
Akhirnya Tama pulang. Sesampainya di rumah ia di sambut hangat dengan dua orang wanita yaitu ibunya dan teman masa kecilnya. Walaupun Tama membalasnya dengan senyuman manis dan pelukan hangat ke ibunya tetapi entah mengapa ia menginginkan Kirana ikut hadir menyambutnya di hari yang melelahkan ini.
“Ibu, ini hari yang panjang. Aku tidak ingin mengobrol dulu. Bolehkah aku istirahat saja?” Tama memeluk erat ibunya. “Benar sayang, tanpa kau memintanya aku yang akan menyuruhmu istirahat.” Nyonya Bella melepaskan pelukan itu. “Ya benar, istirahatlah Tama.” Dokter Flo memegang lengan temannya. Kemudian Tama meninggalkan mereka berdua dan menuju kamarnya.
Di dalam kamar, setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Tama membuka aplikasi CCTV yang ada pada layar ponselnya. Tidak cukup baginya dengan melihat Kirana yang duduk sendirian di dalam layar itu dan tetap saja Tama bersedih karena ia memikirkan keadaan Kirana.
“Kau pasti bosan Kirana…” Gumam Tama namun dalam hati. “Seandainya kau di sini…” Tambahnya lagi. Tiba-tiba sebuah suara terdengar. “Hai tuan muda… apa yang kau lakukan hari ini? Ku rasa kau membuang-buang waktu mu saja dengan berkeliling ke perusahaan-perusahaan kecilmu itu.” Kata Tuan Azego.
“Dasar kau! Kau tidak tahu ada berapa banyak kerugian yang kami alami karenamu!” Bentak Tama. Ia sungguh kesal dengan rentenir kaya itu. “Itu bukan urusanku! Itu urusan keluargamu! Lagi pula tak lama lagi keluargamu juga akan hancur. Hahaha…” Seperti biasa Tuan Azego tertawa besar dan gembira saat membayangkan keluarga Harun hancur dan bangkrut.
“Kau sungguh tidak punya hati pak tua!” Kata Tama dengan ketus. “Terima kasih pujiannya.” Sahut Tuan Azego. “Oh ya, kapan kau akan memberikan ku uang 1 Milyar sebagai jaminan amannya Kirana. Ingat, kau akan memberikanku uang itu setiap bulan dan bulan ini belum kau berikan uang itu” Tambahnya.
“Kenapa kau meminta itu denganku? Bukankah jaminan agar Kirana selamat dengan aku bekerja untukmu. Jangan lupakan janjimu itu pak tua!” Sentak Tama lagi. “Itu berbeda tuan muda. Kau benar, dengan kau bekerja untukku, aku menjamin keselamatan istrimu. Tetapi, bukankah ayahmu telah menyetujui untuk memberikanku uang 1 Milyar tiap bulan. Itu adalah partisipasi pribadi ayahmu bukan kau!” Tiba-tiba Tuan Azego membentak.
“Aku tidak akan memberikan uang itu. Aku hanya akan mendengar perkataan mu dengan bekerja denganmu dan kau menjaga istriku. Tetapi jika kau melanggarnya lebih dulu, kau akan tahu bahwa aku bukan pria lemah seperti yang kau kira pak tua!” Ancam Tama. Kali ini dia memang tidak main-main, apapun akan ia lakukan jika Tuan Azego tak memenuhi janjinya.
Tuan Azego marah, ada banyak ocehan yang keluar dari Earphone itu. Tak tahan, Tama melapaskannya untuk sesaat menunggu suara-suara berat yang menyebalkan itu diam.
*
*
“Permisi nona, ini ada makan malam untuk nona.” Pelayan perempuan masuk mengantarkan makanan untuk Kirana seperti biasa. “Letakkan saja di meja itu.” Tunjuk Kirana. “Baik nona.” Pelayan itu meletakkan makanan itu tepat di atas meja seperti yang diperintahkan kepadanya.
“Sebenarnya aku masih kenyang. Ada banyak makanan di kulkas. Apa kau boleh di sini saja bersamaku? Bisakah kau menemaniku?” Kirana yang sejak tadi duduk di atas kasur berdiri mendekati pelayan wanita itu.
Melihat Kirana mendekat, entah mengapa pelayan wanita itu jadi takut. Ia mundur beberapa langkah hingga sampai ke depan pintu. Pintu itu telah tertutup sebelumnya saat pelayan wanita itu masuk membawa makanan tersebut.
