Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 34


__ADS_3

“lalu apa lagi yang ingin bapak sampaikan?” tanya polisi itu kembali. “ku rasa cuma itu. Jika saya menemukan kejanggalan lagi, saya akan segera menghubungi pihak kepolisian.” Jawab Vindra. “baiklah, terima kasih atas waktunya pak Vindra.” Terang polisi tersebut sembari menutup laporan wawancara yang dilakukan bersama Vindra Vindranya.


“jangan panggil bapak dong pak polisi, panggil nama saja. Panggil saja Vindra, apa wajahku begitu mirip dengan bapak-bapak?” Vindra mengibaskan rambutnya yang sama sekali tak tampak sehelai pun bergerak karena memang rambut Vindra pendek dan klimis. Potongan rambutnya bagaikan potongan rambut para pria dari Inggris.


Polisi yang melakukan wawancara itu hanya bisa tersenyum tak enak hati. Ia bahkan mual, entah karena apa ia bisa mual. “baiklahhh…” Vindra berdiri dengan menghela nafas lega. “semoga saya tidak dipanggil ke kantor ini lagi ya pak.” Vindra mengedipkan matanya.


Polisi itu terdiam seribu bahasa. Kemudian Vindra pergi keluar dari ruangan itu.


Dorr\~


Vindra mendengar suara tembakan pistol yang dipegang oleh Tama. Vindra berlalu tanpa memperdulikan ledakan bunyi dari pistol itu. Baginya ini hari yang melelahkan diluar dari pekerjaannya menjadi housekeeping. Vindra bergegas pulang dengan senyum yang penuh kelegaan.


Flashback off


Sementara itu di sebuah gedung yang berada di tengah kota. Gedung itu tidak menjulang tinggi seperti gedung pencakar langit lainnya. Gedung yang didatangi oleh tuan Harun bersama dengan pengawal pribadinya itu hanya sebuah gedung yang bertingkat atau berlantai tiga dan berbentuk persegi empat.


Gedung itu tampak biasa saja dari luar. Sebuah bengkel biasa yang memiliki beberapa langganan. Namun ternyata di dalam gedung tersebut terdapat sebuah ruang bawah tanah yang mana ruangan itu sangat mewah dan dipenuhi dengan orang kaya yang kesepian seperti tuan Harun.


Di sana, siapapun bisa melakukan apa saja yang ingin dia lakukan. Yang pasti, asalkan para tamu tersebut memiliki banyak uang. Di sana terdapat sebuah perkumpulan gangster ternama di kota itu. Termasuk gangster dari Mario dahulu sebelum ia bertemu dan bekerja bersama dengan tuan Harun.


Tuan Harun masuk ke ruangan mewah itu bersama Mario. Ruangan yang gelap dan dihiasi beberapa lampu yang tak membuat ruangan terang benderang. Disana kebanyakan orang memakai topeng mata termasuk tuan Harun dan Mario.


“selamat datang tuan.” Sapa seorang pelayan yang memakai kemeja putih dan celana panjang hitam dan juga memakai topeng mata. “apa masih ada meja VIP yang masih kosong?” tanya Mario mewakili tuannya.


“ada tuan, mari ikut dengan saya.” Pelayan itu berjalan menuju sudut ruangan yang memiliki pintu. Mereka bertiga masuk ke ruangan itu. Di ruangan tersebut telah duduk tiga orang wanita berpakaian seksi dan memakai topeng mata.


“silahkan katakan apapun kebutuhan tuan. Tiga wanita ini juga akan menemani tuan.” Terang pelayan itu. “baiklah, kau silahkan pergi.” Usir tuan Harun. Pelayan itu pun pergi tanpa tersinggung karena memang kebanyakan sifat orang kaya di kota itu adalah semena-mena. Merasa uang adalah segalanya memang sifat asli para orang kaya di kota tersebut.

