Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 20


__ADS_3

Tama beranjak dari tempat tidurnya. Ia tampak sedikit lemah saat berjalan. Ia pun berjalan perlahan menuju ruang ganti. “Tama, jika kau merasa masih tidak enak badan ku rasa—” kalimat Kirana terhenti saat dipotong oleh suaminya.


“jangan plin-plan Kirana. Tadi kau sendiri yang bilang bukan, kalau kita akan pergi sekarang juga.” Tama berlalu di depan Kirana. Anak dari Riyanda itu tak dapat meneruskan kalimatnya ketika tersadar dengan kalimatnya sendiri.


Selang beberapa menit Tama kembali dengan pakaian yang telah terganti. Ia tampak tampan menggunakan celana panjang Levi’s berwarna abu-abu dan memakai sebuah kemeja Pique berwarna hitam polos berbahan dasar anti kusut. Anak dari dari Tuan Harun itu tampak maskulin dan keren.


“ayo berangkat Kirana.” Ujar Tama saat melewati Kirana di sampingnya. Tama terus berjalan keluar kamar diikuti oleh istrinya. Tak lupa ia mengambil dompet miliknya dan sebuah kunci mobil.


Saat berjalan di ruang tamu milik keluarga Harun, tak sengaja dokter Flo melihat kedua punggung pengantin baru itu. “Timi…” dokter Flo setengah berteriak. Sontak Tama menghentikan langkahnya. “Flo, ayolah jangan lagi panggil namaku dengan sebutan Timi.” Tama tampak kesal dengan panggilan namanya yang terkesan kekanak-kanakan.


Teman masa kecil dari Tama itu hanya bisa tertawa senang mendengar temannya kesal dipanggil dengan panggilan masa kecilnya. “oh okay baiklah Tama yang sudah dewasa.” Ejek dokter Flo. Dokter Flo menghampiri kedua orang itu.


“kau mau ke mana Tama?” dokter Flo membenarkan leher kemeja yang dikenakan oleh Tama. “aku akan pergi bersama Kirana.” Jawab Tama singkat. “kau tidak boleh pergi, kau masih harus banyak istirahat.” Sahut dokter cantik nan muda itu.


“ku rasa dia benar Tama.” Kirana sependapat dengan rival ibunya itu. “ahhh kalian berdua ini sama saja.” Tama tampak sedikit kesal. “Tama, jika kau ingin pergi, besok saja. Kemungkinan besar besok kau akan lebih baik.” Dokter Flo mencoba memberikan saran terbaik kepada pasiennya itu mengingat kondisi dan wajah Tama masih saja pucat walaupun sudah tersadar dari pingsannya.


“ja..jangan!” Kirana cepat menyelah perkataan dokter Flo. “jika harus pergi besok, lebih baik sekarang saja Tama.” Kirana dengan cepat membantah dokter cantik itu. “wanita ini. Belum saja sehari aku mengenalnya sudah kutahu wataknya. Dia sungguh plin-plan.” Dokter Flo menyeru dalam hati.


“kau dengar Flo, kami harus pergi hari ini.” Tama kembali berjalan. “berarti kau setuju untuk memenjarakanku disini hey Timi.” Dokter Flo setengah berteriak, ia berdecak kesal sarannya sebagai dokter tak diterima, terlebih lagi Tama lebih memilih wanita yang baru saja menjadi istrinya itu dibandingkan dengan dirinya yang sudah sejak lama mengenalnya.


“okay.” Dengan membelakangi teman masa kecilnya Tama mengangkat tangannya dan memberikan sebuah jempol kepada dokter Flo sebagai persetujuan jika temannya itu akan tinggal lebih lama pada kediaman Tuan Harun.


“Kirana, kenapa kau sangat plin-plan. Sebentar bilang Flo benar, sebentar lagi bilang kalau akan pergi hari ini juga.” Tama mengangkat kedua alisnya. “sebenarnya aku tidak se plin-plan yang kau pikirkan. Aku akan bersikeras pergi hari ini karena suatu hal.” Terang Kirana.


“apa itu Kirana?” Tama sedikit tertarik untuk mendengarkan penjelasan dari Kirana yang ingin pergi hari ini juga dan tak mau menundanya lagi. Bukankah dirinya lah yang seharusnya seperti itu mengingat bahwa dirinya lah yang sangat ingin bertemu dengan Riyanda.


“itu karena Mar—” ucapan Kirana terhenti kala melihat kedua mertuanya yang sedang tersenyum lebar kepada dirinya beserta suaminya. “hay sayang.” Nyonya Bella memberikan salam dan langsung cipika cipiki kepada Kirana. Ia lalu membelai lembut tangan Tama dari lengan hingga ke telapak tangan. Tangan Nyonya Bella terhenti pada telapak tangan Tama dan menggenggamnya.

__ADS_1


“Tama, kau akan pergi kemana?” Tanya Tuan Harun yang datang tiba-tiba dari arah luar rumah. “hm..” Tama tampak bingung ingin menjawab apa. “kami akan berjalan-jalan sebentar Tuan.” Sahut Kirana cepat. Ia tak ingin rencananya untuk kabur gagal hanya karena Tama yang terlihat seperti orang kebingungan.


