Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 31


__ADS_3

“baiklah.” Tama pergi bersama istrinya dan meninggalkan dokter Flo sendirian pada ruang kosong itu. “again!” gumam dokter Flo saat Tama pergi bersama wanita yang entah mengapa semakin lama semakin ia benci saja.


*


*


Dar\~


Bunyi pintu yang terbuka terdengar cukup keras. Sontak Nyonya Bella terbangun dari tidurnya. Setelah meminum obat kolestrol, ibu dari Tama tersebut tiba-tiba mengantuk dan tidur.


Tuan Harun membuka dasinya dengan paksa, tetapi dasi itu tidak terlepas. Ia melanjutkannya dengan membuka jas yang ia pakai lalu di lemparkan ke lantai dengan kuat. Jika saja jas itu adalah sebuah kaca maka akan pecah dan berbunyi dengan suara yang keras.


“arghhh…” tuan Harun kesal, dasi itu tak kunjung bisa ia buka. “ada apa sayang?” sembari mengucek matanya Nyonya Bella mendekati suaminya. “sini biar aku saja yang buka.” Tambah Nyonya Bella lalu mendekati suaminya untuk melepaskan dasi tersebut.


“nah sudah terlepas bukan? Kalau ngelepasinnya pakai emosi tidak akan bisa lepas sayang. Yang ada dasi itu bisa putus kau buat.” Nyonya Bella meletakkan dasi tersebut kepada nakas samping kasur. Istri dari tuan Harun itu melanjutkan dengan membuka kancing baju tuan Harun satu persatu hingga suaminya melepas pakaiannya dan bertelanjang dada.


Tuan Harun terus saja memasang wajah yang marah. Wajah yang begitu tak disukai oleh Nyonya Bella. “tersenyumlah sayang.” Nyonya Bella menarik kedua sudut bibir suaminya menggunakan kedua telunjuknya.


“sudahlah sayang, aku sedang tidak ingin bergurau.” Tuan Harun melepaskan kedua tangan istrinya. Kakek tua itu melanjutkan membuka celananya hingga ia terlihat hanya memakai celana pendek yang biasa dipakai oleh pria.


“apa yang terjadi dengan pertemuanmu kepada gubernur itu? kenapa kau begitu kesal dibuatnya.” Nyonya Bella membelai lembut dada suaminya. “gubernur itu menolak tawaranku.” Kedua lobang hidung tuan Harun mulai kembang kempis. Ia sedang menunjukkan wajah bengis penuh amarahnya.


“Sudah ku duga.” Nyonya Bella menyeru dalam hati. Mana ada gubernur yang bisa menjabat dengan umur yang setua itu. Yah, tuan Harun memang sudah cukup tua. Umurnya tahun ini memasuki angka 70 tahun.


“kau tidak perlu marah sayang, itu hanya akan menguras energimu. Biarkan saja jika dia menolak tawaranmu bukankah itu lebih baik? Aku jadi bisa bersamamu dengan waktu yang lebih banyak. Sayang… menjadi gubernur itu tidak enak. Banyak capeknya, lebih baik kau mengurusi bisnismu saja.” Nyonya Bella terduduk di kasur dibarengi dengan tuan Harun.


Nyonya Bella memijit lembut bahu suaminya. “ahhh teruskan sayang, aku memang merasa lelah.” Kata tuan Harun saat merasakan kenikmatan pijitan dari istrinya. “tapi tetap saja Eric Hartono membuatku marah sayang.” Tuan Harun kembali kesal saat mengingat momen makan malam bersamanya tadi.

__ADS_1


“sebenarnya, apa motivasimu menjadi gubernur? Di dalam hidupmu kau tidak banyak mengalami kekurangan. Kau mempunyai istri yang cantik sepertiku, bergelimangan harta dan ada putra kita yang menyempurnakan semuanya.” Jelas Nyonya Bella.


“kau tidak akan mengerti sayang.” Tuan Harun membelai pipi istrinya. “mari kita tidur saja.” Ajak tuan Harun. kemudian dua orang itu terbaring di atas kasur itu bersama.


Yah, Nyonya Bella tidak akan bisa memahami alasan dari tuan Harun. Ketika seorang pria memiliki segalanya dan dia masih berumur panjang, pria itu akan butuh pengakuan sosial di masyarakat. Butuh kekuasaan yang lebih agar lebih percaya diri untuk melakukan apapun. Apalagi itu adalah tuan Harun yang biasa hidup enak sejak lahir, hingga dia menginginkan posisi itu karena tertantang. Di kota itu, tidak ada satupun yang luput dari tangannya kecuali gubernur tersebut karena hanya gubernur yang mempunyai keamanan paling tinggi untuk kota sebesar itu selain dirinya.


Dan satu lagi, rasanya tuan Harun memang sakit jiwa dengan selalu merasa berumur muda. Di umur yang berkepala tujuh, ia tetap saja tidak menerima jika dirinya dibilang tua walaupun yang mengatakan itu istri dan anaknya.


*


*


Tama mengendarai mobilnya dengan cepat. Sesuai janjinya kepada Kirana, ia sampai ke kantor polisi itu dengan cepat. Disana telah duduk Vindra menunggu sendiri bertemankan lamunan panjang.


“hey Vindra, apa kau tidak apa-apa?” sapa Tama kepada pekerja housekeeping tersebut. “aku sedang tidak kenapa-kenapa. Kenapa pertanyaanmu sangat jelek.” Umpat Vindra. Seketika Tama merasa jengkel dan menyesal telah menyapa pria LGBT tersebut.


Kirana dan Tama mengikuti polisi muda itu. Sedangkan Vindra disapa oleh polisi yang lain dan menyuruhnya untuk mengikutinya sama seperti yang dilakukan oleh Kirana dan Tama. Mereka bertiga akan dimintai keterangan terkait penemuan seorang wanita yang sudah tidak bernyawa lagi.


