
Kirana berjalan santai di tengah-tengah taman bunga yang indah. Sendiri, menikmati indahnya bunga-bunga mekar yang penuh dengan warna.
“Kirana…” Teriak Tama sembari berlari kencang mendekati istri yang dirindukan. Dia pun gegas memeluk Kirana dari belakang saat telah mencapainya. “Tama… apa itu kau?” Lengan yang memeluk dirinya dari belakang ia sentuh dengan lembut. Tama pun mengecup lembut rambut Kirana kemudian beralih ke lehernya dan menaruh wajahnya di bahu Kirana.
“Apa yang kau lakukan di sini? Mengapa kau tidak langsung kabur dan lari atau segera datang ke rumah sayang.” Ujar Tama yang masih memeluk erat istrinya. Kirana yang mendengar kalimat itu terdiam. Entah apa yang membuat Tama memanggilnya dengan kata sayang. Namun, kata-kata itu berhasil membuat jantungnya berdegup kencang dan gugup.
“Kirana… kau tahu aku merindukanmu.” Tama membalikkan badan Kirana sehingga mereka berdua bisa berhadapan sekarang.
Deg!
Kirana menelan salivanya saat mendengar perkataan Tama. “Kenapa secepat ini?” Gumamnya saat masih teringat dengan ibunya. “Kirana? Kenapa kau tak menjawabku?” Kata tuan muda itu setelah selesai mengecup kening istrinya.
“Apa kau tidak melihat para pria itu di setiap sudut taman ini?” Kata Kirana saat mengabaikan momen romantic pertama kali dalam hidupnya. Tuan muda itu pun melihat ke sekelilingnya, dan benar saja, ada banyak pengawal pribadi dari Tuan Azego yang sedang mengawasi mereka berdua.
“Jika mereka lengah sedetik saja, aku bisa lari.” Tambah Kirana. “Kau benar! Aku masih mengingat dengan jelas kau hampir kabur dari rumah ku waktu itu melalui Ventilasi toilet kamar mandi.” Tama terkekeh.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Kirana heran. “Hm…” Perkataan itu berhasil membuat Tama bingung. Yah, memang cukup mencengangkan dia bertindak secepat itu dengan sangat khawatir kepada wanita yang mungkin telah dicintainya tanpa ia sadari.
“Aku mengkhawatirkanmu. Aku tidak melihat mu di dalam kamar itu, jadi ku pikir kau sedang dalam bahaya. Kau tahu bukan kalau Tuan Azego orang yang kejam.” Tama meraih kedua tangan istrinya dan menggenggamnya.
“Apa yang terjadi kepada tanganmu?” Tanya Tama heran saat melihat tangan Kirana memerah dan balu. “DASAR AZEGO SIALAN!” Umpatnya tiba-tiba. Matanya membulat sempurna dihiasi warna merah karena marah. Nafasnya naik turun dengan cepat, ia pun berniat untuk mendatangi Tuan Azego saat itu juga.
Saat ingin melangkahkan kaki, tangan tuan muda itu ditarik oleh Kirana. “Apa yang akan kau lakukan? Apa karena tangan ku? Ini karena aku mengamuk untuk dibawa keluar. Kau tahu, di kamar itu sangat membosankan.” Terang Kirana.
“Apa? Apa yang kau katakan?” Walaupun nafasnya telah bernafas lebih teratur tetapi mata Tama masih membulat sempurna. “Kenapa kau melakukan itu? Kau akan terluka seperti ini. Lain kali jangan melakukannya lagi. Jika kau bosan, kau bisa memberitahukan kepada Tuan Azego bahwa kau ingin keluar. Jangan melukai dirimu sendiri. Kau mengerti?” Jelas Tama panjang lebar dan itu berhasil membuat Kirana terdiam seribu bahasa.
“Apa kau sudah makan Kirana?” Tama memegang lembut perut istrinya. “Aku tidak ingin bayi kita kelaparan.” Sambungnya. Kirana kembali menelan salivanya karena perubahan sikap yang dilakukan oleh Tama. Sikapnya lebih lembut dan perhatian dan terlebih lagi, ia menjadi lebih romantis dengan tempat yang sangat mendukung.
