PEJUANG GARIS DUA

PEJUANG GARIS DUA
Mencoba Menghalau Serangan Makian.


__ADS_3

Lalu aku mengambil kursi yang ada di dekat ibu mertuaku, dan membalas tatapannya yang tajam itu.


"ibu.....


tolong jaga omongan ibu, takutnya akan omongan ibu itu berbalik kepada diri sendiri.


Lihat diri sendiri ibu, Lyra putri mu yang mandul permanen karena rahimnya sudah di angkat.


Saya masih punya rahim yang sehat, sistem reproduksi dalam baik-baik saja, dan saya bersedia membuktikan Nya.


berbeda dengan putri mu si Lyra itu, hamil di luar nikah dan terserang virus jahanam sehingga harus aborsi sekaligus rahimnya di angkat.


sadar bu sadar, lihat kenyataan. jangan menuduh orang lain mandul sementara putri mu yang mandul permanen.


Anak mu si Rizal menghamili anak gadis orang, dan putri hamil di luar nikah tanpa tahu siapa laki-laki yang menghamilinya.


apa masih layak ibu dianggap sebagai ibu yang kompeten mengurus anak?


Sepertinya tidak, ibu sudah gagal mendidik anak-anak karena sibuk mengurusi urusan orang lain dan harta orang lain.


Ngaca bu, jangan hanya bisa melihat butiran debu di mata orang sementara gajah di mata sendiri tidak bisa di lihat."


"kurang ajar kamu ya, berani-beraninya kamu mengatai putriku mandul."


"kenapa ibu? ngak terima putrinya dikatakan mandul?


bagaimana dengan ibu yang setiap hari mengatai saya mandul.


Tapi nyata apa? putri mu yang mandul, dan sekarang masih dirawat sakit karena baru selesai aborsi dan angkat rahim."


"kurang ajar....."


Sang ibu mertua berusaha untuk menamparku, tapi tangan yang hendak menampar itu bisa aku tangkap.


Kemudian tangan yang hendak menampar itu aku hempaskan dan terlihat si mulut sadis itu mengerang kesakitan.


Lalu aku berdiri dan menatap mereka satu persatu.


"jangan suka mencampuri urusan orang lain dan menghakimi orang lain jika tidak mengetahui kebenarannya.


itu fitnah dan saya bisa mengadukan itu ke Polisi, berhenti menggunjing orang lain."


Seketika mereka terdiam dan kemudian aku langkahkan kaki ini untuk segera pergi dari orang-orang yang suka menggunjing ini.


"Sarah..... tunggu......."


Wanita paru baya, yang dipanggil mak Vera itu manggil Ku dan akhirnya aku menghentikan langkah kaki.


Wanita itu menghampiriku lalu memegang tangan kanan ini.


"begini nak Sarah, kami datang ke sini untuk menagih janji dari almarhumah Lila.


Dulu kami dijanjikan akan kepemilikan saham Lila group, tapi tidak terlaksana karena Lila keburu meninggal."


"maaf bu Dhe, Sarah tidak bantu. semuanya adalah wewenang mas Satria.


Bu Dhe ngomong langsung sama mas Satria ya, karena saya tidak ada hak untuk memberikan saham kepada siapapun.


Permisi...."

__ADS_1


Berjalan dengan setengah berlari, agar bisa segera berlalu meninggalkan tempat ini.


Begitu sampai di teras rumah dan pak Imran langsung membuka pintu mobil untuk Ku.


"ke toko elektronik ya pak, mau laptop. karena kemarin itu tertunda."


"baik non, tolong dipakai sabuk pengamannya ya non."


Ujar pak Imran dan mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.


Tidak habis pikir dengan keluarga mas Satria ini, dan kenapa hanya keluarga dari pihak ayah mas Satria saja yang datang?


Lalu keluarga dari pihak almarhumah bu Lila pada kemana ya?


"pak Imran, boleh bertanya?"


"silahkan non."


"bapak sudah berapa lama kerja sama mas Satria?"


"enam tahun lebih non, bapak di rekomendasikan supir pribadi almarhumah nyonya Lila.


Dulu pak Dhe bapak yang menjadi supir pribadi nya almarhumah sampai pensiun alias tua.


