PEJUANG GARIS DUA

PEJUANG GARIS DUA
Kelakuan Friska.


__ADS_3

POV Friska.*


Malam itu juga Friska bersama suaminya pergi dari kediaman impian itu, rumah yang layaknya disebut istana.


"haaaaa......


apa kita layak tinggal disini mas? lihat banyak kecewa dan kotoran tikus."


"makanya mulut itu di jaga, dasar perempuan tidak berguna."


"lah...


kok aku yang salah mas, jelas-jelas perempuan mandul yang memulai duluan."


"kamu ngak ada berubahnya ya, tetap bodoh dan hanya tahu belanja dan belanja.


Lihat tuh putri yang terkapar lemah di rumah sakit, beberapa kali disuntik obat penenang karena Lyra tidak terima rahim nya diangkat.


Sadar diri kau Friska, putri mu yang mandul permanen, ingat rahim putri mu sudah diangkat itu karena kau tidak becus jadi ibu dan sumpah serapah mu kepada orang lain.


Sok-sok mengatai orang mandul, tapi putri mu sendiri yang mandul permanen.


Ngak waras kamu ya.....


Seharusnya Sarah bisa kita jadi sumber keuangan, tapi mulut mu yang seperti tong sampah dan asal mangap.


Dasar perempuan sialan......"


"cukup mas, hentikan hinaan mu. saya muak melihat mu. dasar laki-laki egois.


satu hal lagi, saya tidak sudi tinggal di kandang seperti ini."


Friska hendak pergi, tapi tangannya langsung di raih oleh suaminya.


"terserah kau mau pergi kemana, tapi serahkan kartu ATM mu.


Cepat perempuan sialan......"


Tas kecil yang dikenakan olehnya, langsung di ambil paksa oleh suaminya dan mengambil semua uang cash serta kartu Atm-nya.


"mas..... itu uangku mas, itu uang hasil penjualan set perhiasan emas itu."


Seketika suaminya terdiam dengan memegang uang cash serta kartu atm-nya, akan tetapi wajahnya terpancar emosi yang meluap-luap.


"dasar perempuan tidak tahu malu, kenapa kau menjual perhiasan itu?


berapa kau jual dan kepada siapa kau jual?"


"seratus juta rupiah dan jualnya ke perempuan mandul itu."


"Sarah...."


"iya..... siapa lagi kalau bukan Sarah."


Sang suami menjambak rambutnya sendiri lalu menyeka wajahnya dengan telapak tangannya.

__ADS_1


Wajahnya semakin merah dan terlihat emosi itu semakin menjadi-jadi.


plak..... plak.....


Friska ditampar dengan sekuat tenaga oleh suaminya, ke-dua pipinya terlihat bekas tamparan itu.


"saya tidak mau tahu ya, kamu harus mengembalikan set perhiasan itu, kita semua bisa celaka.


Keluarga mu yang miskin itu, akan semakin melarat jika set perhiasan itu tidak kembali ke kita.


Set perhiasan itu juga ada alat rekam disana, berupa rekaman video dan juga suara.


Perbuatan kedua orang tua, kita dan semuanya terekam jelas di set perhiasan itu."


plak.... plak.... plak..... plak.....


Empat kali tamparan melayang lagi di kedua pipinya Friska dari suaminya.


"ah......ah......a.........a.........a..........


sakit mas..... lepas...... sakit mas........."


Rambut Friska di jambak lalu diseret, teriakan istrinya yang kesakitan tidak dihiraukan.


Sang istri akhirnya terkapar di lantai dan suaminya terlihat sangat emosi dan kwatir yang bercampur menjadi satu yang sulit untuk di ungkapkan.


"kenapa kamu begitu bodoh Friska? sudah berulangkali aku pesan, agar menjaga set perhiasan itu serta kotak nya.


Set perhiasan itu limited edition, dan hanya tiga dikeluarkan di tahun itu.


Untuk apa kau menjual perhiasan itu?"


"untuk membayar hutang di salon, karena perempuan mandul itu tidak mau membayar nya."


Friska dipaksa untuk berdiri, suaminya memegang kerah baju nya untuk membuat Friska bisa berdiri.


plak...... plak.....


