
POV Satria.*
Satria terlihat syok melihat keadaan yang sebenarnya, dan terus memperhatikan sekelilingnya.
"tempat ini dimana? ini bukan fasilitas rumah sakit Lila kan?"
Pertanyaan yang terlontar kepada salah petugas yang memakai pakaian medis yang lengkap.
"kita berada di banker unit rehabilitasi dari fasilitas rumah sakit Lila."
"rehabilitasi? kan saya tidak terindikasi virus itu, tapi kenapa rehabilitasi?"
"tidak menjamin pak, karena virus itu tidak langsung menyerang sistem kekebalan tubuh dalam bahasa sederhananya, bahwa virus tersebut tidak langsung menjalar ke seluruh tubuh."
"saya tidak berhubungan suami-istri dengan Neni, jadi tidak mungkin saya tertular virus itu."
"ngak ada yang bisa jamin pak, makannya jangan bermain-main dengan orang-orang ngak beres, kan bapak sendiri yang rugi.
Diperlakukan seperti najis, dan terkesan menyeramkan.
Kita harus lebih mawas diri pak, menjaga diri kita sendiri agar mampu menjaga keluarga."
"saya mau keluar dari sini."
"tidak bisa pak, karena ini perintah langsung dari atasan dan bapak ngak bisa membantah."
"siapa atasan mu? dan kenapa berbeda dengan istriku Neni dan juga ibu serta adek-adek?"
"Neni? penipu itu? ngakunya lulusan luar negeri.
Tapi bisa di tipu sama perempuan yang tidak berpendidikan, bodoh......"
Satria hanya bengong akan ucapan petugas itu yang sudah meninggal nya di ruangan yang luas itu.
Fasilitas yang ada hanya televisi yang menempel di dinding dan beberapa produk minuman ringan di kulkas sepertinya kulkas itu menempel di dinding.
"ada telepon."
Ujarnya dan langsung meraih handphone tersebut dan mencoba melakukan panggilan.
"apalagi pak Satria?"
"loh kok kau yang menjawab, mana Sarah istriku?"
"hadehhh.....
ini banker pak dan bukan hotel, telepon ini hanya searah. bapak hanya bisa menerima telepon.
jika bapak menelpon kepada orang lain, maka terhubung ke administrasi atau operator.
Bapak maunya apa sih? bising banget."
"tolong hubungkan aku dengan Sarah istriku?"
"tunggu sebentar, tapi ngak janji bisa tersambung."
Panggilan itu terputus dan Satria mondar-mandir sembari menunggu telepon masuk.
Kring... kring.....
Akhirnya telepon itu berbunyi dan Satria langsung mengangkatnya dan langsung mengaktifkan loudspeaker melalui menekan tombol biru.
__ADS_1
'Sarah ya?'
'iya mas, mas apa kabar? tapi sebelumnya Sarah mengucapkan selamat atas pernikahan mas dengan nya.
Semoga mas berbahagia dengan pernikahan itu bersama anak mas yang akan lahir segera.'
'Sarah..... Sarah......'
Satria memanggil nama Sarah, karena suaranya terdengar seperti hilang.
'iya mas.'
'apa-apaan ini semua? kenapa bisa kacau seperti ini?
mas seperti dipenjara disini, apa salah aku bertanggungjawab terhadap wanita yang sedang mengandung anak kandung Ku?'
'kok nanya sama Sarah, tanya langsung sama kak Deva dan Om Erik.
Sarah hanya perpanjangan kuasa dari mendiang ibu mas.
Atau mas pura-pura ngak tau?'
'maksudnya apa Sarah?'
'gini aja mas, hidupkan televisi yang disana nanti Sarah akan meminta untuk di mas lihat di layar televisi itu'
'Sarah..... Sarah......'
Sambungan telepon berakhir, dan Satria langsung menyalakan televisi dengan bantuan remote control yang ada di meja.
Seorang pria tampil di layar kaca, dan seperti salah satu orang yang di foto yang diberikan oleh petugas ketika di rumah.
Pria itu bernama Darius, pria penghibur yang biasa di panggil untuk memuaskan hasrat pelanggan nya.
