Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 63


__ADS_3

Kelima pengawal pribadi itu tampak kesusahan membawa barang belanjaan tersebut.


“Kita belum masuk ke toko ini Kirana!” Seru Tama saat melihat toko dengan brand internasional yang belum ia masuki selama berkeliling pada pusat perbelanjaan itu. “Sudahlah Tama, ini saja sudah terlalu banyak.” Tunjuk Kirana kepada kelima pengawal itu.


“Ahhh baiklah kalau tidak ingin. Bagaimnana kalau sekarang kita pergi menonton ke bioskop? Kita belum pernah nonton bersama bukan?” Tama dan Kirana masih bergandengan sambil jalan bersama. “Hm…” Kirana terlihat diam dan memikirkan sesuatu.


“Kau terlihat cantik saat memakai baju itu.” Kata Tama lagi. Kirana telah berganti pakaian yang dibelikan oleh suaminya. Ia mengenakan baju Head to toe yang bercorak colorful. Walaupun perutnya tidak begitu datar lagi, tetapi Kirana tetap terlihat cantik dan menawan.


Mendengar pujian itu, ingin sekali Kirana terbang ke angkasa karena senang. Namun, ada banyak hal yang terlintas di dalam pikirannya. Hal-hal mengenai pertemuan singkat mereka yang diawali dengan kesialan dan kesalahan ibunya, ditambah lagi sebuah kesalahan malam pertama yang diluar kesadaran mereka masing-masing.


“Kirana, kenapa kau terdiam? Apa kau mau menonton bersama?” Tanya Tama lagi. “Sebenarnya, aku belum pernah pergi menonton bioskop sebelumnya.” Jawabnya jujur. Yah, selama ini dia banyak tinggal di rumah sederhana milik ibunya. Terkadang, ia pergi ke pusat perbelanjaan seperti sekarang ini hanya sekali dalam setahun yaitu pada saat perayaan hari raya.


“Apa? Apa itu benar?” Tuan muda itu terkejut. “Kalau begitu, ayo kita pergi nonton ke bioskop sekarang juga.” Dengan cepat Tama menarik istrinya sambil tersenyum sedangkan Kirana menunjukkan ekspresi wajah yang datar.


“Tuan…” salah satu dari kelima pengawal itu memanggil Tama saat bergegas pergi menuju lift mall. “Bagaimana dengan semua barang ini?” Tanyanya dengan keringat di seluruh wajahnya karena sejak tadi membawa semua barang itu berkeliling mengikuti pasutri itu.


“Kau benar.” Tama menepuk keningnya. “Ini ambil.” Tama memberikan kunci mobil miliknya. “Letakkan saja di dalam mobilku.” Perintahnya. “Tama… jika di letakkan di mobil mu bagaimana bisa aku memakainya. Aku akan pulang bersama Maria nanti.” Tegur Kirana.


“Kau benar.” Tama mengambil kembali kunci mobil tersebut. “Masukkan saja barang-barang itu ke mobil yang dipakai oleh Kirana ke sini.” Perintah Tama. “Baik tuan.” Sahut dari salah satu pengawal pribadi tersebut. Kemudian kelima pengawal pribadi yang membawa barang-barang belanja milik Kirana itu meninggalkan pusat perbelanjaan.


“Ayo…” Ucap Tama saat pintu lift terbuka. Keduanya menuju lantai atas tempat di mana bioskop itu berada. “Jangan lupakan kami.” Sapa Maria sembari menyengir saat ia berhasil menahan pintu lift dan masuk bersama pengawal pribadi yang lain.


Tuan muda itu menaikkan kedua alisnya kemudian ia menghela nafas panjangnya. Niat hati ingin berdua bersama dengan sang istri malah ia kedatangan sembilan pengawal pribadi dengan embel-embel penjagaan ketat.


Sesampainya di bioskop, Tama bersama Kirana mengantri untuk membeli tiket nonton bioskop tersebut. “Kau ingin menonton film apa Kirana?” Tanya Tama sembari memperlihatkan layar TV yang menunjukkan beberapa film yang tengah tayang hari itu.


“Kita menonton film itu saja!” Tunjuk Kirana kepada sebuah layar yang menunjukkan gambar yang begitu menyeramkan. Setelah berhasil mengerti, Tama menelan salivanya. “Apa kau yakin ingin menonton film horror?” Tama memastikan lagi.


