Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 40


__ADS_3

“'baiklah, kalian berdua lepaskan ikatan tangan dari kakek tua itu.” perintah Maria kepada bawahannya. “tetap awasi dia, jangan biarkan dia memegang telepon rumah atau smartphone. Dia tidak akan melawan karena dia sudah cukup tua untuk itu. Kalian mengerti?” pesan Maria kepada dua orang yang memegang tangan tuan Harun.


Mendengar hal itu seketika tuan Harun mengembang kempiskan kedua lobang hidungnya. Giginya saling bergesekan satu sama lain, bahkan tangannya bergemetar sangking marahnya dia saat dikatakan tua oleh Maria juga terhadap penyerangan di kediamannya lagi hari ini.


Tuan Harun masuk kedalam kamarnya bersama dengan dua orang pengawal pribadi tuan Azego. Dengan segera ia mengambil lembaran uang seratus ribu yang terikat rapi di dalam sebuah brangkas besar miliknya tersebut.


Tak lupa tuan Harun mengambil tas hitam yang besar yang ada di dalam lemarinya kemudian ia memasukkan semua uang itu ke dalam tas hitam besar miliknya tersebut. Lalu salah satu dari pengawal pribadi tuan Azego yang bersamanya mengambil tas tersebut dan membawanya keluar bersamaan dengan tuan Harun.


“bagaimana? Apa itu benar adalah uang?” tanya Maria kepada bawahannya yang membawa tas besar hitam itu. “benar tuan, ini adalah uang kertas asli. Tetapi aku tidak tahu berapa jumlah uang yang ada di dalam tas ini.” Pengawal itu tampak kewalahan mengangkat tas hitam besar tersebut dikarenakan banyaknya uang yang ada di dalam tas hitam besar itu.


“hey kakek tua, berapa jumlah uang yang kau letakkan di dalam tas itu.” tanya Maria dengan pistol yang masih berada di kepala Kirana. “jumlah uang yang ada di dalam tas itu adalah 10 milyar rupiah.” Sahut tuan Harun.


“sial!” kata Maria dengan wajah yang marah. “kembalikan tas itu.” perintah Maria kepada bawahannya. Seketika pengawal pribadi bawahan dari Maria melempar tas hitam besar itu ke arah tuan Harun.


Bugg\~


Tuan Harun sampai jatuh terduduk akibat benturan tas besar itu. “arghhh…” teriak tuan Harun saat merasakan rasa sakit di dadanya. “ayahhh…” teriak Tama histeris. Sedangkan Nyonya Bella sudah terlalu dalam di dalam rasa gangguan kecemasannya. Air matanya mengalir tanpa bisa berkata sepatah kata pun saat melihat semua kejadian itu termasuk kejadian yang membuat tuan Harun kesakitan.


“hey kakek tua, dengarkan ini, hutang yang harus kalian bayar adalah 10 milyar 200 juta karena denda keterlambatan hari ini. Uang itu masih kurang 200 juta kau mengerti!” berang Maria. “sudahlah Maria, uang 200 juta itu bisa saja di transfer oleh ayahku. Berikan ponsel miliknya kepada ayahku!” teriak Tama.


“oh tidak bisa! Aku tidak akan tertipu dengan rencana kecilmu itu sayang.” Sahut Maria. “kalian semua cepat tinggalkan rumah ini.” Perintah Maria kepada bawahannya itu. Seketika puluhan dari bawahannya Maria itu membubarkan dirinya.

__ADS_1


Gedebuk\~


Satu dari pria berseragam hitam berbadan kekar yang mengawasi dan memegangi Mario menendang Mario yang sedang berlutut itu hingga jatuh terbaring miring. Wajah Mario tak dapat dikenali lagi karena dipenuhi dengan darah dan lebam. Mario adalah salah satu dari pengawal pribadi tuan Harun yang babak belur.


“Kirana….” teriak Tama histeris saat melihat istrinya yang ia anggap sebagai anak sendiri dibawa oleh anak buah dari tuan Azego.


“tidak, jangannnn...” Kini Tumiyem yang berteriak histeris. “Nyonyaa… Nyonya muda! Tuan muda ku mohon jangan biarkan Nyonya muda dibawa! Nyonya mudaaa…” Tumiyem berteriak menangis sambil meraung-raung melihat Nyonya muda kesayangannya dibawa oleh orang yang tidak ia kenal.


Flashback on


Pagi itu Kirana sedang bersama dengan Tumiyem di kamarnya. Tama sedang melakukan olahraga golf bersama dengan kedua orang tuanya ditemani oleh dokter Flo. Tumiyem tampak menyisir perlahan rambut Nyonya mudanya.


