
Sementara itu, setelah film romantis yang ditonton Maria bersama dengan pengawal pribadi yang lain selesai, mereka langsung berdiri untuk meregangkan otot. “Tuan, mereka hilang.” Seorang bawahan Maria yang baru menyadari bahwa orang yang seharusnya yang mereka awasi sudah hilang.
“Bagaimana bisa mereka kabur? Apa yang kalian kerjakan sejak tadi.” Maria menampar anak buahnya yang menyampaikan informasi tersebut. “Ka… kami sedang menonton tadi.” Jawab pengawal pribadi yang lain. “Ah kalian sama saja. Sekarang lekas cari dua orang itu.” Bentak Maria. Kemudian semuanya bergegas keluar untuk mencari sepasang suami istri tersebut.
Secara berpencar, mereka berlarian memeriksa satu persatu theater yang ada di bioskop itu. “Maaf tuan, kami tidak menemukan mereka.” Laporan dari anak buah Maria. “Cekkk!” Maria berdecak kesal. “Mereka tidak ada di bioskop ini.” Terangnya. “Cepat cari di seluruh tempat ini.” Perintah Maria saat keluar dari bioskop tersebut.
Kembali para anak buah Tuan Azego mencari keberadaan Kirana dan Tama pada pusat perbelanjaan itu. Namun sayangnya, usaha mereka sia-sia karena tak jua menemukan sepasang suami istri tersebut.
“Huff… kami tidak menemukan mereka tuan.” Kata anak buah Maria yang tampak kelelahan setelah mencari tawanannya ke sana ke mari. “Ayo kita ke mobil, kita harus mengejarnya. Mereka sudah pergi dari tempat ini.” Ajak maria kepada pengawal pribadi bawahannya.
Di dalam perjalanan menuju parkiran mall. Maria mengambil ponsel pada saku bajunya. “Halo tuan…” Ucap Maria saat panggilan suara yang ia lakukan berhasil masuk dan diangkat oleh tuannya.
“Ada apa Maria?” Sahut Tuan Azego pada panggilan suara itu. “Kirana kabur tuan. Maafkan saya tuan. Saya mohon maafkan saya.” Maria mengucapkan kalimat itu dengan keringat dingin yang bercucuran di wajahnya.
“Apa kata mu? Kirana kabur? Itu tidak mungkin.” Bentak Tuan Azego. “Tapi benar, kami telah kehilangan Kirana dan Tama.” Sahut Maria lagi dengan rasa yang bersalah. “Hm… Tama kau bilang?” Kata Tuan Azego. Akhirnya ia pun mengingat sesuatu.
“Ahhh ternyata itu. Kirana tidak hilang Maria! Dia saat ini sedang bersama dengan suaminya.” Gegas Tuan Azego mendekati box hitam yang ada di atas meja karena saat ia mengangkat panggilan Maria dia sedang berdiri untuk keluar ruangan.
“Maria, menurut lokasi GPS yang ada di layar ini, saat ini mereka sedang berada di daerah pantai.” Terang Tuan Azego setelah berhasil melihat lokasi dari tahanannya itu. “Baik tuan, kami akan segera ke sana.” Gegas Maria memberikan kode kepada anak buahnya untuk bergerak.
“Maria…” Panggil Tuan Azego pada panggilan suara yang belum terputus itu. “Kau awasi saja mereka. Jangan meminta Kirana untuk pulang. Berikan saja mereka waktu selama yang mereka mau. Kau cukup mengawasinya dari jauh dan jangan sampai mereka menyadari team mu itu.” Jelas Tuan Azego.
“Yang terpenting adalah jangan sampai Kirana dibawa pulang ke kediaman Harun. Mereka hanya boleh berjalan-jalan saja lalu Kirana pulang ke rumah ini.” Tambahnya lagi. “Baik tuan.” Sahut Maria kemudian panggilan suara itu terputus secara tiba-tiba.
Saat Maria sampai ke pantai tersebut, ia tak menemukan sepasang suami istri yang sedang ia cari. “Ck… kemana lagi mereka.” Maria berdecak kesal. “Kau!” Tunjuk Maria kepada anak buahnya. “Cepat cari ke sana.” Tunjuk Maria ke sebelah kanan. “Dan kau!” Maria menujuk lagi anak buahnya yang lain. “Cepat cari mereka ke sana.” Maria menunjuk ke sebelah kiri hingga semua anak buahnya terbagi menjadi dua dan mulai mencari lagi keberadaan Kirana dan Tama.