“Iya, itu terlihat menarik. Memangnya itu film apa?” Tanya Kirana heran. “Itu film tentang hantu yang gentayangan Kirana.” Tutur Tama. Tuan muda itu tidak menyangka bahwa istrinya yang sedang hamil ingin menonton film bergenre horror.


“Oh ternyata film hantu ya. Memangnya kau ingin menonton film apa?” Kirana balik bertanya. “Aku ingin menonton film ini.” Tunjuk Tama ke layar yang menunjukkan gambar sepasang kekasih yang sedang memegang bunga.


“Memangnya itu film tentang apa Tama? Apa sang gadis membeli bunga kepada pria itu?” Jawabnya ragu. “Ahhh kau ini. Apa sebelumnya kau tidak pernah punya pacar? Itu gambar orang sedang jatuh cinta.” Tama berdecak kesal. “Oh ya?” Kirana terkekeh begitu pun 9 orang pengawal pribadi Tuan Azego kecuali Maria.


“Terserah kau saja. Karena ini pertama kali bagiku, biar kau saja yang memilih ingin menonton film yang mana.” Ucap Kirana sambil merapikan rambut panjangnya. “Baiklah.” Sahut Tama.

__ADS_1


Pewaris tunggal keluarga Harun itu membeli dua tiket nonton dengan film yang bergenre romantis.


“Tama tidakkah kau ingin membelikan mereka tiket juga?” Kirana melirik Maria dan the genk. “Ha?” Tama melongo tak percaya. “Kenapa aku harus membelikan mereka tiket?” Ucap Tama. “Mereka akan mengira kita akan kabur jika tidak ikut masuk menonton bersama kita.” Bisik Kirana.


“Ya memang mengapa kalau memang kita kabur!” Sahut Tama. “Apa kau lupa bahwa Tuan Azego bisa melakukan apapun?” Bisik Kirana lagi. Tama menghela nafas panjangnya, ada benarnya perkataan dari istrinya tersebut dan akhirnya ia membeli 10 tiket lagi untuk para pengawal pribadi itu termasuk Maria.


Saat menunggu waktu tayang bioskop, Tama membeli beberapa camilan untuk dirinya dan Kirana. “Jangan lupa belikan juga mereka camilan. Apa kau tidak kasihan melihatnya?” Tegur Kirana lagi. Akhirnya Tama pun mengalah dan membeli kembali beberapa camilan untuk masing-masing dari pengawal pribadi tersebut.


“Kirana, sudah waktunya kita pulang.” Tiba-tiba Maria menghampiri Kirana dan berbisik. “Benarkah? Sungguh waktu sangat tidak terasa ya…” Sahut Kirana terkejut.


“Ada apa Kirana? Apa yang Maria katakan kepada mu?” Tanya Tama sembari meminum es capucino yang ia beli. “Ku rasa sudah waktunya aku pulang.” Sahut Kirana datar. “Apa? Mengapa cepat sekali? Kita bahkan belum masuk untuk menonton.” Tama membulatkan matanya dengan bibir yang manyun.


“Apa yang kau lakukan tuan muda? Mengapa kau tidak berada di rumah untuk membaca buku agar kau bisa menjadi pemimpin yang handal.” Tiba-tiba Tuan Azego berbicara di dalam alat yang menempel pada telinga Tama.


“Kebetulan sekali. Perintahkan kepada Maria agar tidak membawa pulang dulu Kirana Azego. Aku telah membeli tiket untuk menonton bioskop. Tiket ini juga aku beli untuk para anak buah mu, jadi sangat disayangkan bukan jika kami tidak menonton hari ini.” Terang Tama pada alat itu sambil berbisik.


“Itu bukan urusanku tuan muda.” Sahut Tuan Azego ketus. “Aku akan memberikan 10 menitku lagi dengan harga 100 juta.” Tambah Tama. “Hahaha… ku rasa kau sedang jatuh cinta.” Tuan Azego tertawa terbahak-bahak. “Hm… tetapi sudah sewajarnya kau mencintainya karena dia memang istrimu.” Tuan Azego menopang dagu sambil berpikir di kediamannya.


