PEJUANG GARIS DUA

PEJUANG GARIS DUA
Untuk Pertama Kalinya Merasa Bahagia


__ADS_3

Melihat riwayat penjualan itu, berkali-kali perempuan cantik itu memberikan pujian terhadap Ku.


Selanjutnya adalah penyerahan penghargaan, berupa tropi dan juga uang tunai senilai dua puluh lima juta.


"ibu Sarah, berikut ini adalah dokumen yang harus ibu pelajari dan nantinya beritahu kami jika sudah menyelesaikan tugas ibu."


Dokumen itu diberikan kepadaku dan sangat tebal, dengan tersenyum aku menerima dokumen itu.


Acara pun selesai dan mata tertuju kepada ku karena tiba-tiba saja mas Satria meraih tangan kananku lalu membawa pergi dari panggung.


Pak Imran mengikuti kami dari belakang, dan kemudian kami melewati pintu keluar yang berhadapan dengan pegawai informasi itu.


Seketika pegawai itu menundukkan kepalanya kepada mas Satria, terlihat dari kejauhan dia begitu heran melihat ku karena mas Satria memegang tangan kananku sambil berjalan.


"bapak ngapain ngikutin kami?"


"gimana ngak ngikutin, putriku dibawa sama kamu nak."


Jawab pak Imran kepada mas Satria, seketika suamiku itu heran begitu juga dengan Findon asisten pribadinya mas Satria.


"bapak pulang aja ya."


"malas nak, bapak malas melihat ibu tiri mu itu di rumah."


"bukan ke rumah maksudku pak, tapi ke rumah bapak.


Bapak pulang lebih awal, ini ada uang saku tambahan untuk membawa keluarga bapak jalan-jalan ya.


Putri bapak ini Satria pinjam dulu ya, bapak pulang dan luangkan waktu bapak untuk keluarga."


"siap....


titip putri ku ya, non bapak pulang duluan ya."


"ihhhhh.....


katanya putrinya, tapi panggilannya non."


"putri kedua juga bapak panggil non."


Jawab pak Imran seraya tersenyum dan akhirnya pergi meninggalkan kami.


Banyak karyawan melihat aksinya mas Satria, terlihat diantara mereka banyak berbisik-bisik.


Lalu Findon mempersilahkan kami masuk ke dalam mobil, akan tetapi tangan mas Satria tidak kunjung dilepaskan nya.


"kita mau kemana mas?"


"mau kamu mau kemana?"


"uhmmm.....


pengen melihat kantor mas, karena dulu hanya melihatnya dari luar aja mas."


"mangnya kamu ngak lapar?"


"iya lapar mas, ya sudah kita makan ya. nanti belok ke kiri dan ujung perempatan ada restoran kecil.

__ADS_1


Makanya sangat enak, murah, higenis dan bervitamin."


Aku menjawab secara spontan pertanyaan dari mas Satria, lalu mas Satria memberikan isyarat kepada Findon untuk pergi ke restoran yang aku inginkan.


Akhirnya kami sampai di restoran itu, dan sudah ramai saja. banyak para pegawai kantoran yang makan di restoran mungil ini.


"ini tempatnya? kok kayak ngak layak disebut restoran ya."


"sudah masuk yuk."


Langsung ku raih tangan mas Satria dan kemudian kami masuk ke dalam yang diikuti oleh Findon dari belakang.


"mbak Sira.....


tiga paket ya, minuman biasa."


"oke kakak cantik, bye the way. siapa kak? ganteng benar, pacar kakak? yang mana? pake jas abu-abu atau jas hitam?"


Pernyataan Sira, putri pemilik restoran ini dan sekaligus sahabat waktu SMA.


Lalu aku melirik ke arah mas Satria yang duduk tepat di samping Ku, dan saat ini memakai jas abu-abu.


"memakai jas abu-abu ini namanya mas Satria, suami ku dan yang di hadapan Ku ini namanya Findon, sahabat suamiku."


"Mak...... mak....... bapak..... bapak.....


sini mak, sini pak, kak Sarah membawa suami nya datang kemari."


Sira dan kedua orang tuanya langsung duduk disebelah kami dan memandangi wajahnya mas Satria.


