Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 71


__ADS_3

Ada goresan luka di leher Kirana hingga mengeluarkan darah yang banyak. “Arghhh…” Rintih Kirana sambil memegangi lehernya yang dipenuhi dengan darah.


“Kirana…” Gegas Tama menimang istrinya yang jatuh ke belakang. “Oh tidak! Ini tidak mungkin.” Tuan Azego memegangi kepalanya dengan kasar. “Itu bukan perbuatan ku. Aku… aku mencintai mu Kirana.” Rintih Tuan Azego yang perlahan mendekati Kirana untuk segera memeluknya.


“Hentikan Azego! Ini jelas karena perbuatan mu dan kau masih saja tidak merasa bersalah.” Sentak Tama dengan tatapan mata yang membunuh. “Bukan, bukan begitu. Arghhh…” Tuan Azego berteriak.


Rentenir kaya itu sungguh merasa panik.


Bug, bug, bug.


Berkali-kali Tuan Azego memukul dadanya dengan keras. Ia berlutut sambil menangis terseduh. “Maafkan aku Kirana, aku tidak bermaksud untuk—” Kalimat Tuan Azego terhenti saat dipotong oleh Tama.


“Hentikan tangisan mu yang tidak berguna Azego. Cepat antar kan kami ke rumah sakit. Aku tidak ingin istriku mati sia-sia di rumah sial ini.” Bentak Tama. Ia berusaha berdiri dan mengangkat istrinya namun usahanya gagal karena dirinya pun telah terluka parah.

__ADS_1


“Maria, cepat lakukan apa yang dikatakan oleh Tama. Cepat bawa dua orang ini ke rumah sakit.” Teriak Tuan Azego. Sungguh ia seperti orang yang sangat marah. “Baik tuan.” Sahut Maria singkat.


Bergerak cepat, Maria mulai menuyuruh pengawal pribadi bawahannya untuk masing-masing menopang dan membawanya baik itu Kirana ataupun Tama. Sementara itu Maria berlari sekuat tenaga untuk segera pergi ke garasi untuk mengambil mobil yang dimiliki oleh Tuan Azego.


“Ayo cepat!” Maria melambai kepada bawahannya saat melihat pengawal pribadi itu membawa Kirana dan Tama. “Cepat! Kalian sangat lamban.” Bentak Tuan Azego yang berada di belakang pengawal pribadi yang menopang Tama dan Kirana berjalan.


Keduanya masuk ke dalam mobil dan segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Tuan Azego mengikuti mobil yang ditumpangi oleh Kirana dan Tama dengan menggunakan mobil yang lain. Mobil yang ditumpangi oleh Tuan Azego mengikuti laju mobil yang ditumpangi oleh Tama beserta istrinya.


Dengan kondisi yang sekarat dan babak belur. Satu mata Tama melirik tiga orang anak buah Tuan Azego yang sedang bersamanya. Ketiganya tampak sibuk melihat ke kaca depan mobil. Mereka bertiga sedang focus melihat arah jalan yang menuju rumah sakit terdekat.


“Kau kenapa Tama?” Tanya Maria saat menyadari ada pergerakan di sampingnya. Matanya seakan membunuh saat berkata demikian. “A… aku merasakan sakit jika tidur telentang jadi aku merubah posisi tidur ku.” Jawab Tama terbata.


“Dasar kau tuan muda yang manja.” Umpat Maria kemudian kembali melihat jalanan pada kaca depan mobil tersebut. Kirana yang masih memegang erat lehernya memilih berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa.

__ADS_1


Melihat situasi yang sudah aman, jari-jari yang telah kaku karena sakit itu mulai mengetik sebuah pesan. Setelah terkirim gegas Tama menghapus dengan cepat pesan tersebut.


Derkk…


Settingan telepon genggam yang dimiliki oleh Tama ternyata bergetar saat melakukan penghapusan pesan.


“Suara apa itu?” Maria mengernyit. Pengawal pribadi bawahannya langsung siaga mencari asal muasal getaran telepon genggam tersebut. “Ini tuan.” Kata salah seorang dari bawahan Maria yang berhasil menemui telepon genggam milik tuan muda itu.


“Apa yang kau lakukan ha?” Maria membentak Tama sambil memegangi kedua pipinya dengan satu tangan hingga mulut dan bibir Tama terlihat manyun dan maju ke depan. “Aku baru saja ingin menggunakannya.” Bantah Tama dengan suara yang tidak begitu jelas namun dapat dimengerti oleh Maria.


“Aku tidak akan membiarkannya.” Plak! Maria menginjak telepon genggam itu sampai hancur. “Kau sungguh bodoh!” Umpat Maria kemudian ia tak lagi memperdulikan tuan muda satu itu.


Bukannya bersedih, tuan muda itu malah menarik kedua sudut bibirnya. “Kau malah sangat membantu ku dengan menghancurkan telepon genggam itu Maria. Dengan begitu, barang bukti aku mengirim pesan kepada Flo telah hancur bersamaan dengan hancurnya telepon genggam pemberian dari tuanmu.” Tama sumringah. “Ishhh…” Tama pun merasakan sakit pada pipinya karena tersenyum senang. Pipi itu bengkak dan lebam akibat aniaya yang diperintahkan oleh Tuan Azego.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit pada ruang Unit Gawat Darurat (UGD). “Dokter, cepat tangani pasien ini.” Kata Tuan Azego yang sangat panik mendampingi Kirana. Tuan muda itu dibiarkan berjalan pincang sendiri sambil memegangi tangan kirinya yang terluka parah.


__ADS_2