Pelangi Di Atas Hujan

Pelangi Di Atas Hujan
Bab 56


__ADS_3

“Ayah, mengapa kau pergi dengan polisi itu.” Kata Tama terkejut saat melihat punggung ayahnya bersama dengan seorang polisi yang tinggi itu. “Ayah…” Tama berlari untuk menghentikan ayahnya.


Langkah Tuan Harun terhenti. “Tama… ada banyak pekerjaan yang harus kau kerjakan di perusahaan besok. Media akan berkurang datang ke rumah besok karena hari ini mereka akan mendapat konfirmasinya dari ayah.” Pesan Tuan Harun kepada putra kesayangannya.


“Kau jaga ibumu dengan baik. Dan jaga Flo, dia sudah cukup baik dengan memperhatikan keluarga kita.” Tambahnya lagi.


“Ayah, apa mesti ayah yang ditahan? Tidakkah aku juga pelaku yang ikut serta pergi ke sana ayah.” Kedua bola mata Tama tampak berlinang. “Tidak nak, kau tidak salah sama sekali. Ini memang salah ayah. Biar ayah yang menanggungnya nak.” Sahut Tuan Harun.


“Ayah…” Akhirnya tangis Tama pecah saat ia dipeluk hangat oleh ayahnya. “Maafkan ayah yang selama ini telah gagal menjadi ayah yang baik untukmu.” Tuan Harun mengusap rambut Tama dan berpamitan lalu keluar dari rumah.


Nyonya Bella memeluk erat putranya sambil menangis terseduh dengan Tama yang juga tak sanggup menahan linangan air yang ada dikedua bola matanya melihat ayahnya yang dibawa oleh polisi itu, tetapi dengan cepat Tama mengusap air matanya dan mencoba untuk tegar seperti yang dilakukan oleh Tuan Harun.


Sesaat setelah berhasil keluar di kediamannya sendiri, langkah Tuan Harun terpaksa berhenti karena kerumunan dari banyak wartawan yang ada. Puluhan wartawan datang untuk mendengar klarifikasi atas video viral yang ada di internet. Ditambah lagi video itu adalah siaran langsung yang sebelumnya telah ditonton oleh jutaan orang termasuk keluarga sendiri.


Ceklek… ceklek… ceklek…


Mata Tuan Harun disilaukan oleh sinaran light camera saat para wartawan berhasil mengambil gambarnya. Tuan Harun mengangkat lengannya untuk menutupi cahaya kamera yang terpantul ke matanya tersebut.


“Permisi tuan, apa modus dari gambar hewan yang tuan berikan kepada tuan Azego?” Tanya salah seorang dari wartawan yang berjenis kelamin perempuan, terlihat telepon genggam yang ia gunakan untuk merekam suara. Wartawan itu mengikat satu rambutnya dan memakai sepatu kets serta berbaju kemeja berwarna blue navy.


“Pak Harun, apa benar Pak Harun mempunyai dendam kepada Pak Azego?” Tanya seorang wartawan paruh baya yang mengenakan kemeja hitam. Ada sebuah mic kecil yang diberada ditangannya dengan platform tempatnya bekerja.


“Tuan Harun, apa benar tuan berencana untuk mempermalukan Pak Azego namun malah sebaliknya, tuan sendiri yang dipermalukan?” Tanya seorang wartawan berjenis kelamin laki-laki. Kepalanya botak dan dia tenggelam diantara wartawan lainnya karena pendek tetapi tangannya yang diluruskan ke arah Tuan Harun membuat mikrofon yang ia bawa bisa berguna.


Rentetan pertanyaan dilayangkan kepada Tuan Harun. Tuan Harun banyak terdiam tanpa bisa menjawab semua pertanyaan yang penuh dengan tuduhan kepadanya walaupun sebenarnya memang tampak seperti itu karena suatu rencana serangan balasan yang gagal.


“Tuan bisa jelaskan kepada kami? Kami butuh suatu konfirmasi. Jika tuan tidak merasa bersalah, setidaknya tuan bisa membela diri tuan.” Kalimat itu akhirnya membuat Tuan Harun angkat bicara.


“Apa yang kalian lihat tidak seperti apa yang terjadi sebenarnya.” Tutur Tuan Harun. Kepala dan kedua bola matanya bergerak bersamaan dari kanan ke kiri kemudian berhenti ditengah. Ia melihat semua kerumunan wartawan itu dengan seksama.