Sepasang pengantin baru itu memasuki sebuah ruangan. Di dalam ruangan tersebut telah tampak pak Bambang duduk sendiri dengan kedua tangan terlipat di atas meja. “selamat datang pak Tama beserta istri.” Sapa pak Bambang saat melihat Kirana dan Tama memasuki ruangannya.


“silahkan duduk pak Tama beserta istri.” Pak Bambang berdiri untuk mempersilahkan Tama duduk. Tama duduk bersama dengan Kirana berdampingan di depan polisi yang bernama Bambang itu.


“bagaimana pak, apa bapak sudah mengetahui siapa indentitas dari jasad wanita yang ditemukan tidak bernyawa lagi pada apartemen ibu dari istri saya.” Terang Tama. “iya benar pak. Kami menemukan satu kartu identitas pada tas milik wanita itu.” sahut pak Bambang.


“benarkah pak?” Kirana yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. “benar, ini kartu identitas dari wanita itu.” pak Bambang mendorong sebuah kartu identitas yang sebagian dari kartu itu memiliki bercak darah.


Gegas Kirana mengambil kartu identitas itu, namun tangannya bersamaan dengan tangan Tama hingga tangan keduanya saling bertumpu satu sama lain. “biar aku saja yang melihatnya.” Ujar Tama dengan menatap kedua bola mata istrinya.

__ADS_1


“tidak, biar aku saja.” Kirana tak mau mengalah, tetap saja ia yang harus lebih dulu melihatnya karena wanita itu adalah ibunya. Terjadi insinden tarik menarik dari kartu identitas itu. Mata pak Bambang melakukan senam mata mengikuti arah tarik dari kartu identitas tersebut mengikuti ritme tarik menarik sepasang suami istri yang ada di depannya itu.


“ahhh sudahlah.” Pak Bambang merebut kartu identitas itu saat melihat tidak ada satupun dari pasangan itu yang mau mengalah. “ini! Silahkan kalian lihat secara bersamaan!” tambah pak Bambang. Kirana menjulurkan tangannya untuk meraih kartu identitas yang ditutupi oleh tangan pak Bambang.


“Jangan, silahkan lihat saja. Kartu ini tidak kuperkenankan untuk kalian pegang lagi.” Sambung pak Bambang, bagaimana tidak dia tidak kesal jika kedua orang dewasa yang ada di depannya bertingkah seperti anak kecil.


“Riyanda Beatrice Sugiono.” Kirana membaca isi dari kartu identitas tersebut. Tak luput, ia juga melihat foto cantik ibunya yang terpampang jelas pada kartu itu. Begitu pula dengan Tama. Seakan kompak keduanya sontak menutup mulut mereka masing-masing.


Air mata Kirana mulai mengalir lagi membasahi kedua pipinya. Sedangkan Tama seakan berada di atas jurang dan hendak terjun. Wanita yang begitu cantik yang ia cintai dinyatakan meninggal dunia. Namun, ia meragukannya lagi hingga berniat untuk bertanya agar bisa memastikannya.


“Pak Bambang, apa—“ kalimat dari Tuan muda itu terhenti saat polisi berpangkat itu mendahuluinya. “Iya benar pak Tama, wanita yang ditemukan di apartemen itu siang tadi di identifikasi bernama Riyanda Beatrice Sugiono.” Ujar pak Bambang dengan wajah yang ikut bersedih. Baginya, setelah melihat foto ktp wanita tersebut, sangat disayangkan jika wanita secantik itu mati mengenaskan seperti itu.


Tama berdiri dengan pandangan kosong. “Ada apa pak?” Tanya petugas polisi berusia muda yang mengantarkannya ke ruangan itu. Dia berdiri di belakang Kirana dan Tama sejak tadi. Saat Tama berbalik badan melangkahkan kaki untuk keluar ruangan, polisi muda tersebut langsung menghadang Tama.


Kirana menangis terseduh tanpa bisa berkata-kata lagi. Semua ketakutannya setelah melihat jasad itu adalah benar adanya. Feelingnya sebagai seorang anak sangatlah kuat hingga terbukti sudah siapa wanita yang tak bernyawa yang wajahnya dipenuhi dengan darah akibat luka sayatan tersebut.


Kedua bola mata Tama perlahan melihat naik ke wajah polisi muda itu. Tatapannya sungguh kosong dan wajahnya pun terlihat pucat. “Pak? Apa anda tidak apa-apa?” Polisi muda itu ingin memastikan Tama yang terlihat sangat depresi.


Tiba-tiba Tama mengambil pistol polisi muda itu pada pinggulnya. Dengan sigap ia ambil dan mundur lima langkah lalu menadahkan pistol itu ke kepalanya.


“Apa yang kau lakukan?” Sontak pak Bambang berdiri serta beranjak dari tempatnya untuk segera mengambil pistol tersebut. Begitu juga dengan polisi muda tersebut, seakan kompak mereka gegas mendekati Tama.


“Jangan ada yang mendekat! Selangkah saja kaki itu melangkah mendekatiku, dengan cepat aku akan menembak kepalaku tanpa ragu.” Ancam dari putra tuan Harun itu.


“Pak Tama, bisa kita bicarakan baik-baik bapak. Tindakan bapak itu tidak akan menyelesaikan masalah bapak.” Pak Bambang mencoba menenangkan Tama yang sangat kalut.


Kirana? Ia seakan tak berada di tempat itu. Walaupun ia menyaksikan dan mendengar semuanya, tetapi jiwa dari wanita itu entah berada di mana sampai ia tak membuat tindakan apapun saat melihat suaminya yang hendak bunuh diri.

__ADS_1


__ADS_2