“Aku, aku tidak lapar.” Jawab Kirana bohong. ”Kau jangan berbohong, aku mendengar perut mu yang telah berbunyi beberapa kali.” Sahut Tama. “Kemari lah.” Tama menarik tangan Kirana. “Kau mau ke mana?” Tanya Kirana heran. “Apa kau tidak melihat mereka, mereka akan mengira kita akan kabur.” Kata Kirana sambil melihat para pengawal pribadi Tuan Azego termasuk Maria.
Melihat pergerakan itu seketika Maria berlari mendekati keduanya. “Mau kemana kalian?” Sentak Maria kepada keduanya.
“Aku tidak akan ke mana-mana. Aku bisa menjamin ucapanku. Istriku sedang lapar, aku hanya ingin sarapan bersama dengannya. Kau tidak perlu takut kami akan kabur. Dengan pengawal yang sebanyak itu apa bisa kami melawan kalian?” Tutur Tama kepada kepala pengawal pribadi Tuan Azego tersebut. Maria berdiam diri, berhenti melangkah, membiarkan sepasang suami istri itu pergi.
Keduanya berjalan santai sambil bergandengan tangan di jalan setapak yang ada taman itu. Sesekali Kirana menoleh melihat ekspresi Tama. Ada senyum gembira di sana, sedangkan di raut wajahnya ada kening yang mengkerut dengan saliva yang ditelan berkali-kali karena merasa canggung dengan sikap lelakinya itu.
Keduanya menuju ke kedai terdekat yang berada di sekitaran taman itu. “Kau mau pesan makanan apa Kirana?” Tama melepaskan gandengan tangannya dan melirik istrinya. Kirana membaca dan melihat menu yang terpampang di depannya dengan seksama.
“Bagaimana kalau yang ini saja?” Tama menunjuk satu menu bertuliskan salad beserta dengan gambarnya. “Tidak! Aku mau yang ini saja.” Tolak Kirana yang sekarang telah menunjuk sebuah menu bertuliskan mi rebus beserta dengan gambarnya.
__ADS_1
“Jangan! Lebih baik kau memesan salad. Mi instan tidak baik bagi kesehetan menurut banyak orang. Apalagi bagi bayi yang ada di perut mu itu.” Keduanya tampak salah tingkah pada kata bayi yang ada di dalam perut mu. Tama yang memandang perut Kirana membuang pandangannya. Sedangkan Kirana menyentuh perutnya dengan pipi yang memerah.
“Tapi Tama, aku hanya ingin memakan mi rebus saja.” Kukuhnya. “Ahhh baiklah, apa boleh buat.” Tama menghela nafas pendeknya. Ia mengalah demi mengikuti kemauan istrinya.
“Pak mi rebus dua ya. Minumnya air mineral saja dua botol.” Pesan Tama kepada penjual pada kedai tersebut. “Baik mas.” Sahut sang penjual. Kemudian keduanya mengambil meja dan duduk berdua saling berhadapan.
Meja yang mereka duduki adalah meja yang terbuat dari plastic beserta kursinya. “Apa yang kau lakuakan tuan muda? Jangan membuang-buang waktu mu! Cepat kembali bekerja.” Perintah Tuan Azego pada alat yang melekat di telinga Tama.
Tama mengabaikan perintah itu. Tidak ada kesempatan lain lagi yang akan datang kecuali kesempatan ini. Kesempatan untuk bisa bertemu dan bersama dengan istrinya. “Apa kau dengar aku? Jawab aku Tama!” Berang Tuan Azego.
Tama pun berdiri. “Tunggu sebentar Kirana, jangan ke mana-mana. Aku hanya mau ke sana sebentar.” Ucap Tama sambil menunjuk random ke sembarang tempat. “Jika makanannya telah siap, kau makanlah lebih dulu.” Sambungnya lagi.
Tama mencari sudut kedai yang bisa membuatnya berbicara tanpa bisa didengar oleh istrinya. “Ada apa pak tua? Tidak bisakah kau membiarkanku untuk sarapan sebentar bersama dengan istriku.” Kata Tama pada Earphone itu.
“Tidak bisa, ia keluar karena hasil usahanya sendiri. Dengan kerja kerasnya untuk mendobrak pintu kamarnya tadi pagi membuatku menjadi senang. Ternyata dia wanita yang menarik dan pantang menyerah. Maka dari itu aku membiarkannya berjalan-jalan pagi ini. Sedangkan kau? Kau belum melakukan apa-apa untukku tuan muda.” Jelas Tuan Azego.