“Kenapa kau seperti itu? Apa kau takut kepadaku?” Tanya Kirana. Melihat pelayan wanita yang seperti itu yang seakan takut kepadanya membuatnya bersedih karena ia tidak memiliki niat apapun ia hanya ingin memiliki teman. Ia kesepian di ruangan itu selama berhari-hari.
“Aku tidak diperbolehkan banyak bicara kepada nona.” Pelayan itu menunduk. “Baiklah jika begitu kau boleh pergi.” Kirana membalikkan badannya dan melangkahkan kaki menuju kasur dan terbaring. Matanya tertuju ke langit-langit kamar.
Pelayan yang telah berada di depan pintu itu pun langsung keluar dengan cepat dan menutup kembali pintu itu. Di luar kamar, ada temannya sesama pelayan wanita yang menunggunya.
“Ada apa? Kenapa wajahmu seperti dikejar anjing?” Tanya temannya. “Wanita yang sedang hamil itu mengajakku bicara. Aku sungguh takut. Aku takut Maria mendengarnya. Jika ada yang tahu aku bisa mati!” Pelayan wanita itu mengelus dadanya.
__ADS_1
“Apa kau tidak kasihan dengannya. Jujur, aku kasihan melihat wanita itu. Pasti dia akan bosan di sana sendirian tanpa melakukan apapun.” Sahut teman pelayan wanita itu. “Iya kau benar, dia bahkan memintaku untuk menemaninya. Tetapi kau tahu aturan di rumah ini kan. Yang tidak menjalankan perintah Tuan Azego akan di bunuh!” Kata pelayan wanita itu. Kalimatnya berhasil membuat teman sesama pelayan wanita itu menelan salivanya.
*
*
“Sial!” Umpat Tuan Azego. Ia pun kesal dengan sikap Tama yang tak mau memberikannya uang 1 Milyar. “Maria…” Teriak Tuan Azego. Ia yang sedari tadi duduk sendiri di ruangannya itu memanggil Maria dengan sekuat tenaga dan akhirnya Maria pun datang dengan tergesa-gesa.
“Ada apa tuan?” Dengan sigap Maria menghampiri tuannya. “Apa aku bisa berbicara dengan Harun? Aku ingin menagih janjinya untuk memberikanku uang 1 milyar setiap bulannya.” Tutur Tuan Azego. “Tuan Harun telah membusuk di penjara tuan.” Sahut Maria.
“Apa secepat itu? Rupanya dia tidak hebat.” Tuan Azego menarik satu sudut bibirnya. “Siapkan mobilmu, aku akan datang mengunjuginya sekarang juga.” Perintah Tuan Azego. “Baik tuan.” Sahut Maria dan seketika dia berlari bersama dengan dua orang pengawal pribadi bawahannya.
Sesampainya di kantor polisi. Seperti biasa, Tuan Azego menunjukkan pribadi yang berbeda. Pribadi yang lebih lembut dan sopan santun hingga membuat polisi di sana mengaguminya karena jauh berbeda dengan sikap Tuan Harun yang arogan dan semena-mena. Apalagi saat Pak Bambang yang menjabat di sana.
“Waktu Anda 15 menit pak. Nanti saya akan kembali untuk mengingatkan bahwa waktu kunjung telah habis.” Pesan polisi itu kemudian ia kembali bekerja ke meja kerjanya.
“Halo Harun… apa kabarmu? Apa di sini bagaikan surga untukmu?” Tuan Azego mendengus dan tersenyum sinis sambil mengejek. Tuan Harun menatap intens rentenir kaya itu. Matanya memerah karena tidak berkedip sama sekali menatap Tuan Azego, ditambah lagi dengan amarah yang menumpuk di dalam dadanya.
“Tidak perlu banyak basa-basi. Kedatanganku ke sini tidak untuk melihat kondisimu yang mengenaskan ini. Yah, walaupun setelah melihat kau membusuk di sini cukup menghiburku. Tetapi, bukan itu tujuanku.” Ujar Tuan Azego. “Kau ingat menantumu bukan?” Bisik Tuan Azego.
