Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 15


__ADS_3

Kirana memegang kepalanya, badannya terasa lemas dan pegal-pegal. Ia membuka matanya perlahan, ia melihat langit-langit kamar barunya yang megah itu. “aku dimana?” gumamnya. Kirana mencoba untuk bangun dan duduk dikasurnya, ia merasakan rasa sakit pada alat vitalnya.


Karena merasa kesakitan, Kirana pun menyempurnakan kesadarannya. “Arghhhh…..” Kirana berteriak histeris. Tama yang sejak tadi tidur akhirnya terbangun dengan jeritan istrinya.


“hey ada apa? Mengapa kau berteriak. Hoammm…” ujar Tama. Kirana melihat Tama tepat berada di sampingnya mereka duduk berdampingan di atas kasur. Kirana melihat badannya yang tak memakai sehelai benangpun begitu pula dengan Tama yang masih terlihat oleng.


“bagaimana ini, apa semalam aku…” Kirana mencoba mengingat sesuatu. Istri dari Tuan Muda itu menggigit bibirnya kala tak mengingat apapun, yang ia rasakan hanya kesakitan pada alat vitalnya.


Kirana menarik perlahan selimut yang ada di kakinya untuk menutupi tubuhnya. Sedangkan Tama berencana untuk melanjutkan tidurnya kembali, ia belum menyadari bahwa suara perempuan yang berteriak itu adalah Kirana.


Kirana duduk terdiam dan mematung. Ia menangis terseduh saat telah samar mengingat kejadian tadi malam “hiks” “ibu maafkan aku.” Lirihnya. Setelah Tama memejamkan matanya dan mencoba tidur kembali, akhirnya dia tersadar ada suara wanita menangis di sampingnya. Ia pun mengucek matanya dan terbangun.


“Kirana?” tanya Tama bingung. “apa yang kau lakukan di kamarku?” bentak Tama. Kirana hanya terus menangis tanpa menjawab suaminya. “oh ya, kau memang harus disini bersamaku.” Ucap Tama kala tersadar bahwa wanita yang berada disampingnya itu telah menjadi istrinya dan ayahnya menyuruhnya agar Kirana tidur bersamanya malam tadi.


“tidur bersama?” gumam Tama. “APPAAA?” seketika jantung Tama berdegup kencang. Tuan Muda itu membelalakkan matanya, ia memperhatikan sekujur tubuhnya yang tak memakai apa pun. Bahkan tampak dua telur bebek dan satu pisang yang begitu lemas.


Tama menoleh perlahan untuk memandang Kirana yang sedang menangis itu. Ia melihat Kirana yang sedang memeluk selimut yang membaluti tubuhnya. Tiba-tiba saja Tama menarik selimut istrinya hingga terlepas. Kirana tak terkejut sama sekali, ia masih saja terus menangis dengan rasa penyesalan terhadap ibunya.

__ADS_1


Jantung dari Tuan Muda itu seakan berhenti saat melihat Kirana yang tak memakai baju. Tuan Muda itu melihat banyak bekas kemerahan serta sedikit lebam pada tubuh wanita itu. “oh tidak!” Tama memegang kedua kepalanya, dia mulai berasumsi bahwa ia telah memukul Kirana semalam.


Tetapi, saat Tama melihat ada darah pada sprei dan selimut putih itu. Tama membuka lebar mulutnya kemudian ia menutupnya dengan kedua tangan. Tama melirik perlahan kaki Kirana mulai dari telapak kaki hingga ke paha, ia menemukan bercak darah pada kulit Kirana.


“Oh my ghossttt! Jangan bilang semalam kita melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan.” Tama berbicara sendiri. “Kirana, ada apa semalam? Kenapa aku tidak mengingat dengan apa yang terjadi.” Tama memegang kedua lengan atas Kirana. Ia sedang menatap Kirana, tetapi istrinya itu masih terus menunduk dan menangis.


“Tama lepaskan, kau menyakitiku.” Kirana menampik tangan suaminya karena ada lebam pada lengannya itu. Tama pun melepaskan tangannya “Kirana, ini tidak boleh terjadi. Kau adalah anakku, aku tak boleh menyentuhmu.” Tama menarik selimut itu dan menyelimuti istrinya, ia menutup badan istrinya hingga ke leher kemudian Kirana menahannya agar selimut itu tidak terlepas.


