
Flashback on
Setelah menaiki lift, lift yang dimasuki oleh Mario berhenti dan ia bertemu dengan seorang pemuda yang membawa alat kebersihan lengkap. Ia tak lagi menekan nomor yang tertera di samping pintu lift karena tujuan pemuda itu di lantai yang sama dengan tujuan Mario.
“hey…” Mario mengawali percakapan itu dengan menegur pemuda itu lebih dulu. Pemuda itu langsung saja menoleh dan melihat kepada Mario. “apa kau OB di apartemen ini?” tambah Mario. “tidak, aku housekeeping dari perusahaan lain.” jawab pemuda itu datar.
“apa kau bisa membantuku?” tawar Mario. Pengawal pribadi Tuan Harun itu mengeluarkan sepuluh lembar uang merah dan langsung mengambil tangan pemuda itu dan meletakkannya pada telapak tangan pemuda tersebut.
“apa maksudmu pak?” pemuda itu nampak bingung namun entah mengapa dengan menggenggam uang sebanyak itu membuatnya berpikir bisa santai tak bekerja selama satu minggu.
“kau ambil saja, itu untukmu. Tetapi aku butuh bantuanmu Vindra.” Mario bisa mengetehui nama pemuda itu dengan sekali lirik melihat namanya yang ada pada seragamnya. “apa yang bisa aku bantu pak?” kata Vindra kemudian uang satu juta itu ia simpan pada kantong celananya.
“bisakah kau pergi ke apartemen ini dan berpura-pura datang untuk membersihkannya.” Mario memberikan selebaran kertas nomor apartemen milik Riyanda. “oh ini, aku sering membersihkan apartemen ini. Pemilik dari apartemen ini adalah pelangganku yang sangat royal di sini.” Vindra menunjuk kertas itu.
“rupanya seperti itu. Kalau begitu aku akan menyimpan kertas ini.” Mario mengembalikan kertas itu ke kantong bajunya. “apa yang kau butuh aku lakukan pada pemilik apartemen itu?” kini Vindra terlihat sedikit penasaran.
“begini, pemilik apartemen itu menghilang dan kami sedang mencarinya karena suatu urusan keluarga, jadi jika kau ke sana dan membersihkan apartemen lalu bertemu dengan pemilik apartemen, bisakah kau menghubungiku?” Mario membuka ponselnya dan meminta ponsel dari Vindra. Pemuda itu pun memberikan nomor ponselnya dan mereka berdua saling bertukar nomor telepon.
“aku akan memberikanmu lagi uang sebanyak yang ku berikan tadi kepadamu asalkan kau memberikan informasi yang cepat dan akurat.” Pesan Mario, lalu ia mengembalikan ponselnya itu ke kantong bajunya begitupun dengan Vindra.
“baiklah.” Vindra mengangguk dan tersenyum. “oh ya satu lagi, aku akan mengikutimu dan memantaumu dari jauh untuk hari ini. Aku ingin tahu siapa yang ada di dalam apartemen itu sekarang.” Lift yang mereka naiki terbuka dan ada dua orang penghuni lain yang masuk.
“bukankah kau hanya membutuhkan mengetahui informasi pemilik apartemen. Dia tidak ada hari ini. Aku sudah di pesan beberapa hari yang lalu untuk membersihkan apartemen itu hari ini.” Terang Vindra.
“apa kau kenal dengan pemilik apartemen itu?” Mario berbicara sambil berbisik. Seketika Vindra tersenyum geli. “bisakah kau tidak berbisik.” Vindra membalas bisikan dari Mario. “hmm..” seketika Mario memperlihatkan wajah garangnya seraya berkata suatu penolakan dari reaksi pemuda itu kepada Mario.