“Tama apa kau sudah mendingan sayang?” Nyonya Bella masih memegang tangan putranya. “iya ibu, bahkan aku sudah merasa lebih baik lagi karena kami akan menghabiskan waktu kami hanya berdua. Di rumah ini terlalu banyak orang jadi ku rasa kami butuh udara segar dan waktu yang lebih untuk berdua.” Terang Tama dengan sedikit terbata.


“benar ibu, apa yang Tama katakan benar. Kami berdua sepakat untuk pergi jalan-jalan.” Tambah Kirana meyakinkan. “apa kau akan pulang sebelum makan siang sayang?” tanya Nyonya Bella lagi, ia melepaskan genggaman tangannya pada tangan putranya. “ku rasa tidak ibu.” Sahut Tama.


“sayang, biarkan mereka pergi.” Nyonya Bella membelai lembut dada suaminya. Tuan Harun menghel nafas panjangnya. “baiklah, kau harus pulang sebelum makan malam.” Tuan Harun tampak tidak menyetejui acara-acara jalan-jalan itu yang terkesan dipaksakan karena kondisi Tama masih membutuhkan waktu untuk istirahat bukan jalan-jalan.


“terima kasih Ibu.” Kirana tersenyum dan menggenggam tangan Nyonya Bella karena merasa dibolehkan pergi bersama Tama. Kirana mencium punggung tangan Nyonya Bella untuk berpamitan. Nyonya Bella tersenyum melihat Kirana yang tampak menyukai Tama. Begitu pula dengan Tuan Harun, Kirana mencoba meraih tangan Tuan Harun untuk bersalaman padanya namun Tuan Harun menarik tangannya hingga Kirana membatalkan niatnya.


“tidak apa sayang, ayah hanya dalam mood yang tidak baik. Dia baru saja selesai berolahraga dan kelelahan.” Bisik Nyonya Bella kepada menantu barunya itu. “oh seperti itu, iya ibu, tidak apa-apa.” Sahut Kirana senang.


“kemarilah Kirana.” Tama menggandeng istrinya pada bahunya. Ia berencana terlihat seperti saling menyukai di depan kedua orang tuanya. Tuan Muda satu itu tahu betul bahwa yang terjadi tadi malam adalah ulah dari kedua orang tuanya itu. Pastinya, ia pun juga menebak mereka melakukan itu agar Tama bisa melupakan Riyanda.


Alih-alih terlihat saling menyukai, karena Tama yang merangkul istrinya pada bahu, Tama tampak seperti merangkul seorang teman. Rangkulan Tama seperti orang yang sedang berteman angkrab, tak terlihat seperti orang yang saling menyayangi atau bertaut kemesraan.


Sesampainya di sana, Kirana hanya bisa berdecak kagum dengan melihat banyaknya jumlah mobil pribadi yang terparkir. Semua mobil-mobil itu adalah mobil bermerk, dan memiliki harga yang super mahal. Kirana terus mengikuti suaminya berjalan melewati semua mobil mewah itu mulai dari mobil BMW, Alphard, LC, Ferrari, Porsche dan Lambhorgini.


Walaupun sejak kecil hingga sekarang Kirana tidak merasakan kemewahan seperti yang dirasakan ibunya, akan tetapi tetap saja dengan sekali lihat ia dapat mengenali barang-barang mewah dan super mahal milik keluarga Harun.


Langkah Tama berhenti pada mobil Lamborghini yang berwarna merah. Pintu dari mobil itu terbuka ke atas, Tama memasuki mobil itu dan duduk pada kursi untuk menyetir. Putra dari Tuan Harun itu menghidupkan mesin mobilnya. Ia mengambil sebuah kacamata hitam yang ada pada laci dashboard mobil kemudian mengenakan kacamata hitam tersebut.


“ayo naik Kirana.” Ajak Tama dengan ramah. Kirana masuk dengan ekspresi datar namun dengan hati yang lumayan senang. Selama sembilan belas tahun hidup di dunia, ia baru kali ini merasakan bagaimana rasanya naik mobil Lamborghini seharga 4 milyar ke atas.


“ternyata biasa saja.” Gumam Kirana dalam hati. “bagaimana? Apa kau menyukai mobil ini?” Tama tampak sombong pada kesempatan itu, ia melihat semua ekpresi Kirana pada kaca jendela mobil yang ia lewati. Ia jelas melihat mulut wanita yang berada di sampingnya itu terbuka lebar-lebar saat melewati semua mobil mewah milik keluarga Harun.


“menurutku biasa saja.” Ucap Kirana jujur. Tama mulai menginjak pedal gas pada mobil itu dan menyetir dengan kecepatan sedang. “biasa saja? Ku rasa tadi kau hampir pingsan melihat semua koleksi mobil mewah keluargaku.” Ejek Tama.

__ADS_1


“benar, karena harga mereka yang fantastis. Tapi pas aku menaiki mobil ini, walaupun ku tahu harganya lumayan fantastis, aku tak merasakan sensasi apapun. Aku hanya merasa seperti naik mobil biasa.” Jawab Kirana jujur.