“Ada apa ini? Tenangkan diri mu Pak Harun.” Seorang polisi mendekat dan membawa sebuah tongkat polisi. Ia tampak marah akibat suara keras dari Tuan Harun. “Pak Harun, tolong jaga sikap dan jangan berteriak.” Pesan polisi itu.
“Tidak apa-apa pak. Biarkan saja, dia sedang dalam masa yang sulit.” Tuan Azego menenangkan polisi itu. “Untung saja dia berhadapan dengan orang baik seperti Anda.” Polisi itu tersenyum kepada Tuan Azego dan melirik sinis kepada Tuan Harun karena tingkahnya yang kurang menyenangkan.
“Tinggalkan saja kami. Dia tidak akan berbuat macam-macam lagi atau berteriak lagi.” Pesan Tuan Azego. Polisi itu pun kembali bekerja karena melihat Tuan Azego yang sangat terkontrol dan bisa menahan emosi tidak seperti Tuan Harun.
“Kau dengar itu, sebaiknya kau menjaga emosimu. Tidak ada orang yang akan membelamu di sini. Kau sudah cukup terkenal sekarang sebagai orang yang jahat.” Kata Tuan Azego. “Aku tidak punya banyak waktu untukmu. Kita langsung saja ke pembicaraan intinya. Jika kau ingin selamat, berikan uang 1 Milyarku untuk bulan ini Harun!” Tuan Azego membelalakkan matanya.
“Apa Tama tidak memberikanmu uang itu?” Emosi Tuan Harun pun meredam. Pikirannya teralih kepada putranya. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Tama tidak memberikan uang itu yang mana adalah jaminan agar istrinya selamat di tangan rentenir kaya ini.
“Jika dia memberikannya, untuk apa aku repot-repot datang kemari.” Sahut Tuan Azego. “Aku tidak bisa menghubunginya. Ponselku ditahan saat aku datang kemari.” Kata Tuan Harun.
“Itu hal yang mudah Harun. Aku akan menghubungi putramu.” Ucap Tuan Azego sembari menoleh untuk melihat Maria. “Maria, berikan aku ponsel.” Perintah Tuan Azego. “Baik tuan.” Maria pun memberikan ponsel kepada tuannya. Tuan Azego mulai membuka layar kunci ponsel tersebut dan melakukan panggilan suara kepada Tama.
Sementara itu, di waktu yang sama pada kediaman keluarga Harun. Tama yang merasa Earphone yang ia lepas itu sudah aman akhirnya ia memutuskan untuk memakainya kembali. “Huff… akhirnya senyap.” Gumamnya saat memakai Earphone itu dan tidak mendengar apapun pada alat itu.
__ADS_1
Kring… kring… kring…
Ponsel Tama pun berdering. Gegas Tama mengambil ponsel itu. “Tuan Azego?” Tanya Tama heran saat melihat panggilan suara itu berasal dari rentenir kaya yang dibencinya. Tetapi, mau tidak mau Tama harus mengangkat panggilan itu.
“Halo…” Akhirnya panggilan itu diangkat oleh Tama. “Halo tuan muda, apa kabarmu?” Sembari tersenyum sinis Tuan Azego berkata demikian. “Kabar katamu? Kau sungguh biadab Azegoooo!” Bentak Tama sambil berteriak. Sontak Tuan Azego menjauhkan ponsel itu dari telinganya karena suara Tama yang cukup keras.
“Ahhh… ayah dan anak sama saja. Sama-sama memiliki tempramen yang tinggi. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Ucap Tuan Azego sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. “Ini kau saja yang berbicara langsung kepada putramu.” Tuan Azego memberikan ponsel itu kepada Tuan Harun.
“Tama nak…” Kata Tuan Harun dengan lembut. “Ayah?” Tama membelalakkan matanya. Ia tak menyangka akan berbicara dengan ayahnya melalui ponsel Tuan Azego.
“Mengapa kau tidak memberikan uang 1 Milyar itu kepada Azego? Ku rasa kau sudah tahu bahwa ayah menyetujuinya. Ia kemari karena menginginkan uangnya. Dan kau pasti sayang dengan istrimu bukan?!” Kata Tuan Harun lembut. Ia enggan untuk menyebutkan bahwa kau sayang dengan istri dan anakmu di depan rentenir kaya itu.
“Baik ayah. Akan aku berikan kepadanya uang itu saat ini juga. Ayah baik-baik di sana dan jangan banyak pikiran.” Sahut Tama kepada ayahnya. Ia tak bisa berbicara banyak karena ia tahu betul bahwa ayahnya tidak mengetahui apapun tentangnya bersama Tuan Azego.
