Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 30


__ADS_3

“Kirana, baru saja polisi yang bertugas mengidentifikasi jasad itu menelepon.” Tama memegang kedua lutut istrinya. Kirana tersadar dari lamunannya, dengan kedua mata yang sembab ia menatap tajam kepada Tama.


“apa yang polisi itu katakan Tama?” mata Kirana yang merah menatap kedua bola mata suaminya. Tama juga demikian, tetapi bedanya Tama tidak memiliki mata yang merah dan sembab seperti mata Kirana.


“ku rasa polisi itu sudah mengetahui siapa jasad yang ditemukan oleh Vindra pada apartemen ibumu.” Tama berdiri dari jongkoknya begitupun dengan Kirana yang tampak ikut berdiri.


“lalu? Siapa nama dari wanita yang tak bernyawa itu Tama? Apa dia bernama Riyanda? Apa dia benar ibuku?” Kirana semakin mendekatkan diri kepada Tama dan mencari tatapan mata Tama yang dibuang ke samping. “itu aku pun tidak tahu. Polisi itu hanya menyuruh kita untuk datang kesana saat ini.” Sahut Tama.


“kalau begitu ayo kita pergi.” Gegas Kirana dengan menarik lengan suaminya, tetapi Tama diam di tempat hingga membuat langkah Kirana terhenti. “ada apa Tama? Mengapa kau tak ingin pergi?” Kirana mengerutkan kedua alisnya.


“Kirana mari makan malam terlebih dahulu, setelah itu aku berjanji kita akan ke sana secepat mungkin.” Bergantian, kini Tama yang menarik lengan Kirana namun istrinya itu menurutinya dan berjalan bersamanya.


Di ruang makan milik keluarga tuan Harun, dokter Flo bersama dengan Nyonya Bella telah menunggu kedatangan putra kesayangannya beserta istrinya. “halo sayang…” sapa Nyonya Bella saat melihat putranya masuk bersama dengan Kirana.


Dokter Flo merasa kesal kala melihat tangan Tama yang memegang lengan Kirana. Nyonya Bella beranjak dari tempatnya dan mendekati sepasang pengantin baru itu. Sedangkan dokter Flo membuang muka menatap makanan lezat yang ada dihadapan dengan perasaan yang dongkol.


“sayang, ada apa denganmu?” Nyonya Bella menaikkan dagu Kirana yang tertunduk. Ia jelas melihat mata sembab berwarna merah sebuah tanda yang menyatakan Kirana telah menangis beberapa saat yang lalu.


Kirana hanya kembali menunduk dan menangis setelah Nyonya Bella melepaskan tangannya dari dagunya. “apa yang terjadi di antara kalian? Tidak baik bertengkar di hari pertama pernikahan kalian.” Nyonya Bella cemberut.


“sudahlah ibu, ini hanya pertengkaran kecil oleh sepasang suami dan istri.” Bohong Tama kepada ibunya. “Tama, jika kau menghargai seorang wanita makan jangan pernah menyakitinya.” Nyonya Bella membuang mukanya dan kembali duduk pada meja makan itu.


“baiklah ibu, percayakan saja kepadaku.” Sahut Tama, kemudian ia kembali menarik lengan Kirana dan duduk bersama pada meja makan itu.


“ini makanlah.” Tama mengambil sesendok nasi dan beberapa lauk pauk ke atas piring Kirana. Tak lupa ia juga mengisi air ke dalam gelas yang ada di depan Kirana. Kirana masih saja dengan lamunannya. Nyonya Bella tampak senang dengan perhatian putranya kepada istrinya tersebut.


“dan ini untukmu Timi, kau harus makan banyak. Kau juga jangan lupa memakan obatmu, setelah itu beritirahatlah.” Dokter Flo mengambilkan nasi dan lauk dan meletakkannya pula di atas piring Tama.

__ADS_1


“dokter Flo benar, kau harus makan obat dan beristirahat sayang.” Tambah Nyonya Bella. “aku sudah tidak apa-apa ibu. Aku juga sudah merasa sangat fit.” Sahut Tama. “walaupun begitu kau harus tetap memakan obatmu hingga habis Timi.” Terang dokter Flo.


Tama menarik nafasnya dalam-dalam, “baiklah Flo.” Jawabnya. Kemudian makan malam itu di mulai dan mereka memakan makanannya masing-masing kecuali Kirana. Ia tampak mengaduk-ngaduk makanan yang ada dihadapannya.