Maria berjalan maju ke depan dengan tenang. Pikirannya dipenuhi dengan bagaimana caranya ia menemukan tawanannya itu dengan cepat. Namun, ketika ia melihat desiran ombak yang tenang. Angin sepoi-sepoi yang menabrak kulit wajahnya membuatnya mengingat sesuatu.
“Maria…” Tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya dari belakang. Sontak Maria dengan cepat menangkap tangan itu dan membalikkan tangan tersebut hingga membuat orang itu kesakitan. “Auu…” Teriak Tama saat tangannya terasa sangat sakit karena hampir patah.
“Lepaskan Maria.” Kirana lekas memegang tangan suaminya dan menatap Maria penuh dengan kemarahan. “Itu salah mu yang menyentuh ku secara tiba-tiba.” Maria melepaskan tangan tuan muda itu walaupun masih dengan ekspresi yang marah.
“Kenapa kau ke mari?” Tanya Tama datar. Maria mendengus. “Ya tentu karena kami mencari mu.” Sahut Maria ketus. “Ya kau benar.” Kirana menyetujui jawaban yang dilontarkan oleh Maria. “Pertanyaan mu sungguh tidak penting Tama.” Kirana memutar balik badannya dan berjalan dengan santai untuk kembali menikmati indahnya pemandangan alam dari pantai itu.
“Apa kau ingin pulang?” Tama mengejar Kirana dan berjalan bersama. “Tidak.” Jawab Kirana singkat. “Tetapi sepertinya mereka telah menjemput mu.” Terang Tama yang kemudian menggandeng tangan istrinya lagi.
“Sepertinya tidak. Aku merasa akhir-akhir ini jika aku bersama mu, Tuan Azego membiarkan kita.” Kata Kirana sambil melirik Tama. “Kau benar. Memang kita dibiarkan bersama.” Tama tersenyum senang walaupun di dalam kepalanya ia sedang memikirkan lagi uang yang harus ia keluarkan demi bersama dengan istrinya.
__ADS_1
“Setelah ini kau ingin mengajakku ke mana lagi?” Kirana tersenyum. “Hm…” Tama berpikir sambil melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. “Ku rasa cukup. Aku harus menemani ibu lagi di rumah.” Kata Tama yang berusaha tersenyum karena di dalam hatinya ia masih terus ingin bersama dengan Kirana.
“Dan aku butuh istirahat. Ini hari yang panjang bagiku.” Kirana melihat langkah kakinya pada pasir itu. “Baiklah, kalau begitu akan ku antar kau ke mobil.” Tiba-tiba Tama menggendong Kirana. “Tama?” Ucap Kirana terkejut dengan aksi tak terduga dari suaminya itu.
“Kenapa kau menggendongku?” Tanya Kirana dengan pipi yang merona. “Bukan kah kau butuh istirahat? Maka aku menggendong mu. Aku tidak ingin kau kelelahan hanya karena aku yang mengajak mu untuk pergi bersama.” Tama tersenyum kemudian melirik ke sekeliling mencari sosok seseorang. Kirana yang kini pipinya sedang merona makin memerah saja mendengar perkataan suaminya.
Dengan posisi wajah yang begitu dekat karena dirinya digendong ala Cinderella, jantung yang tadinya berdetak normal menjadi berdetak begitu cepat seakan Kirana sedang berada di atas kereta rolling coaster.
“Itu dia.” Gumam Tama saat berhasil melihat sosok yang dicarinya. “Di mana mobil mu Maria?” Tanya Tama to the point. Melihat kemesraan yang ditunjukkan Tama kepada istrinya membuat Maria membulat matanya. Ia tidak pernah menyangka akan melihat momen itu di depan mata kepalanya sendiri.
“Ikut dengan ku.” Saat berhasil sadar dari lamunan yang sebentar itu. Lalu mereka bertiga menuju mobil van yang digunakan oleh Maria bersama dengan anak buahnya yang lain. Ada tiga mobil di sana. Maria menuju ke mobil yang paling berwarna hitam dan mengkilap.