Kemudian Tama masuk ke dalam mobile bankingnya. Setelah berada di ruangan kerja ayahnya sore tadi, ada banyak ilmu tentang perusahaan yang ia dapatkan dengan membaca beberapa buku dan berkas perusahaan. Ia pun sempat membuka computer kerja ayahnya dan melihat beberapa catatan penting tentang keuangan dan nama ID semua mobile banking ayahnya beserta passwordnya.
Sebentar saja, dengan menggunakan rekening internasional yang mempunyai banyak limit, uang itu mendarat sempurna di rekening Tuan Azego. Karena sebelumnya ia telah mengirimkan pesan kepada Tama nomor rekening miliknya.
“Ayah, uangnya telah sampai di rekening Azego. Ayah bisa memberitahukan kepadanya ayah.” Ucap Tama sembari menghela nafasnya. “Terima kasih nak.” Sahut ayahnya kemudian Tuan Harun yang memutuskan panggilan suara itu.
“Ini ponselmu.” Tuan Harun mengembalikan ponsel rentenir kaya itu. “Uang itu telah masuk ke rekeningmu. Silahkan saja kau cek.” Tambahnya lagi. Mendengar hal itu, Tuan Azego langsung menoleh dan melirik Maria. Karena mengerti Maria pun mulai mengecek saldo rekening tuannya.
“Benar tuan. Saldo Anda telah bertambah sebanyak 1 Milyar.” Kata Maria membenarkan perkataan Tuan Harun. “Ternyata, berurusan denganmu lebih mudah ketimbang berurusan dengan anakmu Harun.” Kata Tuan Azego sembari bersiap-siap meninggalkan tempat tersebut. “Terima kasih untuk malam ini. Aku menghargainya, ini ada hadiah untukmu. Ku rasa makanan penjara tidak akan seenak makanan di rumah mu.” Tambahnya lagi.
Maria memberikan sebuah parcel kecil berisikan snack dari berbagai Negara untuk Tuan Harun. Dalam diam, Tuan Harun menerima snack pemberiannya itu. Lalu, Tuan Azego pergi meninggalkan tempat itu. Sedangkan para polisi yang makin mengagumi Tuan Azego karena ternyata simpati yang ditunjukkannya kepada media pagi tadi memang benar. Selain kaya, ia juga baik hati telah menjenguk orang yang membuatnya malu serta memberikannya hadiah saat menjenguk Tuan Harun.
Keesokan harinya. Tama pergi bekerja lagi. Hari ini ia langsung pergi ke kantor pusat.
“Selamat pagi tuan.” Setelah masuk ke dalam kantornya Tama di sapa oleh karyawan pertama yang ia jumpai. Tama pun tersenyum dan berkata “Selamat pagi.” Dan pada langkah berikutnya ia kembali di sapa oleh karyawan yang ditemuinya.
“Selamat pagi tuan.” Kata karyawan itu dan langsung dibalas lagi oleh Tama dengan senyuman dan kata selamat pagi pula. Secara bergantian, setiap karyawan yang ditemui Tama menyapanya dan memberikan hormat. Hal itu terjadi secara tiba-tiba dan bersamaan membuat Tama tersenyum sambil mengerutkan kulit dahinya karena apa yang ia temui di kantor hari ini sangat jauh berbeda dengan kemarin.
Tama memencet tombol lift agar bisa naik ke ruangan kerja ayahnya lagi. Saat lift itu terbuka, telah berdiri Ravi yang menunggunya. “Selamat pagi, selamat datang kembali ke kantor ini. Semoga hari tuan menyenangkan.” Sebuah tulisan di kertas A4 yang membuat Tama semakin tersenyum lebar. Ternyata Ravi seorang pekerja yang cerdas dan cepat tanggap.
Ravi memberikan kertas dan pena kepada Tama. Sebelumnya ia telah menuliskan lagi di sebuah kertas yang bertuliskan “Ini ada pena dan kertas untuk tuan, siapa tau tuan juga ingin menyapaku.” Tama pun mengambil kertas dan pena itu.
__ADS_1
“Selamat pagi.” Tama menuliskan kata itu dengan dua titik besar dan satu garis melengkung berbentuk smile.