“Tidak bisa. Aku tidak akan membiarkan mu dengannya hari ini.” Tuan Azego menolak. Tama berdiri dan berkata, “Maria, tunggu sebentar jangan pulang dulu. Aku akan coba memberitahu tuanmu agar kita bisa menonton hari ini.” Terang Tama kemudian ia mencari tempat yang sepi agar bisa bernegoisasi dengan musuhnya sendiri.


“Azego, bagaimana jika 10 menit seharga 110 juta?” Tawar tuan muda itu. “Itu masih sangat kecil tuan muda.” Sahut Tuan Azego. “150 juta?” Tambah Tama lagi. “Wah, lumayan, tetapi aku sedang tidak menginginkan uang tuan muda.” Sahut Tuan Azego lagi.


“Baiklah, jika itu tidak mungkin, bagaimana dengan 10 menit seharga 200 juta?” Tantang Tuan Azego. “Baik, uang tidak menjadi masalah bagi keluarga Harun.” Ujar Tama. Lalu ia pun segera kembali ke tempat di mana Kirana berada.


Mereka semua masuk ke dalam bioskop bersiap untuk menikmati film yang akan ditonton tersebut. Tama dan Kirana duduk besebelahan. Sedangkan sembilan pengawal pribadi itu duduk berjauhan dan terpisah karena Tama tak ingin momen berduanya diganggu oleh mereka.


Satu jam berlalu. Kirana menopang dagu. “Ada apa Kirana?” Tanya Tama saat pipinya memerah ketika melihat adegan romantis itu. “Aku merasa bosan.” Jawabnya datar. Tuan muda itu memperhatikan para pengawal pribadi yang sedang asyik menonton.


“Bagaimana kalau kita menonton film yang kau pilih tadi?” Bisik Tama ke telinga Kirana. “Ahhh kau benar.” Seketika Kirana tampak bersemangat. Mereka berdua berjalan menunduk sambil bersembunyi di belakang kursi.


“Huff…” Tama menghela nafas panjangnya saat berhasil keluar dari ruangan theater tempat mereka menonton. “Ayo Tama!” Gegas Kirana menuju tempat pembelian tiket. Langkah kecil itu pun diikuti Tama dengan cepat dan lagi, tuan muda itu menggandeng tangan istrinya.


“Saya pesan dua tiket film horror itu ya.” Kirana menunjuk layar yang bergambar sangat seram. Kemudian petugas itu pun menunjukkan kursi yang kosong. Setelah selesai memilih, Tama membayar dan mendapatkan dua tiket menonton itu akhirnya segera masuk kembali karena film yang telah dimulai dari beberapa menit lalu.


“Warrrr…” Tiba-tiba adegan Jumpscare muncul. “Arghhh…” Tama berteriak histeris karena terkejut. Ia pun ketakutan dan bergemetar hingga membuat camilan Popcorn itu berhambur-hamburan. Sedangkan Kirana tampak tenang dan menikmati film yang menyeramkan itu.

__ADS_1


“Ki… Kirana apa kau tidak takut?” Tuan muda yang ketakutan dan gemetaran itu menggenggam erat tangan Kirana. “Tidak, ini sangat memacu adrenalin.” Tuturnya. “Tapi, dulu aku sangat takut menonton film horror.” Bisiknya.


“Arghhh…” Seketika Tama berteriak saat ada adegan yang menyeramkan lagi. Popcorn yang tadinya utuh kini ia lempar hinga tumpah ke lantai. Untung saja, tidak ada penonton yang terkena oleh camilan itu. Tuan muda itu menutup kedua bola matanya.


“Kirana, aku sudah tidak sanggup untuk menonton film ini, akan lebih baik kalau kita sudahi saja. Bagaimana kalau kita berjalan-jalan saja ke pantai? Apa kau mau?” Bisik Tama ke telinga istrinya sambil bergemetaran. Ia enggan untuk melihat lagi ke layar bioskop yang besar itu.


“Okay, aku memang sedang ingin berjalan-jalan. Mereka saja yang mengantarkan ku kemari.” Kirana melirik ke sekitar dan menyadari sesuatu. “Sepertinya mereka tidak menyadari kepergian kita dari theater yang tadi. Ayo cepat.” Tambahnya.


Gegas sepasang suami istri itu pergi meninggalkan ruang theater dan langsung menuju parkiran mobil untuk segera pergi dari pusat perbelanjaan tersebut.


