Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 70


__ADS_3

“Biarkan aku masuk!” Ujar Tama setengah memaksa kepada dua orang berbadan kekar anak buah dari Tuan Azego itu. Dua orang pengawal pribadi itu menghalangi Tama untuk masuk ke kediaman tuannya.


“Maaf, kami tidak bisa membiarkan Anda masuk.” Sahut dua orang pengawal pribadi itu bersamaan. “Azego? Apa kau mendengar ku? Aku sudah di rumah mu. Biarkan aku masuk.” Tama berbicara sendiri, namun kalimatnya jelas terdengar oleh pemilik rumah yang ia datangi itu.


“AZEGOOO!” Teriak Tama. Tuan muda itu merasa kesal, ia diabaikan oleh Tuan Azego. “Aku tahu kau mendengarku. Biarkan aku masuk!” Bentak Tama. Sontak kedua orang berbadan kekar yang berjaga itu saling memandang satu sama lain. Mungkin baginya pria muda yang datang itu telah kehilangan akal sehatnya dan berbicara sendiri.


“Minggir kalian!” Tama berusaha memisahkan kedua badan pengawal pribadi itu. namun sayangnya dua orang itu masih saja berdiri berdempetan di pintu masuk utama kediaman Tuan Azego. Pewaris tunggal dari keluarga Harun itu cukup lemah untuk bisa menerobos masuk.


Sepertinya tuan muda itu tidak pantang menyerah untuk menemui istrinya. Ia terus menggunakan kaki dan tangannya untuk menerobos masuk. Ia mengarahkan seluruh kekuatannya untuk terus membuat dua orang yang ada di depannya tersebut bisa bergeser.


*


*


“Berikan telepon itu Maria.” Perintah Tuan Azego kepada kepala pengawal pribadinya. Dengan cepat Maria bergerak untuk melakukan perintah tuannya. “Ini tuan.” Maria memberikan telepon itu dengan sangat sopan.


Bersamaan dengan itu, sebuah telepon rumah tanpa kabel berdering di ruangan Kirana. “Halo…” Kirana mengangkat panggilan itu dengan wajah yang jutek. Yah, ia merasa lelah untuk selalu mengangkat panggilan dari Tuan Azego hanya untuk membuat rentenir kaya itu selalu tertawa terbahak-bahak atas pencapaiannya selama Kirana dikurung.


“Apa kabar mu nona manis?” Tanya Tuan Azego dengan sedikit menggoda istri dari tuan muda yang berasal dari keluarga Harun tersebut. “Baik.” Jawab Kirana singkat. “Aku ada berita buruk untuk mu. Ku harap kau tidak menangis mendengarnya.” Jelas Tuan Azego.


“Tidak mengapa, berita baik atau buruk jika itu berasal dari kau, ku rasa semuanya menjadi berita buruk.” Sahut Kirana ketus. “Hahaha… kau memang anak yang pintar sayang.” Tuan Azego tertawa.


“Kirana, di luar sana, suami mu Tama sedang berusaha sekuat tenaga untuk masuk ke rumah ini. Ia bahkan rela beradu tinju kepada pengawal pribadi ku. Dan kau tahu, dia datang sendiri dan melawan dua orang pengawal pribadi ku.” Terang Tuan Azego dengan wajah yang begitu bengis.


“APA? Mengapa kau tidak membiarkannya saja masuk Azego? Ku rasa kau sudah cukup baik kepada kami karena akhir-akhir ini kau membiarkan kami untuk bersama selama satu kali seminggu.” Kirana yang tadinya sedang duduk kini berdiri.


“Itu karena dia sudah tidak memiliki uang lagi untuk membayarku setiap ia bertemu dengan mu.” Ucap Tuan Azego. “Apa? Maksud mu apa pak tua?” Kirana berbalik badan dan berjalan menuju ke pintu kamarnya yang terkunci rapat itu.


“Ahhh ternyata kau tidak sepintar yang ku kira. Ku pikir kau akan tahu tanpa aku memberitahukannya kepada mu.” Kata Tuan Azego. Mimic wajahnya sedikit kecewa saat ini. “Tapi aku akan tetap memberitahu mu sayang.” Tambahnya lagi.