__ADS_1
Vindra hanya bisa menjauh dengan ekspresi jengkel. Ia menjaga jaraknya sekarang dan tak mau lagi berbicara dengan pria garang itu. Kemudian lift itu terbuka pada lantai di mana apartemen RIyanda berada. Mario dan Vindra keluar bersama, dua orang yang masuk belakangan masih berdiri di dalam lift hingga pintu lift itu tertutup kembali.
“sini kau.” Mario menarik kasar lengan Vindra membawanya ke sudut koridor. “hey ada apa denganmu?” Vindra tampak kesal dengan tangan yang digenggam keras oleh Mario. Walaupun Vindra seorang lelaki, tetap saja tenaganya tidak bisa mengalahkan tenaga pria besar dan garang itu.
“aku tahu kau seorang LGBT oleh karena ada satu tugas tambahan untukmu.” Kedua bola mata hitam Mario berputar dan mengarah ke lambang Pelangi yang pemuda itu pakai. “Bisakah kau pastikan pria yang ada di dalam apartemen itu normal atau ia sama denganmu.” Mario memberikan lagi pemuda itu uang kertas yang berwarna merah sebanyak lima lembar.
Gegas Vindra mengambilnya dengan cepat dan mengangguk kemudian dia pergi setelah dilepaskan oleh Mario. Mario tidak meninggalkan tempatnya dan hanya menunggu sembari mengawasi gerak gerik dari Vindra.
“dasar pria gila. Kenapa tidak kau saja yang langsung ke apartemen itu hey pria jelek.” Umpat Vindra saat berlalu meninggalkan Mario.
Flashback off
Walaupun Vindra beranjak lebih dulu dari sofa itu, namun Tama mendahuluinya untuk membuka pintu.
Ceklek.
“ku rasa Riyanda tidak pulang hari ini.” Tama berbalik badan dan meninggalkan pintu. Vindra yang melihat dan mendengarkan Tama yang berkata-kata sendiri mengambil bagian untuk membuka pintu yang kedua kalinya.
Vindra memperhatikan ke sekitar koridor itu dan ia melihat Mario yang sedang menatap garang kepadanya. Gerkkk… ponsel Vindra bergetar. Ia lekas memeriksa ponselnya. Ada sebuah pesan dari Mario yang masuk.
“kenapa kau lama sekali, apa pemilik apartemen telah kembali?” isi pesan tersebut. “ku rasa dia tidak datang hari ini, padahal beberapa hari yang lalu ia bilang kepadaku akan datang hari ini dan menyuruhku untuk membersihkan apartemennya. Oh ya, pria yang kau pikir LGBT itu, dia bukan seseorang yang seperti itu, aku mamastikan itu.” isi pesan balasan Vindra.
Mario terus melihat ponselnya menunggu balasan pesan Vindra. Setelah Vindra membalas pesan tersebut dan dibaca olehnya ia langsung meninju dinding tempatnya berdiri. “sial! Jika Tama tidak mempunyai penyakit LGBT, maka kupastikan ia bisa menyentuh Kirana lebih dulu.” “egrhh..” Mario mengerang jengkel dan meninju lagi dinding keras itu.
Ponsel Mario bergetar, ada panggilan suara saat ini. “halo Tuan?” Mario mengangkat panggilan dari Tuannya yaitu Tuan Harun. “Mario, apa kau sudah menemukan Tama dan Kirana?” suara Tuan Harun terdengar tergesa-gesa pada panggilan tersebut.
__ADS_1
“iya benar Tuan. Mereka berdua sedang berada di apartemen milik Riyanda sekarang.” Jawab Mario dengan menatap tajam ke dinding. Ia seakan ingin menghajar Tama sekarang juga. Jika saja Tama bukan anak Tuan Harun, mungkin Mario akan membuatnya hilang selamanya. Ia begitu terpikat dengan tubuh dan aroma tubuh Kirana.
Kirana berhasil membuat Mario tak bisa tidur dengan nyenyak pada malam hari dan itu akan hilang jika Mario berhasil mencicipi bagaimana rasanya meniduri Kirana.
