
Tama keluar dari ruangan rahasia milik Tuan Harun dengan diam tanpa berbicara kepada Ravi. Begitu juga dengan karyawan Cleaning Service itu, ia tak lagi banyak bicara menggunakan kertasnya karena dari dalam lubuk hatinya ia berkata jujur dan benar-benar prihatin atas apa yang menimpa Harun Corporation apalagi keluarga Harun.
Tama pergi dari tempat kerjanya dan menuju ke bank terdekat dari kantornya tersebut untuk menukarkan emasnya dalam bentuk uang kertas. Setelahnya, ia memasukkan nominal uang itu ke dalam rekening pribadinya.
Sesampainya di rumah. “Kau pulang lebih awal Tama?” Dokter Flo langsung menghampiri pria yang ia cintai. “Yah, di mana ibu ku Flo?” Tama to the point. “Aku tidak tahu, sudah seharian aku tidak melihatnya.” Sahut Dokter Flo datar.
“Apa kau sudah mencarinya?” Tanya Tama. “Belum, ku rasa ibu mu sedang tidak ingin diganggu untuk saat ini.” Ujar Dokter Flo. “Flo, bisa kau tolong aku?” Tama menghentikan langkahnya yang sejak tadi berjalan bersama teman masa kecilnya untuk semakin masuk ke dalam kediaman Tuan Harun.
“Tentu saja, dengan senang hati.” Senyuman Dokter Flo sangat menawan. “Bisa kau cari ibu ku di taman belakang? Mungkin saja dia di sana untuk menenangkan diri.” Kata Tama sambil menatap kedua bola mata teman masa kecilnya itu.
“Baik Tama.” Sahut Dokter Flo kemudian ia berbalik beranjak dari samping Tama untuk segera mencari ibu dari teman masa kecilnya itu. Sedang tuan muda itu memutar arah langkahnya yang tadinya ingin masuk ke dalam kamar pribadinya untuk berisitirahat, sekarang menuju ke kamar kedua orang tuanya.
“Ibu…” Teriak Tama namun dengan nada yang lemah lembut. Ia mendapati kamar itu kosong tanpa ada siapapun termasuk ibunya sendiri. Tama melanjutkan langkahnya, ia berhenti di depan pintu toilet yang tertutup.
“Ibu… apa ibu di dalam?” Tama sedikit mengencangkan suaranya. Namun, tidak ada siapapun di kamar itu yang ia jumpai. Ia bergegas keluar kamar tersebut dan berencana menuju lapangan golf yang ada di area rumahnya.
Sementara itu di waktu yang sama, Nyonya Bella sedang tertidur pulas setelah muntah-muntah sehabis meminum beberapa botol minuman keras yang memabukkan. Ia bahkan tidak menyadari telah dipanggil putranya selama berkali-kali walaupun di ruangan rahasia miliknya itu sangat jelas terdengar jika ada suara di kamar tersebut.
“Tumiyem…” Tama berlari kecil dan berhenti saat melewati Tumiyem yang sedang melakukan pekerjaannya seperti biasa. “Apa kau melihat ibu ku?” Tanya Tama tergesa-gesa. “Tidak tuan, sejak pagi aku tidak melihat Nyonya Besar.” Sahut Tumiyem.
“Kemana ibu ku?” Gumam tuan muda itu namun dalam hati. “Baiklah, lanjutkan saja pekerjaan mu, Miyem.” Perintah Tama. “Baik tuan.” Jawab Tumiyem singkat kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya saat tuan mudanya pergi meninggalkannya.
Tuan muda itu menyusuri lapangan golf nan luas itu menggunakan mobil yang ada di sana. Mobil itu adalah mobil yang biasa digunakan untuk pergi ke lapangan golf tersebut. Di tengah teriknya panas matahari. Terlihat butiran keringat yang berjatuhan dari wajah tuan muda tampan itu.
Dengan memakan waktu selama satu jam untuk berkeliling lapangan golf itu, Tama tak jua menemukan ibunya. “Bawa aku pulang.” Perintah Tama kepada pria paruh baya yang sedang menyetir mobil lapangan golf itu. “Baik tuan.” Sahut bapak itu.