“Sebenarnya asal muasal dari perkara ini adalah Azego telah menyerang keluargaku lebih dulu. Ia bahkan menghabisi semua pengawal pribadiku sebanyak dua kali. Pada penyerangan yang kedua itu, Azego membawa menantuku yang bernama Kirana, istri dari putraku yang bernama Tama. Tanpa alasan yang jelas, ia membawanya dan aku sebagai orang tau murka karena perbuatannya.” Terang Tuan Harun. Meskipun ia harus menceritakan sebuah kemalangan keluarganya, tapi ia berusaha tetap tegar di hadapan para wartawan itu.


“Lalu mengapa tuan tidak melaporkannya ke pihak kepolisian?” Sebuah pertanyaan yang berasal dari kerumunan itu. “Mengapa Anda malah menghakimi sendiri Tuan Azego dengan memberinya gambar hewan?” Terdengar lagi pertanyaan yang berbeda dengan suara yang berbeda. “Apa betul siaran langsung itu adalah rencana anda sendiri?” Rentetan pertanyaan kembali dilayangkan kepada Tuan Harun.


“Ceritanya sangat panjang, dan aku tidak bisa menjawab pertanyaan kalian satu persatu. Aku hanya akan melanjutkan untuk memberitahu kalian apa yang telah keluarga ku alami karena rentenir itu.” Kata Tuan Harun.

__ADS_1


“Sebagai orang yang taat hukum, aku telah melaporkan hal itu, tetapi sepertinya hukum tidak berlaku kepadanya. Ternyata hukum kita sangatlah lemah.” Tuan Harun mendengus.


“Aku sempat ke sana sebelum siaran langsung itu, aku datang dengan cara baik-baik untuk menjemput menantuku tetapi ia berpura-pura tidak tahu. Akhirnya aku mencari cara dengan jalan pintas, anak buah ku berusaha mencari semua usaha bisnisnya ternyata semua bisnisnya adalah illegal. Semua bisnis yang dijalaninya tidak ada yang berprikemanusiaan. Hanya saja semua bukti yang ku bawa entah mengapa berubah menjadi gambar hewan, cukup mencengangkan dan mungkin kalian merasa ini tidak masuk akal. Tetapi, ini lah yang terjadi sebenarnya.” Jelas Tuan Harun panjang lebar.


“Benarkah?”


“Apa bukti Anda Tuan?”


“Bla… bla… bla…”


Pertanyaan itu lebih banyak lagi dari sebelumnya dan para wartawan itu semakin antusias untuk bertanya.


“Pak Harun, sebaiknya untuk menjelaskannya lagi secara rinci, bapak bisa menjelaskannya di kantor polisi nanti.” Bisik perwira itu ke telinga Tuan Harun. Tuan Harun hanya terdiam tanpa menjawabnya. Kemudian polisi tersebut mengajak Tuan Harun untuk meninggalkan rumahnya dengan segera karena para wartawan terus berdatangan dan bertambah banyak. Mereka saling berdesak-desakkan agar bisa lebih dekat kepada Tuan Harun untuk mendengarkan penjelasannya.


Tuan Harun meninggalkan kediamannya dan masuk ke dalam mobil polisi yang menjemputnya. Tak lupa, para wartawan itu masih saja mengejar Tuan Harun dengan berbagai pertanyaannya sampai pintu mobil tertutup dan pergi.


Keesokan paginya.


Tama telah siap dengan setelan jas dan dasi yang berwarna abu-abu tua. Rambut maskulin, dan sedikit brewokan. Karena stress melanda, ia pun tak mencukur rambut-rambut yang tumbuh dibagian wajah dan dagunya namun hal itu justru membuatnya semakin terlihat tampan. Tuan muda itu siap untuk pergi bekerja pagi ini.


“Wow!” Gumam Dokter Flo saat melewati Tama yang sedang membaca Koran itu. Niat hati ingin menemui Nyonya Bella dan menghiburnya pagi ini membuat niat itu terhenti oleh sebuah pemandangan yang indah. Apalagi pemandangan indah itu adalah pria tampan yang dicintainya.