“apa yang mereka berdua lakukan di sana?” pertanyaan Tuan Harun disertai dengan bentakan keras. Mario menjauhkan benda pipih yang menempel pada kupingnya itu karena mendengar hentakan suara yang cukup keras pada panggilan suara tersebut.
“ku rasa mereka sedang mencari Riyanda secara diam-diam Tuan.” Mario menelepon sambil berjalan meninggalkan koridor itu dan memencet tombol lift. Ia berencana untuk pergi meninggalkan gedung itu.
“untuk apa mereka berdua mencari Riyanda secara diam-diam?” Tuan Harun kembali bertanya. “saya juga tidak tahu Tuan.” Sahut Mario pada panggilan suara itu. Setelah Mario menjawab Tuannya, panggilan itu pun terputus. Mario telah sampai di parkiran dan masuk ke mobil untuk pulang ke kediaman keluarga Harun.
Sementara itu, Vindra menutup kembali pintu apartemen itu. Kirana hampir menyelesaikan masakannya.
“hmm bau harum apa ini?” Tama menghirup dalam aroma masakan dari Kirana. “wah aku tak menyangka kau pandai memasak.” Tama merasakan getaran lapar dari perutnya. Rasanya ia tak sabaran untuk menyantap makanan yang sedang di masak oleh istrinya.
Kirana tak menghiraukan suaminya, ia hanya terus memasak sambil menunggu kedatangan Vindra. “hey Vindra, siapa tadi yang datang?” Kirana sangat berharap bahwa yang memencet bel tadi adalah ibunya. “tidak ada siapa-siapa. Mungkin hanya orang iseng.” Sahut Vindra, padahal ia jelas mengetahui bahwa yang memencet bel tersebut adalah Mario yang ia belum tahu namanya.
Kirana menghela nafas kasarnya. “sebenarnya kau di mana ibu?” kirana menyeru dalam hati. Ketiga orang itu makan siang bersama dengan hening. Kirana dan Tama ada dalam pemikiran yang sama yaitu tentang keberadaan Riyanda. Sedangkan Vindra merasa tidak enak bergabung diantara keduanya.
30 menit berlalu makan siang itu selesai. Vindra merasa tidak enak hati karena telah di ajak makan bersama padahal dia bukan dari level yang sama. “biarkan saja Nyonya.” Vindra menghentikan Kirana yang mencoba membereskan meja makan itu. “biar aku yang membereskan dan membersihkan semua ini. Aku harus berterima kasih karena telah di ajak makan bersama kalian.” Tambah Vindra.
“baiklah.” Kirana memang merasa lelah dengan semuanya hingga ia membiarkan Vindra melakukannya sendiri begitu saja. Kirana duduk menjauh di dalam kamar set ibunya. Ia duduk menyamping pada kasur itu sambil memikirkan ibunya. Begitu pula dengan Tama ia duduk sendiri di sofa serta melamunkan Riyanda.
Vindra membereskan meja makan, membawa piring dan gelas kotor serta yang lainnya ke dalam westafel tempat cuci piring. Ia membersihkan meja makan terlebih dahulu, setelah bersih ia melanjutkannya dengan mencuci piring.
Vindra mencuci piring sambil bernyayi lagu barat yang entah apa artinya. Pronountation atau pengucapan bahasa asingnya cukup parah hingga tidak bisa dikenali bahwa bahasa apa atau lagu apa yang sedang ia nyanyikan.
__ADS_1
Pemuda housekeeping itu membilas piring dan gelas serta lainnya lalu meletakkannya pada tempatnya. Dia menarik pintu bawah tempat menaruh piring yang telah bersih tercuci namun ia menemukan sebuah kaki yang menggunakan higheels berwarna putih.
“Arghhh…..” Vindra berteriak histeris dan terduduk mundur. Seketika Kirana dan Tama berdiri bersamaan dan berlari menuju ke tempat Vindra.