
Yah, rentenir kaya satu itu memang memiliki gejala psikopat karena rela membangun ruang bawah tanah di bawah kediamannya agar semua kegiatan terlarangnya dapat berjalan dengan lancar dan tidak ada satu pun aparat yang bisa menemukan ruang rahasia tersebut.
“Galen, jangan hanya diam disini nanti Maria bisa datang dan marah lagi.” Kata seorang pengawal pribadi yang tidak sengaja melihat Galen dibentak oleh Maria. “Hm… apa yang kau katakan? Sejak kapan Maria memarahiku? Dia wanita yang baik.” Jawab Galen dengan ekspresi yang datar.
Mendengar perkataan Galen, pengawal pribadi itu hanya bisa menelan air ludahnya. Niat hati ingin mengkhawatirkan teman seperjuangannya malah hanya membuatnya menjadi seorang teman yang tak berguna karena alih-alih Galen merasa senang ada yang membela malah ia lebih membela Maria dengan menyebutnya sebagai seorang wanita.
“Sungguh Maria bukanlah seorang wanita Galen.” Ucap pengawal pribadi itu namun di dalam hatinya karena ia takut Galen akan marah bila mendengarnya.
“Sekarang, kau tunggu di sini! Jaga taman ini jangan sampai Tama kabur melalui taman belakang ini. Aku ada pekerjaan lain.” kata Galen yang terdengar seperti memerintah tersebut. “Baik Galen.” Jawab temannnya pasrah. Lagi pula pengawal pribadi itu lebih senang jika di suruh berjaga di taman belakang daripada di dalam rumah karena di taman belakang banyak pelayan wanita yang sedang bersantai untuk sekedar menyantap sebuah biscuit.
Galen bergegas menuju masuk ke dalam kediaman Tuan Azego. Saat ia masuk tak sengaja Maria melihatnya hingga Maria mengikuti Galen dari belakang. Tak lama kemudian Galen pun masuk ke dalam dapur karena feeling-nya kuat mengatakan bahwa dapur saat ini adalah satu-satunya ruang yang tak dijaga oleh siapapun.
“Ternyata benar feelingku. Kau berada di dapur ini wahai Tuan Muda.” Sergap Galen saat melihat seorang lelaki muda yang tengah melihat ke luar jendela tersebut. Tama pun yang mendengar suara seorang laki-laki itu sontak membalikkan tubuhnya dan melihat sosok Galen yang berwajah sangar.
Galen gegas berlari untuk menangkap Tama namun Tama lebih sigap lagi dengan berlari lebih dulu menuju pintu keluar.
Bug!
Tiba-tiba sebuah tinjuan melayang tepat di wajah Tama. “Aww!” sontak Tama berteriak kesakitan karena tinjuan itu benar-benar terasa sakit. Tama memegang bekas tinjuan yang ada diwajahnya itu dan segera melihat siapa pria yang berani meninju putra Tuan Harun.
“Kau?” berang Tama saat menyadari orang yang meninjunya itu adalah seorang wanita tetapi terasa seperti tinjuan seorang pria. “Galennn…” teriak Maria saat Tama berusaha kabur dan menembus penjagaan Maria pada pintu tersebut.
Sontak Gelan berlari dan bergegas dengan kecepatan yang cukup cepat dan langsung menangkap Tama dari belakang. “Apa yang kalian lakukan? Kalian belum tahu siapa aku ha?” Tama berteriak sambil berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Galen.
“Halo… Tuan Muda, ku rasa siapapun Anda saat ini tidaklah berarti apapun karena kau telah berada di rumah Tuanku, Tuan Azego! Hahaha…” Maria tertawa terbahak-bahak penuh dengan rasa kemenangan.
__ADS_1
“Kau!” Tama membulatkan matanya, dia masih saja berusaha untuk melepaskan diri selain itu dia pun sangat kesal dan marah dengan sosok perempuan berbadan pria tersebut.
“Cepat Galen, bawa dia ke ruang bawah tanah.” Perintah Maria kepada anak buahnya tersebut. Galen pun mengangguk mengerti dan mencoba untuk membawa Tama yang sedang bergerak-gerak itu.
“Tuan Muda, kau butuh untuk diam. Jangan memperlambat gerakanku atau kau akan ku—” perkataan Galen terhenti saat dipotong oleh Tama. “Atau apa? Dengarkan ini, jika aku berhasil keluar maka kau yang pertama kali yang akan aku datangi!” Pandangan Tama memerah sembari berusaha menoleh memandangi Galen karena posisinya yang ditangkap dan dipeluk dari belakang.
Prok, prok, prok!
“Nyalimu boleh juga Tama, tetapi sayang sekali karena siapapun yang masuk ke rumah ini maka dipastikan tidak dapat kembali lagi.” bisik Maria ke telinga Tama dengan senyuman sinisnya. “Kau! Kau juga Maria, aku akan mendatangimu. Kau harus ingat itu!” berang Tama kepada Maria.
Bug!
Bug!
Bug!
“Aku mulai bosan dengan celotehnya yang berulang itu.” Berang Maria sembari menatap Galen penuh amarah. “Harus ku bawa kemana pria ini Maria?” Tanya Galen bingung. “Kau bawa saja dia ke ruang bawah tanah.” Kata Maria yang kemudian meninggalkan Galen bersama dengan Tama yang telah tak sadarkan diri.
