
Kirana masuk ke dalam kamarnya. “Angkat telepon mu. Nanti Tuan Azego akan menelepon.” Pesan Maria kepada Kirana saat ia masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa, pintu kamar itu lekas ditutup dan dikunci kembali agar Kirana tidak bisa pergi ke mana-mana.
Kring… kring… kring…
Benar, telepon yang tergeletak di atas nakas itu pun berbunyi. “Halo?” Akhirnya Kirana mengangkat telepon rumah yang berdering itu. “Halo nona manis, bagaimana Healing mu pagi ini? Apakah menyenangkan?” Tanya Tuan Azego pada panggilan suara itu.
“Yah sangat menyenangkan karena ternyata anak buah mu cukup pengertian untuk membiarkan ku berjalan sendiri dan hanya mengawasi ku dari jarak jauh.” Tutur Kirana. “Ternyata seperti itu. Ku pikir kau senang karena suami mu sedang bersama mu.” Kata Tuan Azego.
“Ya, itu juga termasuk karena dia datang dan di luar dugaan ku.” Sambung Kirana. “Bagaimana kabar janin mu Kirana? Apa aku harus menemani mu ke dokter untuk memeriksakan kandungan mu?” Tanya Tuan Azego lagi.
“Tidak perlu, aku baik-baik saja.” Seketika bulu kuduk Kirana merinding mendengar tawaran itu. Entah mengapa kalimat Tuan Azego yang lembut dan tidak marah sama sekali tetap saja membuat Kirana merasakan ngeri mengingat siapa sebenarnya Tuan Azego itu.
“Atau, aku menyuruh Tama saja yang menemani mu?” Tawar Tuan Azego. Istri dari tuan muda itu sempat terdiam sejenak, baginya itu sebuah tawaran yang tidak bisa dia anggap istimewa tetapi juga sesuatu yang bisa menjadi istimewa karena ayah dari bayi yang dikandungnya adalah Tama.
“Ada apa Kirana? Kenapa kau terdiam?” Tanya Tuan Azego sembari tersenyum sinis. “Jika kau tidak menyukainya aku bisa menjadi ayah dari anak mu. Hahaha…” Tambahnya sambil tertawa terbahak-bahak.
Mendengar kalimat itu Kirana menelan salivanya berkali-kali. Sangat jauh berbeda jika Tuan Azego yang akan menjadi ayah dari anaknya dibandingkan dengan Tama. Yang satu adalah pangeran berkuda mobil mahal di dunia nyata dan yang satunya lagi adalah pak tua jahat yang hanya mempunyai satu kaki. Lagipula Tama memang ayah kandung dari bayi yang dikandungnya, jadi untuk apa ia mencari ayah yang baru dari anaknya.
__ADS_1
“Aku tidak sedang mencari ayah untuk anak ku. Jika kau ingin membantu, berikan aku kebebasan untuk keluar ruangan sekali dalam sehari.” Terang Kirana. Ia pun berdiri untuk membuka lemari es dan mengambil buah anggur lalu memakannya.
“Itu terlalu berlebihan. Tetapi tidak masalah, karena aku menyukai mu, aku akan memberikan kau waktu ke luar kamar selama seminggu sekali di setiap hari minggu. Akan ku berikan waktu keluar mu 3 jam pada hari itu. Bagaimana nona manis?” Tuan Azego menyegir. Ia menatap ke depan dengan penuh arti. Ada sesuatu yang sedang ia pikirkan saat ini.
“Baiklah. Itu sudah lumayan. Lalu apa mau mu?” Kirana to the point. Mendengar hal itu sontak membuat Tuan Azego semakin tertawa terbahak-bahak. “Kau sangat menarik Kirana. Ternyata kau juga sangat pintar. Menurutku kau adalah anggota keluarga Harun yang paling pintar.” Sahut Tuan Azego.
“Kau tidak perlu banyak berbasa-basi. Sebenarnya apa mau mu?” Kirana to the point lagi. “Tidak ada sayang, cukup kau keluar ruangan mu dan ketika Tama datang lagi untuk mencari mu, nikmati saja waktu kalian, hanya itu.” Jelas Tuan Azego. Kirana menghela nafasnya. Entah mengapa ia merasa aneh dengan penjelasan yang telah ia dengar barusan.
