Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 9


__ADS_3

Kirana datang dengan ditopang Tumiyem. Ia masih saja belum sadarkan diri dan masih memakai gaun pengantinnya.


“Miyem, kenapa ia belum sadar?” tanya Tuan Harun. “entahlah Tuan, sudah sejak pagi tadi ia tertidur. Aku sempat mengiranya sudah mati. Saat bersamanya ia tak pernah menjawab setiap pertanyaanku.” terang Tumiyem.


“Ahhh.. benar kau memang tidak tahu. Sudahlah Miyem tinggalkan kami di sini.” kata Tuan Harun mengibaskan tangannya mengusir pembantunya itu. “baik Tuan.” Tumiyem berjalan mundur sambil menunduk dan membungkuk. Ia meninggalkan Kirana yang duduk terbaring di sofa sendirian.


“kau lihat itu istrimu.” ujar Tuan Harun kepada putranya. “tidak, dia bukan istriku ayah. Istriku hanyalah Riyanda.” jawab Tama. Masih saja Tuan Muda itu bersikukuh menginginkan Riyanda.


“sudahlah Tama, kau jangan terlalu bermimpi. Kau tahu sendiri Riyanda kabur membawa uang kita, masih saja kau mengingat wanita sialan itu. Coba kau lihat istrimu terlebih dahulu, dia tidak kalah cantik dengan Riyanda.” jelas Tuan Harun.


Tama hanya bisa cemberut, ia tak menghiraukan saran ayahnya untuk melihat istri sahnya itu. “sudahlah nak, bagaimana pun kau telah mengucap janji saat upacara pernikahan tadi. Sekuat apapun kau menolaknya dia tetaplah istrimu Tama.” tambah Nyonya Bella.


Tama hanya bisa menghela nafas kasarnya. Tuan Muda itu berdiri dan mendekati Kirana. Ia membuka kain borkat yang menutupi wajah istrinya. Setelah terbuka, ia mendapati seseorang yang berparas cantik seperti Riyanda, bahkan gadis ini lebih cantik dari Riyanda.


Tuan Harun dan Nyonya Bella terkesima melihat betapa cantiknya Kirana. Ingin rasanya Tuan Harun jatuh hati pada gadis itu, namun semuanya kandas saat ia tersadar bahwa gadis itu adalah menantunya, istri dari putranya sendiri. Tuan Harun hanya bisa mengalihkan padangannya dengan memperhatikan mimic wajah dari putranya.


“sayang, kau lihat betapa cantiknya Kirana hari ini. Apa kau tahu siapa yang merias wajahnya. Dia adalah Fetta Sati, seorang MUA ternama di kota ini.” jelas Nyonya Bella kepada suaminya. Tuan Harun mengangguk paham. “tidak sia-sia kita membayarnya mahal bukan.” Sahut Tuan Harun.


Tama terus menatap Kirana. Dirinya sebenarnya pangling, dalam benaknya mungkin itu memang Riyanda. Namun ingatannya menolak, dengan jelas ia mengingat sosok Riyanda yang berambut pirang dan lebih terlihat dewasa. Tetapi yang ini? Hanya gadis biasa yang berwajah cantik tanpa kerutan.


“ayah, dia memang cantik dan mirip Riyanda, tapi tetap saja bagiku dia terlalu muda ayah. Ayah ku mohon kembalikan Riyandaku.” Tama kembali memelas pada ayahnya. “sudahlah Tama, jangan membuatku muak dengan tingkahmu itu. Terima takdirmu! Jadikan dia istri yang bahagia. Jika kau tak membahagiakannya, maka kau akan menerima konsekuensinya.” tegas Tuan Harun, lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan istri, anak dan menantunya.


Tiba-tiba tangan Kirana bergerak. Ia mengangkat tangannya dan menyentuh kepalanya. “aduh pusing.” Ujarnya. “Arghhhh sayang, bagaimana ini dia mulai tersadar.” Nyonya Bella berteriak histeris. Tuan Harun menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Matanya membulat memandangi gadis yang baru saja sadar itu.

