
“benar, ini semua ulah dari ibumu.” sahut Tuan Harun. Mata pak tua itu, seketika membesar dan memerah seakan ingin menelan Kirana bulat-bulat.
Flashback on
Satu hari sebelum resepsi pernikahannya, Riyanda masuk ke kamar putrinya. Ia mendapati putrinya sedang tertidur pulas dengan memeluk sebuah bantal guling. Tampak sebuah linangan air terjun jatuh dari bibir putrinya pada bantal dimana kepala gadis itu terbaring.
“Kirana, bangun nak.” Riyanda mencoba untuk membangunkan putrinya, karena tak lama lagi ia akan berpisah dengan putri semata wayangnya itu. Namun, gadis yang sedang tidur siang itu tengah tertidur nyenyak dan tak jua terbangun dari tidurnya.
“Kirana bangun.” Riyanda mencoba menggerakkan badan putrinya agar terbangun. Kirana bergerak dan bergeser, ia memutar badannya hingga membelakangi ibunya. Riyanda hanya bisa menghela nafas kasarnya.
Riyanda sudah siap dengan pakaian anggun nan elegan yang ia kenakan. Seperti biasa, ia selalu terlihat mewah dengan apapun yang dikenakannya. Janda satu ini memang sangat tahu tentang modis dan fashion yang sedang tren, baik itu untuk fashion local ataupun internasional. Itu semua ia dapatkan dari pengalaman dirinya yang selalu berpindah-pindah tempat tinggal dari mulai Paris hingga menetap di Indonesia.
Sebuah koper besar berwarna merah hati ia pegang pada tangan kirinya. Ia melihat jam tangan pada lengan kanannya. Riyanda tak bisa berlama-lama lagi, ia harus ke segera ke bandara untuk pergi. Namun, putri semata wayangnya masih tertidur malas pada kasurnya.
“Kirana, ibu akan pergi, jaga dirimu baik-baik sayang.” bisik Riyanda pada putrinya.
*
*
Setelah menempuh perjalanan di dalam pesawat selama delapan jam, Riyanda harus transit di bandara internasional Abu Dhabi. Ia menyadari bahwa dirinya belum memberikan kabar kepada Bella tentang niatnya untuk membatalkan pernikahannya. Lekas Riyanda meraih ponselnya di dalam tas dan membuat sebuah pesan untuk teman arisannya itu.
“pernikahan dibatalkan.” isi dari pesan tersebut. Kemudian ponsel itu ia buka, ia mengeluarkan sebuah sim card yang berukuran kecil itu dan membuangnya ke tempat sampah. Lalu ia mengembalikan ponselnya ke dalam tas. Dengan membawa kopernya dan dengan dagu yang terangkat, Riyanda berjalan bak super model berjalan menuju pesawat untuk keberangkatan selanjutnya menuju Paris.
Flashback off
“aduh, tipu daya apa lagi yang ibu lakukan. Tapi kenapa kali ini harus melibatkan diriku.” Kirana menyeru dalam hati. Ingin sekali rasanya ia berteriak dan menangis, namun apa daya, dengan ketiga orang asing yang berada didekatnya, ia harus membuat dirinya menahan air matanya.
Kirana mendapati sebuah piring yang dipenuhi dengan buah-buahan di atas meja. Sebuah gelas kosong dan satu botol minuman berwarna bening yang mungkin saja itu air minum biasa. “Nyonya maaf perutku lapar, bolehkah saya memakan buah-buahan ini?” tanya Kirana dengan senyum yang tak enak hati.
“silahkan sayang.” Nyonya Bella mengambil piring buah-buahan itu dan memberikannya kepada Kirana. Dengan sigap Kirana mengambil buah apel dan memakannya dengan lahap. Kalau dipikir-pikir memang sejak tadi malam gadis ini belum makan sedikit pun.
Kirana memakan buah-buahan itu sampai habis. Setelah ia meminum air pada botol yang berisi air minum yang ada di depannya. Ia meminum semua air itu sampai habis. Tampak tetesan air jatuh dari bibirnya saat ia dengan tergesa-gesa meneguk air pada botol tersebut.
__ADS_1
“pelan-pelan sayang.” tegur Nyonya Bella lembut. Ketiga orang yang ada di dekat Kirana hanya bisa memandang heran kepada gadis itu. Gadis yang berpenampilan bak seorang putri namun makan bagaikan kucing kelaparan yang mendapatkan sebuah ikan asin.
Setelah menghabiskan semuanya, Kirana merasa kenyang, bahkan bersendawa di depan pemilik rumah itu. Seketika, seakan kompak, ayah, ibu dan anak pemilik rumah mewah itu memasang ekspresi wajah yang jijik.
