
“Oh ya, apa kau tahu apa yang terjadi dengan orang-orang yang bekerja di kantor ini? Hari ini mereka semua menyapa dan memberi hormat kepadaku?” Tanya Tama kepada Ravi. “Iya tuan, saya yang memberitahu orang-orang kantor bahwa tuan telah datang dan akan menggantikan Tuan Harun.” Jawab Ravi menggunakan kertas dan tulisan sedangkan Tama bertanya tidak menggunakan kertas dan pena lagi.
“Ops sorry!” Tulis Tama pada sebuah kertas itu. Tama akhirnya bekerja, hal pertama yang ia lakukan adalah mengecek kondisi keuangan perusahaannya. Ada banyak kerugian, tetapi melihat neraca keuangan itu dan melihat asset serta tabungan perusahaan masih jauh dari kata rugi. Kemudian ia pun memutuskan untuk mengganti setiap kerugian dari anak perusahaannya.
“Ravi, apa ruangan ini adalah ruangan kerja ayahku? Bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengan asistenku?” Tanya Tama dalam tulisan kepada Ravi yang mana mereka saat ini berada di satu ruangan yang sama seperti kemarin.
“Anda benar tuan. Kalau mau ke kantor tuan, di sini bukan tempatnya. Ada presindetial room yang di menjadi kantor resmi tuan yang telah disiapkan Tuan Harun sejak lama. Tempat ini adalah kantor pribadi dan rahasia milik ayah Anda tuan.” Silih berganti kertas yang telah penuh dengan tulisan digantikan dengan kertas yang baru karena tulisan mereka berdua cukup besar.
“Oh seperti itu. Baiklah, antarkan aku ke sana.” Balas Tama dalam jawaban tulisan yang ditulisnya. Mereka menuju kantor resmi yang disediakan untuk Tama. Kantor itu berada di lantai paling atas perusahaan dan terhubung dengan rooftop yang mana di atas sana ada sebuah lapangan tempat Helikopter mendarat. Tak lupa satu unit Helikopter berdesain modern telah parkir menunggu untuk digunakan oleh tuannya.
“Selamat datang tuan, saya Keanu asisten pribadi Anda dan ini Merry sebagai sekretaris tuan.” Keanu menghampiri Tama yang sedang berjalan menuju kantor barunya. Ravi pun meninggalkan tuannya tanpa Tama sadari karena tugasnya sebagai orang terpecaya tidak boleh diketahui oleh siapapun.
“Baik kalau seperti itu.” Sahut Tama yang kemudian masuk ke dalam kantornya diikuti dua orang karyawannya yang tadi yaitu Kenau dan Merry.
Kantor baru yang dimasuki oleh Tama cukup luas, bahkan terbilang sangat luas dengan view gedung-gedung percakar langit dan padatnya kota itu. Kantor itu di dominasi dengan warna silver dan sebuah meja besar dengan satu kursi yang berwarna hitam. Tuan muda itu langsung duduk di sana dan siap untuk bekerja.
“Apa kegiatanku hari ini Merry?” Tanya Tama sembari melipat tangan di atas meja. “Anda ada rapat bersama dengan para pemegang saham pagi ini tuan.” Jawab Merry. Perempuan itu cantik, berbadan langsing dan berambut pirang. Berkulit putih namun berhidung pesek.
“Dan ini berkas Anda tuan.” Keanu memberikan satu buah map berisi topik yang akan menjadi pembahasan pada rapat pagi itu. “Apa ini?” Tama mengerutkan kulit dahinya saat melihat laporan itu dipenuhi dengan tinta printer yang berwarna merah.
“Iya tuan, yang berwarna merah menandakan kerugian.” Terang Keanu. “Kerugian perusahaan kita kenapa terjadi dari satu tahun yang lalu? Bukannya saham kita turun semenjak 3 hari yang lalu?” Tama seakan tak percaya melihat laporan itu.
“Maka dari itu, hal ini akan dibahas dan dirapatkan pagi ini tuan.” Tambah Merry. “Baiklah, jam berapa rapat itu di mulai.” Kata Tama setelah meletakkan map itu. “Sekitar 15 menit lagi tuan.” Sahut Merry sembari menatap jam yang berwarna merah yang melingkar pada lengannya.