“oh ya bu, kemana ayah?” tanya Tama saat menyadari ada yang kurang di meja makan itu. “ayahmu pergi untuk bertemu dengan gubernur lagi.” sahut Nyonya Bella sembari menyantap makanannya.


“untuk apa ayah pergi menemui gubernur ibu?” Tama menaikkan sebelah alisnya. “ahhh ayahmu itu membuat ibu pusing saja Tama. Dia pergi menemui gubernur itu katanya karena dia akan mencalonkan diri menjadi gubernur dan meminta dukungan dari pak gubernur itu.” Nyonya Bella mengangkat gelas yang ada dihadapannya dan meneguknya.


“ku rasa ayahmu itu sudah tidak normal Tama—” tambah Nyonya Bella, namun perkataannya cepat dipotong oleh putranya. “ibu, nanti saja kita bicarakan itu.” Tama menatap ibunya lalu menggerakkan bola matanya ke arah dokter Flo seraya berkata jangan lanjutkan kalimat itu di sini.


Nyonya Bella mengangguk mengerti, ia melanjutkan makannya begitu pula dengan Tama dan dokter Flo. “sayang… kenapa kau tidak makan?” tegur Nyonya Bella kepada menantunya. “ah? Eh iya ibu.” Kirana mengambil sesendok nasi dan melahapnya.


“oh ya ibu, malam ini aku akan pergi jalan bersama dengan Kirana lagi. jadi, tolong ibu sampaikan kepada ayah karena mobil yang ku pinjam darinya masih aku pakai.” Terang Tama.


“kau mau kemana Timi? Bukankah barusan ku bilang kau harus istirahat?” dokter Flo memegang bahu teman masa kecilnya. Memang posisi dokter Flo duduk pada meja makan itu berada di sisi kiri Tama sedangkan Kirana berada di sisi kanannya.


“ahhh iya benar ibu. Kami masih sangat ingin menghabiskan waktu berduaan.” Kirana merangkul lengan Tama. Seketika Tama menarik kedua sudut bibirnya dan mengangkat kedua alisnya yang mana Nyonya Bella sedang memandangi mereka berdua.


“baiklah kalau begitu, aku tidak akan bisa melarangmu jika soal itu. tapi jangan pulang larut malam sayang, ingat kau masih butuh banyak istirahat. Ibu tidak ingin melihat kau pingsan lagi.” Nyonya Bella meletakkan sendok dan garpunya di atas piring. Ia menyudahi makan malam itu.


“sayang, ku rasa ibu pusing. Ibu perlu memakan obat kolestrol ibu dulu.” Nyonya Bella memegang kepalanya. Ia memang telah memakan dua buah lobster ukuran jumbo. Dengan segala hidangan lezat yang ada didepannya ia tak sanggup menahan nafsu makannya walaupun ia sadar ia tak boleh memakan makanan berjenis seafood karena kolestrol tubuhnya yang harus ia control.


Nyonya Bella meninggalkan ruangan itu. “Flo, sebelum aku pergi bisa kita berbicara sebentar.” Tama menoleh ke sebelah kirinya. “aku sudah kenyang, bagaimana jika kita berbicara sekarang saja.” Dokter Flo meletakkan sendok dan garpu di atas piring yang terlihat masih banyak sisa makanan itu. ia sangat bersemangat dengan ajakan itu, ia pun meminum air putih pada gelas miliknya dan berdiri.


“Kirana, kau habiskan makananmu dulu. Aku akan berbicara dengan dokter Flo sebentar. Silahkan tunggu aku dikamar jika kau telah selesai makan, okay?” Tama memegang bahu kiri Kirana. Kirana mengangguk setuju dan melanjutkan makannya walaupun ia tampak tak begitu bersemangat untuk menyantap makanan tersebut.


Tama menggiring dokter Flo ke ruangan sebelum memasuki ruang makan itu. Ruangan itu hanya ruangan kosong tanpa property yang di dindingnya dihiasi lukisan-lukisan klasik dan ada sebuah meja bulat yang berada ditengah-tengah dengan sebuah bunga besar yang indah yang terletak di atas meja tersebut.

__ADS_1


“ada apa Timi? Apa ada hal penting yang perlu kau bicarakan denganku?” dokter Flo berdiri di depan Tama pada sudut ruang itu. Tama melihat ke sekitarnya untuk memastikan tidak ada pelayan yang sedang melewatinya.


“Flo, apa kau tahu obat yang bisa menaikkan gairah *3** seseorang hingga dia bisa melakukan hubungan suami istri tanpa menyadari perbuatannya?” Tama mulai menyelidik sesuatu yang menurutnya itu salah untuk ia lakukan karena ia meniduri anak tirinya.