“aduh perutku sakit.” tiba-tiba saja Kirana memegang perutnya dan mengeluh kesakitan. “toilet, dimana toilet?” Kirana berdiri membungkuk memegang perutnya. “di sana!” tunjuk Tama kepada sebuah pintu toilet yang ada pada ruangan itu.
Kirana bergegas menuju toilet itu. Dengan mengangkat sebagian rok pada gaunnya, ia berlari menuju ke toilet. Sesampainya di toilet, Kirana mencoba mencari lubang ventilasi pada dinding toilet tersebut.
“sial! Tidak ada ventilasi udara disini. Apa rumah ini tidak membuang anginnya keluar.” Kirana berbicara sendiri. Lalu matanya tertuju pada sebuah lobang ventilasi yang ada pada langit-langit toilet tersebut. Kirana mencoba untuk meraihnya, namun sayang usahanya harus gagal.
Ratu sehari itu melepaskan sepatunya. Sembari melepaskan sepatunya, ia menatap sepatu yang bermutiarakan asli dan meneteskan air mata. “maaf sepatu, aku harus membuangmu, aku tak bisa membawamu karena aku harus keluar dari sini dengan cepat.” Kirana berbicara sendiri lagi.
Kirana meletakkan sepatu mutiara itu perlahan dengan mewek. Tetapi ia harus merelakan sepatu itu, ia pun merobek gaunnya. Gaun yang mengembang hingga ke lantai itu ia robek dan ia lepaskan hingga Kirana hanya terlihat memakai celana sot pendek beserta kembennya.
Anak dari Riyanda itu berusaha meraih ventilasi udara dengan memanjat pada closet kamar mandi. Dengan bersusah payah akhirnya dia bisa mencapai besi ventilasi itu dan membukanya. Ia pun lekas masuk ke dalam ventilasi itu dan berjalan merangkak diruang yang sempit tersebut.
Sementara itu, di dalam kamar, satu keluarga sedang menunggu kedatangan dari Kirana. Tuan Harun mulai menyadari ada yang tidak beres. “Tama, bisa kau lihat istrimu di dalam toilet. Kenapa dia lama sekali. Coba kau cek, bisa saja Kirana pingsan dan tak sadarkan diri atau kabur barangkali.” terang Tuan Harun.
Tama hanya bisa berdecak kesal dan pergi ke dalam toilet untuk memeriksa gadis yang baru saja dipinangnya itu. Sesampainya di depan pintu, ia tampak kesusahan membuka pintu toilet yang terkunci.
“hey, apa kau di dalam?” tanya Tama memastikan. Tetapi tidak ada balasan suara di dalam sana. Tama mulai menyadari ada hal aneh. Dengan inisiatif seorang lelaki, Tama mendobrak pintu toilet itu hingga terbuka. Dan benar! Hal aneh yang disadari oleh ayahnya benar terjadi.
“ibuuu… ayahhh… gadis itu kabur!” teriak Tama dari dalam toilet. Sontak Tuan Harun beserta istrinya berlari masuk ke dalam toilet memastikan dengan apa yang dikatakan oleh putranya. Setelah melihat langsung pakaian, sepatu dan segala pernak pernik yang pakai oleh Kirana tadi tergeletak di lantai pada toilet tersebut, Tuan Harun kembali memanggil pengawal pribadinya.
“Mariooooo…..” bunyi suara teriakan menggema di udara. Nyonya Bella dan Tama tampak menutupi kedua telinganya, kaca yang ada di atas westafel cuci tangan itu ikutan bergetar saat Tuan Harun berteriak.
“iya Tuan, ada apa.” Seketika Mario sudah datang ke dalam toilet tersebut. “gadis itu kabur. Cepat kau cari dia sebelum dia pergi terlampau jauh.” titah Tuan Harun. “baik Tuan.” Mario mengangguk mengerti. Segera Mario meninggalkan toilet tersebut setelah melihat ventilasi udara yang terbuka di langit-langit kamar mandi itu diikuti dengan ketiga Tuannya.
Mario bergegas menuju ke taman samping kediaman Tuan Harun. di samping rumah, dengan ditutupi tanaman yang terlihat seperti pagar itu, ada sebuah ventilasi udara yang besar. Mario menarik besi dan membuka ventilasi itu. Ia berjalan mundur dan jongkok untuk bersembunyi dibalik tanaman bunga yang berbentuk labirin tersebut.
Hal itu diikuti oleh Tuan Harun yang berada di samping kanan Mario. Nyonya Bella yang berada di samping kiri Mario serta Tama yang berada di belakangnya. Mereka berempat sedang menunggu seorang gadis keluar dari ventilasi udara tersebut.
Sementara itu Kirana sedang kesulitan merangkak di dalam ventilasi rumah milik Tuan Harun. namun, tak pantang menyerah ia terus berjalan merangkak maju kemana saja ujung dari ventilasi tersebut.