__ADS_1


“Marioooo…” teriak Tuan Harun. langsung saja Mario yang sejak tadi menunggu di luar kamar bergegas masuk saat mendengar teriakan Tuannya. “gadis itu sadar, bisakah kau menemaninya bersama kami. Hanya sebagai antisipasi jika dia berteriak atau berbuat hal yang bisa merugikan kita.” jelas Tuan Harun.


“baik Tuan.” sahut Mario yang kemudian mengambil posisi di belakang sofa tempat duduk Kirana.


Kirana membuka perlahan matanya. Samar-samar ia melihat langit-langit rumah yang mewah itu. Matanya tertuju pada lampu gantung hias yang besar dan kerlap-kerlip. Karena cahaya lampu yang menyilaukan matanya, ia mengangkat lengan untuk menutupi cahaya lampu itu.


Anak dari Riyanda itu membenarkan posisi duduknya. Sekarang punggungnya telah lurus dan duduk sempurna. Masih saja ia memegang kepalanya karena pusing akibat bius yang diberikan oleh Mario masih belum hilang seluruhnya.


Kirana membuka matanya lagi perlahan. Dia melihat seorang pemuda yang tampan berada di depannya. “ahhh… mimpi apa lagi ini. Apa aku bermimpi tentang pangeran lagi.” gumamnya. Ia mengucek kedua matanya lalu membuka matanya lagi. Masih saja ia melihat laki-laki yang ia lihat tadi. Ia terperanjat dari duduknya dan berdiri “ini bukan mimpi” gumamnya lagi.


Kepala yang masih terasa pusing itu oleng dan terjatuh. Alih-alih terjatuh, dengan sigap Tama meraih pinggul Kirana dan menahannya. “hmmm…” Nyonya Bella yang menyaksikan itu tersenyum senang.


Tama yang refleks menopang Kirana dengan tidak sengaja membiarkan Kirana duduk kembali pada sofanya. “ibu lebih baik biarkan saja dia istirahat sampai pulih sepenuhnya.” Pesan Tama kemudian berdiri dan melangkahkan kaki berniat untuk meninggalkan ruangan itu.


“sayang, kau di kediaman keluarga Harun. jangan khawatir kita akan menjagamu disini.” kata Nyonya Bella, ia tampak menggenggam tangan Kirana.


Gadis yang baru saja tersadar itu melihat ke sekeliling kamar Nyonya Bella. Ia mendapati kamar yang sungguh luar biasa mewah. Seumur hidup baru kali ini gadis itu melihat kamar semewah itu secara langsung. Selebihnya ia hanya melihat kamar mewah seperti itu pada drama eropa yang dilihatnya pada free streaming yang ia cari di google.


“luar biasa.” Kirana menyeru dalam hati. Ia menoleh kepada Nyonya Bella yang menggenggam tangannya. “dia pasti Nyonya di rumah ini.” Kirana bergumam lagi. “hey kau yang di sana.” tunjuk Kirana pada punggung yang mengenakan jas hitam itu.


Tama yang merasa dirinya ditunjuk, ia membalikkan badan. Saat membalikkan badan dua sepasang suami istri ini saling bertatap mata. “Hmmm…” Kirana tersenyum kala melihat wajah tampan yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya tanpa ia sadari. “dia benar pangeran di dunia nyata.” Kirana menyeru dalam hati.


“ada apa denganmu?” Tama mengangkat kedua alisnya. Ia merasa heran dengan senyum yang dilayangkan kepadanya. “Mario, apa dia masih saja berhalusinasi akibat obat bius yang kau berikan?” Tama menatap Mario. Pengawal pribadi itu hanya menggerakkan bibirnya kebawah dan mengangkat kedua bahunya seraya berkata aku tidak tahu.

