
Selesai memakai pakaian dan kami keluar dari ruangan ini, mas Satria sudah tidak mengangkang lagi jalan nya.
Pamit kepada dokter dan perawat lalu kami keluar dari klinik yang disambut oleh pak Imran.
Pak Imran menyetir dengan pelan dan akhirnya di tegur oleh mas Satria.
Hanya senyuman yang diberikan oleh pak Imran lalu menambah kecepatan laju mobilnya.
Mas Satria meminta untuk ke kantor agar bisa cepat menyelesaikan pekerjaan sebelum operasi nantinya.
"kalau begitu Sarah bisa dong ke Insani juga, kan hanya beda lantai dengan ruangan mas.
Nanti biar bisa Sarah kontrol untuk minum vitamin nya."
"terserah kamu aja deh, tapi pak Imran harus mengawasi mu ya, kan bapak mu."
"iya mas, terimakasih ya mas. tapi tandatangani dulu dokumen persetujuan ini."
Mas Satria langsung menandatangani dokumen tersebut tanpa membacanya.
"kok langsung ditandatangani aja mas?"
"mas sudah membaca isinya, dan nantinya mas akan lihat apakah kamu adalah menantu pilihan mama."
Ucap mas Satria dengan tersenyum sinis terhadap Ku.
"pak Imran, tolong bapak awasi putri bapak ini, nantinya di bongkar nya pula pintu ruangan mama ku itu."
"siap...."
Lagi-lagi mas Satria tersenyum sinis dan kemudian menatap wajah Ku.
Tidak berapa lama kemudian kami tiba di gedung kantor mas Satria, dan mobil mas Satria ini punya parkir khusus tepat di depan pintu masuk gedung mewah ini.
Kami bertiga masuk lift khusus dan terlihat tombol angka tujuh sudah menyala yang artinya ruangan Insani akan tiba.
Ting......
Angka delapan menyala dan pintu lift terbuka, lalu mas Satria melihat tajam ke arahku.
"kabarin ya pak Imran, jika putri mu ini berhasil membuka pintu masuk ruangan rahasia itu."
"siap...."
Dengan cepat pak Imran menjawabnya, lalu aku keluar dari lift yang di ikuti oleh pak Imran.
Masih terngiang senyuman sinis dari mas Satria, senyuman itu hilang dari pikiran karena sambutan dari Deva.
"cantik, mari ikut saya."
Deva menjulurkan tangannya yang menginginkan aku memegang tangan nya, lalu di tepis oleh pak Imran.
"maaf ni ya pak Deva, putriku ini sudah punya suami. tolong hargai menantu ku itu ya."
__ADS_1
"ishssss....."
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Deva dan terlihat kesal melihat pak Imran.
Kini pak Imran berada ditengah-tengah kami, agar Deva tidak meraih tanganku.
"ini ruangan almarhumah ibu, jika memang kamu adalah menantu pilihan nya, silahkan di buka. jika berhasil mbak buka, dokumen yang ada di tangan mbak Deva terima."
Ucap Deva dengan sedikit keraguannya, lalu aku melihat gagang pintu itu.
Lock smart yang sudah di modifikasi agar tidak mudah di jebol.
Aku mengusap nya dan tombol angka-angka itu menyela.
Lalu aku memasukkan dua digit angka tanggal lahir mas Satria.
tit....tit.......
Silahkan masuk.....
Begitu lah bunyi dari smart lock itu dan pintu terbuka, terlihat robot pengisap debu yang beraktivitas.
Lalu kami bertiga masuk, terlihat Deva masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"kak Deva....
nih dokumen nya, sekarang tandatangani."
Deva menerima dokumen itu, lalu aku berjalan ke arah lemari yang bagus itu dan begitu memegang gagang nya langsung muncul abjad.
Lemari terbaru dan ada brangkas, terdengar suara barang jatuh ternyata itu adalah dokumen yang jatuh dari tangan Deva.
Memasukkan dua digit tanggal lahir mas Satria yang dibalik dan kemudian memutar tombol dan brangkas terbuka.