“Jadi selama ini, Tama selalu membayar mahal setiap kesempatan bertemu dengan mu. Kau tahu, ia bahkan membayar sebanyak 200 juta rupiah per jam tiap bersama dengan mu, dan itu semua atas persetujuannya.” Terang Tuan Azego lagi.


“Ba… bagaimana bisa seperti itu?” Kirana membuka lebar mulutnya lalu menutupnya dengan telapak tangan sebelah kiri karena tangan kanannya sedang memegang telepon itu. “Aku tidak bisa menghitungnya lagi berapa jumlahnya. Terlalu banyak waktu yang kami lewati bersama setelah kau mengurung ku.” Sambungnya lagi.


“Yah, yah, yah seperti itu lah kira-kira. Tapi kau harus bersyukur, setidaknya itu menunjukkan bahwa ia tidak menganggap uang yang dimilikinya tidak berharga. Dia lebih menganggap kau berharga dari semua harta yang dimiliki oleh keluarganya.” Kata Tuan Azego.


“Tapi, itu tidak masuk akal. Apa itu yang membuat perusahaan ayahnya bangkrut?” Kirana meremas kasar rambutnya. Entah mengapa ia merasa depresi atas apa yang didengarnya barusan walaupun pada saat ia bertemu dengan suaminya dia ikut menikmati momen tersebut.


“Tidak sepenuhnya karena itu. Harun Corporation bangkrut karena skandal ayahnya. Di tambah lagi suami mu bobrok dalam memimpin perusahaan. Hahaha…” Tuan Azego tertawa bahagia lagi.

__ADS_1


“Kau sudah tidak waras. Kau tak pantas dianggap manusia lagi Azego. Manusia mana yang berbahagia atas penderitaan orang lain? Kau iblis!” Kedua lobang hidung Kirana melebar. Nafasnya pun kian tak beraturan. Kedua bola matanya membulat, untuk sesaat seakan ia ingin menelan rentenir kaya itu bulat-bulat.


“Jangan terlalu membenci ku sayang. Kau sedang hamil, apa kau ingin seorang anak yang mirip dengan ku?” Tuan Azego senyum-senyum sendiri selepas mengatakan kalimatnya itu. “Aku tidak sudi!” Bantah Kirana dengan cepat.


“Lalu apa mau mu? Untuk apa lagi kau memberitahukan kondisi Tama kepada ku jika memang kau tak mengizinkannya untuk memasuki rumah mu pak tua!” Bentak Kirana. Ia memegangi perutnya yang telah membesar.


“Mudah saja, bagaimana jika kau menerima tawaran ku.” Sahut Tuan Azego santai. “Apa tawaran itu? cepat katakan!” Kirana pun berteriak.


“Aku akan membiarkannya masuk dan kau akan tetap berada di rumah ini.” Tutur Tuan Azego. “Erghhhh…” Kirana meregang sambil bersuara. Ia tak bisa memilih tawaran itu. “Apa kau mau?” Ucap Tuan Azego tersenyum.


“Apa yang terjadi jika aku tidak menerima tawaran mu?” Tanya Kirana. Ia menarik lalu mengeluarkan nafasnya agar lebih tenang. “Maka Tama akan ku buat babak belur dan hanya tersisa nyawanya saja.” Sahut Tuan Azego sambil menarik satu sudut bibirnya.


“Aku akan mempertimbangkannya. Tapi sebelum itu biarkan aku bertemu dengan Tama.” Ucap Kirana saat selesai mengatur nafas menjadi lebih tenang. “Baiklah. Aku akan menuruti kemauan mu.” Jawab Tuan Azego.


Plak!


Kirana melempar telepon itu dengan kasar ke lantai hingga rusak. “Arghhh…” Ia berteriak histeris. Kini ia mulai menyadari, ada ruang dihatinya untuk Tama. Tawaran yang diberikan oleh rentenir kaya itu terlalu berat baginya.


Di luar kediaman Tuan Azego. Maria mendatangi bawahannya dan membisikkan sesuatu. “Biarkan dia masuk.” Bisik Maria kepada kedua pengawal pribadi bawahannya itu. Secara otomatis penjaga pintu masuk itu bergeser dan memberikan jalan masuk untuk tamu mereka.


“Fiuhhh!” Tama membuang nafasnya, ada kelegaan yang ia rasakan walaupun pakaiannya telah dibasahi oleh keringatnya. “Silahkan masuk tuan muda.” Maria tampak ramah mempersilahkan suami dari tahanannya.


