
POV Rizal.*
Air mata yang mengalir itu hanya mendapatkan tanggapan sinis dari sang mantan istri yang masih di dampingi oleh Papa nya.
"ngak usah lebay gitu Rizal, katanya kau jagoan dan berparas tampan.
Kamu bisa mencari wanita lain atau om-om yang lain yang bisa menjadi sumber uang mu.
Sebaiknya kamu pergi deh, jagain tuh mama mu dan adik serta keluarga mu yang lain, karena om Basil itu bukan orang biasa.
kamu sembunyi aja dulu, bila perlu tinggal di bawah tanah agar tidak ditemukan oleh om Basil."
"jaga anak kita baik-baik ya."
Ucap Rizal dan kemudian di usir oleh security, dengan berjalan agak lemas, Rizal keluar dari gedung mewah itu.
Rizal terus berjalan dan akhirnya duduk di halte bus dan mencoba merogoh sakunya.
Ternyata masih ada sisa uang dan langsung naik angkutan umum menuju rumah susun yang mereka tinggali.**
Sesampainya di rumah susun dan Rizal berteriak memanggil mama nya dan tidak ada yang menyahutinya.
Lalu memeriksa kamar mama nya, dan tidak menemukan seorangpun di sana.
Kemudian Rizal menyisir semua tempat, barangkali ada yang bisa ditemukan yang berguna untuknya.
Kemudian melihat kantong kresek berwarna hitam di bawah kolong kasur dan langsung meraih benda itu.
"uang....
pasti dari om Basil tadi, aku ambil semua biar sama-sama hancur.
toh juga aku ngak ada harapan lagi di dunia ini dan semuanya karena mama."
Ucap Rizal dan sembari mencari yang lain dan akhirnya menemukan tiga perhiasan gelang emas dan kalung milik Lyra.
Rizal langsung memasukkan semua yang di dapatkannya ke dalam tas ransel dan bergegas ke kamarnya untuk mengambil beberapa pakaian.
"lebih kabur dari tempat ini, sebelum om Basil menemukan ku."
Ujar Rizal dan kemudian keluar dari rumah susun dan benar saja, ada beberapa pria yang berbadan tegap sedang mencari-cari sesuatu.
Melalui jalan rahasia rumah susun dan akhirnya Rizal bisa kabur dari pria-pria yang aneh itu.
Setelah merasa cukup aman dan Rizal berhenti di sebuah gang.
"ini handphone harus di buang, siapa tau bisa melacak keberadaan melalui ponsel ini."
Ucapannya seraya membuang handphone miliknya ke tong sampah dan terus berjalan.
Naik ojek untuk menuju stasiun kereta api, karena seperti itu permintaan Rizal kepada ojek itu.**
__ADS_1
"tujuan kemana mas?"
Petugas tiket kereta api itu bertanya dan Rizal hanya bertanya tujuan kereta api yang paling jauh.
Ternyata yang paling jauh adalah Surabaya dan Rizal langsung membeli tiket.
Entah berapa lama Rizal berada di dalam kereta api dan akhirnya sampai juga di tujuan dan tujuan pertamanya adalah toko ponsel lalu membeli handphone untuknya.
"mbak tau ngak di sekitar sini penginapan yang murah? lusa saya mau interview di perusahaan sekitar sini tapi belum menemukan tempat tinggal."
Ujar Rizal dengan berbohong kepada staf toko ponsel itu dan ternyata tidak jauh dari tempat tersebut, ada penginapan murah dan layak.
Setelah mengucapkan terimakasih dan Rizal langsung bergerak cepat dan meminta tolong kepada ojek untuk mengantarkannya ke penginapan.
Akhirnya dapat juga penginapan dan setelah cek in, Rizal langsung masuk ke kamarnya.
Meletakkan barang-barang nya dan kemudian berjalan ke arah kamar mandi.
"auh..... auhhhh.......
kok perih banget ya di lubang bokong ku ini, apa karena om Basil?
Darah?...."