Hal terungkap ketika ada video ijab kabul Satria dan Neni di kantor urusan agama atau KUA.
Pria itu mengakui sebagai penderita atau pengidap HIV AIDS karena pergaulan bebasnya.
Selain pengakuan itu, bahwa hal yang mengejutkan adalah bahwa Neni merupakan istri orang lain.
Memang pernikahannya itu tidak tercatat secara hukum alias nikah siri.
Televisi sudah mati seperti dimatikan dari jarak jauh atau control orang lain.
Lalu telepon kembali berbunyi kembali dan langsung di jawab oleh Satria.
'Sarah.....'
'mas sudah paham kan akan kejadian yang sebenarnya?'
'mas benar-benar ngak ngerti, tolong jelaskan Sarah.'
'baiklah mas dan akan Sarah jelaskan dengan sebaik-baiknya.
Setelah kami keluar dari rumah dan kami langsung memeriksakan diri ke rumah sakit Lila dan meminta untuk diperiksa secara detail.
Setelah pengambilan sampel darah, dan dinyatakan tidak terindikasi virus itu, tapi kami di minta untuk observasi lanjutan mas.
Seseorang telah menyebar video ijab kabul kalian dan langsung ditanggapi oleh pria itu.
Video tanggapan itu merusak citra Lila group, yang mengakibatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk Lila group meredup di pasaran.
__ADS_1
Hanya karena tes DNA yang belum di verifikasi dan mas langsung memutuskan untuk menikahinya.
Almarhumah sudah bersusah-payah untuk membangun bisnis ini dan seketika itu dan secepat itu mas menghancurkan semuanya..."
Suara itu tidak terdengar lagi, dan Satria memanggil Sarah berulangkali.
'saya masih disini.'
'jadi kemana Neni di bawa?'
'ke neraka.'
Sambungan telepon berakhir dan itu seperti disengaja oleh Sarah.
Berulangkali kali Satria memanggil nama Sarah tapi tidak di sahut, karena sambungan telepon sudah berakhir.
Satria mencoba menghubungi Sarah dan....
'apalagi pak Satria? kan sudah bicara dengan ibu Sarah.'
'saya belum selesai bicara dengan Sarah, tapi dia memutuskannya secara sepihak.'
'itu karena kesal pak Satria, bapak bicara dengan ibu Sarah tapi bertanya keadaan perempuan lain.
Benar-benar bego, gini nih kalau cinta buta tanpa memakai akal sehat.
jangan hubungi lagi kemari, capek menghadapi pria yang tidak akal sehat seperti bapak?'
Operator itu malah ngomel kepada Satria dan mengakhiri sambungan telepon. tentunya Satria tidak menyerah, lalu menghubungi kembali operator itu lagi.
'tolong sambungkan lagi dengan Sarah, saya mohon pak.'
'ngak bisa, karena ibu Sarah berpesan kalau ibu Sarah sendiri yang menelpon jika perlu.'
'kalau begitu tolong sambungkan dengan Deva atau findon.'
'mereka sendiri yang akan menghubungi bapak jika ada kepentingan, karena bapak sudah dibutakan dengan cinta tanpa akal sehat.'
'hubungkan saya dengan neni.'
Telpon langsung berakhir dan Satria menunggu seraya mondar-mandir seperti orang kebingungan.
Kembali Satria mencoba menghubungi operator, tapi tidak bisa.
Berulangkali kali dicobanya dan tidak tersambung.
"Sarahhhhhhhhhhh........"
Satria berteriak memanggil nama Sarah, seperti orang sudah putus asa dalam keadaan.
kring....kring.....kring.....
Telepon itu akhirnya berbunyi dan dengan segera dia menjawab panggilan itu.
'Sarah......'
'ini Neni mas, bukan sarah.'
'oh gitu, kamu dimana sekarang?'
'ngak tau ini mas, yang jelas berada di ruangan dan hanya televisi dan juga telepon ini, tadi handphone ku disita disita mas.'
__ADS_1
Sejenak Satria diam dan menjambak rambutnya, seperti mendapatkan pukulan yang keras dan tekanan yang kuat.
Bingung harus berkata apa? karena Sarah yang sebenarnya yang mengetahui informasi.