
Kini tinggallah Farhat dan keluarganya, mereka terlihat sedikit cemas dengan ketegasan dari mas Satria.
"apa yang kalian inginkan?"
"Jangan kasar gitu Satria, saya ini om kamu. bagiamana pun juga, ayah mu itu masih punya hak atas semua harta peninggalan mama kamu.
Memang ayah mu sudah menikah lagi, tapi Satri harus ingat kalau jika suami istri sudah sah tercatat.
maka..."
"ngak usah ngajarin saya soal hal itu, jika keberadaan silahkan gugat ke pengadilan.
kalian ke sini mau ngapain? mintak saham juga?
jangan harap, lebih saya kepada berikan kepada pantai asuhan ketimbang kepada kalian."
Om nya semakin geram, ucapannya yang di potong dengan kata-kata yang sadis membuatnya semakin terlihat emosi.
drrrt.... drrrt.... drrrt......
Handphone Deva bergetar dan seketika dia langsung meriah handphone nya.
Hanya sebentar saja Deva menjawab panggilan itu, lalu melihat ke arah mas Satria seraya tersenyum.
"Tim marketing dan tim packing Insani kewalahan menghadapi orderan produk Insani.
Mbak cantik....
Selamat ya, berkat beberapa video the day of life mbak Sarah, penjualan produk Insani meningkatkan berkali-kali lipat.
Deva pamit dulu ya, bosan banget berhadapan dengan masalah yang itu itu aja.
Oh iya mbak Sarah, nanti tolong segera dipelajari ya.
Setelah itu diskusikan dengan suami, apapun keputusannya, Insani menerima nya."
Ujar Deva dan kemudian langsung pergi, dan sang ibu mertua kini sudah berada di sofa ini dengan membawa dokumen dan juga satu benda yang unik.
"ini adalah mahar dari ayah mu Satria, dan apa kamu tega ibu menjual mahar ini?"
"itu bukan urusanku, berani berbuat dan harus berani bertanggung jawab."
Mas Satria menanggapi perkataan ibu tirinya, sementara aku fokus dengan tempat perhiasan yang berbentuk hari itu.
Dimana penguncinya jika di satukan maka membentuk berinisial "L".
Itu seperti yang ada dalam gambar yang ada dalam flashdisk.
Tempat perhiasan itu milik keluarga almarhumah ibu Lila yang diberikan turun temurun.
Menurut taksiran yang dijelaskan di file flashdisk, itu bisa mencapai seratus lima puluh juta rupiah.
__ADS_1
Perhiasan itu hilang dari laci meja almarhumah ibu Lila.
"bisa saya membeli set perhiasan itu?"
Ibu mertua langsung memberikan set perhiasan itu, dengan melemparkan nya ke hadapan ku.
"ambil nih, seratus juta rupiah. jika kamu masih punya perasaan, tambahkan."
"Sarah tambahkan sepuluh juta lagi ya?"
"terserah deh, sekarang transfer aja ke rekening ini."
Ujar ibu mertua seraya menyodorkan nomor rekening dari handphone nya.
Setelah memeriksa perhiasan itu, dan sesuai dengan deskripsi dalam file, dan tidak ada yang berkurang.
Segera aku transfer uangnya, bahkan ku tambahkan lima juta rupiah lagi.
Lalu dengan segera berlalu ke kamar untuk mengambil kwintansi pembayaran yang ada di dalam tas ku.
Maklumlah sebagai mantan penjual pulsa yang terkadang membutuhkan kwitansi kepada pelanggan.
Satu set perhiasan emas berupa, cincin, kalung dan juga gelang.
Itulah yang ku tuliskan dalam kwitansi tersebut lalu aku pergi lagi ke ruang tamu untuk meminta tandatangan ibu mertua.
"apaan sih ini? ngak usah di buat ribet dong!".
Dengan raut wajahnya yang kesal, ibu mertua menandatangani kwitansi itu.
"sudah masuk uangnya kan? segera ibu lunasi utang ibu di salon itu."
Wajahnya yang masih terpancar amarahnya dan melakukan transaksi pembayaran kepada salon.
