
Mobil yang ditumpangi oleh Tuan Harun bersama dengan yang lain terparkir sempurna di halaman kediaman Tuan Azego.
“Tama…” Bahu Tama dipegang oleh ayahnya. “Kau tunggu saja di sini nak. Ayah akan masuk bersama yang lain.” Pesan Tuan Harun kepada putranya. “Tapi, ayah aku ingin masuk ikut untuk menemani ayah.” Sahut Tama.
“Dengarkan perkataan ayahmu.” Sebuah kalimat dengan suara yang tidak asing lagi terdengar di telinga Tama. “Tama, dengarkan ayah nak.” Kata Tuan Harun lagi. Ia berniat untuk menyelamatkan anaknya sebagai wanti-wanti kalau-kalau nanti terjadi kerusuhan di dalam sana. “Baik ayah.” Jawab Tama pasrah.
Tuan Harun datang bersama dengan empat orang yang jika dijumlahkan dengan dirinya menjadi lima orang. Tidak banyak jika dibandingkan dari sebelumnya ketika ia datang bersama dengan anggota polisi yang diketuai oleh Pak Bambang.
Rombongan Tuan Harun terdiri dari dirinya, putranya, Mario, dan dua orang kru dari televisi setempat. Hari ini ia berencana untuk menyiarkan langsung bukti kejahatan dan bisnis gelap dari Tuan Azego. Hal itu tidak diketahui oleh Tuan Azego karena tidak dibahas di dalam percakapan Tuan Harun bersama Mario.
Dengan begitu, keluarga Harun memiliki satu kesempatan menang yang persentase kemenangannya terbilang sangat kecil.
Tuan Harun beserta Mario dan dua orang kru televisi lainnya bergegas masuk ke dalam kediaman Tuan Azego melalui pintu masuk pertama. Berbeda saat pertama kali ia menginjakkan kaki di sana, Tuan Harun hari ini merasakan energy positif dan semua pengawal pribadi di sana melayani Tuan Harun dengan senyuman yang ramah.
“Di mana tuan mu itu berada?” Tanya Mario dengan garang kepada salah seorang pengawal yang bertugas di depan pintu masuk yang kedua. “Maaf, anda siapa tuan?” Tanya pengawal itu kepada Mario.
“Sampaikan kepada tuan mu bahwa Tuan Harun sedang berkunjung.” Dengan ketus Mario berkata demikian. “Baik.” Jawab pengawal itu kemudian memegang earphone yang ada di kupingnya dan berusaha terhubung dengan kepalanya yaitu Maria.
“Maaf mengganggu tuan, Tuan Azego sedang kedatangan tamu.” Ujar pengawal itu sembari melirik kepada Tuan Harun dan orang-orang yang datang bersamanya. “Siapa tamu itu?” Tanya Maria yang sedang berada di ruangan yang ada Tuan Azego di dalamnya. Mereka pun sedang melihat jelas Tuan Harun berserta rombongannya di dalam monitor CCTV mereka namun mereka berpura-pura tidak tahu.
“Mereka bilang, Tuan Harun sedang datang untuk berkunjung tuan.” Terang pengawal tersebut. “Baiklah, bawa orang-orang itu ke ruang kerja Tuan Azego.” Sahut Maria pada earphone yang ia kenakan. “Baik tuan.” Jawab pengawal itu lagi kemudian ia pun mempersilahkan tamunya untuk ikut dengannya menuju ruangan di mana Tuan Azego sedang duduk menunggu.
“Mulai sekarang siapkan kamera mu itu. Apabila sudah memasuki ruangan di mana Tuan Azego berada langsung kau nyalakan kamera mu dan lakukan siaran langsung.” Bisik Mario kepada kru tersebut. Kru itu pun mengangguk mengerti.
“Selamat datang Tuan Harun. Silahkan duduk.” Sesampainya di ruangan itu dengan ramah Tuan Azego mempersilahkan tamunya untuk duduk di sofa empuk yang telah disiapkan untuk mereka.
“Ku rasa kau telah membeli kursi baru.” Tuan Harun pun duduk dengan mengangkat kaki kanan dan ia letakkan pada kaki kiri. “Kau pegang ini Mario.” Tuan Harun memberikan tongkatnya kepada Mario yang berdiri di belakangnya. Sedangkan kedua kru itu tetap berdiri dan mulai melakukan siaran langsung.