“benarkah?” tanya Tama heran. Semenjak Tama mengenal seorang wanita, baru kali ini ia mendapatkan jawaban yang diluar dugaannya. Rata-rata dari wanita yang pernah pergi bersamanya menggunakan berbagai mobil mewah milik keluarga itu memberikan kesan yang menyenangkan, membanggakan, dan menggelikan.


“benar, aku terperanga karena semua mobil itu mahal dan saat aku menaikinya, ternyata biasa saja. Kau tahu apa yang membuat orang gemar membeli mobil mewah? Itu bukan karena tawaran mobil yang memiliki kecanggihan tertentu. Memang benar para mobil mewah milik ayahmu memiliki kelebihannya masing-masing, tetapi masih banyak mobil lain yang tak kalah menarik dan bagus. Hanya saja para mobil yang dibeli ayahmu itu memiliki tehnik penjualan dan brand yang bagus dipasar internasional.” Jelas Kirana panjang lebar.


“kalau kau seperti ini, kau baru terlihat seperti anak ibumu.” Kata Tama tersenyum. “hey ada apa dengan ibuku? Oh ya apa kau pernah bertemu dengannya?” tanya Kirana penasaran. “tentu, aku tidak mungkin mau menikah dengannya jika belum pernah bertemu dengannya.” Sahut Tama.


Flashback on


Dipagi hari yang cerah, Tama pergi ke kolam berenang milik keluarga Harun yang berada di belakang rumah. Ia menghampiri ibunya yang sedang mengenakan bikini dan terbaring beralaskan karpet yoga di bawah sebuah payung besar yang berwarna-warni.


“ibu, apa ibu sudah mencarikanku wanita yang lebih cantik dan dewasa sesuai yang ibu janjikan?” tanya Tama yang tiba-tiba saja memeluk ibunya dan mencium pipinya. “sudah, baru kemarin kami bertemu dengannya bersama ayahmu.” Sahut Nyonya Bella datar.


“benarkah? Lalu bagaimana respon ayah?” Tama duduk disamping ibunya, ia mengobrol sambil memijat ibu tercintanya. “ahhh teruslah seperti itu, dibagian ini Tama.” Nyonya Bella menunjuk lengannya agar Tama memijatnya di area itu saja. Nyonya Bella merasakan sensasi kenikmatan hilangnya pegal ditubuhnya karena dipijit oleh putranya setelah melakukan ritual percintaan panasnya tadi malam bersama Tuan Harun.


“ibu kenapa badan ibu lebam seperti ini?” tanya Tama heran. “ini karena ulah ayahmu, ahhh sudahlah, jika kau menikah nanti dengan teman ibu itu kau pasti akan tahu.” Nyonya Bella bangun dan duduk. Ia meneguk jus orange dingin di sebuah gelas yang dihiasi potongan jeruk nipis.


“oh ya, ibu belum menjawab pertanyaanku.” Tama terus melanjutkan aksi pijat gratis itu. “tentang respon ayahmu ya?” Nyonya Bella memastikan. Tama mengangguk. “ayahmu tentu akan setuju, karena teman ibu yang satu itu sangat kaya. Kau tahu, di kepala ayah hanya ada ibu dan uang bukan?!” Nyonya Bella tersenyum sinis.


“jadi kapan ibu bisa mempertemukanku dengannya, aku juga harus memutuskannya. Jangan hanya meminta persetujuan sebelah pihak saja.” Tama menghentikan aksi pijat gratisnya. “ku rasa kau tidak perlu bertemu dengannya. Lihat saja ini.” Nyonya Bella memperlihatkan layar ponselnya. Pada layar itu ada foto-foto Riyanda yang sedang bersama ibunya saat melaksanakan arisan sosialita mereka.


“cantik dan dewasa.” Ujar Tama tanpa ditanya. “yah dia memang cukup tua untukmu.” Nyonya Bella memutar kedua bola matanya. “itu bukan di sebut tua ibu. Dia itu hanya terlihat dewasa.” Tegas Tama. “ahhh baiklah.” Nyonya Bella mengalah saja. Tidak ada gunanya bersitegang kepada putranya sendiri.


Keesokan harinya, Nyonya Bella bersama putranya sedang menunggu kedatangan Riyanda disebuah restaurant mewah yang telah mereka sepakati bersama. Dua orang itu menunggu selama sepuluh menit hingga akhirnya Riyanda datang untuk memenuhi janji makan siang bersamanya.


Riyanda berjalan masuk menuju meja yang telah diduduki oleh Nyonya Bella dan Tama. Tama melihat seorang ibu awet muda berparas cantik yang berjalan bak super model berkelas Gigi Hadid. Dengan mengenakan dress selutut berwarna merah disertai lipstick yang senada, highheels setinggi 17 cm, rambut pirang yang lurus di atas dan ikal pada ujungnya, make up natural standard internasional. Damagenya seperti melihat secara langsung model Kendall Jenner.

__ADS_1


“itukah wanita yang bernama Riyanda…” gumam Tama tak percaya.


__ADS_2