Saat diperjalanan menuju ke pantai. Wajah Tama dipenuhi dengan senyuman. Ia menyetir dengan tangan kanan dan tangan kiri yang menggenggam tangan istrinya. Sesekali saat ingin memindahkan arah gigi, tangan itu ia lepaskan namun saat selesai kembali ia genggam.


Kirana tampak nyaman dengan genggaman itu. Sembari membuka kaca mobil, tangan kirinya ia keluarkan untuk menikmati desiran angin yang menyentuh kulit tangannya. Ia pun menggerak-gerakkan tangannya untuk menikmati dorongan kecil angin yang diakibatkan oleh lajunya mobil mewah tersebut.


“Apa kau menyukainya?” Lirik Tama sambil tersenyum. “Iya, aku menyukainya.” Kirana menjawab tanpa menoleh melihat supir tampan yang telah berstatus sebagai ayah dari anaknya tersebut.


Tak lama kemudian, keduanya sampai di tepi pantai. Pantai berpasirkan nan putih dengan gelombang kecil dari air laut yang menghampirinya. Tama turun lebih dulu membukakan Kirana pintu mobil.


“Terima kasih.” Ucap Kirana saat pintu mobil terbuka dan turun dari mobil tersebut tanpa alas kaki. Kaki yang tak memakai sandal itu langsung menyentuh lembutnya pasir putih dari pantai itu. Tama meraih tangan istrinya dan membawanya ke pinggir pantai.


Tama yang sedang memakai sepatu membuka sepatunya hingga keduanya sama-sama tak beralaskan kaki. Kedua kaki dari pasangan suami istri itu menikmati sentuhan air laut yang sedang pasang dan surut.


“Apa kau menyukainya?” Tanya Tama saat ini melihat Kirana begitu menikmati desiran air laut itu. “Ya tentu! Dan ini juga kali pertama aku pergi ke pantai. Aku tidak menyangka semuanya ku lakukan bersamamu.” Kirana tersenyum.


Senyuman manis itu berhasil membuat Tama tersipu malu. Senyuman yang sebelumnya hanya sebuah senyuman biasa kini berubah menjadi senyuman yang bisa membuat tuan muda itu lebih bersemangat untuk menjalani harinya. Hatinya seakan berbunga-bunga saat melihat senyuman seindah itu yang dilihatnya dari wajah Kirana.


Kirana menjauh dari desiran air laut itu agar pakaian yang dikenakannya tidak basah. Tama mengikuti pergerakan badan Kirana hingga akhirnya mereka berdua duduk dipasir putih yang menenangkan itu.


“Apa kau tahu apa yang ku pikirkan saat ini Kirana?” Tama menoleh dan melihat wajah Kirana dari samping karena Kirana tidak menoleh sama sekali saat diajak berbicara. Ia melihat lurus ke depan. Ia melihat indahnya panorama pantai pada hari ini walaupun cuacanya cukup panas, tetap saja keindahan alam yang dilihatnya membuatnya terpukau.


“Tidak, aku tidak tahu.” Jawab Kirana datar. “Aku memikirkan tentang mengapa Tuhan mempertemukan kita?” Tama melihat lurus ke depan dan menatap air laut dengan pandangan yang tidak dapat diartikan.


“Entahlah. Untuk hal itu aku juga tidak tahu dan aku juga mempertanyakannya. Terlebih lagi, aku mengandung anakmu Tama. Dan itu sungguh diluar ekspektasi kita selama ini. Kita sama-sama mencintai orang yang sama bukan? Yaitu ibuku.” Terang Kirana yang kini menoleh untuk memandangi wajah tampan yang mungkin saja telah ia rindukan pula.


Tama menghela nafas panjangnya. “Riyanda…” Sahutnya dengan nada yang lemah. Entah mengapa untuk saat ini, nama itu tidak lagi membuatnya menggebu-gebu seperti saat ia baru menikah dengan Kirana.

__ADS_1


“Kau tahu apa yang ku pikirkan saat ini Tama?” Kirana balik bertanya kepada pria yang ada disampingnya tersebut. “Tidak, aku tidak tahu.” Jawab Tama sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Andai saja ibuku masih hidup, apa yang akan terjadi diantara kita dengan bayi yang telah ku kandung ini.” Jelas Kirana. Keduanya kini menatap kosong ke laut tanpa melakukan percakapan apapun.


__ADS_2