Lalu pak Dhe merekomendasikan bapak untuk menjadi penggantinya.


Bapak awalnya menjadi supir pribadi almarhumah dan akhirnya menjadi supir pribadi non."


"oh ......


Sarah ngak pernah melihat keluarga dari almarhumah bu Lila.


hanya dari keluarga ayah mertua saja, apa bapak tahu dimana para keluarga almarhumah ibu?"


"iya pak, Sarah ngerti kok. oh iya pak, bapak tahu ngak alamat PT Insani?"


"bapak tau non, karena keponakan bapak itu kerja disana, waktu tes terakhir bapak yang mengantarkannya ke sana.


Kalau tidak salah PT Insani itu memproduksi produk kecantikan, karena keponakan bapak sering menghadiahkan produk kecantikan itu kepada istri bapak.


Kenapa non bertanya tentang PT Insani?"


"oh itu pak, Sarah mengikuti lomba desain kemasan produk dan dinyatakan sebagai pemenangnya.


Besok Sarah di undang ke sana jam sepuluh, tolong bapak antar ya."


"siap non."


Jawab pak Imran dengan cepat dan tidak berapa lama mobil berhenti di sebuah toko elektronik yang sangat besar.


Setelah mobil parkir dan pak Imran dengan buru-buru membuka pintu mobil untuk ku.


"ini non toko nya, ayo masuk non."


Ujar pak Imran dengan begitu sopan nya dan mengikuti ku dari belakang.


"eh pak Imran, belum waktunya pulang pak. itu ibu di dalam lagi kerja."


"bapak bukan menjemput Istri kemari mas Irfan, tapi bapak membawa calon pembeli untuk mas Irfan.

__ADS_1


Tolong tunjukkan laptop yang paling bagus untuk non Sarah ya."


"iya Tuhan.....


kakak sangattttttt....... cantik, yuk masuk. biar Irfan tunjukkan koleksi laptop kami yang terbaru."


"heee....


jangan kurang ajar kamu ya."


Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan mereka berdua, dan sepertinya pak Imran sangat akrab dengan sales yang bernama Irfan itu.


Lalu kami masuk ke dalam, dan Irfan langsung menunjukkan laptop keluaran terbaru yang canggih seperti yang diminta oleh pak Imran.


"bapak...."


Ujar seorang perempuan paru baya yang membawa air mineral kemasan untuk kami.


"ibu....


kenalin bu, namanya non Sarah. istri pak Satria.


Non ini Istri bapak, namanya Karmila."


Begitu ramahnya istri pak Imran ini, dan kami pun bersalaman.


"cantik sekali kamu nak, kalah ma artis-artis yang di televisi itu."


"halo ibu Karmila, nanti aja ya ngobrol nya. Irfan mau menawarkan laptop dulu."


"iya mas Irfan."


Ucap istri pak Imran dan terlihat hendak pergi setelah di tegur oleh sales nya.


"ibu jam berapa istrihat nya?"


"bentar lagi ibu selesai kok nak, emangnya kenapa?"


"tunggu Sarah selesai belanja ya bu, habis itu kita makan barang."


"Irfan ikut ya kak."


"ngak....."


Dengan kompaknya pak Imran dan istrinya berkata ngak kepada sales yang kocak itu.


Lalu istri pak Imran tersenyum dan meninggalkan kami di counter ini dengan laptop yang sudah di keluarkan dari berbagai merek.


"maaf ya kak, atas ketidaknyamanan. oh iya kak, rencananya laptopnya mau digunakan untuk aplikasi apa?


biar Irfan merekomendasikan klasifikasi yang tepat?"


"untuk semua desain grafis."


Dengan lihai nya sales itu menawarkan laptop yang sangat bagus.


Dengan kapasitas penyimpanan dan prosesor nya yang luar biasanya dan harganya juga fantastis.


"saya mau laptop yang ini, tapi bisa pakai kartu kredit?"

__ADS_1


"bisa dong kakak, bisa langsung Irfan proses?"


Hanya mengganguk kepala dan sales yang bernama Irfan itu langsung melompat kegirangan.


__ADS_2