“Kami berdua akan menunggu di luar di meja tempat kami bekerja tuan. Tempat tuan melewati kami tadi bersama dengan Ravi.” Kata Keanu. “Ahhh kau benar, kemana Ravi? Kenapa dia tidak di sini?” Akhirnya Tama menyadari bahwa Ravi sejak tadi tidak bersamanya lagi.
“Untuk apa dia kemari tuan? Dia hanya Cleaning Service. Dia tidak boleh datang kemari saat jam kerja. Dia hanya boleh datang untuk bersih-bersih sebelum dan sesudah tuan bekerja.” Merry menjelaskan.
“Kau benar juga, aku baru di sini sehingga aku tidak mengetahuinya.” Sahut Tama. “Ku rasa itu alasan ayah mengapa ia mempercayai Ravi.” Gumam Tama namun dalam hati. Tidak ada yang memperdulikan Ravi di kantor itu karena statusnya yang rendah sebagai pekerja di perusahaan itu sehingga orang-orang tidak akan mengira dia mengetahui banyak tentang Harun Coporation.
“Kalau begitu kami berdua permisi tuan.” Ucap Keanu kemudian keduanya meninggalkan Tama sendirian.
Setelah keluar ruangan dan menutup pintu. “Apa kau yakin dia bisa memimpin perusahaan ini Keanu?” Tanya Merry sambil menggandeng tangan Keanu. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih.
“Ku rasa dia akan lebih bodoh dari ayahnya. Ku dengar dia hanya pangeran manja dari keluarga Harun.” Balas Keanu lalu keduanya terkekeh bersama.
Melihat laporan keuangan yang tampak aneh, Tama menghidupkan computer brand Apple yang ada di depannya. Ia mengecek lagi laporan keuangan perusahaan dan yang ditemukannya adalah laporan yang sama dengan apa yang dilihatnya di dalam map yang diberikan kepadanya. Namun, laporan itu sangat jauh berbeda dengan apa yang ia lihat di dalam ruang kerja rahasia ayahnya.
“Kenapa berbeda? Apa ada yang tidak beres di perusahaan ini?” Gumamnya. Tama memegang dagu sambil berpikir. Tetapi, ilmu yang dimiliki Tama masih sangat sedikit sehingga membuat kepalanya pusing. Lalu ia memutuskan untuk mengambil ponsel dan masuk ke apliasi CCTV untuk melihat Kirana.
__ADS_1
*
*
“Apa kau dengar Maria?” Tuan Azego yang mengopi sedang asyik menikmati percakapan Tama dengan asistennya. “Saya mendengarnya tuan.” Sahut Maria. “Apa nanti ada Gono yang ikut hadir pada rapat saham itu?” Tanya Tuan Azego lagi. “Sudah tuan.” Jawab Maria. Seketika Tuan Azego tersenyum sinis.
*
*
Sementara itu, Kirana yang tampak bosan telah berhari-hari berada di dalam kamar tanpa bisa menikmati dunia luar kini tak bisa menahannya lagi.
Tap… tap… tap!
Dengan sekuat tenaga ia mengedor pintu yang tertutup rapat itu. Pintu kamar yang selalu terkunci itu, jelas berbunyi sehingga membuat dua orang penjaga di luar pintu saling melirik satu sama lain. Namun keduanya tidak menghiraukan suara pintu yang di gedor tersebut.
“Hey… kau yang di luar sana, kau pasti mendengarku kan? Keluarkan aku dari sini!” Sembari memukul-mukul pintu itu Kirana berteriak. “Hey… kenapa kalian diam saja!” Kirana semakin mengeraskan suaranya saat ia tahu tak diperdulikan oleh anak buah Tuan Azego.
“Lebih baik kau laporkan ini kepada Maria.” Kata seorang pria berbadan besar yang berjaga di luar kamar tempat Kirana dikurung. “Baik.” Sahut temannya itu lalu pergi meninggalkan tugas berjaganya.
“Permisi tuan.” Pria yang tadinya berjaga di depan kamar Kirana kini telah masuk di ruang kerja Tuan Azego yang mana di sana telah berada beberapa pengawal pribadi, Maria termasuk Tuan Azego sendiri. Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Maria dan berbisik.