“Yah, aku tahu maka dari itu biarkan aku sarapan dengannya. Sebentar saja!” Pinta Tama. “Baiklah, tidak masalah. 10 menit bersamanya berarti 100 juta akan kau transferkan lagi ke rekeningku. Bagaimana?” Tuan Azego terkekeh.
“Kau gila! Untuk apa aku memberikan 10 menit itu dengan harga 100 juta? Dia itu istri ku! Itu hal yang wajar jika aku bersamanya.” Bentak Tama. Ia tidak habis pikir seorang pak tua yang sudah bau tanah itu sangat matrearialistis.
“Yah, terserah kau saja. Jika tidak setuju, ada Maria yang akan membawanya pulang.” Ujar Tuan Azego. Tama mendengus, ia tidak punya banyak pilihan. “Baiklah.” Jawabnya pasrah. Tama kembali ke meja di mana istrinya telah menunggu.
“Kalau begitu mari kita makan.” Keduanya menyentuh sendok dan garpunya. Keduanya tampak meniup mi instan itu agar dingin dan bisa dimasukkan ke dalam mulut. “Sini berikan kepada ku.” Tama mengambil mangkok Kirana dan menyendok mi itu menggunakan garpu dan meniupnya. Setelah selesai meniupnya Tama pun memberikan garpu miliknya itu kepada Kirana.
“Ini makanlah.” Ujar Tama sambil tersenyum. “Wah… terima kasih.” Sahut Kirana senang. Hal itu dilakukan berkali-kali hingga Kirana merasa kenyang dan menyudahi sarapan itu dengan meminum air mineral pada botol yang telah mereka pesan sebelumnya. “Erghh..” Sendawa Kirana membuat Tama terkekeh.
“Apa yang kau tertawakan?” Kirana cemberut. “Tidak apa-apa.” Sanggah Tama yang berusaha mengembalikan waut wajahnya menjadi normal. “Kau tidak makan?” Tanya Kirana saat baru menyadari bahwa mi instan Tama tidak tersentuh sedikit pun.
“Iya, aku kenyang. Aku hanya ingin menemani mu saja.” Kata Tama yang kemudian melipat tangan di atas meja sambil menatap wajah sendu Kirana. “Kenapa kau menatapku seperti itu?!” Tatapan itu berhasil membuat Kirana merasa malu.
“Tidak mengapa. Hanya saja kau terlihat lebih cantik saat ini.” Ucap Tama jujur. “Apa kau tidak merindukanku?” Tambahnya lagi.
Deg!
Kirana kembali terdiam seribu bahasa. Hal itu kembali membuatnya canggung tetapi entah mengapa jantung yang berada di dalam dadanya kini malah berdegup semakin kencang.
“Lebih baik sekarang kita pulang. Aku ingin mandi, aku belum mandi.” Kirana menyengir. “Apa secepat ini.” Tama pun cemberut dan merasa kecewa. “Yah benar. Kau pun harus bekerja bukan?” Sambung Kirana. Ia menyadari bahwa Tama telah bekerja saat melihat setelan jasnya yang rapi.
“Apa aku terlihat lebih tampan saat menggunakan jas ini?” Pertanyaan random Tama berhasil membuat Kirana terkekeh. “Sama saja!” Sahut Kirana namun ia berbohong. “Kau sungguh tampan. Kau sungguh bagaikan pangeran di dunia nyata Tama.” Kata Kirana dalam hati.
__ADS_1
“Ah ternyata seperti itu.” Tama menggaruk-garuk kepalanya karena merasa malu sendiri telah menanyakan pertanyaan yang tidak penting seperti itu.
“Kirana, sudah waktunya pulang.” Tiba-tiba Maria muncul entah dari mana asalnya. “Baiklah, aku akan pulang lebih dulu.” Kirana berdiri. “Terima kasih telah mengkhawatirkan ku Tama.” Ucap Kirana kemudian pergi dari kedai itu bersama dengan Maria diikuti oleh pengawal pribadi lainnya.
Tama duduk sendiri menatap kepergian wanitanya itu. “Kau berutang padaku 600 juta tuan muda.” Kata Tuan Azego secara tiba-tiba. Hal itu membuat lamunan Tama yang menatap istrinya yang semakin lama semakin menjauh itu buyar.