Lalu menunjukkan bukti bayarnya kepada mas Satria, dan ibu mertua menghubungi menejer salon untuk memberitahukan kalau tagihannya sudah di lunas.
Ibu mertua sudah pergi dan mas Satria mengajakku ke dalam kamar.
Akan tetapi mas Satria tidak bertanya kenapa aku membeli perhiasan dari ibu tirinya itu.
Lega sejenak perasaan ini, karena perhiasan ini penting untuk bahan investasi.
"Sarah....
mas harus ke kantor lagi, tadi pekerjaan yang tertunda karena kalian berantam di salon itu.
Mungkin mas pulangnya agak malam, itu biar kita bisa ke dokter Supriadi itu.
Mas juga sudah menelpon dokter nya, jadi besok langsung konsultasi."
"baiklah mas, jangan lupa makan malam ya."
__ADS_1
Ciuman hangat di keningku dari mas Satria, lalu pergi dari kamar.
Segera aku simpan set perhiasan itu, dan kemudian pergi ke kamar Adam.**
Adam sudah tidur di kamarnya, dan aku kembali ke kamar.
Menutup pintu dan kemudian membuka laptop.
Setelah sistem operasi laptop berjalan, lalu aku mencocokkan kembali perhiasan itu.
Spesifikasi yang tertulis, ada tanda plus dua di bawah nya, dan ada sertifikat emas tersebut di dalam tempat nya.
Lihat disamping tidak ada ada, lalu melihat ke dalam dan itu sangat halus.
Ternyata sertifikatnya berada disela-sela sobekan kainnya dibawah gelang, dan harus dibuka menggunakan pinset.
Berdasarkan sertifikat yang berbahasa Inggris dan pembuatan di London.
Dibeli tanggal 17 Pebruari 1991 dan atas nama ibu Halima, berat keseluruhan set perhiasan adalah dua ratus enam puluh lima.
Per gramnya seharga 55 £ (poundsterling Inggris), jika menelusuri kurs poundsterling pada rupiah pada tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh satu, adalah senilai tiga ribu empat enam puluh empat rupiah.
Emas perhiasan dengan karat emas dua puluh empat, dan dibuat secara khusus.
Aku hanya fokus terhadap keberadaan emas perhiasan ini, dan kenapa emas ini bisa menjadi hantaran pernikahan ibu mertua.
Sementara menurut keterangan dari file nya, bahwa emas perhiasan ini hilang dan merupakan hadiah dari orangtuanya almarhumah ibu Lila, ibu kandung mas Satria.
Setelah memeriksa lebih teliti lagi akan tempat set perhiasan, dan memastikan ada petunjuk lain dan itu tidak aku temukan.
Segera ku simpan dan saatnya menelusuri kembali file dalam flashdisk tersebut, dan tertulis bahwa emas perhiasan itu adalah hadiah dari neneknya mas Satria kepada ibu kandungnya.
Neneknya menerima hadiah itu dari keluarga suaminya, agak ribet membacanya tapi yang jelas emas perhiasan ini punya sejarah keluarga yang besar.
File selanjutnya adalah sisilah keluarga yaitu Arkah Harmono.
Disini tertera bahwa Arkah Harmono adalah kakek mas Satria, yang merupakan ayah dari mama nya. berarti nenek Satria bernama Halima.
Kakek dan nenek Satria hanya memiliki satu anak yaitu almarhumah ibu Lila. ibu kandungnya mas Satria.
Sementara kakek Satria hanya memiliki satu sepupu dan tinggal di London.
Tidak dijelaskan alamat nya, dan disini tidak tertera keluarga yang lainnya.
Cukup membingungkan dalam hal memahami file kedua ini.
Catatan yang paling unik, kalau di kantor pemasaran lantai delapan terdapat ruangan khusus untuk almarhumah ibu Lila.
Enam angka dan ini adalah tanggal lahir mas Satria, lalu ada dua huruf kapital nama awal mas Satria dan huruf kedua dari namanya ditambah dengan tanggal lahir mas Satria yang dibalik.
Buku catatan ada di brangkas.
__ADS_1
Mungkin ini adalah kata kunci dari brangkas yang dimaksudkan.