Jelas terlihat kecantikan wanita hamil itu. Rambut panjang dan perut yang sedikit membuncit membuat tuan muda kebanggaan keluarga Harun melebarkan kedua sudut bibirnya. Sungguh kebahagiaan yang luar biasa ia rasakan karena telah lama tidak bertemu dengan istrinya lagi.


Maria dan dua orang lainnya ikut bergabung dalam formasi itu hingga Tama terlihat berdiri sendirian di depan mereka semua. Menyadari ada hal yang tidak beres, Tama menghentikan langkahnya yang berjarak sekitar lima meter dari formasi itu.


“Selamat datang pangeran tampan.” Tuan Azego melepaskan kacamata hitam yang ia pakai lalu memberikannya kepada Kirana. Tama pun mengernyit melihat pemandangan itu. Di dalam benaknya entah mengapa ia berkata akan jauh lebih baik jika pak tua itu memberikan kacamata hitamnya kepada Maria.


“Apa lagi ini, Azego?” Tanya Tama sembari melihat ke kiri hingga ke kanan memperhatikan para orang-orang kekar itu. “Apa lagi yang kau rencanakan?” Tama menekan semua gigi atasnya ke gigi bawahnya.


“Tidak ada, kami hanya ingin menyambut mu.” Kata Tuan Azego datar. “Jika hanya ingin menyambut ku, kau tidak perlu sedramatik ini, Azego!” Sahut Tama ketus. “Yah, kau benar. Hanya saja, sepertinya hari ini adalah hari keberuntungan ku lagi.” Tutur Tuan Azego yang kemudian mulai berdiri dan melangkahkan kaki untuk mendekati pewaris tunggal keluarga Harun.


Tap… tap… tap!


Langkah kaki rentenir kaya itu jelas terdengar. “Apa kau merindukan wanita mu?” Bisik Tuan Azego saat sampai dan berhadapan dengan tuan muda itu. Tama diam sambil menatap wanitanya dari kejauhan.


“Bagaimana Kirana? Apa kau ingin pulang dengan pria miskin ini? Atau kau ingin tetap berada di sini untuk menemani ku dengan bergelimang harta?” Teriak Tuan Azego agar semua orang di ruangan itu mendengarkan kalimatnya.


Tama mengernyit sambil membulatkan kedua bola matanya. “Apa kata mu? Kirana tinggal di sini bersama mu? Itu tidak akan terjadi.” Tama mendengus sambil menatap tajam kepada rentenir kaya itu.

__ADS_1


“Bukan kau yang memutuskannya tuan muda.” Potong Tuan Azego. “Biarkan Kirana yang memilihnya.” Tuan Azego berbalik arah untuk melihat Kirana dari jauh. “Kirana, kemari lah sayang.” Tuan Azego mengayunkan tangannya.


“Apa katamu? Sayang?” Sontak Tama menarik kerah baju dari Tuan Azego. Dengan sigap semua pengawal pribadi yang siap siaga itu mengepung dan masing-masing memegangi Tama. Ada yang memegangi tangannya, kaki, bajunya, celananya, kepalanya, rambutnya, leher dan semua anggota tubuh lainnya yang bahkan tidak bisa dibagi-bagi karena banyaknya pengawal pribadi yang sedang menanganinya.


Wanita hamil itu berjalan menuju ke tempat Tama yang sedang tidak berkutik sama sekali. “Kau memilih tinggal di sini bukan?” Tuan Azego ingin memastikannya lagi.


Kirana terdiam. “Habisi dia!” Perintah Tuan Azego saat melihat keraguan di mata Kirana. Rentenir kaya itu ingin membuktikan perkataannya yang mengatakan bahwa hanya ada nyawa yang akan ia sisakan untuk ayah dari sang bayi yang tengah dikandung oleh Kirana.


Gedebuk, bug, plang!


Bagaikan maling yang ketangkap basah, Tama dikeroyok dan dihabisi dengan puluhan pengawal pribadi Tuan Azego. “Bagus Kirana. Jangan menjawab pak tua itu.” Dengan susah payah Tama mencoba timbul di tengah keroyokan itu lalu kembali tenggelam karena ditarik dan dipukuli lagi.