“tentu. Ada apa Tama? Untuk siapa kau ingin memberikan obat tersebut?” dokter Flo melipat kedua tangannya di atas perut. “tidak, aku tidak berniat memberikan terhadap siapapun obat seperti itu Flo, kau pasti tahu aku. Namun, kemarin malam ada kejadian aneh yang terjadi antara aku dan Kirana.” Tama melihat lagi ke sekitarnya.


“aku melakukan hal yang diluar kendaliku. Ku rasa ada seseorang yang telah memberiku obat perangsang tetapi anehnya aku tidak memakan atau meminum obat apapun pada hari itu.” jelas Tama.


Dokter Flo memegang dagunya seraya berpikir. “Apa di ruanganmu ada sebuah diffuser yang biasa digunakan untuk aroma therapy?” dokter Flo memperhatikan mimic wajah pria yang disukainya itu, ingin sekali rasanya ia memeluk pria itu karena posisi mereka yang cukup dekat.


“ada, setiap hari aku memakainya, difusser itu sangat membantuku mengatasi alergi fluku terhadap debu.” Terang Tama. “ahhhh itulah penyebabnya. Ku rasa seseorang telah meletakkan penambah gairah *3** yang berjenis cairan hingga kau menghirupnya Timi.” Jelas dokter Flo. Tama tampak mengangguk.


“tapi Timi, mengapa seseorang melakukan hal tersebut. Bukankah kau tidak perlu diberikan obat yang seperti itu, tentu kau menikahi orang kau cintai bukan. Jangan bilang kau…” dokter Flo menunjuk wajah Tama. Ia menyadari sesuatu yang mungkin benar adanya.


“apa kau tidak mencintainya?” sekak dokter Flo. “benar, aku menikahi wanita yang bukan aku cintai, aku… aku sebenarnya hendak menikah dengan ibunya.” Tama menatap kosong ke lantai dengan wajah yang penuh kekecewaan.


“apa?” dokter Flo membuka lebar mulutnya namun karena malu dengan cepat ia menutupnya dengan tangan. “Tama apa kau benar tidak mencintainya, lalu bagaimana ini bisa terjadi. Dan kenapa kau malah mencintai dan hendak menikahi ibunya.” Dokter Flo mendengarkan kalimat yang diluar dugaannya. Walaupun begitu, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia bersyukur karena itu akan membuatnya mempunyai peluang untuk mengambil hati teman masa kecilnya. Karena ternyata Tama tidak mencintai Kirana.


“tapi Timi, ku lihat kau sangat memperhatikan wanita itu. siapapun yang melihatnya akan mengira kau mencintainya.” Tambah dokter Flo. “itu karena dia anakku, dan bagaimanapun kami telah melewati banyak hal hanya dalam waktu satu hari ini. Terlebih lagi aku telah merenggut kesuciannya.” Tama meninju dinding yang ada di belakang dokter Flo untuk melampiaskan kekesalannya.


“ck.” Dokter Flo berdecak kesal. “siapa yang berani melakukan itu padamu Timi?” kini dokter Flo penasaran. “sudahlah aku sangat tahu pelakunya, siapa lagi kalau bukan kedua orang tuaku. Bukankah orang tua akan khawatir jika anaknya menikah dengan perempuan yang berumur lebih tua?!” ucap Tama dengan tangan yang masih menempel di dinding.


“lalu apa yang akan kau lakukan bersamanya malam ini?” dokter Flo kembali bertanya dan penasaran. Baginya untuk apa pria yang dicintainya itu pergi bersama malam-malam begini jika ia tidak mencintai istrinya.


“itu karena aku ada urusan lain yang belum bisa aku ceritakan kepadamu.” Kata Tama, ia menarik tangannya dari dinding dan berdiri dengan posisi tangan kiri yang dilipat di atas perut serta tangan kanan yang memegang kepalanya.


“apa kau pusing lagi Timi?” dokter Flo meraih tangan kanan sahabatnya. “tidak aku tidak apa-apa.” Sahut Tama yang menampik halus tangan dokter Flo.

__ADS_1


“Tama, aku sudah selesai makan. Bisa kita berangkat sekarang juga?” tiba-tiba saja Kirana menghampiri kedua orang itu. yah, jika ingin meninggalkan ruang makan, mau tidak mau keluarga Harun harus melewati ruangan itu. kecuali para pelayan, mereka mempunyai akses lain yang bisa ke ruang makan yang langsung menuju ke dapur.


__ADS_2