“Timi, kau mau kemana serapi ini dan sepagi ini?” Dokter Flo pun mengurungkan niatnya untuk menemui Nyonya Bella. Ia duduk di sofa sebelah sofa Tama. Andai saja Tama duduk di sofa yang bisa diduduki oleh dua orang, maka ia pun akan duduk di sana. Namun sayangnya, Tama duduk di sofa empuk nan mewah yang khusus untuk satu orang.


“Mulai hari ini aku akan bekerja di perusahaan ayahku. Tapi sebelum ke perusahaan ayahku, aku akan menjenguk ayahku lebih dulu.” Jawab Tama yang tak menoleh sedikit pun karena ia masih membaca Koran.


“Apa aku boleh ikut dengan mu? Aku sangat rindu sama oom, Timi.” Dokter Flo mengambil remote TV dan menyalakan TV tersebut. Sangat kebetulan, ketika menonton TV, layar TV menunjukkan Tuan Azego yang sedang diwawancara secara ekslusif dari salah satu channel TV setempat.


“Bapak itu!” Seketika Dokter Flo melihat Tama saat menyadari bahwa yang berada di layar TV tersebut adalah musuh dari keluarga Harun. Tama terlihat santai, ia hanya melipat Koran karena telah selesai membaca Koran kemudian melipatnya serta meletakkannya di atas meja.


(Di layar TV)


“Apa benar bapak menyuruh anak buah bapak untuk menyerang kediaman Tuan Harun hingga semua pengawal pribadinya babak belur?” Tanya pembawa acara itu kepada bintang tamunya. Mereka sedang berjalan santai di kediaman Tuan Azego.


“Tidak, saya tidak pernah melakukan itu. Saat penyerangan itu terjadi saya tidak mengetahui apa-apa. Bahkan saat pertama kali Tuan Harun ke rumah saya, saya masih belum mengetahuinya. Kemudian dengan sangat lancang Tuan Harun memarahi saya di depan anak buah saya. Sungguh malu rasanya, tetapi saya menahan diri karena saya sangat menghormati Tuan Harun. Beliau adalah panutan saya di dalam berbisnis dan membangun perusahaan.” Terang Tuan Azego.

__ADS_1


“Pada hari itu saya memerintahkan anak buah saya untuk mencari dalang dari penyerangan itu yang mengatasnamakan nama saya. Akhirnya, kami menemukan pelakunya di kemudian hari yang sama dan mengirimkannya kepada Tuan Harun. Namun sayangnya, Tuan Harun tidak menerima dan menolak dalang dari penyerangan itu. Saya bisa apa? Saya berusaha semampu saya untuk membantunya. Saat saya di fitnah menyerang kediaman Tuan Harun, saya hanya bisa mengelus dada dan bersabar.” Tambahnya lagi.


“Apa benar Tuan yang menculik menantu Tuan Harun yang bernama Kirana?” Lagi, pembawa acara itu memberikan pertanyaan seputar klarifikasi Tuan Harun kepada Media. Keterangan Tuan Harun yang banyak diberitakan oleh media menjadi viral dan menjadi perbincangan di khalayak public.


“Tentu saja tidak! Untuk apa aku menculik menantunya? Bahkan saya tidak tahu bahwa Tuan Harun memiliki menantu. Seingatku dia belum memiliki menantu karena tidak ada undangan pernikahan anaknya yang saya terima sebelumnya. Lagipula, siapa yang berani berhadapan dengan Tuan Harun di kota ini? Orang paling kaya dan terpandang yang memiliki banyak kekuasaan. Bahkan banyak pejabat Negara yang segan kepadanya.” Jawab Tuan Azego. Rentenir kaya itu ternyata sangat pandai bersandiwara di depan public.


“Hm… Anda ada benarnya pak.” Pembawa acara itu mengangguk setuju dengan jawaban yang diberikan oleh narasumbernya. “Apa benar bahwa Tuan dulu pernah bekerja dengan Tuan Harun?” Tambahnya lagi.


“Iya benar. Itulah mengapa saya mengatakan bahwa Tuan Harun adalah panutan saya dalam berbisnis dan mendirikan perusahaan. Dia adalah contoh nyata dalam kehidupanku. Dulu ketika saya bekerja dengannya, dia sangat baik kepada saya. Bisa dibilang saya banyak berutang budi kepadanya.” Jelas Tuan Azego.


