Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 13


__ADS_3

“Kirana.” Kirana menjulurkan tangannya kepada kepala pelayan itu. Tumiyem tampak kaget dan heran. “maaf Nyonya anda kenapa?” Tumiyem tak membalas tangan Kirana yang sedang mengajaknya berkenalan.


“namaku Kirana, dan kamu?” Kirana belum jua menarik tangannya. sekarang Tumiyem mengerti, dengan ragu ia menjabat tangan Nyonya Mudanya. “saya Tumiyem Nyonya.” Pembantu itu melepaskan jabatan tangannya dan membungkuk sopan sesaat selesai mengatakan namanya.


“tidak ada orang disini, kau tidak perlu seperti itu. Mulai sekarang kita berteman.” Kirana melayangkan senyum manisnya. Tumiyem mengangguk sambil menatap heran kepada Kirana. “kau tidak perlu seperti itu lagi, menunduk dan membungkuk. Dan sekarang panggil saja aku dengan panggilan Kirana. Tidak usah panggil aku dengan sebutan Nyonya lagi. okay?” Kirana kembali menatap cermin yang ada di depannya.


“baik Nyo.. eh maksud saya, baik Kirana.” Lidah Tumiyem serasa terpeleset saat memanggil Nyonya Mudanya dengan panggilan nama. Selama lebih dari 15 tahun bekerja menjadi pembantu atau pelayan bagi keluarga orang terpandang dan terkaya seperti keluarga Harun, ia tak pernah menyangka bertemu Nyonya Muda yang tidak sombong seperti Kirana. Walaupun Tumiyem sama sekali belum tahu asal usul dari gadis itu.


“oh ya, sudah berapa lama kau bekerja di sini?” Kirana menyisir rambutnya. “sini biar saya sisirkan Ki.. Kirana.” Dengan canggung Tumiyem berusaha untuk mengikuti perintah Nyonya Mudanya.


“tidak usah, biar saya sendiri, rambutku sudah cukup bagus kau buat. Aku hanya ingin melakukannya.” Kirana merasa senang melihat rambutnya yang begitu halus dan rapi. Entah vitamin rambut apa yang diberikan kepala pelayan itu hingga membuat rambut Kirana tampak lebih hitam dan tidak kering serta wangi.


“baik.” Sahut Tumiyem. “jadi, sudah berapa lama kau bekerja di sini?” Kirana mengulangi pertanyaannya. “sudah lima belas tahun Nyo.. eh Kirana.” Kali ini Tumiyem tidak membungkuk dan menunduk lagi.


“wah lama sekali, apa selama kau bekerja menjadi pelayan, kau hanya melayani keluarga ini?” Kirana berdecak kagum. “iya Kirana, selama tiga turunan, keluargaku telah melayani keluarga Harun. dari mulai nenekku, ibuku, dan sekarang diriku.” Jawab Tumiyem.

__ADS_1


“luar biasa, ternyata masih ada pelayan setia seperti keluargamu itu.” Kirana bertepuk tangan. Tumiyem hanya bisa terus memandang Kirana dengan tatapan heran.


“oh ya, aku baru di rumah ini dan aku tidak tahu di mana ruang makan keluarga, nanti bisa tolong kau beri tahu aku di mana ruangannya?” Kirana to the point. “baik Kirana.” Sahut Tumiyem.


“masih saja kau terlihat sangat formal dan sangat baku.” Tegur Nyoya Muda itu. “kau tinggal jawab saja, okay! Simple kan.” Tambah Kirana. “okay Kirana.” Tumiyem memperagakannya. “sudahlah, mungkin karena ini kali pertama bagimu jadi sedikit canggung. Besok-besok kau akan terbiasa.” Kirana berdiri.


“sebelum makan malam di mulai, bisakah kau mengajakku berkeliling?” Kirana tak menyia-nyiakan rentang waktu yang kosong sebelum makan malam bersama keluarga barunya. “okay Kirana.” Sahut Tumiyem singkat.


Kemudian kepala pelayan itu mengajak Kirana berkeliling. Namun karena waktu yang tidak banyak, Kirana hanya bisa mengetahui ruang makan keluarga, dapur, ruang tamu, dan rumah tinggal pelayan wanita. Rumah tinggal pelayan wanita terpisah dari rumah Tuan Harun.


“maaf Kirana, sepertinya cukup untuk berkeliling di kediaman Tuan Harun hari ini. Karena lima belas menit lagi makan malam akan di mulai.” Tumiyem berjalan di koridor tanpa dinding yang memiliki taman itu bersama Kirana menuju rumah Tuan Harun.