Pelayan wanita Tuan Azego datang dengan membawa sajian minuman dan snack untuk tamu mereka. Sajian itu di letakkan di atas meja di mana ke dua orang kaya itu sedang duduk berhadapan. “Wah,aku cukup terkesan dengan pelayanan mu kali ini Azego.” Tuan Harun meraih cangkir itu dan meminumnya.
“Tentu, siapa yang tidak senang kedatangan tamu orang terkaya di kota ini. Bahkan bisa dibilang orang terkaya di provinsi ini.” Senyuman dilayangkan oleh Tuan Azego sungguh diluar dugaan Tuan Harun.
“Kau benar-benar pandai bersandiwara Azego.” Kata Tuan Harun namun dalam hati. Azego yang ditemuinya hari ini sangat jauh berbeda dengan Azego yang ditemuinya kemarin.
“Hm…” Tuan Harun menggelengkan kepalanya sekali ke arah kanan dan kembali seperti semula. “Teh ini sungguh enak. Teh apa ini? Sebagai penikmat teh, baru kali ini aku merasakan sensasi meminum teh panas seperti ini.” Tuan Harun mengembalikan cangkirnya ke atas meja.
“Benarkah? Jika kau suka aku akan mengirimkannya ke alamat mu nanti tuan.” Sahut Tuan Azego. “Ini adalah teh import buatan jepang. Pemanen teh di sana sungguh berkompeten. Mereka memetik satu persatu daun teh itu menggunakan tangan telaten dan tidak menggunakan mesin. Mereka memilah dan memilihnya dengan teliti, daun yang istimewa berasal dari tangan yang istimewa bukan?!” Tuan Azego mengangkat kedua alisnya kemudian tersenyum dengan ramah lagi.
__ADS_1
“Yah kau benar.” Sahut Tuan Harun, ia membenarkan perkataan dari musuhnya sendiri.
“Oh ya tuan, ada perlu apa datang kemari?” Basa-basi Tuan Azego sungguh membuat Tuan Harun tertipu. Tetapi hal itu sontak membuat Tuan Harun mulai beraksi.
“Kau ini, kau tidak pantas disebut manusia. Kau sungguh seorang psikopat Azegoooo…” Seketika Tuan Harun menaikkan nada bicaranya. Seakan amarahnya yang ditahan kemarin kini mencuat sudah.
“Apa maksud mu tuan?” Tuan Azego mengerutkan kulit dahinya. Tuan Harun berdiri dan merampas tas hitam yang dibawa oleh Mario. Ia gegas membuka resleting tas itu dan mengambil berkas-berkas yang telah ia siapkan.
“Ini!” Tuan Harun melemparkan semua berkas itu ke wajah Tuan Azego. Sontak Tuan Azego berdiri dan mulai marah. “Ada apa ini? Apa yang sedang kau lakukan?” Kini nada Tuan Azego yang awalnya selalu lembut berubah menjadi nada yang tinggi dan kasar.
“Sudahlah kau baca saja semua berkas itu.” Kata Tuan Harun. Matanya terbelalak membulat menatap tajam rentenir kaya yang ada di hadapannya itu.
Maria yang melihat tuannya diperlakukan kasar seperti itu tiba-tiba menghampiri Tuan Harun. Namun dengan sigap Mario menghadangnya.
“Langkahi mayat ku baru kau bisa menyentuh tuan ku.” Kata Mario tepat di depan Maria.
“Maria, biarkan saja mereka.” Ujar Tuan Azego yang sekarang berdiri sama seperti Tuan Harun. Tuan Azego membenarkan jasnya yang berwarna merah dan mendekati Maria. “Maria kau mundur saja, jangan hiraukan pria itu.” Tambahnya lagi.
“Tuan Harun yang terkasih, aku akan mengingat momen ini.” Tuan Azego memungut satu persatu berkas itu. “Biar saya yang melakukannya tuan.” Maria menyentuh tangan tuannya agar berhenti memungut kertas itu kemudian dia yang akan mengambil dan mengumpulkan semua berkas itu.
“Tuan!” Seketika Maria berteriak saat melihat isi dari berkas tersebut. Mendengar teriakan itu membuat Tuan Harun tersenyum sinis begitupun dengan Mario. Sedangkan dua orang kru televisi itu sedang sibuk mengambil gambar dari kedua kubu itu.