Ucap Rizal karena melihat darah yang mengalir dari di pahanya dan itu berasal dari anus nya.
Mencoba menahannya dan menyelesaikan kegiatannya untuk membersihkan seluruh tubuhnya.
"kok perih banget banget, apa harus ke klinik? terus nanti bilang nya gimana ya?
Cek artikel dari mesin pencari online aja dulu, sekaligus mencari rumah sakit atau klinik."
Ucapnya dan kemudian berselancar di dunia maya untuk mencari informasi tentang yang di alaminya.
Sepertinya Rizal sudah menemukan yang dia cari dan langsung keluar kamar penginapan dan mencari kendaraan.
"langsung ke klinik itu aja lah."
Ujarnya dan kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
"selamat malam bapak, apa keluhan nya?"
Sapaan dari petugas klinik itu dan Rizal melangkah lebih dekat ke arah petugas itu.
"gini mbak, lubang anus ku itu berdarah dan terasa perih."
"baiklah pak, kita cek darah dulu ya."
Ucap petugas itu, dan kemudian meminta rekannya untuk bertindak.
Lalu petugas itu melakukan serangkaian tes setelah selesai mengambil sampel darah dari Rizal.
__ADS_1
Kemudian Rizal disuruh menunggu, berselang beberapa menit kemudian, lalu petugas mendatangi Rizal dengan berpakaian medis yang lengkap.
"mohon maaf bapak, kami tidak bisa melayani di sini, karena kami tidak punya fasilitas yang mempuni untuk keadaan bapak."
"apakah dokter bisa menolak pasien?"
"kode etik profesi melarang kami untuk menolak pasien, tapi karena kami tidak mempunyai fasilitas untuk calon pasien pengidap HIV AIDS dan kami menolak bapak.
Kami hanya bisa memberikan resep berupa vitamin, antibiotik dan pereda sakit.
Ini resepnya dan silahkan beli di apotik terdekat, dan mohon tinggalkan klinik ini bapak."
Dengan raut wajahnya yang kecewa, lalu Rizal melangkah keluar meninggalkan klinik tersebut.
Berseberangan jalan terdapat apotik dan Rizal singgah ke sana lalu memberikan resep dokter kepada apoteker tersebut.
Setelah mendapatkan obat nya dan kemudian pergi dan langsung menuju penginapannya.
"apa apaan ini?"
Rizal sangat terkejut ketika tiba di penginapan, karena barang-barangnya sudah di samping pintu penginapan.
"kami mendapatkan kabar, bahwa bapak adalah pengidap HIV AIDS. jadi kami harus mengusir bapak dari penginapan ini, demi kenyamanan tamu kami yang lainnya serta para pegawai.
Silahkan pergi sebelum kami memanggil petugas yang berwenang."
Dua kali terusir dan Rizal meraih tas kemudian melangkahkan kakinya tanpa tujuan.
"sampai kemana kau pergi brengsek?"
Ucap seorang laki-laki yang datang bersama empat orang temannya.
"kalian mau apa?"
Ucapan Rizal tidak di gubris dan langsung disekap dan dimasukkan ke dalam mobil.
"hati-hati ya, karena orang itu penderita HIV AIDS dan jangan sampai tertular kepada kita.
Pastikan mulutnya tertutup dan tidak meneteskan darah.
tutup mulut, kuping dan mata. karena saya akan menyemprotkan asap di mobil ini, untuk menetralisir bibit penyakit itu."
Mereka yang di dalam mobil, dengan pintu yang tertutup rapat dan seketika asap mengepul.
Beberapa saat kemudian barulah kaca mobil di buka, dan mobil fan besar itu melaju dengan kecepatan tinggi.
"kalau bukan karena upahnya besar, aku ngak mau menangkap pria warga sodomi ini."
"maksudnya gimana sih bang?"
"bego banget sih lo, itu pak Basil memerintahkan untuk membakar pria ini, karena merasa tertipu."
__ADS_1
Ujar pria itu, yang merupakan kepala preman yang disewa oleh pria yang bernama Basil.