Walaupun tawaran Tuan Azego terdengar mencurigakan, setidaknya Kirana senang bisa keluar kamar. Paling tidak kehidupannya tidak seperti hidup di dalam penjara lagi.
Pada hari minggu berikutnya. “Azegooo… kemana Kirana?” Sentak Tama saat menyadari layar CCTV pada ponselnya hanya menunjukkan ruang kosong tanpa kehadiran istrinya.
Sambil berjalan ia berbicara kepada Tuan Azego. Walaupun tampak tenang, dan bisa membalas sapaan dari setiap pengawal pribadi yang ia lewati, jauh di dalam dadanya ia sangat was-was takut istri dan anaknya dalam bahaya.
“Tenang, tuan muda.” Kata Tuan Azego santai. “Aku akan memberitahu mu. Tapi sebelum memberitahu mu, ada baiknya kalau kau membayar hutang mu terlebih dahulu.” Tambahnya lagi.
“Hutang? Hutang apa yang kau maksud?” Tama mengernyit. “Kau masih berhutang 600 juta kepada ku tuan muda. Apa kau sudah lupa momen romantis sarapan bersama istrimu minggu lalu?” Tanya Tuan Azego.
__ADS_1
“Sialan!” Umpat Tama secara tiba-tiba. Ia pun mengganti layar ponselnya, keluar dari aplikasi CCTV dan masuk aplikasi mobile banking miliknya. “Silahkan kau cek rekening mu pak tua.” Dalam sekejap, saldo rekening ayahnya berkurang 600 juta saat di transfer uang darinya berhasil terkirim ke rekening Tuan Azego.
“Anak pintar! Kalau kau penurut begini, aku makin menyukai mu.” Ujar Tuan Azego sembari terkekeh. “Cepat katakan di mana istriku.” Bentak Tama. Ia pun membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
“Istri mu sedang berada di pusat perbelanjaan kota saat ini. Kau boleh melihatnya langsung jika tidak percaya. Aku akan mengirimkan lokasinya melalui pesan.” Terang Tuan Azego. Sesaat setelah pesan itu ia terima, Tama langsung menginjak pedal gas dan melaju dengan kencang untuk segera menemui istrinya.
Sesampainya di pusat perbelanjaan.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Tama langsung menggapai tangan Kirana serta bergandengan tangan. “Kenapa kau di sini lagi?” Tanya Kirana heran sambil melihat tangannya yang bergandengan itu. “Aku sedang ingin berbelanja.” Bohong Tama.
Lelaki itu pun melihat pakaian yang kenakan istrinya. Kirana mengenakan dress putih selutut. Dress biasa yang disediakan untuknya oleh Tuan Azego.
“Karena kau juga di sini, bagaimana kalau kita berbelanja saja.” Tama menarik tangan yang bergandengan itu kemudian keduanya berjalan bersama. Pasutri itu memasuki satu-persatu toko pakaian wanita dengan brand internasional.
“Kau kemari.” Tama memanggil salah satu pengawal pribadi Tuan Azego yang mengawasi mereka dari jauh. Satu orang pengawal pribadi yang ditunjuk Tama tampak bingung dan melihat ke kiri dan kanan untuk memastikan bahwa dirinya yang sedang dipanggil.
“Iya, kau yang kumaksud.” Tama kembali menunjuk pria itu dan melambai. Akhirnya pengawal pribadi Tuan Azego yang ditunjuk itupun mendekati Tama. “Panggil teman mu yang lain.” Perintah Tama. Kemudian pria itu memanggil empat orang temannya.
__ADS_1
“Kalian berlima, tolong bawakan ini.” Barang belanjaan Kirana yang sangat banyak itu dibawa oleh 5 pengawal pribadi yang bukan berasal dari keluarga Harun melainkan dari Tuan Azego. Kelimanya membawakan belanjaan yang sangat banyak itu.