“terima kasih Tumiyem.” Kirana tersenyum manis sambil menyentuh tangan Tumiyem dan menaruh tangan itu dibahunya. “ada apa Kirana? Kenapa harus berterima kasih? Ini semua adalah memang tugasku sebagai pelayan.” Sahut Tumiyem sambil memandangi wajah cantik Kirana di dalam cermin tersebut.


“ahhh seperti itu, kalau begitu aku juga ingin berterima kasih padamu Kirana.” kata Tumiyem. Kirana menurunkan tangannya jadi Tumiyem bisa melanjutkan pekerjaannya untuk merapikan rambut Nyonya mudanya. Tak lupa Tumiyem memberikan serum rambut ke kepala Nyonya mudanya tersebut.


“kau tahu Kirana, kau Nyonya muda yang sangat disenangi oleh pelayan disini. Selain status sebagai istri dari tuan muda tetapi kau lebih rendah hati dibandingkan dengan wanita cantik penghuni kamar sebelah.” Terang Tumiyem. Ia sekarang duduk di kursi berdampingan dengan Kirana.


Kirana terkekeh mendengar celoteh dari temannya itu. “kau bisa saja Tumiyem. Aku melihat dokter Flo dengan pandangan yang berbeda. Dia sungguh sempurna sebagai seorang wanita. Selain cantik, dia juga berpendidikan dan seorang dokter. Lagipula ku dengar dia juga lahir di keluarga yang kaya raya.” Jelas Kirana.


“kau benar Kirana, tetapi dokter Flo sangat sombong. Dia suka semena-mena menyuruh kami di rumah ini. Bahkan Nyonya Bella tidak demikian. Melihat dari tingkahnya yang dimanjakan oleh Nyonya Bella membuatnya seakan-akan dialah Nyonya besar di rumah ini. Padahal dia hanya menumpang saja bukan?!” kata Tumiyem sambil mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


“Tumiyem…” Kirana memegang punggung tangan dari ketua pelayan wanita tersebut. “bukankah aku juga hanya menumpang disini?” Kirana menatap ketua pelayan itu penuh dengan arti.


“walaupun demikian, kau tetap lah istri dari tuan muda kami.” Sahut Tumiyem. Kedua wanita ini saling melayangkan pandangan yang menggemaskan hingga akhirnya keduanya terkekeh bersama-sama.


“uhuk-uhuk.” Kirana terbatuk. Gegas Tumiyem mengambil segelar air putih yang standby di atas meja. “ini minumlah.” Tumiyem memberikan gelas tersebut kepada Kirana. Nyonya muda itu pun lekas meminum air putih itu.


Glek\~


“segarnya.” Sahut Kirana dengan ekspresi yang dibuat-buat. Tumiyem tertawa geli melihat ekpresi Kirana yang tampak lucu. “tunggu…” Kirana terdiam dengan mata yang membulat. “ku rasa aku mu—” kalimat Kirana terhenti kala ia muntah secara tiba-tiba.


“ma..maaf Tumiyem.” Kirana memegang kepalanya seketika ia merasa pusing dan panik saat muntahannya terkena baju Tumiyem yang berada tepat di depannya. “Nyonya, apa Nyonya sakit?” Tumiyem berdiri dan panik saat melihat Nyonya mudanya pucat pasih.


“ku rasa kepalaku sakit Tumiyem.” Kata Kirana sambil memegang kepalanya. Seketika ia merasakan mual lagi di perutnya. Sontak Nyonya muda itu berlari ke dalam toilet diikuti oleh temannya dari belakang.


Ueekkk\~\~


Nyonya muda itu muntah berkali-kali. Setelah muntah beberapa kali, akhirnya Kirana mengambil tissue dan mengelap mulutnya kemudian berbalik badan untuk menatap mata temannya. Tak lupa sampah tissue itu ia buang ke tempat sampah yang berada di bawah westafel tersebut.


“oh tidak, maaf Tumiyem.” Gegas Kirana mengambil tissue lagi dan mengelap baju temannya itu. “tidak apa-apa Kirana!” Tumiyem menahan tangan Kirana agar tidak melanjutkan untuk mengelap bekas muntahan itu sambil melebarkan kedua sudut bibirnya.


Kirana mengerutkan kedua alisnya. “ada apa?” tanya Kirana bingung. Seharusnya sebagai teman sekaligus pelayan, Tumiyem seharusnya panik atau bersedih melihat dirinya yang merasa tidak enak badan tetapi tidak dengan pandangan Tumiyem yang sekarang.

__ADS_1


“Nyonya, eh maksudku Kirana, kapan terakhir kau datang bulan?” tanya Tumiyem yang masih dengan senyuman lebarnya. “selama aku di sini aku belum pernah datang bulan. Ada apa?” tanya Kirana heran.


__ADS_2