Tama terdiam, dia mencoba merenung dan mengingat lagi apa yang terjadi semalam. selama lima menit Tama mencoba lalu ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “tidak-tidak mungkin!” Tama seakan frustasi kala mengingat ia telah meniduri Kirana, merenggut kesuciannya, dan ia melakukan itu tidak sekali, entah berapa kali sampai keduanya tertidur karena kelelahan melakukan malam pertama itu.


Pelukan Tama terasa hangat bagi Kirana. Suaminya itu membelai rambut Kirana, tangisan Kirana pun berangsur berhenti dan entah mengapa perasaan Kirana berangsur membaik.


“Kirana lebih baik kita lupakan apa yang terjadi tadi malam.” Bisik Tama lembut. Tama melepaskan pelukannya, ia menatap wanita yang ada didepannya itu, begitupun dengan Kirana.


“sial!” Tama mengumpat. Alat vitalnya terbangun kembali saat melihat wajah cantik dari Kirana. Setelah merasakan nikmatnya kesucian dari wanita yang ada di depannya itu, kini alat vitalnya serasa menginginkannya lagi dan lagi. Tama mencoba menahannya, tetapi karena Tama tak memakai sehelai benang pun akhirnya Kirana melihatnya.


“aku akan pergi mandi.” Tama berdiri dan meninggalkan Kirana. Istrinya itu pun menatap Tama beranjak dari tempatnya dengan pistol yang berdiri.

__ADS_1


“hantu itu telah merasukiku, rasa apa ini?” Kirana menyeru dalam hati saat ia melihat pada pistol besar yang mengeras itu. Kirana pun mulai menginginkannya lagi dan lagi. “oh come on! Pikirkan yang lain.” Kirana mencoba mengalihkan perhatiannya. “ibu.” Gumamnya. Seketika hasratnya sirna saat mengingat ibunya dan Tama.


“Eughhhh…” Kirana berdecak kesal dan memegang kepalanya dengan kedua tangan. Rambut nya berantakkan akibat gerakan acak dari kekesalan terhadap dirinya. Sementara itu selang beberapa menit, Tama keluar dan telah rapi dengan memakai kaos oblong berwarna hitam serta celana pendek.


“Kirana pergilah mandi.” Tama mendekati Kirana dan duduk sedikit berjarak. “kumohon rahasia kan kejadian ini. Kita tidak perlu mengingatnya lagi.” Tama tak berani lagi melihat istrinya karena takut buah pisang itu bisa lurus dan berdiri lagi.


“minggir kau.” Kekesalan jelas terlihat di wajah Kirana. Tama berdiri dan membiarkan Kirana lewat dengan selimut yang menutupi seluruh badannya. Selimut itu menyentuh lantai dan terseret oleh kepergian Kirana.


Tama memperhatikan langkah istrinya yang berjalan tidak sempurna. Ia seakan berjalan pincang karena kesakitan akibat mengambil kesuciannya tadi malam ditambah dengan betapa ganasnya Tama dalam melakukan hubungan inti tersebut.


“dasar bodoh!” Tama memukul-mukul bantal dengan keras. Penyesalan dan amarah yang mendalam sangat ia rasakan kepada dirinya. Seketika Tama mengingat sesuatu yang semakin membuatnya marah. “ayahhh..” gumamnya.


Tama bergidik, ia segera pergi menemui kedua orang tuanya. Ia langsung menuju ke kamar kedua orang tuanya untuk meminta penjelasan dengan apa yang terjadi dengannya bersama istrinya. Dengan sangat kasar Tama membuka pintu kamar kedua orang tuanya. Ia bahkan membanting pintu kamar tersebut hingga jelas terdengar dentuman pintu yang menabrak dinding kamar.


Kamar mewah milik kedua orang tuanya itu hening. Tama masuk dan berkeliling untuk mencari keduanya. Ternyata kamar itu kosong, tiada satu manusia pun di kamar itu. Tama meraih telepon rumah yang ada pada kamar itu dan memencet tombol sembilan.


“halo Tuan, ada yang bisa saya bantu?” suara pelayan perempuan menjawab panggilan itu. “apa kau melihat di mana ayah dan ibuku?” Tama to the point. “Tuan Harun dan Nyonya Bella sedang bermain golf di halaman belakang Tuan Muda.” Sahut pelayan itu. Tama pun menutup kasar telepon rumah itu dan bergegas pergi ke halaman belakang untuk menemui kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2