Wanita hamil itu mematung, air mata mengalir membasahi kedua pipinya tapi tidak dengan suaranya. Ada sesak dalam dadanya yang sedang ia tahan, ia tak sanggup melihat suaminya dipukuli seperti itu tetapi ia juga tidak sanggup terus berada di kediaman orang yang tak punya belas kasih seperti Tuan Azego.


“Kirana, lebih baik putuskan segera sebelum terlambat.” Tuan Azego mencoba mendesak wanita hamil yang diam-diam telah ia sukai. Pria mana yang tak jatuh hati kepada kecantikan natural yang dipancarkan oleh Kirana. Untung saja Maria seorang wanita, jika ia seorang pria sama seperti saudara kembarnya, mungkin ia akan bertindak lebih jahat dibandingkan Mario.


“Ki..” Tama muncul lalu menghilang lagi. “Arghh…” Rintih Tama saat belasan pukulan mendarat di sekujur tubuhnya. “Kirana, aku rela mati asal kau tidak bersama pak tua itu!” Teriak Tama sekuat tenaga.


“Hentikan!” Teriak Kirana. Akhirnya ia angkat bicara setelah hanya air mata yang bisa ia keluarkan. “Hentikan.” Sambung Tuan Azego. Seketika semua pengawal pribadi itu menjauhi tuan muda yang telah babak belur tersebut.


Tama berdiri dengan susah payah, sedikit oleng. Sebelah mata dari tuan muda itu tak dapat terbuka karena bengkak. Bajunya compang-camping dan robek. Celana yang tadinya panjang kini berubah menjadi pendek sebelah karena terlepas saat ditarik-tarik oleh mereka yang berseragam hitam pekat itu.


“Apa kau memutuskan untuk tinggal bersama ku Kirana?” Tuan Azego melangkah perlahan mendekati wanita hamil itu. Ia sempat membelai lembut rambut Kirana dan hal itu berhasil membuat seluruh bulu kuduk wanita hamil itu berdiri.


“Ja… jangan menyentuhnya!” Tama mengambil tempat berdiri di depan Kirana. Ia menghalangi rentenir kaya itu untuk menyentuh istrinya lagi. “Ha! Kau bisa apa tuan muda. Berjalan saja kau sudah tidak sanggup!” Tuan Azego mendengus sambil mengejek Tama.


“Bahkan nyawa pun bisa aku korbankan hanya untuk melindunginya pak tua!” Bentak Tama.


Deg!


Jantung Kirana seakan berhenti. Kalimat itu berhasil membuatnya tertegun. Melihat kondisi suaminya yang tak sanggup lagi bertahan ternyata masih memiliki semangat yang besar untuk memperjuangkan dirinya.


“Kirana, ku mohon, jangan memutuskan untuk tinggal di sini. Apapun akan ku lakukan untuk mu.” Seakan memohon Tama menyentuh kedua pipi istrinya. Pipi mulus nan putih itu ternoda dengan darah segar dari tangan suaminya yang terluka akibat penganiayaan tersebut.


“Maria, berikan aku pisau.” Bisik Tuan Azego kepada kepala pengawal pribadinya. Maria pun menunduk dan menaikkan kain celananya. Ia mengambil pisau kecil yang tersimpan di dalam sepatu hitam miliknya yang setinggi setengah betis. Secara diam-diam, Maria menaruh pisau itu ke tangan rentenir kaya itu.


“Kau akan mati Tama!” Tuan Azego menyodorkan pisau itu tepat di leher putra kesayangan Tuan Harun. “Tidak!” Sentak Kirana yang dengan cepat bertukar tempat dengan suaminya. “Kau…” Tuan Azego terkejut saat melihat pisau yang sodorkannya ternyata tepat ke lehar wanita yang ia sukai.


“Kau bunuh saja aku.” Kedua tangan Kirana memegang lengan tangan rentenir kaya itu. Ia menarik paksa tangan Tuan Azego agar segera menusuk lehernya. Tetapi pak tua itu enggan untuk melakukan hal tersebut.

__ADS_1


“Tidak Kirana jangan!” Serentak, Tuan Azego dan Tama berteriak secara bersamaan saat tiba-tiba Kirana berhasil menarik dengan cepat tangan rentenir kaya itu dan pisau tersebut berhasil mengenai tepat ke lehernya hingga meneteskan darah segar.


__ADS_2