Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 46


__ADS_3

Tiga puluh menit sebelumnya, saat semua orang asyik bersitegang satu sama lain, asyik memadu mata dan argument masing-masing, Tama yang tadinya berniat untuk berada di ruangan itu sampai dengan selesai akhirnya mundur secara perlahan.


Anak kesayangan Tuan Harun itu meninggalkan ruangan bersuhu dingin namun terasa panas itu tanpa ada yang menyadarinya. Yah, ia berusaha untuk melakukan hal terbaik yang menurutnya benar yaitu mencari keberadaan istrinya.


“Dimana aku bisa menemukan Kirana?” gumamnya saat berhasil keluar dari ruangan itu. Tama melihat ke kiri dan ke kanan. Jauh berbeda dari dari rumahnya, ternyata kediaman itu tidak memiliki banyak penjaga atau pengawal pribadi di setiap pintu. Namun, tetap saja para anak buah dari Tuan Azego perlu diacungkan jempol karena berhasil membobol kediaman Tuan Harun dua kali.


Tama berjalan di ruangan yang cukup besar. Walaupun ruangan kediaman Tuan Harun jauh lebih besar tetapi tetap saja ia sedikit kebingungan untuk berjalan di rumah yang baru saja ia datangi itu.


Tuan Muda itu berjalan dengan sangat hati-hati. Apabila ada seseorang ataupun pengawal yang sedang melewatinya, ia akan langsung bersembunyi dibalik meja, vas bunga, atau apapun barang yang besar yang dapat melindunginya dari pandangan mata orang-orang di kediaman itu. Ia bahkan rela menjadi patung dengan wajah yang konyol agar tidak ketahuan, dan bodohnya, tidak ada yang menyadari keberadaan Tama pada kediaman Tuan Azego.


Bagaikan berwisata, Tama berkeliling di kediaman Tuan Azego demi mencari keberadaan Kirana yang tengah mengandung anaknya. Dengan semangat membara karena mengetahui Kirana mengandung janin anaknya, Tama sedikitpun tidak merasa takut berada di kediaman rentenir kaya yang terkenal dengan tidak mempunyai rasa ampun kepada lawannya.


“Oh Tuhan, kemana lagi aku harus mencari keberadaan Kirana?” ucap Tuan Muda itu dalam hati dengan keringat yang bercucuran karena telah berkeliling kesana dan kemari tanpa menemukan titik terang tentang keberadaan istrinya.


*

__ADS_1


*


“Permisi Tuan.” Maria datang menghampiri tuannya saat semua orang bubar untuk meninggalkan Tuan Azego sendirian pada ruangan itu. “Ada apa Maria?” Tuan Azego menurunkan kedua kakinya yang berada di atas meja.


“Ada dua orang polisi yang kembali. Mereka bilang ingin menjemput Tama, putra dari Tuan Harun, Tuan.” Jelas Maria dengan posisi badan yang berdiri tegap. “Hm…” Tuan Azego menarik satu sudut bibirnya lalu tertawa terbahak-bahak.


“Maria, ku rasa ini hari keberuntungannku. Hahaha…” Tuan Azego merasakan kebahagiaan di dalam dadanya. “Katakan kepada polisi itu bahwa Tama telah pulang bersama mereka. Katakan bahwa tidak ada satu orang pun yang tertinggal dikediamanku, jikalau ada maka dipastikan bahwa mereka tidak akan pernah bisa kembali. Hahaha…” Tuan Azego memegang dada sembari terbungkuk dan terus tertawa dengan sangat keras.


“Baik Tuan.” Maria pun pergi lagi meninggalkan tuannya dan segera melaksanakan setiap perintah dari Tuan Azego. “Tunggu Maria…” panggil Tuan Azego yang tiba-tiba menghentikan tawanya dan memasang wajah yang serius. “Perintahkan kepada yang lain agar menemukan Tama secepat mungkin.” Titah Tuan Azego. Maria mengangguk tanpa menjawab kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena dipanggil oleh Tuan Azego.


Sesampainya Maria di ruang tamu kediaman Tuan Azego. Ada dua orang polisi yang tengah duduk menunggu untuk menjemput anak dari Tuan Harun.