“Lalu mengapa Anda berhenti bekerja? Orang-orang yang pro terhadap Tuan Harun berpendapat Anda kembali untuk balas dendam.” Pembawa acara itu kini melihat intens narasumbernya.


“Ya, kau benar.” Seketika Tuan Azego merubah mimic wajahnya menjadi sedih. “Ada sebuah kecelakaan yang terjadi di masa lampau. Waktu itu saya bekerja sebagai supir Tuan Harun namun naas, mobil yang saya bawa kecekalakaan hingga…” Tuan Azego meneteskan air mata.


Yang tadinya sang pembawa acara menatap intens kepada Tuan Azego sekarang ikut bersedih melihat seorang bapak tua yang menangis terseduh di depannya. Ia memberikan kotak tissue kepada narasumbernya tersebut dan diambil oleh Tuan Azego untuk mengeringkan air mata yang telah mengalir pada wajahnya.


“Kecelakaan itu menewaskan istri pertama Tuan Harun. Hiksss…” Tuan Azego terus menangis dalam diam. Air matanya keluar tapi tidak ada suara tangis yang ia keluarkan. “Maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud lalai dalam bekerja bersama tuan.” Seketika Tuan Azego menatap kamera, hingga yang menonton acara itu merasa ikut bersedih dengan ketulusan hati Tuan Azego.


Dokter Flo yang sedang melihat tayangan itu hanya mengerutkan kulit dahinya. Ia ingin berpihak kepada keluarga Tuan Harun, namun melihat ekspresi dan semua keterangan yang dikatakan oleh Tuan Azego sungguh mengetuk hati. Tama yang juga menyaksikan siaran itu hanya mendengus tidak senang.


“Kau sangat licik pak tua!” Katanya. Ia sengaja mengatakan hal itu. Tak peduli Dokter Flo bisa mendengarnya atau akan heran melihatnya yang berbicara sendiri tetapi Tama sengaja mengatakan hal itu agar Tuan Azego yang selama ini mengawasinya mendengarnya.


(Di layar TV)


“Aku sangat menyesali perbuatan lalaiku tersebut. Aku bersujud di kaki Tuan Harun. Sungguh dia pemimpin yang sangat dermawan dan baik hati. Aku bahkan tidak dimasukkan penjara olehnya. Hanya saja aku yang sadar diri hingga harus mengundurkan diri dari pekerjaanku. Aku sangat malu kepada diriku sendiri. Hiks…” Kata Tuan Azego sembari menangis.


“Apa tuan baik-baik saja?” Pembawa acara itu ikut prihatin atas apa yang menimpa nara sumbernya. “Aku tidak kenapa-kenapa, hanya saja pada kecelakaan itu aku juga menjadi korban karena aku harus kehilangan kakiku.” Tutur Tuan Azego lagi.


Seketika nara sumber itu terkejut. Mulutnya terbuka lebar saat Tuan Azego mengangkat satu kain celananya sampai terlihat jelas bahwa Tuan Azego tidak memiliki kaki dan memakai kaki palsu.


“Ya ampun, saya ikut prihatin tuan.” Ujar pembawa acara itu usai melihat kaki palsu yang sedang dipakai oleh nara sumbernya. “Bagaimana tuan bisa bangkit kembali dengan kondisi yang seperti itu? Dengan tidak mempunyai pekerjaan dan… ah maaf, hampir saja menyinggung soal kaki anda kembali. Maaf.” Pembawa acara itu tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya.


“Ya, seperti itulah yang saya jalani hingga saat ini. Yang makin membuat saya bersedih adalah bisnis yang saya bangun dengan keringatku sendiri, bisnis yang telah legal dari dulu, sekarang di fitnah oleh orang yang saya kagumi. Saya sungguh merasa hancur nona.” Pungkasnya. Tuan Azego menangis terseduh tak henti-hentinya. Pembawa acara itu akhirnya ikut meneteskan air mata.


“Hiks… pemirsa, cukup sekian wawancara ekslusif yang bisa kami persembahkan untuk Anda. Terima kasih telah menyaksikan acara kami. Selamat beraktifitas dan selamat pagi. Sampai jumpa…” pembawa acara itu melambaikan tangan dan mengakhiri acara wawancara ekslusif bersama Tuan Azego.

__ADS_1


__ADS_2