“Apa? 600 juta?” Tama terkejut. Ia pun melihat jam tangan hitam yang melingkar pada pergelangan tangannya. Hampir tiga puluh menit waktu yang ia lewati untuk makan bersama dengan istrinya. “Ku rasa aku melewati waktu sarapan ku bersama dengan Kirana hanya 30 menit pak tua.” Sahut Tama.
“Yah kau benar. Kau baru saja melewati waktu sarapanmu 30 menit yang lalu tetapi kau telah melewati waktu selama 1 jam bersama dengannya pagi ini. Jadi tagihan mu adalah 600 juta.” Terang Tuan Azego. Mendengar tagihan itu pun berhasil membuat Tama berdecak kesal.
“Terserah kau saja pak tua.” Kata Tama ketus. Ia pun berniat kembali ke kantor untuk bekerja. Tak lupa ia pergi setelah membayar tagihan makanannya.
*
*
“Permisi pak.” Polisi yang berjaga itu menghampiri Tuan Harun yang duduk di dalam sel penjara. “Kami ingin menanyakan sesuatu. Kami ingin mendata, apa bapak akan memakai pengacara pribadi atau bapak akan memakai pengacara yang akan disediakan oleh pemerintah?” Tanya Polisi tersebut.
“Aku masih bisa membayar untuk memakai pengacara pribadi jadi aku tidak akan memakai pengacara gratis dari pemerintah.” Kata Taun Harun. “Baik pak.” Kemudian polisi yang sedang membawa map itu menuliskan sesuatu lalu pergi meninggalkan Tuan Harun sendirian.
*
*
“Flo, apa kau sudah siap sayang?” Tanya Nyonya Bella yang sedang berdiri di depan pintu kamar Dokter Flo. “Sudah tante.” Dokter Flo keluar dengan riasan yang cantik. “Apa kau bisa menyetir Flo?” Tanya Nyonya Bella lagi.
“Bisa tan, ada apa?” Dokter Flo pun keluar dari kamarnya. “Kau saja yang menyetir ya.” Kata Nyonya Bella sambil memeluk lengan Dokter Flo. “Kenapa tan? Kenapa tidak menyuruh Mario saja yang menyetir?” Tanya Dokter Flo lagi. “Jangan, kau saja. Sebenarnya tante tidak begitu suka dengannya. Dia hanya patuh kepada oom mu saja sayang.” Sahut Nyonya Bella jujur.
“Oh ternyata seperti itu. oh ya, memangnya kita mau ke mana ya tan?” Dokter Flo melangkahkan kaki bersamaan dengan Nyonya Bella. “Kita akan menjenguk oom mu.” Kata Nyonya Bella sembari tersenyum. “Tanten merindukannya Flo.” Sambungnya lagi dengan raut wajah yang sedih.
“Iya tan, Flo juga merindukan oom. Oom itu suami yang sangat romantis kepada tante.” Ujar Dokter Flo. “Kau benar. Oom mu itu uangnya banyak Flo, tetapi yang paling membuat tante bahagia adalah dia lelaki yang setia.” Nyonya Bella tersenyum.
“Syukurlah. Tante sangat beruntung mendapatkan suami seperti Om Harun. Ku rasa Tama juga akan mewarisi sifat setianya itu tan.” Seketika Dokter Flo termenung. Ia kecewa kepada dirinya sendiri karena bukan dirinya yang menjadi istri Tama saat ini.
“Kau benar sekali Flo.” Nyonya Bella semakin merangkul Dokter Flo. “Oh ya tan, bagaimana kalau sepulang dari menjenguk oom kita pergi ke kantor Tama. Aku ingin melihat bagaimana teman ku yang manja itu bisa bekerja dengan baik di perusahaan.” Dokter Flo terkekeh begitupun dengan Nyonya Bella.
“Itu ide yang bagus Flo.” Kata Nyonya Bella. “Oh ya, kau mau memakai mobil yang mana?” Tanya Nyonya Bella. Mengingat bahwa mobil pribadi keluarga Harun memang sangat banyak dan semuanya super mahal membuat pemiliknya bingung akan memakai mobil yang mana.
“Yang mana saja tante. Aku bisa membawa mobil apa saja kecuali mobil truk.” Ujar Dokter Flo. Keduanya pun tertawa seakan melupakan masalah yang terjadi pada keluarga Harun.
__ADS_1