“Apa kau yakin? Jika putra Pak Harun ikut bersamanya mengapa kami di suruh kembali?” Tanya salah seorang polisi itu dengan wajah yang tak dapat dibaca oleh Maria. Namun, Maria tetap merasa acuh dan tak memperdulikan bahwa kebohongannya sungguh tidak masuk akal.


“Saya yakin Pak. Jika Bapak ragu, silahkan Anda menggeledah rumah ini.” Tambah Maria yang mencoba meyakinkan kedua polisi tersebut. “Itu tidak bisa, kita tidak boleh sembarang menggeledah rumah warga tanpa ada perintah dan surat perintah.” Bisik polisi yang satu lagi yang sejak tadi diam saja.

__ADS_1


“Kau benar.” Jawab Polisi yang pertama kali menjawab Maria. “Kalau begitu lebih baik kita pulang tanpa putra dari Tuan Harun.” Tambahnya. “Baiklah kalau begitu kami permisi pulang. Tetapi jika kau menemukan atau bertemu dengan putra dari Tuan Harun segera hubungi kami.” Pesan polisi tersebut kepada Maria.


“Baik Pak.” Ujar Maria dengan senyuman di wajahnya. Jikalau Maria menemukan Tama, untuk apa lagi dia menghubungi polisi karena memang yang ia butuhkan untuk menjatuhkan keluarga Harun salah satunya adalah putranya. Kemudian kedua polisi itu pulang tanpa membawa Tama.


Setelah polisi itu pergi, Maria bergegas untuk melaksanakan perintah Tuan Azego agar segera menemukan Tama yang diduga sedang berkeliaran di kediaman Tuan Azego.


“Kalian, cepat cari putra Tuan Harun yang bernama Tama itu di setiap sudut ruangan rumah ini. Jangan sampai kita kehilangan Tama. Dan kau…” tunjuk Maria ke salah seorang anak buahnya yang tampak begitu sangar dibandingkan dengan yang lainnya. “Kau, carilah Tama di taman belakang rumah. Siapa tahu dia sedang melarikan diri saat ini bersama dengan istrinya.” Pesan Maria kepada Galen.


“Baik Nyonya.” Jawab Galen dengan mata yang melotot. “Apa yang kau katakan? Jangan panggil aku nyonya. Panggil aku Tuan!” sentak Maria. Seketika wajah sangar yang dimiliki oleh Galen menciut menjadi takut. “Baik Tu… Tuan.” Jawabnya dengan terbata. “Sekarang pergilah!” perintah Maria. Dengan sigap Galen menghilang di depan Maria.


Kediaman Tuan Azego tengah ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang di setiap ruangan, bahkan taman depan dan belakang rumah itu saat ini sedang dijaga ketat. Para pengawal pribadi yang berseragam hitam itu dilengkapi dengan pistol dan Earpiece sebagai alat untuk berkomunikasi bagi mereka.


Tama yang saat ini berkeringat dan kelelahan karena karena mencari Kirana pun tak sadar telah berada di dapur kediaman Tuan Azego. Melihat makanan dan minuman yang tersedia, ia pun mengambil gelas dan mengisinya dengan air mineral serta segera meneguknya hingga habis.


“Ahhh…” kelegaan jelas terasa pada tenggorokan Tama yang kering itu. Ia pun melihat kembali beberapa makanan yang ada di atas meja namun tetap saja kepalanya dipenuhi dengan pertanyaan di mana Kirana disembunyikan di rumah itu. Dengan beban pikiran tersebut, banyaknya makanan yang menggiurkan itu tak membuat Tama teralihkan sedikit pun.

__ADS_1


“Di sini aman.” Gumam Tama saat melihat se isi dapur yang tidak berpenghuni itu karena semuanya sedang sibuk di ruangan lain untuk mencari dirinya.


Sementara itu Galen yang sedang mencari Tama di halaman belakang tampak diam berdiri tak bergerak. Pikirannya dipenuhi dengan kejanggalan-kejanggalan dalam misi menemukan Tama. Baginya sungguh aneh jika Tama yang baru saja kehilangan istri ingin kabur tanpa membawa istrinya. Karena dipastikan, Kirana telah aman di ruang bawah tanah milik Tuan Azego.


__ADS_2