
Dokter yang melihat Kirana terbaring lemas di atas kasur UGD itu melirik pak tua yang terlihat sangat panik di samping pasiennya. “Maaf pak, kami harus segera melakukan operasi.” Kata Dokter itu sambil melihat Tuan Azego.
“Silahkan! Lakukan dengan cepat!” Sahut Tuan Azego sambil menggenggam kedua tangan dokter tersebut. “Kami butuh persetujuan dari keluarga pasien. Apa bapak ayahnya?” Tanya dokter itu.
“Aku suaminya.” Tama yang berada di kasur UGD yang bersebelahan dengan Kirana dan hanya dipisahkan oleh tirai pun muncul seketika. “Tidak, kami tidak mengenalnya. Aku bukan ayahnya, tetapi aku adalah suaminya.” Sambung Tuan Azego.
Dokter itu sempat membulatkan kedua matanya dan mengedipkannya berkali-kali. Entah siapa suami dari dari pasiennya itu. Tuan Azego yang terlalu tua sehingga tampak seperti ayahnya dan yang satunya lagi pasien baru yang babak belur yang tampak seperti orang lain.
Tuan muda yang ganteng dan terkenal kaya itu telah banyak dikenal orang karena skandal ayahnya dan berita bangkrutnya perusahaan di bawah pimpinannya. Namun, karena wajah yang tak dapat dikenali akibat babak belur menjadikan dokter tersebut menganggap Tuan Azego lah yang akan bertanggung jawab atas pasiennya.
“Baiklah pak, tolong tanda tangan di sini.” Seorang perawat menghampiri Tuan Azego dan memberikannya berkas yang harus ia tanda tangani sebelum dilakukannya operasi. Rentenir kaya itu gegas mengambil berkas tersebut dan menandatanganinya.
“Lakukan dengan baik dok. Tolong selamatkan istriku. Kalau perlu tolong panggil semua dokter terbaik di rumah sakit ini untuk menanganinya.” Tuan Azego seraya memohon kepada dokter itu. hal itu membuat Maria, Tama, dan pengawal yang lainnya tak menyangka karena kepribadian rentenir kaya itu selama ini sangat tidak berprikemanusiaan. Cinta memang dapat merubah seseorang.
“Maaf pak, operasi ini menggunakan asuransi atau pribadi ya?” Sambil melongo perawat itu bertanya kepada Tuan Azego. “Saya akan membayarnya secara pribadi dan kes. Apa kalian tidak tahu bahwa saya adalah orang terkaya di kota ini.” Ucap Tuan Azego sedikit menyombongkan diri.
“Ah baik.” Sahut perawat itu kemudian pergi untuk melakukan reservasi dan jadwal operasi saat itu juga. “Pasien akan ditangani dengan tiga dokter sekaligus. Bapak jangan khawatir. Kami akan melakukan yang terbaik.” Kata dokter tersebut sambil menepuk bahu Tuan Azego.
“Terima kasih dok.” Sahut Tuan Azego. Seakan lega, kepanikan Tuan Azego mulai mereda walaupun pikiran dan hatinya masih saja tidak tenang. Kemudian para dokter dan perawat bersiap untuk melakukan operasi.
“Permisi ibu, kami akan memeriksa tensi ibu dulu ya.” Ujar perawat yang baru saja datang menghampiri Kirana. Ada dua perawat di sana. Satu perawat sedang memeriksa tensi dan HB dari pasiennya sedang yang satu lagi tengah sibuk membersihkan darah di leher Kirana dan berusaha menutupnya menggunakan cara medis agar darah itu tidak terus keluar.
Tuan Azego duduk terdiam sembari memasang wajah yang sangat sedih. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia bersedih karena mencintai seorang wanita. Rentenir kaya itu menggenggam tangan Kirana.
Sekuat tenaga Kirana mencoba untuk melepaskan genggaman pak tua itu tetapi Tuan Azego tetap kukuh dan tak mau melepaskan genggaman tangannya, ditambah lagi Kirana masih lemas dan tidak bisa melawan dengan kekuatannya yang terkuras karena kekurangan darah.
Tama? Dipaksa kembali tidur di kasurnya dengan diawasi oleh Maria. “Jangan bergerak, kau harus tetap di sini. Kau tidak boleh menampakkan wajah mu lagi di depan tuanku. Jika kau bergerak sedikit pun, maka kau akan mati ditangan ku. Kau mengerti? Untung saja Tuan Azego masih berbaik hati membiarkan mu ikut ke mari.” Kata Maria ketus.