__ADS_1
Terkadang di beberapa bagian, Kirana mendapat sebuah pilihan saat ia berada disebuah pesimpangan ventilasi untuk memilih mau belok ke arah mana. Tetapi kirana hanya terus berjalan maju ke arah ventilasi yang semakin membesar, dengan begitu Kirana tidak merasakan kesempitan lagi di ruang ventilasi udara tersebut.
Tak lama, Kirana menemukan sebuah cahaya hingga dirinya semakin bersemangat untuk merangkak maju. Kemudian, ia sampai pada ujung ventilasi udara itu. Tanpa ia sadari bahwa ujung besi dari ventilasi udara sudah terbuka lebih dulu. Ia hanya terus keluar hingga seluruh badannya berbaring di atas rumput dan memandangi langit yang biru.
Kirana terus melihat langit biru dihiasi dengan awan putih yang bergerak perlahan. cahaya sinar yang menerangi wajahnya tak membuatnya silau. Ia hanya memejamkan matanya dan menghirup udara segar yang masuk ke dalam hidungnya.
Saat membuka matanya untuk melihat kembali keindahan dari kebiruan yang dipancarkan langit sore itu, ada tiga wajah yang sedang menunduk dan melihat Kirana. Tiga wajah itu terlihat gelap karena masing-masing dari ketiganya menutupi cahaya matahari yang sedang dinikmati oleh putri Riyanda itu.
“sedang apa kau disini wahai gadis manja.” sapa Mario dengan senyum yang menyeringai. Sontak Kirana berdiri dan menjepit pahanya dan menutupi dadanya dengan kedua tangan. Kini ketiga orang itu tampak jelas, mereka adalah orang yang sama pada ruang kamar mewah tempat dimana Kirana berhasil kabur.
“sial! Aku ketahuan.” umpat Kirana dalam hati. “kau tidak bisa lari Kirana, kau akan disini selama ibumu belum datang dan menampakkan diri. Lagipula kau sekarang sudah berstatus menjadi menantuku. Istri dari Tama putra kami.” terang Tuan Harun.
“Mario, bawa gadis itu masuk kembali ke rumah.” titah Tuan Harun. “baik Tuan.” Mario menggendong Kirana pada bahunya sama seperti saat ia menggendongnya ke rumah pengantin wanita waktu itu.
“lepaskan aku.” teriak Kirana sembari memukul-mukul bahu Mario. Tetap saja Mario berjalan santai dengan menahan pinggul Kirana pada bahunya dengan satu tangan. “Tuan kumohon lepaskan aku. Aku tidak akan kabur lagi, tapi ku mohon biarkan aku berjalan sendiri. Jika perlu kau bisa borgol aku. Asalkan aku tidak bersama lelaki bau ini Tuan. Kumohonnn…” Kirana menangis mengeluarkan air matanya. Ia terlalu takut jika nanti akan dibawa oleh Mario sendirian lagi di dalam sana.
“Mario lepaskan dia. Biarkan dia berjalan sendiri, kau lakukan saja seperti apa yang ia katakan.” Perintah Nyonya Bella. Lagi, Mario mengabaikan Nyonyanya itu. “Mario, turunkan gadis itu.” titah Tuan Harun.
“baik Tuan.” sahut Mario, kemudian dia menurunkan Kirana. Kirana menghela nafas lega dan berjalan di samping suaminya. Kirana menarik lagi jas hitam milik Tama, namun kali ini Tama membiarkannya.
“ini pakailah.” Tama melepaskan jas hitamnya dan memakaikannya kepada Kirana. Anak semata wayang Riyanda itu hanya bisa tersipu malu dengan perilaku Tama terhadapnya barusan.
“aku melakukan ini bukan karena suka kepadamu. Aku melakukannya karena kau anak dari Riyanda, yang berarti kau anakku juga.” jelas Tama.
Deg.
Kirana menelan salivanya. Hampir saja dirinya kegeeran setengah mati dengan tindakan dari Tama. Mereka berjalan hingga memasuki kediaman Tuan Harun.
“Tama bawa dia masuk ke kamarmu. Biarkan dia untuk tidur di kamarmu bersamamu.” titah Tuan Harun. “tapi ayah…” Tama mulai tak terima lagi dengan gagasan ayahnya sendiri. “tidak ada tapi-tapian!” bentak Tuan Harun. Dirinya sudah cukup lelah dengan kejadian ini. Sejak kemarin matanya belum terpejam sama sekali.
“sayang, jagalah sikapmu. Disini masih ada Kirana menantu baru kita. Jangan membuatnya takut.” Nyonya Bella membelai lembut dada Tuan Harun hingga suaminya itu menjadi luluh. Mario memisahkan diri dan menghilang dari rombongan keluarga Harun.
Tuan Harun dan Nonya Bella kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan Kirana terus menempel pada Tama dan mengikutinya hingga masuk ke dalam kamar.
__ADS_1