“Hahaha…” Kini Tuan Harun yang tertawa lepas dan terbahak-bahak. “Kau sedang ditonton langsung oleh jutaan orang di luar sana karena saat ini aku membawa kru dari televisi yang sedang melakukan siaran langsung.” Tambahnya lagi.
“Berani-beraninya kau!” Tuan Azego melangkahkan satu kakinya tetapi langkahnya tertahan saat Maria memanggilnya. “Tuan, bisa anda lihat ini sebentar?” Maria memberikan berkas itu kepada tuannya. Tuan Azego pun mengambil berkas tersebut dan melihatnya kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha…” Tawa dari rentenir kaya itu cukup lama hingga membuatnya meneteskan air mata. “Harun-harun, kau selalu saja berhasil membuatku senang dan bahagia.” Ujarnya.
“Bagaimana mungkin kau sengaja kemari hanya untuk memberikanku gambar-gambar hewan seperti ini. Hahaha…” Perut Tuan Azego terasa seperti tergelitik yang tak ada hentinya.
“Ba… bagaimana bisa itu foto hewan?” Dengan wajah yang sangat bingung Tuan Harun memandangi Mario. “Tuan telah melihatnya terlebih dahulu.” Tegas Mario, karena ia yakin apa yang ia berikan kepada tuannya itu adalah berkas yang sama.
“Hahahaha…” Masih merasa geli, Tuan Azego terus tertawa terbahak-bahak. “Ini kau lihat saja ini tuan. Hahaha…” Tuan Azego membuka kertas itu lebar-lebar di depan wajah Tuan Harun.
“Apa? Bagaimana bisa ini menjadi gambar hewan?!” Tuan Harun menggelengkan kepalanya berkali-kali saat melihat ada gambar gajah, jerapah, dan hewan lainnya yang terlihat sungguh menggemaskan.
Flashback on
__ADS_1
“Tama…” Bahu Tama dipegang oleh ayahnya. “Kau tunggu saja di sini nak. Ayah akan masuk bersama yang lain.” Pesan Tuan Harun kepada putranya. “Tapi, ayah aku ingin masuk ikut untuk menemani ayah.” Sahut Tama.
“Dengarkan perkataan ayahmu.” Sebuah kalimat dengan suara yang tidak asing lagi terdengar di telinga Tama. “Tama, dengarkan ayah nak.” Kata Tuan Harun lagi. Ia berniat untuk menyelamatkan anaknya sebagai wanti-wanti kalau-kalau nanti terjadi kerusuhan di dalam sana. “Baik ayah.” Jawab Tama pasrah.
Tuan Harun membuka pintu mobil dan turun dibantu tongkatnya. “Oh ya, ku lihat sejak kemarin kau menggunakan alat yang ada di telinga mu itu. Tumben sekali, apa itu trend baru?” Tanya Tuan Harun penasaran karena selama ini Tama tidak pernah memakai alat seperti itu.
“A, ahh… ayah benar sekali. Semua anak muda memakai ini sekarang. Bahkan para artis juga mengenakannya ayah.” Dengan kikuk Tama menjawab ayahnya. “Oh ternyata seperti itu. Baiklah, ini ambil.” Tuan Harun memberikan sebuah tas hitam yang berisi berkas bukti kejahatan dan bisnis gelap musuhnya itu.
“Jaga ini sebentar saja, nanti Mario akan mengambilnya lagi.” Ujar Tuan Harun. Kemudian mereka bertiga meninggalkan Tama sendirian.
“Bravo!” Maria berkata sambil bertepuk tangan sebanyak satu kali. Tepukan tangan yang amat keras itu pun sontak membuat kaget Tuan Azego tetapi Maria tampak tidak menyadari hal itu. Melihat Maria yang kesenangan pun akhirnya amarah akibat terkejut itu ditunda oleh Tuan Azego karena rasa penasaran atas tindakan apa yang akan dilakukan oleh Maria lebih menarik perhatiannya.
“Kau!” Tunjuk Maria kepada salah satu bawahannya. “Cepat ambil berkas ini dan tukarkan dengan berkas yang ada di tas hitam yang saat ini dipegang oleh Tama.” Perintah Maria dan dengan sigap pengawal itu melakukan apa yang diperintahkan kepadanya.