“Masuklah.” Ujar Tama saat dibukakan pintu oleh Maria. Ia meletakkan Kirana dengan perlahan. “Tunggu sebentar.” Pesan tuan muda itu kemudian berlari menuju mobil pribadinya dan kembali dengan membawa sesuatu.
“Jangan lupakan ini.” Tama memasangkan flat shoes yang dilepaskan Kirana pada mobil pribadi milik keluarga Harun. “Saat sampai di rumah, kau harus langsung tidur dan istirahat. Jangan lupa untuk terus makan.” Tama mengusap lembut rambut istrinya. “Cup…” Ia pun mengecup kening istrinya.
Deg!
Kirana berhasil terdiam seribu bahasa dengan apa yang barusan dilakukan oleh suaminya. Mengecup kening secara tiba-tiba dan semua pelayanan Tama kepada dirinya yang bagaikan ratu. Itu membuatnya tak berkutik untuk tidak melupakan momen yang tak disangka-sangkanya tersebut.
“Apa kau sudah selesai tuan muda?” Maria memutar kedua bola matanya. Adegan yang tadinya cukup romantis baginya kini menjadi menyebalkan karena tuan muda itu membuatnya menunggu serta menyaksikan semuanya.
Tama berdiri menyender pada mobil mewah yang ditumpanginya. Sambil melipat tangan di atas dada, ia tak berkedip untuk memastikan mobil yang tumpangi oleh Kirana pergi dengan selamat. Setelah mobil yang ditumpangi istrinya tersebut tak dapat ia lihat lagi karena sudah pergi terlalu jauh, akhirnya ia pun membuka pintu mobilnya dan masuk.
“Halo tuan muda. Apa kau sudah bersenang-senang hari ini?” Di dalam mobil yang telah ia hidupkan mesinnya sebelumnya, Tama mendengar suara berat yang tak asing lagi di telinganya yaitu suara Tuan Azego.
“Berapa menit yang ku habiskan dengannya?” Tama to the point sambil melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangannya.
“Cukup lama, dan itu membuatku senang. Kau menghabiskan waktu seharian bersamanya Tama, dan itu memakan waktu 7 jam.” Terang Tuan Azego. “Apa selama itu?” Tama berpikir, waktu yang dilaluinya bersama dengan Kirana terasa singkat.
“Lalu berapa total uang yang harus ku berikan kepada mu lagi?” Tama to the point. “Hahaha…” Tuan Azego tertawa terbahak-bahak. “Aku mulai menyukaimu tuan muda. Kau lebih penurut sekarang, dan yang paling ku senangi adalah kau menjadi asset hidupku sekarang. Kau adalah ATM yang bisa berjalan. Hahaha…” Tuan Azego terus tertawa terbahak-bahak.
Tama berekspresi tidak senang, namun ia juga tidak bisa mengelak dari permainan yang diciptakan Tuan Azego pada keluarganya.
“7 jam dikalikan 60 menit adalah 420 menit. 420 menit dibagikan dengan 10 menit hasilnya adalah 42. Maka 42 dikalikan dengan 200 juta rupiah hasilnya adalah 8.400.000.000 juta rupiah atau 8,4 Milyar Tama.” Tuan Azego terkekeh.
“APPAAA?” Tama menahan nafasnya. Ia tidak menyangka bisa menghabis uang keluarganya sebanyak itu. “Ini memang gila. Dan kau juga telah gila Azego.” Tama berdecak kesal. “Ini bukan hal gila tuan muda. Kau lah yang meminta tawaran itu. 10 menit 200 juta, kau ingat? Hahaha…” Tuan Azego tertawa penuh dengan kemenangan.
__ADS_1
“Aku akan menunggu uang itu sampai besok pagi. Jika tidak kau berikan, jangan harap kau bisa bersamanya lagi minggu depan.” Lalu suara berat itu tak lagi terdengar.
Tama mengusap rambutnya dengan acak. Menjadi pengganti ayahnya bukan membuat perusahaannya makin jaya tetapi malah semakin menghabiskan harta ayahnya hanya demi seorang wanita yang mungkin telah ia cintai.
Tak mau banyak pusing, ia pun menginjak pedal gas mobilnya dan pulang dengan melaju kencang.
Sesampainya di rumah.