“Flo…” Teriak Tama saat berhasil masuk ke dalam rumahnya. “Flo… kau di mana?” Tama berteriak lagi. “Aku di sini Tama.” Dengan sangat tergesa-gesa Dokter Flo menghampiri teman masa kecil itu.
“Apa kau menemukan ibu ku?” Tanya Tama dengan ekspresi wajah yang cemas. “Tidak, ibu mu tidak ada di taman belakang Tama.” Jawab Dokter Flo yang sama cemasnya. “Lalu di mana ibu ku berada?” Tama menatap kedua bola mata indah itu penuh dengan perasaan cemas.
“Apa kau tahu di mana ibu mu sering menghabiskan waktu sendirian?” Tanya Dokter Flo. Dokter cantik itu mulai memutar otaknya agar bisa menemukan Nyonya Besar pada kediaman tempat ia tinggal.
“Aku tidak tahu, setahuku dia banyak menghabiskan waktunya bersama ayah.” Tutur Tama sambil melihat ke sekeliling rumahnya dan berpikir keras. “Selama kau di sini, apa kau tahu apa yang ibu ku lakukan di saat merasa sedih?” Tambahnya lagi.
“Tidak Tama. Hanya saja, ibu mu sepertinya mengidap penyakit gangguan kecemasan.” Ujar Dokter Flo. “Kau benar, tapi apa penderita gangguan kecemasan bisa pergi begitu saja dari rumah?” Tanya Tama lagi.
“Itu aku tidak begitu mengetahuinya. Hanya saja pengidap gangguan kecemasan yang parah bisa lemas dan tidak sadarkan diri.” Jelas Dokter Flo. “Kalau begitu ibu ku masih berada di rumah ini. Kita hanya perlu terus mencarinya.” Kata Tama kemudian ia mencoba mencari ibu nya ke dapur, mess pelayan dan mess pengawal pribadi.
*
*
__ADS_1
Kring… kring… kring…
Telepon rumah tanpa kabel itu berdering tepat di atas nakas. Kirana sedang berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya.
“Halo?” Ia pun mengambil telepon rumah itu dan mengangkat panggilan suara itu. “Halo nona manis, sekarang kau lebih rajin menjawab teleponku dan itu suatu kemajuan yang sangat baik.” Kata Tuan Azego pada panggilan itu.
“Apa mau mu, Azego?” Kirana to the point. “Tidak ada, aku hanya ingin memberikan mu sebuah kabar gembira.” Sahut Tuan Azego sembari tersenyum sinis di ruangannya.
“Apa itu, Azego?” Kirana penasaran. Berita baik apa itu, apa mungkin suaminya akan datang untuk melihat kondisinya.
“Begini sayangku, aku ingin memberitahukan mu sebuah berita viral yang akan membuat mu tercengang.” Terang Tuan Azego. “Apa itu? sebutkan saja Azego. Jangan bertele-tele dalam berbicara.” Sahut Kirana ketus.
“Aku akan memberitahu mu dua kabar gembira. Kabar gembira yang pertama adalah mertua mu yang bernama Harun telah resmi dinyatakan bersalah dan sedang menjalani masa hukuman selama 10 tahun.” Jelas Tuan Azego sembari tersenyum senang.
“Apa kata mu? Tuan Harun di penjara? Bagaimana bisa kau bilang itu berita yang menggembirakan pak tua!” Bentak Kirana yang tidak menerima dipenjarakannya Tuan Harun sebagai kabar gembira. “Yah, menurutku itu berita yang sangat bagus.” Kata Tuan Azego.
“Dan berita gembira yang kedua adalah perusahaan yang di pimpin oleh suami mu juga telah hancur dan bangkrut. Keluarga Harun sedang melarat sekarang. Hahaha…” Rentenir kaya itu tertawa senang.
“Ku rasa kau sudah benar-benar gila Azego!” Kata Kirana dengan ekspresi wajah yang tidak dapat diartikan. Tatapannya tajam seakan bisa memecahkan lantai yang berkeramik berwarna putih itu.
“Kau tidak perlu ikut emosi ataupun marah Kirana. Selama ini kau cukup baik dengan menjadi tahanan yang bisa diajak kompromi.” Terang Tuan Azego.