“Kau!” Tunjuk Tuan Azego kepada pengawalnya yang lain. “Hidupkan layar TV itu, aku ingin melihat Kirana.” Perintahnya. “Baik tuan.” Pengawal pribadi itu pun melaksanakan perintah tuannya. Setelah layar TV hidup, orang-orang yang ada di ruangan itu dengan seksama kompak melihat Kirana yang sedang berusaha membuka pintu.
“Berikan ponsel yang bisa terhubung ke telepon kamar wanita itu Maria.” Perintah Tuan Azego sambil mengadahkan tangannya untuk menerima telepon. “Ini tuan.” Maria memberikan telepon itu dan langsung saja Tuan Azego melakukan panggilan ke ruangan di mana Kirana ditahan.
Kring… kring… kring…
“Keluarkan aku dari sini!” Kirana masih saja berteriak histeris. Ia belum menyadari bahwa telepon yang ada di atas nakas itu berdering.
Kring… kring… kring…
Saat terdiam untuk mengambil nafas karena kelelahan telah berteriak akhirnya dia menoleh dan menyadari bahwa telepon rumah itu berbunyi. “Apa lagi ini?” Dengan keringat yang bercucuran dan wajah yang bengis Kirana meraih telepon genggam itu.
“Halo, apa maumu ha?” Bentak Kirana. Berhari-hari tidak keluar ruangan menjadikannya pribadinya berbeda. Entah itu karena hamil atau karena lelah berada di ruangan itu tanpa aktifitas kecuali makan dan tidur serta pergi ke toilet.
“Tenang sayangku. Ada apa denganmu? Mengapa wanita cantik sepertimu harus mengamuk di pagi hari sayang.” Tutur Tuan Azego. “Pikirkan bayi yang berada dalam kandunganmu itu sayang.” Tambahnya lagi. Mendengar hal itu seketika Kirana memegang perutnya.
“Itu bukan urusanmu pak tua! Keluarkan aku dari ruangan ini. Aku butuh udara segar.” Bentak Kirana dalam panggilan itu. “Ahhh…” Tuan Azego menghela nafasnya. “Jangan seperti itu, nanti anakmu bisa jadi arogan sama seperti mu. Bersikaplah lebih lembut lagi.” Ucap Tuan Azego.
__ADS_1
“Bagaimana aku bisa bersikap lebih baik lagi? Sudah cukup aku jadi tahanan yang baik untukmu. Coba saja kau yang berada di sini selama berhari-hari. Dikurung tanpa melakukan apapun! Ku rasa kau pun akan mengamuk atau bahkan kau bisa mati di tempat karena penyakit jantung pak tua!” Teriak Kirana. Sungguh emosinya sangat tidak terkontrol. Ia bahkan melempar telepon rumah itu ke kasur karena kesal.
“Wah-wah! Ucapan mu hampir membuatku tersinggung. Tapi tidak mengapa, tidak menarik jika kau terlalu menurut bukan!” Kata Tuan Azego. Ia pun menarik satu sudut bibirnya. “Maria, bawa dia jalan-jalan hari ini. Tapi ingat, jangan biarkan dia kabur. Tetap kau jaga dia dengan penjagaan yang ketat.” Pesan Tuan Azego. “Baik tuan.” Sahut Maria kemudian ia berdiri dan meninggalkan tuannya.
*
*
Tok… tok… tok…
Suara ketukan pintu terdengar di ruang kerja Tama. Ia pun melihat pintu itu yang mulai terbuka perlahan. “Permisi pak, sudah waktunya rapat.” Merry yang berdiri di depan pintu yang telah masuk itu tersenyum. “Baiklah.” Ujar Tama sambil berdiri.
Selama satu jam, rapat itu berlangsung. Ada 11 orang pemegang saham yang hadir termasuk Tama. Namun, Tama masih tetap menjadi pemegang saham yang paling besar dan orang kedua adalah Gono. Sembilan orang lainnya memiliki saham yang kecil dan merata.