Seketika Deva meraih handphonenya dan menelpon seseorang.
'istrimu adalah menantu pilihan kakak. segera turun ke bawah dan masuk ke ruangan kakak.'
Kemudian brankas aku tutup kembali, karena ada yang tidak beres.
"apa maksud kak Deva?"
Deva tidak menjawab pertanyaan Ku, tapi malah duduk lemas di sofa yang klasik dan mewah itu.
kemudian aku menutup pintu lemari besi itu, lalu berjalan ke arah Deva.
"kak Deva kenapa?"
"jangan panggil aku Deva, ngak sopan tau."
Apalagi ini maksudnya? bukan nya kemarin memintaku untuk memanggilnya kak Deva?
Pak Imran terlihat berkeliling dan kemudian berhenti di dekat meja kerja yang besar itu, terlihat ada photo Satria bersama Almarhumah yang tertawa dan ada juga yang dengan pose potret.
__ADS_1
Pak Imran menangis melihat photo-photo itu, seraya memegang photo almarhumah.
Demikian juga dengan Deva, mata yang berkaca-kaca itu kini sudah mengalirkan air di pipinya.
Lalu terdengarlah suara langkah kaki, dan akhirnya masuklah mas Satria bersama Findon ke dalam ruangan ini.
Seketika mereka berdua terdiam dan meneteskan air mata dan tidak bergeming saat melihat photo-photo yang tertata rapi di meja kerja itu.
Pak Imran terduduk di salah satu seraya memegang photo almarhumah, lalu mas Satria mendekati pak Imran dan memintak photo yang di pegang nya.
Dengan berderai air matanya, lalu menyerahkan photo itu kepada mas Satria.
Suasana yang menegangkan dan benar-benar membuat ku bingung dengan semua pemandangan ini.
Mereka hanya terdiam dengan perasaan mereka masing-masing, sedangkan aku kebingungan melihat mereka yang bersedih.
"haloo....
cerita dong, apa yang terjadi? kenapa pada menangis?"
Tidak ada yang menjawab pertanyaan dariKu, malah mereka berjalan ke arahku yang duduk di dekat Deva.
"mas Satria, jadi mbak Sarah adalah gadis yang di maksud itu. Findon masih bingung mas, tentang kenapa mbak Sarah menjadi pilihan."
Mas Satria melirik ke Findon dan kemudian menatapku dengan tatapan yang tajam.
Kenapa Findon memanggil mas Satria dengan panggilan mas?
Biasanya manggilnya dengan panggilan pak, tapi .....
"mas menginginkan kamu jujur Sarah, sudah berapa lama mengenal mama?
Kenapa kamu bisa membuka ruangan ini dan bisa membuka lemari serta brangkas itu?"
Mas Satria bertanya seraya menunjuk ke arah lemari yang lampu nya masih menyela.
Sungguh dilema untuk menjawab pertanyaan dari mas Satria, sesuai dengan pesan dari istri pak Imran, terlebih dahulu mempelajari file itu dan kemudian memberitahukan kepada Satria.
"apa ngak lebih baik kita berdua ngomong mas?"
"tidak Sarah, jelaskan disini. karena yang ada disini adalah keluarga mama, bukan parasit yang biasa Sarah temukan di rumah."
Deva, Findon dan pak Imran menatapKu dengan tatapan harapan.
"mas ingat ngak dengan perhiasan yang Sarah beli dari ibu tiri nya mas?"
Mas Satria menggelengkan kepalanya, dan ini membuat banyak daftar pertanyaan yang belum terjawab.
Siapa itu parasit dan kenapa disebut parasit?
Bukan kah itu adalah keluarga nya mas Satria juga?
"apa mas ngak tahu bahwa perhiasan itu adalah milik Almarhumah ibu?"
__ADS_1
Lagi-lagi mas Satria menggelengkan kepalanya.
Sudah saatnya mengatakan semua ini dan bertanya kepada mas Satria akan keluarganya.