“Kalau begitu, lepaskan aku. Untuk apa lagi aku berada di kamar yang terasa seperti penjara ini.” Tutur Kirana dengan perasaan yang sedikit kesal. “Tenang Kirana, soal itu, suami mu akan datang dengan sendirinya untuk menjemput mu.” Jelas Tuan Azego.
*
*
“Tidak tunggu sebentar lagi. Pasti dia di dalam rumah ini walaupun aku tidak tahu entah di mana karena setiap pelayan dan pengawal pribadi tidak ada yang mengantarnya pergi keluar. Mereka juga tidak melihat kepergian ibu ku pada CCTV rumah ini.” Jelas tuan muda itu.
Kemudian keduanya mencari lagi keberadaan Nyonya Bella. Sementara itu, Nyonya Bella baru saja tersadar dari tidurnya. Ia terbangun dengan rambut yang berantakkan. Pakaian yang kotor bekas muntahannya sendiri serta kepala yang masih terasa oleng dan pusing.
Nyonya Bella keluar dari ruangan rahasianya tersebut. Ia pun menutup kembali ruangan itu agar tidak ada yang tahu keberadaan ruangan tersebut. Dengan berjalan miring-miring, ia menuju kamar mandi.
Nyonya besar itu masuk kamar mandi dan berdiri di atas westafel. Ia mengambil pasta dan gosok gigi kemudian menggosok giginya dengan mata yang sesekali terpejam. Setelah selesai menggosok gigi, ia mencuci mulutnya dengan cairan pembersih mulut agar nafasnya kembali segar. Tak lupa ia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang baru. Merapikan rambut dan memakai kembali make up tipis agar tetap terlihat cantik.
Nyonya besar itu berdiri dan meraih gagang telepon yang ada di atas nakas. “Halo, berikan aku minuman tradisional seperti biasa ya.” Perintah Nyonya Bella kepada pelayan yang menganggkat panggilannya. Ia pun menutup telepon itu setelah pelayannya bersedia untuk membuatkan minuman tersebut.
Minuman itu adalah racikan tradisional yang berasal dari negeri Sakura. Minuman itu berfungsi untuk menghilangkan rasa capek, pusing, dan beberapa efek dari minuman keras. Sehabis mabuk, ia kerap kali meminta kepada para pelayannya untuk dibuatkan minuman tradisional seperti itu agar cepat pulih.
“Permisi tuan.” Tumiyem mendekati tuan mudanya di halaman depan. “Ada apa Tumiyem, aku sedang mencari ibu ku.” Kata Tama sembari memperhatikan sekitarnya.
__ADS_1
“Begini tuan, baru saja ada laporan dari pelayan bahwa nyonya besar berada di kamarnya.” Terang Tumiyem sambil menunduk hormat. “Di kamarnya? Apa kau yakin? Aku sudah dua kali memeriksa kamar itu dan tidak ada siapapun di sana.” Bantah Tama. Ia mengernyit tak percaya.
“Benar tuan. Saya tidak mengada-ngada. Ibunda tuan meminta untuk dibuatkan air tuan.” Tambah Tumiyem. “Minuman apa itu?” Tanya Tama. “Itu hanya minuman jamu biasa tuan.” Kata Tumiyem yang berusaha menutupi aib seorang ibu kepada anaknya.
“Baiklah, aku akan segera melihatnya. Aku penasaran apa benar ibu ada di kamarnya.” Tama bergegas menuju kamar kedua orang tuanya untuk yang ketiga kalinya.
“Ibu…” Tama lekas memeluk ibunya saat berhasil melihat wujud yang telah ia cari selama enam jam. “Sayang, ada apa dengan jantung mu?” Nyonya Bella melepaskan pelukan itu. Ketika dipeluk oleh putranya ia merasakan jantung Tama yang berdegup kencang seperti dikejar kereta api.
“Itu karena aku takut dan mengkhawatirkan mu, ibu. Kau dari mana saja ibu? Kami semua telah mencari mu ke mana-mana dan tidak menemukan mu.” Tama to the point. “Ahhh itu, aku tadi berada di toilet Tama.” Nyonya Bella mencoba mencari alasan.
“Tidak ibu, aku sudah dua kali mencari mu di kamar ini dan setiap aku ke kamar ini, aku juga langsung mengecek toilet. Kau tidak berada di sana ibu.” Tegas Tama.