__ADS_1


“halo tuan…” ketiga dari wanita seksi itu mendekati tuan Harun. Walaupun dalam kegelapan tuan Harun masih tetap jelas terlihat kakek-kakek, tetapi tiga wanita itu cukup cerdas untuk membedakan yang mana memiliki uang dan yang mana yang hanya pesuruhnya.


“kau.” Tunjuk tuan Harun kepada salah satu wanita tersebut. “iya tuan.” Lekas wanita tersebut membelai dada tuan Harun. “hentikan, bawakan aku Diva Vodka sekarang juga.” Perintah tuan Harun. “baik tuan.” Gegas wanita yang ditunjuk oleh tuan Harun pergi meninggalkan ruangan itu.


Kedua wanita seksi yang bersisa semakin mendekatkan diri kepada tuan Harun. “aku tidak akan menyentuhmu karena istriku lebih cantik dan seksi dari pada kalian berdua.” Sombong tuan Harun dengan senyuman tipis. Yah, Nyonya Bella cukup cantik dan langsing. Terlebih lagi, istri tuan Harun itu berasal dari keluarga terpandang. Jadi, kedua wanita yang sedang merayu tuan Harun saat ini tidak ada apa-apanya, apa lagi tuan Harun termasuk type pria yang setia.


“Mario, kau boleh dengan kedua wanita ini.” Tuan Harun melipat kedua kakinya dan melebarkan tangannya di pinggiran sofa tempatnya duduk. “sungguh tuan?” Mario menelan salivanya berkali-kali. Semenjak ia masuk ruangan elite itu, memang matanya selalu tertuju kepada pelayan wanita seksi yang berkeja di sana.


“iya, aku yang akan mentraktirmu.” Jelas tuan Harun. Gegas kedua wanita itu menghampiri Mario dan mereka bertiga menuju ke pintu yang di dalam terdapat satu kamar dengan taburan kelopak bunga mawar di atas kasur. dan tak lupa, ruangan itu juga setengah gelap dan setengah terang.


Sembari Mario menikmati hadiah tak terduga dari tuannya, wanita yang disuruh oleh tuan Harun mengambil Diva Vodka pun datang. Ia datang dengan membawa beberapa botol minuman itu dan dua gelas bening kecil bermotif kristal.


“maaf tuan jika saya lambat, karena tadi—” kalimat wanita itu terhenti kala telunjuk tuan Harun berada di bibirnya. “sssttt…. Jangan banyak berbicara kau cukup seksi dan membuatku bergairah tetapi aku tak akan menyentuhmu karena istriku lebih cantik darimu.” Tuan Harun menyombongkan Nyonya Bella untuk yang kedua kalinya.


Pelayan wanita itu hanya bisa tersenyum tipis. “kau pergilah. Ini untukmu.” Tuan Harun memberikan sejumlah uang senilai 10.000.000 rupiah kepada pelayan wanita tersebut. Sontak wanita itu sangat senang. Ia hendak memeluk tuan Harun sangking senangnya.


“jangan lakukan itu, atau akan ku ambil uang itu kembali. Sekarang pergilah.” Perintah tuan Harun. “baiklah tuanku.” Pelayan wanita itu mengecup pipi tuan Harun kemudian pergi meninggalkan ruangan itu. lekas tuan Harun mengambil sapu tangan miliknya untuk mengelap bekas bibir dari pelayan wanita itu karena ia merasa tidak sudi untuk mendapatkan kecupan dari wanita rendahan.


Selama dua jam Mario tak kunjung keluar dari kamar rahasia itu. karena bosan tuan Harun keluar dari tempat itu untuk mencari angin segar. Saat berada di luar, cuaca siang hari sangat terlihat jelas. Padahal jika berada di dalam, orang-orang itu seakan berada pada malam hari karena kondisi ruangan yang gelap.


Dengan bersusah payah tuan Harun naik ke atas lantai tiga. Ia naik ke rooftop dari gedung tersebut. Di sana tampak beberapa orang-orang kaya yang sedang merokok.