__ADS_1


“Ma… Mario?” kata Kirana terbata. Ia lekas menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa apakah dia Mario yang telah menculiknya. “ya Tuhan!” Kirana kaget seketika. Ia mulai ketakutan kala mengingat kejadian dirinya di culik dan hampir dilecehkan oleh pria yang ada dihadapannya itu.


Kirana berjalan mundur menjauhi Mario hingga dirinya menabrak suaminya. Tama menahan badan Kirana dengan memegang kedua bahu gadis itu. Kirana melepaskan genggaman tangan Tama pada bahunya kemudian berlari ke belakang Tama dan bersembunyi. Kirana sedikit menunduk dibalik punggung suaminya. Tangannya memegang jas hitam milik suaminya dan gemetaran.


“Mario, bisa kau keluar saja.” perintah Nyonya Bella kepada pengawal pribadi itu. Nyonya Bella menyadari ada ketakutan yang dirasakan dari menantu barunya. Mario masih berdiri tegap tak bergerak. “Mario keluarlah.” titah Tuan Harun. Lekas Mario meninggalkan ruangan itu saat yang mengusirnya adalah Tuan Harun.


“ahhh apa gunanya aku disuruh masuk jika diusir lagi. keluarga ini memang edan.” Mario mengerutu. Kekesalannya hanya bisa ia ucapkan dalam hati. Dengan begitu hanya pikirannya yang dapat mendengar kalimatnya, hingga para Nyonya dan Tuannya tak dapat tersinggung karena dirinya. Walaupun dia garang, dia sangat takut menyinggung Tuannya, karena dengan begitu dia bisa dipecat dan tak mau menjadi seorang preman pasar lagi.


Dengan ketidakhadiran Mario diruangan itu, Kirana kembali tenang. “lepaskan jasku.” Tama menarik kasar jasnya. Kirana cemberut kala mendapati Tama yang bersikap kasar padanya. “ternyata dia bukan pangeran.” Kirana menyeru dalam hati.


“Kirana, silahkan duduk kembali sayang. Ada hal yang harus kita bicarakan.” Nyonya Bella mempersilahkan menantu barunya untuk duduk. “aku?” tunjuk Kirana pada dirinya sendiri. “dari mana Nyonya tahu namaku?” tanya Kirana bingung.


Nyonya Bella tersenyum tipis saat dirinya disebut Nyonya. “ternyata anak dari Riyanda ini sangat jauh berbeda dengan ibunya. Ibunya sangat berkelas, tapi Kirana? Entahlah.” Nyonya Bella bergumam sendiri.


“iya kamu sayang, kemarilah.” panggil Nyonya Bella sembari menepuk sofa tempatnya duduk, ia memberikan aba-aba agar Kirana duduk bersamanya. Dangan memasang wajah polos, Kirana berjalan perlahan dan duduk di samping di sofa tempat Nyonya Bella telah duduk sejak tadi. Sembari memandangi Tama yang berdiri, Tuan Harun yang duduk di depannya, otak Kirana mulai mencerna apa yang terjadi kepada dirinya. Terlebih lagi gaun yang dikenakannya.


“oh my god!” kirana terkejut tak percaya saat tersadar bahwa dirinya sedang mengenakan gaun pengantin megah, sepatu mutiara asli nan mewah, serta mahkota yang terbuat dari berlian asli dan no tipu-tipu.


Ratu sehari itu melepaskan mahkotanya. Dengan memutar mahkota itu 360 derajat, dia tampak takjub dan tak percaya. “Nyonya apa ini berlian asli?” Kirana ingin memastikan walaupun ia sadar bahwa barang-barang yang dipakainya semuanya asli.


“benar sayang, itu asli.” sahut Nyonya Bella dengan senyuman bangga. “kau lihat ibu, dia mungkin saja bukan anak dari Riyanda.” kata Tama yang mulai muak dengan tingkah katro dari Kirana.


“APPPAA? Riyanda? Apa ini semua perbuatan ibuku?” Kirana kembali berdiri. Wajahnya merah padam bak sebuah tabung gas yang akan segera meledak.

__ADS_1


__ADS_2