Galen menyeret Tama untuk pergi ke ruang bawah tanah. Tama diseret bak koper karena ia hanya menarik kaki Tama dengan posisi Tama yang terbaring telungkup. Saat menuruni tangga, Galen tak peduli lagi dengan tubuh dan wajah Tama yang terbentur oleh tangga dan apapun yang dilewatinya hingga membuat tubuh serta wajah Tama luka-luka dan babak belur.
Di dalam ruang bawah tanah, ada beberapa pengawal yang berjaga dan di sana ada banyak ruangan hampa seperti sel disertai dengan gembok yang terkunci.
“Hey kau kemari.” Panggil Galen kepada penjaga ruang bawah tanah itu. Pria penjaga ruang bawah tanah itu pun mendekati Galen. “Iya ada apa Galen?” ucapnya ketika berada tepat di samping Galen. Pria penjaga ruang bawah tanah itu sempat melirik Tama yang penuh dengan darah serta lebam-lebam di seluruh wajahnya.
“Berikan aku kunci sel ini!” Galen menjulurkan telapak tangannya yang terbuka kepada pria penjaga ruang bawah tanah tersebut. Tanpa banyak tanya pria itu memberikan Galen kunci sel itu. Galen pun membuka gembok yang terkunci itu dan meletakkan Tama pada sel itu dengan kasar.
__ADS_1
“Selamat menikmati hotel berbintangmu wahai Tuan Muda.” Bisik Galen ke telinga Tama yang dirinya pun tidak tahu apakah Tama mendengarkan atau tidak karena semenjak Maria meninjunya Tama tak lagi bergerak apalagi bersuara.
“Kau jaga pria ini jangan sampai kabur. Mengerti?” Tegas Galen kepada pria penjaga ruang bawah tanah itu. “Baik.” Jawab pria penjaga ruang bawah tanah itu singkat kemudian kembali ke tempatnya berdiri semula. Begitupun dengan Galen ia kembali ke atas dan melaksanakan rutinitasnya sebagai pengawal pribadi.
Sementara itu Kirana yang sejak tadi duduk dengan tangan terikat dan mulut yang telah ditempelkan lakban bergerak dan berteriak. Namun, teriakannya tidak bisa didengar oleh Tama karena kondisi Tama yang terlihat memprihatinkan.
“Tama…” gumam Kirana saat melihat Tama yang telah masuk ke dalam sel terkunci sama seperti dirinya. Air mata Kirana pun menetes melihat Tama yang tak sadarkan diri tersebut.
Kirana menangis karena apa yang ia pikirkan jauh berbeda dengan apa yang telah terjadi. Niatnya untuk keluar dari keluarga Harun adalah untuk terbebas dari penjara berkedok rumah mewah itu menjadi lebih buruk dengan benar-benar telah di penjara di sebuah sel yang bau dan kotor seperti yang dia alami saat ini.
Belum lagi dengan melihat kondisi Tama, calon ayah tirinya dan seorang laki-laki yang telah resmi menjadi suaminya itu membuatnya bersedih dan terus menangis sambil menatap Tama. Ditambah dengan sikap Tama yang selalu bersikap baik kepada Kirana walaupun Tama selalu menganggap dirinya adalah anaknya sendiri. Apalagi semenjak kematian ibunya yaitu Riyanda, Tama bahkan lebih baik dan perhatian lagi kepadanya.
“Tama…” Kirana berusaha memanggil suaminya. Namun apa daya, hanya suara kerongkongan yang terdengar dengan jelas oleh dirinya sendiri dan para pria yang berjaga di ruang bawah tanah tersebut.
Treng-trenggg!
Suara ketokan sel dengan keras mengejutkan Kirana yang wajahnya dibasahi dengan air mata itu. “Kau jangan banyak bergerak dan bersuara nona! Jangan biarkan pisau tajamku ini melukai wajah cantikmu!” berang pria itu sembari memamerkan sebuah pisau tajam yang ia gunakan untuk memukul besi sel tersebut. Pria penjaga ruang bawah tanah itu merasa terganggu dengan sikap Kirana yang berisik semenjak kehadiran Tama di sel sebelahnya.
Jantung Kirana berdegup kencang, dia mulai ketakutan saat wajahnya ditodong dengan pisau tajam tersebut. Ketika pria penjaga itu pergi, dengan sedikit tenang dia pun berusaha untuk bergeser perlahan untuk mendekati Tama karena sel mereka yang berdampingan dan hanya di batasi oleh besi jeruji yang polos.
Perlahan tapi pasti Kirana terus bergerak. Saat pria penjaga ruang bawah tanah itu melihatnya dengan cerdas Kirana berhenti bergerak dan bergeser lalu kemudian ia melanjutkan kembali pergerakannya agar bisa berdekatan dengan Tama.
“Tama…” akhirnya Kirana berhasil berada di sudut sel yang mana Tama telah terbaring tak sadarkan diri. Kirana berusaha memiringkan badannya agar bisa menyentuh tangan Tama tetapi usahanya sia-sia karena tangan suaminya tak dapati ia raih dengan tangan yang terikat.
Akhirnya Kirana membaringkan tubuhnya dan kini kepalanya menyentuh kepala Tama. Keduanya terbaring dengan kepala yang saling menyentuh. Kirana yang terbaring sadar dengan air mata yang bercucuran membisu sedangkan Tama yang terbaring kaku dengan lebam dan darah di sekujur tubuhnya. Bahkan wajah dari putra Tuan Harun itu tampak bengkak-bengkak hingga wajah tampannya berkurang 10%.
__ADS_1