Dua kali tamparan melayang lagi di pipi Friska, emosi tingkat tinggi dari suaminya yang sulit dikontrol membuat nya tega menampar istinya sendiri tanpa ampun.


"pergi kau dari sini dan ambil kembali set perhiasan itu, jika tidak. akan ku bunuh kau, biar kita sama-sama mati."


Dengan berderai air mata, Friska pergi dari kamar losmen meninggalkan suaminya yang masih dikuasai oleh emosinya.**


tok....tok..... tok......


Friska mengetuk pintu rumah yang minimalis, dan keluarlah seorang perempuan cantik yang sedang hamil.


"ibu kenapa?"


hiks.... hiks...... hiks......


Friska masih terus menangis hingga seorang laki-laki keluar dari dalam rumah.


"mama...."

__ADS_1


Rizal bersama istrinya menuntun Friska masuk ke dalam rumah, wajahnya yang lebam dan rambutnya yang acak-acakan membuat anak dan menantunya itu bertanya-tanya.


"apa yang terjadi ma? kenapa mama bisa seperti ini?"


Istri Rizal berusaha untuk menenangkan ibu mertua nya, dan akhirnya Friska mengangkat kepalanya lalu menatap Rizal.


"Papa mu memukuli mama, karena Sarah mengusir kami dari rumah.


Mama hanya mengajak dia makan malam bersama, dan Sarah langsung menyiram mama air satu ember.


Sarah juga merampas set perhiasan mama, yang dulunya sebagai mahar pernikahan. papa mu memaksa mama untuk mengambil kembali perhiasan itu, kalau ngak papa mu akan membunuh mama.


Saat ini papa mu tinggal di losmen dekat rumah sakit Lila."


"kurang ajar itu si Sarah, berani-beraninya dia memperlakukan mama seperti ini."


Ujar Rizal yang emosi nya terpancing, kemudian berdiri seperti hendak pergi. tapi keburu di cegat oleh istrinya.


"mau kemana? ini sudah tengah malam mas. besok aja kita selesaikan dengan kak Sarah. jangan buat masalah ini semakin runyam.


lagipula kita hanya mendengar perkataan mama saja, kita pertemukan besok ibu dengan Sarah dan bila perlu ikut suami kak Sarah."


"Desi membela Sarah? kenapa kalian seperti itu ke ibu?"


"bukan membela ibu, tapi kita tenang dulu. mas Rizal jangan pergi melabrak kak Sarah, tunggu disini, biar aku ambilkan dulu obat untuk ibu."


Desi berlalu ke arah dapur, sementara Rizal kembali duduk di dekat mama nya.


Tidak berapa lama Desi datang dengan membawa kotak P3K dan juga air minum, serta alat kompres berikut dengan ice kristal.


"maaf ya bu, sini biar Desi periksa dulu wajah ibu."


Dengan cermat Desi memperhatikan wajah yang penuh memar itu lalu ke arah tangan dan kemudian ke kaki.


Desi mengambil gunting dan memotong celana ibu mertuanya dari dengkul.


"lihat tuh telapak kaki ibu yang penuh darah, sumber darahnya dari dengkul ibu yang sobek.


Mas Rizal, tolong masukkan ice kristal itu ke alat kompres dan letakkan perlahan diatas kepala ibu, ini Desi mau membersihkan luka di dengkul ibu."


"Desi.....


kamu kok perintah-perintah sama suami sih, ibu tidak pernah merintah Rizal.


siapa kamu main perintah ke Rizal?"


Desi yang mengoleskan alkohol ke kapas untuk membersihkan luka ibu mertuanya dan akhirnya hanya bisa bengong mendengar ucapan ibu mertuanya.


"ngak yang memerintah disini bu, luka pada dengkul ibu ini perlu dibersihkan dan kulit kepala ibu perlu dikompres.


Desi ngak bisa melakukan pekerjaan dua sekaligus ibu."


Tangan Desi yang hendak membersihkan luka di dengkulnya langsung di tepis.


Terlihat tarikan napas yang panjang dari Desi, dan mengelus dada Nya.

__ADS_1


__ADS_2