Sebelum memasuki pintu pertama kediaman Tuan Azego, Mario menghentikan langkahnya. “Tuan, maaf, apa sebaiknya kita bawa langsung saja berkas itu.” Saran Mario kepada tuannya. “Bagaimana jika mereka memeriksa kita dan membukanya?” Tanya Tuan Harun. Rupanya dia khawatir akan ketahuan sebelum waktunya.
“Menurutku tidak akan tuan karena kita datang secara baik-baik. Kalau pun diperiksa oleh mereka paling mereka hanya membuka resleting tas dan tidak melihat isi berkas itu tuan. Yang penting mereka hanya ingin memastikan apakah isi tas itu berbahaya seperti pisau atau pistol dan lain-lain tuan.” Terang Mario.
“Kau benar juga Mario. Pergilah! Aku akan menunggumu di sini.” Sahut Tuan Harun. Namun sebelum Mario mengambil tas itu, isinya telah ditukarkan dengan berkas yang telah dipersiapkan oleh Maria. Tama? Ia tidak bisa menahannya karena ia juga mempertimbangkan kondisi Kirana nantinya jika dia tidak patuh saat itu.
Flashback off
“Kau, cepat matikan siaran itu. Cepattt…!” Teriak Tuan Harun. Sekarang dirinya sangat panic dan merasa terancam karena semua rencananya gagal dan berbalik menyerangnya. Sungguh ia tidak pernah menyangka hal itu.
Karena gugup,kru itu pun gemetaran dan memencet tombol on off kamera berkali-kali karena tidak jua mati siaran itu. Melihat lampu kamera yang masih hijau, gegas Tuan Harun mengambil paksa kamera itu.
Brakkk!
Tiba-tiba saja Tuan Harun membanting kamera itu hingga hancur dan siaran langsung itu pun berhenti. Rombongan Tuan Harun dengan tergesa-gesa meninggalkan ruangan itu tanpa permisi lagi. Sedangkan sang tuan rumah terlihat santai tanpa beban. Bahkan Maria tampak menari-nari santai karena kegirangan.
“Tama, ayo cepat pulang!” Tuan Harun mendengus marah. Tama pun mengerti dan mengarahkan setirnya untuk putar balik.
Bagaikan pembalap, mobil yang ia bawa berputar dengan cepat dan meninggalkan bekas bas pada parkiran tersebut. Lalu, Tama menginjak pedal gas dan mengebut untuk meninggalkan kediaman itu. Tetapi, Tama sempat melihat ke spion mobil agar sekilas bisa melihat rumah Tuan Azego sebelum ia meninggalkan kediaman itu. Ia pun berharap bisa kembali lagi untuk menjemput istri beserta anaknya.
“Apa-apaan ini!” Tuan Harun sangat marah. “Tama, hentikan mobil mu.” Setelah sudah berada jauh dari kediaman itu akhirnya Tama menghentikan mobilnya sesuai perintah ayahnya. Tuan Harun pun turun dengan nafas yang tidak beraturan. Mario pun ikut turun untuk membantu tuannya. Dua orang kru itu masih duduk di dalam mobil bersama dengan wajah yang datar.
“Mario, mengapa itu bisa terjadi? Apa yang kau lakukan kepada tas itu ha!” Tuan Harun meraih kerah baju Mario. Mario bergemetar ketakutan, bukan karena akan kalah tenaga dalam mengadu tinju tetapi karena baru kali ini ia melihat tuannya semarah itu kepadanya.
__ADS_1
“A… aku tidak tahu tuan.” Dengan keringat yang bercucuran, Mario terlihat kebingungan dan takut. “Kauuuu….” Teriak Tuan Harun kemudian melepaskan kerah baju Mario dengan kasar. Ia tahu jelas bahwa kepala pengawal pribadi kesayangannya itu sama dengan dirinya. Sama-sama tidak mengetahui apa-apa bahwa telah dikelabui oleh Tuan Harun.
“Bagaimana bisa isi tas itu tidak seperti yang ku baca dan lihat.” Tuan Harun melihat ke atas langit dan menyenderkan punggungnya ke mobil. Sedangkan kepala pengawal pribadi dari keluarga Harun itu terdiam dan tertunduk malu.