"pintar kamu cari calon suami iya, sahabat suami mu sudah menikah belum? kalau belum mau ngak nikah sama Sira?"


Ujar mama nya Sira dengan blak-blakan dan hal itu membuat mas Satria tertawa tapi tidak dengan Findon.


Terlihat dia tersipu malu, dan lirikannya kepada Sira agak berbeda.


"kalian makan dulu ya, nanti kita ngobrol lagi. karena butuh tenaga ngobrol dengan kami."


Ucap bapaknya Sira, karena pesanan ku sudah datang. kedua orangtuanya sahabatku telah pergi tapi Sira masih duduk disamping Ku.


"ganteng banget...."


Findon tersipu malu, dan seketika Sira ditarik oleh mamanya.


"nanti aja Sira, biarkan mereka makan."


Sira nurut aja ditarik tapi tatapannya tetap mengarah ke Findon.


Segala jenis siput tersaji dan juga timun serut tanpa gula serta juga sayur lalapan.


Findon langsung menyantap makanannya, dan hal itu menjadi perhatian dari mas Satria.


"seenak itu ya?"


"iya pak, sausnya ini pas di lidah ku. coba aja pak, kalau nanti ngak sesuai dengan selera bapak, nanti Findon pesan menu yang lainnya."


Jawab Findon, lalu mas Satria mulai mencuci udang saus tiram dengan sedikit nasi.

__ADS_1


Mas Satria makan dengan lahap, sepertinya mereka berdua menyukai makanya.


Pada akhirnya ludes semua makanan, dan terakhir timun serut itu ludes juga.


"Rekomendasi restoran dari ibu sangat luar biasa, baru kali ini Findon merasakan sensasi makan yang luar biasa.


Terimakasih ya bu sudah membawa kami makan disini."


Ujar Findon setelah selesai meneguk timun serut itu.


Kemudian Sarah dan kedua orangtuanya mendekati kami.


"cerita dong sama ibu, kenapa Sarah ngak mengundang ibu ke pernikahan kalian?"


"maaf ya bu, ini bukan salah Sarah. saat almarhumah mama ku, menginginkan kami berdua untuk segera menikah.


Sisa akhir hidup yang menginginkan saya untuk menikah dengan gadis pilihan mama yang sangat cantik.


Saya mau minta maaf ya bu, karena tidak kepikiran waktu.


bahkan juga saudara dekat dan rekan-rekan kerja yang lainnya tidak saya undang karena tidak kepikiran.


Maafkan kami ya bu."


"oh begitu....."


Dengan serentak Sira dan kedua orangtuanya berkata demikian, lalu menyalami kami berdua untuk memberikan selamat.


"kalau sahabat itu sudah menikah apa belum?"


"kalau itu ibu tanyakan saja pada orangnya."


Jawab mas Satria kepada mama nya Sira, lalu Findon langsung menatap wajah mamanya Sira.


"saya belum menikah bu, dan namaKu Findon. asisten pribadi nya pak Satria."


Sanggah Findon yang terlihat gagahnya mengatakan demikian.


"asisten pribadi itu ngapain aja?"


Mama dari sahabat ini bertanya lagi kepada Findon, karena pekerjaan yang di utarakan olehnya.


"Findon ini yang membantu pekerjaan ku bu, Findon ini adalah junior dulu dan sekaligus sepupu, sahabat dan juga asisten pribadi."


Sira yang terlihat berselancar di handphone miliknya dan menganggap setelah mendengarkan penjelasan dari mas Satria.


"CEO dari Lila group ya? perusahaan raksasa itu?


waouuuuu.........


Tidak menyangka CEO perusahaan raksasa bersama asistennya makan di restoran kami."


Ujar Sira dengan nada suara yang tinggi karena kagum, dan kemudian memelukku dengan begitu eratnya.


"kamu paket pelet apa kak? kenapa bisa menikah dengan pria kelahiran konglomerat nan tampan seperti ini?"


Mas Satria hanya tersenyum mendengar ocehan dari Sira, dan mama sahabat ini memukul kepala Sira dengan centong sayur.

__ADS_1


__ADS_2