“Yah, mungkin saja pas kau masuk ibu sudah keluar.” Sahut Nyonya Bella datar. “Sekarang aku di sini sayang. Apa kau ada perlu?” Nyonya Bella menyetuh kedua pipi putranya dengan gemas.
“Tidak ada ibu.” Jawab Tama singkat. “Oh ya, silahkan mengecek rekening ibu. Siang tadi aku mengirimkan uang 100 juta rupiah untuk ibu pakai berbelanja.” Wajah yang tadinya cemas kini berubah menjadi tenang.
“Benarkah? Terima kasih sayang. Ibu memang sudah tiga hari tidak berbelanja barang branded.” Kini raut wajah Nyonya Bella yang tersenyum senang. “Sebentar, aku akan memanggil Flo kemari. Kami akan pergi berbelanja. Apa kau mau ikut?” Nyonya Bella menggandeng tangan putranya dan berjalan bersama meninggalkan kamar itu.
“Tidak ibu. Ibu saja yang pergi bersama dengan Flo karena aku ada urusan lain hari ini.” Tolak Tama. Yah, ia akan ke kediaman Tuan Azego untuk menemui istrinya. “Baiklah kalau begitu.” Jawab Nyonya Bella datar.
Saat melewati kamar dokter cantik itu, langkah Nyonya Bella dan putranya terhenti tepat di depan kamar Dokter Flo.
“Floo…” Teriak Nyonya Bella sambil mengetuk pintu kamar itu. “Iya tan?” Gegas Dokter Flo membuka pintu itu. “Apa kau ingin menemaniku berbelanja hari ini?” Nyonya Bella tersenyum.
“Tentu!” Jawab Dokter Flo dengan semangat 45. “Baiklah, bersiaplah. Aku akan mengganti lagi bajuku terlebih dahulu.” Ucap Dokter Flo. “Baiklah, aku juga.” Nyonya Bella melepaskan rangkulan kepada Tama dan kembali ke kamarnya.
Tuan muda itu melongo sendiri ditinggalkan oleh dua orang wanita yang tinggal bersamanya dan ia pun kembali ke kamarnya untuk mengambil blazer karena ia hanya mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana dasar berwarna abu-abu muda.
“Azego, apa kau mendengarku?” Ucap Tama sambil memegang Earphone-nya. “Azegooo…” Panggil Tama lagi namun panggilannya kali ini membutuhkan nafas yang panjang.
“Ada apa tuan muda yang manja?” Akhirnya Tama mendapatkan jawaban dari Tuan Azego. “Cukup lama bagi mu untuk tidak menghubungiku.” Tambahnya lagi.
“Yah, dan begitu juga dengan kau pak tua. Semenjak berita tentang dipenjaranya ayahku, kau juga banyak hening dan tidak menganggu gendang telingaku.” Kata Tama sesuai fakta.
“Untuk apa lagi aku memberitahukan misi apa saja yang bisa membuat keluarga mu bangkrut. Aku tidak perlu melakukan itu karena saham Harun Corporation tidak terelakkan lagi dari pemegang saham yang menjual sahamnya secara bersamaan.” Tuan Azego terdengar sangat serius kali ini.
“Dan kau sangat membantuku dengan terus bersedia menemui istri mu dengan membayar mahal dengan ku.” Tambahnya lagi. “Kau sangat licik!” Sahut Tama dengan ketus.
“Oh ya? Aku baru saja mendengarnya.” Kata Tuan Azego singkat. “Hentikan semua omong kosong mu. Tunggu kedatangan ku karena sekarang aku sudah di jalan.” Sahut Tama kemudian ia tak lagi berniat untuk melanjutkan percakapan itu.
Setelah beberapa saat. “Permisi tuan.” Maria menghampiri tuannya. “Ada apa Maria?” Tanya Tuan Azego sambil menikmati rokoknya. “Tama ada di luar, dia memaksa ingin masuk. Tapi kami tidak membiarkannya masuk sesuai perintah tuan.” Tutur Maria.
__ADS_1
“Bagus! Biarkan saja dia di luar sana.” Jawab Tuan Azego dengan ekspresi yang datar.