“Sayang… dari mana saja kau hari ini?” Tanya Nyonya Bella saat melihat anaknya datang dengan wajah dan rambut yang berantakkan. “Aku baru saja pulang dari pantai.” Jawab Tama datar sambil berjalan menuju kamarnya. Nyonya Bella pun mengikuti langkah itu.
“Pantai? Untuk apa kau ke sana sendirian?” Tanya Nyonya Bella terheran. “Aku hanya ingin menghirup udara segar ibu.” Tama pun masuk ke dalam kamarnya tanpa menutup pintunya karena ada ibunya yang terus mengikutinya dari belakang.
“Oh ternyata seperti itu. Baiklah sayang, mungkin kau lelah. Silahkan beristirahat.” Nyonya Bella meninggalkan putranya sendirian pada ruang tidurnya.
“Ahhh…” Tama menghela nafas panjangnya sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk itu. ia memandangi langit-langit dengan kepala yang sangat berat karena uang yang harus ia bayarkan kepada Tuan Azego sungguh fantastis jumlahnya. Tetapi saat mengingat momen ia telah memanjakan Kirana, ia pun senyum-senyum sendiri. Karena merasa malu, ia bahkan mengambil bantal dan menutupi seluruh wajahnya dengan bantal tersebut.
*
*
“Letakkan saja di lantai itu.” Perintah Maria kepada pengawal pribadi bawahannya yang membawa semua barang belanjaan dari tawanannya. “Terima kasih.” Kata Kirana kepada pengawal pribadi Tuan Azego yang telah berbaik hati membawa barang belanjaannya.
“Nanti akan ada makanan diantarkan ke kamar ini seperti biasa.” Pesan Maria sesaat sebelum ia keluar dari kamar itu dengan anak buahnya yang lain. Setelah pintu itu terkunci rapat, Kirana mengambil kantong belanjaan itu satu persatu. Ia membuka dan memakai baju itu satu persatu di depan cermin sambil tersenyum senang.
Setelah mencoba semuanya, ia pun mulai membereskan baju-baju itu dengan melipat dan merapikannya di dalam lemari. Ia terpaksa mengeluarkan baju-baju lama pemberian dari Tuan Azego karena lemari yang ada di kamar itu cukup kecil dan tidak bisa menampung semua baju miliknya.
Kring… kring… kring…
Telepon rumah tanpa kabel itu berdering. Kirana meraihnya dari atas nakas dan mengangkat panggilan suara itu. “Ada apa Azego?” Kirana to the point sambil menatap tajam ke lantai seakan orang yang sedang meneleponnya itu berada di lantai itu.
“Apa kau senang nona manis? Ku lihat ada banyak pakaian dan sepatu yang dibelikan oleh suami mu.” Tuan Azego terkekeh. “Jika kau sudah tahu, untuk apa kau bertanya lagi pak tua.” Sahut Kirana ketus. “Wah-wah, ternyata kau tidak menghargai niat baikku yang sudah membiarkan mu berduaan bersama dengan ayah dari anak mu itu.” Kata Tuan Azego.
“Ku rasa itu bukan bentuk niat baik mu. Apa yang sedang kau lakukan kepada Tama? Apa yang membuat mu membiarkan kami bersama hari ini. Aku tidak percaya jika itu hanya sebuah niat baik dari Tuan yang bernama Azego.” Kirana berbicara sambil menggerakkan kepalanya seakan mengejek rentenir kaya itu.
Prok… prok… prok…
“Hahaha…” Tuan Azego tertawa lepas sambil bertepuk tangan. “Ini semakin menarik saja Kirana. Kau berhasil mengetahui niat terselubungku tanpa harus ku beritahu. Kau memang wanita yang cerdas. Tapi ya sudahlah. Aku tidak ingin menggangggu wakut istirahatmu.” Tutur Tuan Azego.
__ADS_1
“Jika kau ingin berbicara denganku, kau cukup menekan angka nol pada tombol di telepon itu.” Tambahnya lagi. “Untuk apa aku menghubungi mu pak tua.” Sahut Kirana ketus. “Kau akan menghubungiku. Ingat itu.” Pesan Tuan Azego kepada Kirana yang kemudian panggilan suara itu di tutup oleh rentenir kaya tersebut.