Koridor itu memiliki taman di samping kiri dan kanannya. Di sebelah kiri terdapat koridor yang sama, tetapi koridor itu adalah jalan penghubung antara rumah Tuan Harun ke rumah pelayan laki-laki. Jadi, jika berjalan di koridor ini, jelas terlihat para pelayan laki-laki yang berjalan di koridor itu. Begitupun sebaliknya, pelayan laki-laki bisa melihat para pelayan perempuan yang berjalan pada koridor rumah mereka.


Mario yang sedang bersiap untuk mengawal makan malam bersama Tuan Harun malam ini sedang berjalan menuju rumah Tuan Harun. Pengawal itu jelas melihat Tumiyem dan Kirana tengah berjalan santai dengan tujuan yang sama dengannya yaitu rumah Tuan Harun.

__ADS_1


Mereka bertemu di satu titik tumpu di dalam ruangan tertutup yang menghubungkan kedua koridor rumah pelayan itu ke rumah Tuan Harun. “halo Kirana.” Sapa Mario kepada Nyonya Mudanya, ia tersenyum seakan penuh dengan rencana jahat. “selamat malam Tuan Mario.” Tumiyem membungkuk dan menunduk. Mario berdiri diam tak membalas sapaan dari Tumiyem.


“hey apa yang kau lakukan, mengapa kau memanggilnya Tuan?” bisik Kirana kepada kepala pelayan itu. “dia adalah kepala pengawal pribadi keluarga Harun.” sahut Tumiyem yang juga berbisik. “kenapa dia memanggilmu dengan nama Kirana sama sepertiku?” tambah Tumiyem.


“karena dia tidak menghormatiku. Dia memanggil namaku sesuka hati, berbeda dengan kau yang atas izinku.” Sahut Kirana. Kedua orang ini saling berbisik. Mario memiringkan kepalanya seraya berpikir sedang apa kedua orang dihadapannya itu.


“Tumiyem, ku rasa kau banyak pekerjaan. Biarkan aku yang menemani Nyonya Muda ini.” Mario kembali melayangkan senyum yang penuh dengan arti kejahatan. “baik Tuan.” Tumiyem membungkuk dan menunduk. Kemudian dia beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Kirana.


“tunggu, Tumiyem tunggu.” Kirana mencoba mengejar Tumiyem namun sayang lengan tangannya ditahan oleh Mario. Kirana berdiri mematung, ia menelan salivanya, jantungnya mulai berdegup kencang, ia mulai ketakutan lagi.


“mau kemana kau gadis manja? Kita masih ada urusan bersama yang belum terselesaikan sayang.” Mario mengucapkan perkataannya dengan pelan. Mengingat bahwa di sana masih ada para pelayan wanita dan laki-laki yang bisa melewatinya. Tetapi, Mario tidak takut untuk dilihat oleh para pelayan itu, karena mereka semua takut kepada Mario.


Mario menarik kasar lengan Kirana. Ia menempelkan Kirana di dinding, Mario menempelkan tubuhnya kepada Nyonya Mudanya itu. “kau terlihat cantik malam ini sayang.” Mario menghirup aroma tubuh Kirana dan membelai rambutnya.


Sejak melihat Kirana berjalan di koridor rumah pelayan wanita, Mario langsung merasakan panas pada tubuhnya. Ada sesuatu yang belum ia selesaikan dengan Nyonya barunya. Samudera birahinya kembali mencuat kala melihat Kirana sangat cantik dengan penampilan naturalnya malam ini.

__ADS_1


Kirana menahan nafasnya. Ketika gugup dan ketakutan, Kirana memang sering menahan nafasnya selama mungkin. Apalagi ini Mario dengan bau busuknya. Entah mengapa walaupun Mario tak selalu melepaskan kaos kakinya, bagi Kirana setiap di dekati oleh Mario, bau itu langsung saja merasuk ke dalam dua lobang hidungnya.


“apa yang kau lakukan Mario? Cepat minggir.” Kirana mendorong kasar Mario. Tetapi dorongan itu tidak membuahkan hasil, sedikitpun badan Mario tidak bergerak mundur. “tentu saja aku akan menyentuhmu sayang.” Tangan Mario terangkat dan ingin menyentuh dua benda kenyal yang menonjol pada dada milik Kirana.


__ADS_2