Dalam rapat itu, Tama mencoba menjelaskan laporan keuangan yang menurutnya salah. Tetapi hasil presentasinya di tolak mentah-mentah dari semua pemilik saham yang hadir. Hal itu membuatnya semakin yakin bahwa ada yang tidak beres di dalam perusahaannya yang dalam hal ini para pemegang saham itu ikut andil di dalamnya.
“Baiklah, karena saya juga baru dan tidak memahami sepenuhnya laporan keuangan ini maka ke depannya saya akan berusaha lebih baik lagi untuk membangun Harun Corporation.” Tama mengalah tapi tidak untuk kalah. Tama mengalah untuk menang.
Rapat itu berakhir dengan kata pamit yang ucapkan oleh pewaris tunggal keluarga Harun. Tama berjalan dengan cepat menuju kantornya. “Tuan, ada apa? Kenapa tuan tergesa-gesa sekali?” Ujar Merry yang kewalahan mengejar tuannya karena memakai highheels yang cukup tinggi.
“Ada apa tuan? Kenapa tadi tuan membantah laporan keuangan yang saya berikan kepada tuan?” Keanu pun ikut berjalan cepat sambil menanyakan hal yang menurutnya tidak benar dilakukan oleh Tama. Tuan muda itu tidak menghiraukan keduanya hingga masuk ke dalam ruangannya. Sedangkan dua orang karyawan yang mengikutinya berhenti saat ruangan kantor itu tertutup. Mereka tidak ingin ikut masuk tanpa permisi terlebih dahulu.
“Kau bilang dia lebih bodoh dari ayahnya tapi sepertinya dia cukup pintar untuk cepat menyadari kesalahan dalam laporan itu.” Ucap Merry saat berbalik arah untuk kembali ke mejanya. “Kau benar, ternyata dia tidak sebodoh yang kita pikirkan.” Sahut Keanu yang melonggarkan dasinya karena merasa sesak setelah berjalan cepat mengejar tuannya.
Tama yang berhasil menutup pintu agar kedua karyawannya itu tidak mengikutinya. Ia pun langsung duduk kembali pada kursi dan meja kerjanya. Ia hanya bisa menghela nafas kasarnya. Di perusahaan yang katanya milik ayahnya, di perusahaan yang dialah pewarisnya ternyata tidak seperti yang ia bayangkan. Walaupun perusahaan itu bernamakan keluarganya, ketika berada di dalamnya ia merasa sendiri dan tidak memiliki apa-apa.
Tuan muda itu menyentuh keningnya sambil berpikir. Tak tahan, ia pun mengambil ponselnya dan kembali ingin melihat Kirana.
Bug, brak…
Tiba-tiba saja Tama berdiri sehingga membuat berkas dan pena yang ada di atas meja terjatuh. “Kau bawa ke mana dia pak tua?” Mata tuan muda itu terbelalak saat menyadari ruangan yang ditempati oleh Kirana kosong dan tak berpenghuni.
“Ada apa tuan muda? Jaga nada bicaramu. Kita bisa bicarakan baik-baik.” Jawab Tuan Azego santai di dalam percakapan melalui alat elekronik tersebut. “Aku akan ke sana sekarang juga!” Seketika Tama pun berlari meninggalkan kantornya dan menuju parkiran mobil.
“Wah, ternyata kau sayang istri juga ya. Kau tidak perlu panik, istrimu tidak kenapa-kenapa!” Tuan Azego mengambil sebuah korek api dan membakar rokoknya lalu menikmati rokok tersebut.
Tama berhasil sampai ke parkiran dengan cepat. Semua karyawan yang dilewatinya heran karena tuannya yang terburu-buru dan saat disapa tidak menyahut sama sekali.
“Aku sudah di jalan, sebentar lagi aku akan sampai ke rumahmu. Jangan main-main denganku pak tua!” Bentak Tama. “Ohhh… ternyata kau pangeran berkuda putih ya. Kau tidak perlu ke mari. Kau datang saja ke taman kota. Istrimu ada di sana bersama Maria.” Terang Tuan Azego.
__ADS_1
Dengan sigap Tama pun memutar balik mobilnya menuju taman kota. Jantungnya berdebar, bukan karena kasmaran tetapi karena takut dengan keselamatan istrinya di tangan Maria.