“Jika tidak, mungkin kau telah menjadi pria tampan yang babak belur dan tidak bernyawa di rumah itu.” Tambah kepala pengawal pribadi Tuan Azego itu.
__ADS_1
Tama hanya bisa diam dan tak menjawab. Bukan karena takut atas ancaman yang dilayangkan kepadanya tetapi karena ia sedang menunggu seseorang.
“Permisi…” Seorang wanita cantik datang menghampiri Tama di UGD tersebut. “Maaf, apa yang terjadi kepada bapak ini?” Ucap dokter itu terkejut saat melihat wajah dan sekujur tubuh Tama yang babak belur.
“Dia sedang latihan bertinju dok. Kami telah melarangnya tetapi dia memaksakan diri sehingga dia dikalahkan oleh lawannya.” Kata Maria sambil berpura-pura bersedih. “Apa aku bilang, kan begini jadinya. Lain kali jangan lakukan latihan tinju. Okay?” Kata Maria sambil meninju lengan Tama dengan pelan.
“Aww.” Walaupun tinjuan wanita yang persis seperti pria itu pelan, tetap saja Tama merasa sakit karena kondisi tubuhnya yang terluka dan lebam seperti itu. “Baiklah dok, silahkan diperiksa. Aku dan rekanku akan menunggu di luar.” Sambung Maria lalu meninggalkan dokter itu bersama dengan Tama.
“Ya ampunnnnn Timi. Apa yang terjadi?” Dokter Flo yang tadinya berusaha tenang kini tak lagi mampu menahannya saat Maria pergi meninggalkan mereka berdua.
Flashback on
Dokter Flo sedang tengah asyik mengecet kukunya menggunakan kutek berwarna merah maroon. Kuku-kuku cantik itu di oleskan oleh para pelayan Tuan Harun. “Bagus, seperti itu. oleskan dengan rapi.” Perintah Dokter Flo kepada pelayan yang memasangkan kutek tersebut. ada dua orang pelayan yang memasangkan kutek itu yang masing-masing satu pelayan memegang satu tangannya.
Selain itu, rambut panjang Dokter Flo juga sedang di keramas oleh Tumiyem. “Tumiyem!” Bentak Dokter Flo kepada sahabat dari Kirana itu. “Pijatlah lebih kuat lagi! kau sungguh tidak becus.” Ujar Dokter Flo ketus.
“Kenapa kau tidak menjawabku ha!” Bentak dokter cantik itu. “Maafkan saya nona.” Tumiyem pun menambahkan tekanan pijitnya di kepada Dokter Flo. “Nah seperti ini.” Sambil terpejam Dokter Flo menikmati pijitan Tumiyem di kepalanya yang seluruh rambutnya telah dioleskan oleh krim untuk Creambath.
Derkkk…
Ponsel milik Dokter Flo bergetar. “Ambilkan HP ku!” Perintah Dokter Flo kepada pelayan yang sedang mengecat kuku-kuku indahnya. “Ini nona.” Kata pelayan itu sambil memberikan ponsel milik Dokter Flo yang berada di atas sofa.
Dokter Flo mengambil ponselnya dengan jarinya yang lentik. Kebetulan kuku-kuku itu telah selesai di oleskan kutek oleh kedua pelayan itu. “Kalian boleh pergi.” Usir Dokter Flo.
“Iya nona.” Jawab pelayan itu secara bergantian kemudian dua orang pelayan itu beranjak dari tempatnya dan pergi sambil membawa semua peralatan cat kuku tersebut.
“Oh my God!” Pekik Dokter Flo saat membaca pesan yang ternyata berasal dari pria yang dicintainya, siapa lagi kalau bukan Tama. Karena terkejut Dokter Flo yang terbaring kursi krimbat dan sedang melakukan krimbat, ia tak sadar lagi langsung terduduk dan tidak menyadari bahwa kepalanya yang sedang dipijat oleh Tumiyem.
Di tangan Tumiyem ada banyak rambut yang lepas karena tarikan reflek dari kepala Dokter Flo yang langsung terduduk. “Tumiyem, cepat kau baca ini.” Dokter Flo memperlihatkan layar ponselnya kepada kepala pelayan itu.
