Pihak laboratorium sudah mempermasalahkan uji laboratorium nya sejak awal....."


Mas Satria berbalik badan lagi dan kemudian mendekati Ku, tatapannya yang tajam dan mengarah kepada Ku.


"dari mana kamu tahu kalau pemilik saham laboratorium itu Sari group?"


Kemudian aku membuka laci meja rias, dan mengambil dokumen dari sana. dokumen tentang kepemilikan saham dari laboratorium yang bekerjasama dengan klinik permata.

__ADS_1


__ADS_2