Tuan Harun mengambil posisi sedikit lebih jauh dari orang-orang itu. menyendiri dari kesepiannya dan ia tak membuka topeng mata yang ia kenakan. Tidak seperti para orang kaya yang lain yang sedang merokok itu, mereka membuka topeng mata mereka.


Tuan Harun menatap ke sekeliling kota. Ia jelas melihat gedung-gedung pencakar langit yang sebagian dari gedung itu adalah miliknya.


“hey, apa kau tahu berita kematian mengenaskan seorang wanita di apartemen?” ujar seorang pria yang sedang menikmati rokoknya. “yeah, I know, why?” jawab teman dari pria tersebut yang juga seorang pria.

__ADS_1


“ku dengar wanita yang meninggal itu bernama Riyanda. Kau tahu, ada kabar beredar bahwa wanita yang ditemukan tak bernyawa itu bukan bernama Riyanda.” Terang pria itu.


Deg!


Tuan Harun yang mendengar percakapan dari kedua pria paruh baya yang tak dikenalnya itu membuatnya jantungnya seakan ingin berhenti tiba-tiba. Di satu sisi ia senang mendengar kabar miring itu karena kesempatan kembalinya uang 5 milyar miliknya itu sangat besar saat Riyanda muncul. di sisi lain, ia pun merasa was-was karena mau tidak mau Tama akan kembali memaksa untuk menikahi wanita yang bernama Riyanda itu.


“sungguh?” jawab teman prianya itu. “mungkin cuma Hoax kali.” Tambahnya. “entahlah, tapi ku dengar dari polisi yang juga menantuku.” Pria itu menghisap lagi rokoknya kemudian mengeluarkan asapnya ke udara.


“ahhh jika itu dari menantumu dan dia seorang polisi, ku rasa itu bukan berita Hoax.” Jawab teman prianya. Tuan Harun membuang paksa rokok yang belum sempat ia nikmati itu. kakek tua itu bergegas kembali ke ruangan VIP yang telah ia sewa untuk memanggil pengawal pribadi andalannya.


“Marioooo…” teriak tuan Harun setelah membuka pintu. Sontak kedua wanita yang sedang bersenang-senang dengan Mario mengambil selimut untuk menutup tubuhnya yang tak memakai sehelai benangpun.


“siap tuan.” Mario yang juga tak memakai apa pun itu seketika berdiri tegap saat dipanggil oleh tuannya. Tampak sesuatu yang menggantung lemas disana, karena memang mereka baru saja menyelesaikan permainan itu.


*


*


Tama mendapati istrinya terbaring membelakangi pintu masuk kamar itu. Kirana sedang memeluk bantal guling sembari meneteskan air mata. Entah mengapa air matanya itu seakan tidak ada habisnya bagi Tama.


“Kirana mau kah ku bawakan makanan kesini saja? Kau tampak pucat Kirana.” Tama berbisik lembut ke telinga istrinya. Kirana membisu, ia bukan tak mendengarkan tawaran suaminya, hanya saja ia masih belum merelakan kepergian ibunya.


“ahhhh… ya sudah jika kau tidak ingin berbicara akan ku bawakan makanan ke ruangan ini.” Tama kemudian beranjak dari tempatnya. “Tama…” Kirana menarik lengan Tama dengan posisi tidur yang miring dan membelakanginya. Tarikan tangannya cukup tepat sasaran dengan langsung menarik lengan Tama.


“tidak usah Tama, kau tidak perlu repot. Bisa kah kau menemaniku disini?” walaupun Kirana berbicara tetapi pandangan dari menantu Nyonya Bella itu terlihat kosong.


“baiklah, aku akan menemanimu.” Gegas Tama berbaring di sebelah Kirana dan mereka berdua kini saling berbaring miring dengan menatap satu sama lain.

__ADS_1


Tama tersenyum saat mata Kirana tertuju kepada matanya. Melihat senyuman itu, sontak Kirana membalas senyuman dari suaminya. Tama meraih tangan istrinya dan menggenggamnya.


“Kirana…” panggil Tama dengan lembut.


__ADS_2