__ADS_1
“Flo tolong aku. Aku sedang sekarat bersama dengan Kirana. Kami akan dibawa ke rumah sakit terdekat. Aku akan mengirimkan lokasi ku sekarang. Jadi tolong cari aku di rumah sakit terdekat dari lokasi ku saat ini.” Ucap Tumiyem pelan sambil membaca pesan yang berasal dari tuan mudanya.
“Nona, ayo cepat cari rumah sakit itu.” Tumiyem terkejut yang tak sengaja jantungnya pun berdetak dengan cepat. “Kau benar, aku akan ke sana sekarang juga.” Kata Dokter Flo setuju dengan kepala pelayan itu.
“Apa itu rambut ku? Arghhh…” Seketika Dokter Flo berteriak histeris saat melihat ada banyak rambut basah dan lepek di tangan Tumiyem. “Nona tadi langsung duduk dan tak sengaja rambut nona tertarik hingga rontok.” Sahut Tumiyem dengan wajah yang datar.
“Kau pembantu yang sangat tidak becus. Kau tidak punya skill!” Bentak Dokter Flo sambil menunjuk-nunjuk wajah Tumiyem. Seakan mengelus dada, Tumiyem mencoba bersabar walau dalam keadaan kesal. Lagipula kondisinya sangat genting hingga ia tak harus menghiraukan perkataan dari dokter cantik.
“Lebih baik sekarang saya bilas rambut Anda, nona. Setelah itu cepat temui tuan muda dan nyonya muda.” Kata Tumiyem sambil membersihkan rambut-rambut itu dari tangannya. “Kau benar. Aku harus menemui Tama saat ini juga.” Sahut Dokter Flo sambil merebahkan punggung dan terbaring agar Tumiyem membilas rambutnya.
“Bagaimana dengan Kirana?” Gumam Tumiyem namun dalam hati saat mendengar perkataan dari Dokter Flo yang hanya memikirkan tuan mudanya tapi tidak dengan nyonya mudanya sekaligus sahabatnya.
“Apa kau sudah selesai Tumiyem?” Tanya Dokter Flo. “Sudah nona.” Sahut Tumiyem. “Baiklah aku akan pergi sekarang.” Dokter Flo berdiri sambil membuka layar ponselnya. Ia pun melakukan panggilan suara kepada seseorang.
“Mario, bisa kau antarkan ke rumah sakit sekarang?” Kata Dokter Flo saat panggilan itu tersambung dan diangkat oleh kepala pengawal pribadi oleh Tuan Harun. “Siapa yang sakit dok?” Tanya Mario dalam panggilan suara itu.
“Jangan banyak bertanya! Katakan saja, apa kau bisa mengantarku? Jika tidak aku akan memesan taksi ke mari.” Bentak Dokter Flo. “Bisa nona. Silahkan tunggu di depan.” Jawab Mario lagi dalam panggilan suara itu lalu panggilan suara itu ditutup oleh Dokter Flo.
“Nona…” Tumiyem mendekati Dokter Flo yang sedang berdiri dengan rambut dan baju yang basah. Ponsel miliknya masih didalam genggamannya karena baru saja ia mengklik tombol merah pada layar ponselnya.
“Ada apa lagi, Miyem? Aku sedang terburu-buru.” Dokter Flo melangkahkan kakinya dan Tumiyem mengikutinya. “Bolehkah saya ikut ke sana?” Tanya Tumiyem dengan ragu.
“Ikut kata mu? Untuk apa pembantu seperti mu ikut ke rumah sakit dengan ku?!” Bentak Dokter Flo lagi. Tumiyem hanya bisa menelan salivanya sambil bersabar lagi. “Tidakkah rambut nona masih basah? Aku bisa mengeringkannya di dalam mobil.” Sahut Tumiyem dengan seribu caranya agar bisa ikut untuk melihat temannya.
“Ahhh… kau benar!” Dokter Flo mengangguk setuju. “Untuk kali ini kau sedikit pintar.” Puji Dokter Flo kepada kepala pelayan itu. “Baiklah, silahkan ikut.” Dokter Flo melanjutkan langkahnya diikuti oleh Tumiyem yang membawa handuk kecil dan satu Hairdryer.
Flashback off
Dokter Flo gegas menangani teman masa kecilnya itu. Dengan rambut yang sudah kering dan wangi, ia semakin percaya diri untuk menemui pria yang dicintainya. Ditambah lagi kuku-kuku jemarinya yang berwarna merah maroon semakin menambah penampilannya menjadi anggun dengan baju putih yaitu baju dokternya.
__ADS_1